• RPP Tematik Kelas 1, Tema: Aku dan Keluargaku (1, 2, dan 3)
    RENCANA PEMBELAJARAN TEMATIK

    Pertemuan 1, 2, dan 3

    TEMA : AKU DAN KELUARGAKU

    KELAS /SEMESTER : 1 (satu)/ 1 (satu)

    WAKTU : 3 kali pertemuan @ 5 JP/hari (3 hari)


    I. KOMPETENSI DASAR

    § Menjelaskan perbedaan jenis kelamin, agama, dan suku bangsa (PKn).

    § Mengidentifikasi identitas diri, keluarga, dan kerabat (IPS).

    § Menceritakan kasih sayang antar anggota keluarga.

    § Membedakan berbagai bunyi bahasa (BI).

    § Memperkenalkan diri sendiri dengan kalimat sederhana dan bahasa yang santun (BI).

    § Menyapa orang lain dengan menggunakan kalimat sapaan yang tepat dan bahasa yang santun (BI).

    § Membaca nyaring suku kata dan kata dengan lafal yang tepat (BI).

    § Menjiplak berbagai bentuk gambar, lingkaran dan bentuk huruf (BI).

    § Menebalkan berbagai bentuk gambar, lingkaran dan bentuk huruf (BI).

    § Mengidentifikasi unsur rupa pada benda di alam sekitar (Se - Bud).

    § Mengelompokkan bunyi berdasarkan sumber bunyi yang dihasilkan tubuh manusia (Se - Bud).

    § Melafalkan lagu anak-anak (Se - Bud).

    § Mengenal bagian-bagian tubuh dan kegunaannya serta cara perawatannya.

    § Mengenal anggota tubuh (IPA).

    § Menceritakan cara merawat bagian tubuh (IPA).

    § Membilang banyak benda.

    § Mengurutkan banyak benda.

    § Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan waktu dan panjang (Mat).

    § Permainan sederhana, serta nilai sportivitas, kejujuran, kerjasama, toleransi dan percaya diri (Orkes).




    II. INDIKATOR

    § Mengidentifikasi macam-macam contoh keperbedaan (PKn).

    § Menjelaskan perbedaan jenis kelamin dalam keluarga.

    § Memberikan contoh hidup rukun melalui kegiatan di rumah dan di sekolah.

    § Mengidentifikasi identitas diri, keluarga dan kerabat (IPS).

    § Menyebutkan nama pendek dan nama panjang.

    § Menceriterakan kasih sayang antar anggota keluarga.

    § Membedakan berbagai bunyi bahasa (BI).

    § Menyebutkan data diri (nama, kelas, sekolah dan tempat tinggal) dg kalimat sederhana .

    § Menyebutkan nama orang tua dan saudara kandung.

    § Mengelompokkan berbagai jenis dan ukuran:bintik, garis, bidang, warna dan bentuk pada benda dua dan tiga dimensi di alam sekitar.

    § Membuat gambar ekspresi berbagai tema imajinatif dengan unsur rupa.

    § Menentukan sumber bunyi.

    § Memberi makna pada hasil pengamatan (IPA).

    § Menggunakan informasi dari hasil pengamatan untuk menjawab pertanyaan.

    § Membilang atau menghitung secara urut (Mat).

    § Menyebutkan banyak benda.

    § Membandingkan dua kumpulan benda melalui istilah lebih banyak, lebih sedikit atau sama banyak.

    § Mendemontrasikan sikap tubuh yang benar dalam berbagai posisi (Orkes).



    III. LANGKAH PEMBELAJARAN

    1. Kegiatan Awal/Pendahuluan

    § Mengajak semua siswa berdoa sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing.

    § Mengajak siswa menyanyikan lagu "Aku Sayang Ibu" sambil menggerakkan anggota badan sesuai dengan syair lagu (Orkes, Budaya-Keterampilan).

    § Menginformasikan tema yang akan dipelajari bersama (Aku Dan Keluargaku).

    2. Kegiatan Inti

    1) Meminta semua siswa mengamati gambar Keluarga Adi Yang terdiri dari ayah, ibu, asih dan adi. Guru menceritakan makna gambar, dilanjutkan dengan bertanya jawab tentang nama masing-masing siswa.

    2) Guru membacakan teks tentang "keluargaku" dan semua siswa menirukan cara membaca dengan lafal yang tepat.

    3) Menugaskan semua siswa untuk menyebutkan data dirinya (nama, kelas, sekolah dan tempat tinggal) dan anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah dengan kalimat sederhana (PKWn & IPS & BI, MAT).

    § siapa nama panggilannya,

    § siapa nama panjang/lengkapnya

    § siapa nama ayahnya

    § dan ibunya (PKWn & IPS & BI)

    4) Semua siswa diminta mengamati contoh huruf sambung dan contoh huruf lepas, serta cara penulisannya.

    5) Setiap siswa belajar menulis data dirinya di buku masing-masing, untuk mengenali huruf-huruf dan membacanya sebagai suku kata, kata dan kalimat sederhana (PKWn & IPS & BI).

    6) Bertanya jawab apakah siswa mempunyai foto juga seperti keluarga Adi

    7) Meminta siswa (yang berani, kalau tidak berani sendirian, bisa dua atau tiga anak) untuk menyanyi lagu yang mereka bisa nyanyikan. Yang lain bertepuk tangan memberi semangat.

    8) Guru bercerita bahwa di dunia ini selain manusia ada bermacam-macam isinya

    § Ada manusia

    § Ada hewan

    § Ada tumbuhan

    § Dan semua orang pastilah punya nama

    9) Bertanya jawab tentang keadaan keluarga siswa, apakah ayah dan ibu saling menyayangi, guru bercerita tentang keluarga yang saling menyayangi dan bagaimana hubungan kasih sayang di rumah yang baik (PKWn & PS & BI).

    10) Memanggil salah satu siswa untuk bercerita tentang kasih sayang di keluarganya (untuk melatih keberanian dalam mengungkapkan isi hatinya) (PKWn & PS & BI).

    11) Guru bercerita bahwa semua manusia adalah ciptaan Tuhan (Cakrawala hal 3).

    § Ada laki-laki

    § Ada perempuan

    § Ayah yang sudah tua

    § Ada yang masih anak-anak

    § Ada yang senang olah raga

    § Ada yang senang menyanyi

    12) Menugaskan siswa untuk berdiskusi dengan teman sebangku, membahas tentang gambar sikap orang tua terhadap anak, sikap terhadap teman yang berbeda jenis kelamin (PKn & PS & BI).

    13) Kalau belajar ibu akan menemani.

    14) Kalau mandi, ibulah yang menyiapkan bajunya.

    15) Ayah juga sayang kepada anak-anak. Ayah yang mencari nafkah, ibu juga membantu ayah

    16) Terakhir semua siswa diminta menyimak bagi "Berbudi Pekerti" (halaman 26) dan diharapkan semua siswa menerapkan perilaku-perilaku positif yang ada dalam petunjuk berbudi pekerti tersebut.

    3. Kegiatan Akhir/Penutup

    1) Bersama-sama siswa menyimpulkan hasil belajar sesuai dengan hasil klarifikasi

    2) Bertanya jawab untuk mengetahui penguasaan materi yang telah dipelajari selama pembelajaran (evaluasi hasil belajar)

    3) Mengajak semua siswa berdoa untuk mengakhiri pelajaran


    IV.ALAT DAN SUMBER BELAJAR

    § Gambar-gambar tentang Keluarga

    § Lingkungan keluarga

    § Buku Teks siswa (Bahasa Indonesia, PKn, IPA/Sains, Matematika, Orkes, Budaya-Keterampilan, IPS dan agama)

    § Kurikulum mata pelajaran (Bahasa Indonesia, PKn, IPA/Sains, Matematika, Orkes, Se-Bud-Keterampilan, IPS dan agama)

    V. PENILAIAN

    § Penilaian Lisan (dalam proses)

    § Penilaian Tingkah laku (Pengamatan)

    § Penilaian Produk

    § Penilaian Portofolio

    § Penilaian Tertulis Obyektif

    § Penilaian Tertulis Subyektif

    § Penilaian Unjuk Kerja (dalam proses)

  • Pendekatan Kontekstual Dalam Pembelajaran Matematika (bagian 2-habis)
    Pembelajaran berbasis CTL melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran produktif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning community), pemodelan (Modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment) (Depdiknas, 2002: 26). Selain itu, dalam pembelajaran kontekstual siswa diharapkan untuk memiliki kemampuan berpikir kritis dan terlibat penuh dalam proses pembelajaran yang efektif. Sedangkan guru mengupayakan dan bertanggungjawab atas terjadinya proses pembelajaran yang efektif tersebut.
    Berdasarkan uraian di atas, terlihat bahwa ada kesenjangan antara tujuan pembelajaran matematika yang ingin dicapai, di antaranya yaitu memiliki kemampuan berpikir kritis, dan kenyataan yang ada di lapangan. Juga dapat kita cermati bahwa agar kemampuan berpikir kritis siswa dapat dikembangkan dengan baik, maka proses pembelajaran yang dilaksanakan harus melibatkan siswa secara aktif.

    Di lain pihak, mengingat komponen-komponen yang dimiliki CTL, pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual dapat dicoba sebagai salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk melatih siswa dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritisnya dalam matematika.

    Untuk beradaptasi dengan perkembangan kebutuhan masyarakat dan teknologi, pembelajaran matematika di SD/MI perlu terus ditingkatkan kualitasnya. Kita melihat dan merasakan bahwa informasi yang harus diketahui oleh manusia setiap hari begitu beraneka, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya, sehingga tidak mungkin kita memilih dan memahami sebagian kecilpun dari informasi tersebut tanpa memanfaatkan cara atau strategi tertentu untuk memperolehnya.

    Pendefinisian pembelajaran dengan pendekatan kontekstual yang dikemukakan oleh ahli sangatlah beragam, namun pada dasarnya memuat faktor-faktor yang sama. Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning, CTL) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dimulai dengan mengambil, mensimulasikan, menceritakan, berdialog, bertanya jawab atau berdiskusi pada kejadian dunia nyata kehidupan sehari-hari yang dialami siswa, kemudian diangkat kedalam konsep yang akan dipelajari dan dibahas.

    Melalui pendekatan ini, memungkinkan terjadinya proses belajar yang di dalamnya siswa mengeksplorasikan pemahaman serta kemampuan akademiknya dalam berbagai variasi konteks, di dalam ataupun di luar kelas, untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya baik secara mandiri ataupun berkelompok.
    Hal tersebut sesuai dengan yang dikemukakan Berns dan Ericson (2001), yang menyatakan bahwa pembelajaran dengan pendekatan kontekstual adalah suatu konsep pembelajaran yang dapat membantu guru menghubungkan materi pelajaran dengan situasi nyata, dan memotivasi siswa untuk membuat koneksi antara pengetahuan dan penerapannya dikehidupan sehari-hari dalam peran mereka sebagai anggota keluarga, warga negara dan pekerja, sehingga mendorong motivasi mereka untuk bekerja keras dalam menerapkan hasil belajarnya.

    Dengan demikian pembelajaran kontekstual merupakan suatu sistem pembelajaran yang didasarkan pada penelitian kognitif, afektif dan psikomotor, sehingga guru harus merencanakan pengajaran yang cocok dengan tahap perkembangan siswa, baik itu mengenai kelompok belajar siswa, memfasilitasi pengaturan belajar siswa, mempertimbangkan latar belakang dan keragaman pengetahuan siswa, serta mempersiapkan cara-teknik pertanyaan dan pelaksanaan assessmen otentiknya, sehingga pembelajaran mengarah pada peningkatan kecerdasan siswa secara menyeluruh untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.

    Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual merupakan salah satu pendekatan konstruktivisme baru dalam pembelajaran matematika, yang pertama-tama dikembangkan di negara Amerika, yaitu dengan dibentuknya Washington State Consortium for Contextual oleh Departemen Pendidikan Amerika Serikat.
    Menurut Owens (2001) bahwa pada tahun 1997 sampai dengan tahun 2001 diselenggarakan tujuh proyek besar yang bertujuan untuk mengembangkan, menguji, serta melihat efektivitas penyelenggaraan pengajaran matematika secara kontekstual. Proyek tersebut melibatkan 11 perguruan tinggi, 18 sekolah, 85 orang guru dan profesor serta 75 orang guru yang sebelumnya sudah diberikan pembekalan pembelajaran kontekstual.
    Selanjutnya penyelenggaraan program ini berhasil dengan sangat baik untuk level perguruan tinggi dan hasilnya direkomendasikan untuk segera disebarluaskan pelaksanaannya. Hasil penelitian untuk tingkat sekolah, yakni secara signifikan terdapat peningkatan ketertarikan siswa untuk belajar, dan meningkatkan secara utuh partisipasi aktif siswa dalam proses belajar mengajar.
    Selanjutnya Northwest Regional Education Laboratories dengan proyek yang sama, melaporkan bahwa pengajaran kontekstual dapat menciptakan kebermaknaan pengalaman belajar dan meningkatkan prestasi akademik siswa. Demikian pula Owens (2001) menyatakan bahwa pengajaran konteksual secara praktis menjanjikan peningkatan minat, ketertarikan belajar siswa dari berbagai latar belakang serta meningkatkan partisipasi siswa dengan mendorong secara aktif dalam memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengkoneksikan dan mengaplikasikan pengetahuan yang telah mereka peroleh.

    Pendapat lain mengenai komponen-komponen utama dari pengajaran kontekstual yaitu menurut Johnson (2002), yang menyatakan bahwa pengajaran kontekstual berarti membuat koneksi untuk menemukan makna, melakukan pekerjaan yang signifikan, mendorong siswa untuk aktif, pengaturan belajar sendiri, bekerja sama dalam kelompok, menekankan berpikir kreatif dan kritis, pengelolaan secara individual, menggapai standar tinggi, dan menggunakan asesmen otentik.

    Menurut Zahorik (Nurhadi,2002:7) ada lima elemen yang harus diperhatikan dalam praktek pembelajaran kontekstual, yaitu :
    1. Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge)
    2. Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan cara mempelajari secara keseluruhan dulu, kemudian memperhatikan detailnya.
    3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), yaitu dengan cara menyusun (a) Konsep sementara (hipotesis), (b) melakukan sharing kepada orang lain agar mendapat tanggapan (validisasi) dan atas dasar tanggapan itu (c) konsep tersebut direvisi dan dikembangkan.
    4. Mempraktekan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge)
    5. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut.

  • Pendekatan Kontekstual Dalam Pembelajaran Matematika (bagian 1)
    Sudah menjadi tugas guru sebagai pengelola pembelajaran adalah menciptakan situasi dan kondisi yang memungkinkan siswa belajar secara berdaya guna dan berhasil guna. Suatu upaya agar tercipta kondisi yang kondusif sehingga siswa dapat belajar secara optimal, yaitu dengan melaksanakan pembelajaran yang menggunakan pendekatan yang dapat membuat siswa belajar secara mudah dan dengan perasaan senang.Salah satu prinsip yang dikembangkan dalam KTSP adalah berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Apa artinya? Artinya KTSP dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya. Peserta didik memiliki posisi sentral mempunyai makna bahwa kegiatan pembelajaran berpusat pada peserta didik.

    Pendekatan pembelajaran matematika di sekolah yang diduga akan sejalan dengan harapan dari kurikulum dan dapat meningkatkan berpikir kritis siswa adalah pendekatan kontekstual. Dalam pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual materi disajikan melalui konteks yang bervariasi dan berhubungan dengan kehidupan siswa baik di rumah, di sekolah maupun di masyarakat secara luas, dan pengetahuan didapat oleh siswa secara konstruktivis.

    Salah satu tujuan diberikannya matematika di jenjang pendidikan dasar dan menengah, yaitu untuk “Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari …” (Depdikbud 1994:1). Selain itu juga diharapkan agar siswa dapat menggunakan matematika sebagai cara bernalar (berpikir logis, kritis, sistematis, dan objektif).

    Dikatakan pula oleh Gagne (Ruseffendi, 1988: 165), bahwa objek tidak langsung dari mempelajari matematika adalah agar siswa memiliki kemampuan memecahkan masalah. Dari pendapat Gagne dan tujuan Kurikulum Matematika, dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk dapat memecahkan suatu masalah, para siswa perlu memiliki kemampuan bernalar yang dapat diperoleh melalui pembelajaran matematika.

    Dari hasil diskusi dengan para peserta diklat guru pemandu matematika SD di PPPG matematika Yogyakarta, dikemukakan bahwa pendekatan abstrak dengan metode ceramah dan pemberian tugas sanagatlah dominan dari setiap pembelajaran. Kemampuan bernalar tak terpisahkan dari kemampuan berpikir kritis. Dengan kata lain kemampuan berpikir kritis merupakan bagian dari penalaran. Hal ini sejalan dengan pendapat Krulik dan Rudnick (1995: 2), bahwa penalaran mencakup berpikir dasar (basic thinking), berpikir kritis (critical thinking), dan berpikir kreatif (creative thinking).

    Kemampuan berpikir kritis seseorang dalam suatu bidang studi tidak dapat terlepas dari pemahamannya terhadap materi bidang studi tersebut. Menurut Meyers (1986) seseorang tak mungkin dapat berpikir kritis dalam suatu bidang studi tertentu tanpa pengetahuan mengenai isi dan teori bidang studi tersebut. Dengan demikian agar siswa dapat berpikir kritis dalam matematika, maka dia harus memahami matematika dengan baik.

    Namun sebagaimana kita ketahui bahwa matematika bersifat aksiomatik, abstrak, formal, dan deduktif. Karenanya wajar jika matematika termasuk mata pelajaran yang dianggap sulit oleh siswa pada umumnya yang tahap berpikirnya belum formal dengan bakat serta kemampuannya yang bervariasi.
    Di samping itu kenyataan menunjukkan bahwa bekal kemampuan materi matematika dari guru SD masih kurang memadai sehingga tidaklah mengherankan bila pembelajaran matematika yang dikelolanya menjadi kurang maksimal (Sukayati, 2004). Oleh karena itu diperlukan model pembelajaran yang mengaktifkan siswa dengan pendekatan nyata.

    Masih rendahnya kualitas hasil pembelajaran siswa dalam matematika merupakan indikasi bahwa tujuan yang ditentukan dalam kurikulum matematika belum tercapai secara optimal. Agar tujuan tersebut dapat tercapai sesuai dengan yang diinginkan, salah satu caranya adalah dengan melaksanakan proses pembelajaran yang berkualitas.

    Kualitas proses pembelajaran dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah ketepatan pendekatan yang digunakan. Pendekatan yang digunakan oleh para guru pada umumnya di lapangan, merupakan pendekatan yang berpusat pada guru. Guru masih menyampaikan materi pelajaran matematika dengan pendekatan tradisional yang menekankan pada latihan pengerjaan soal-soal atau drill and practice, prosedural, serta penggunaan rumus.

    Pada pembelajaran ini guru berfungsi sebagai pusat atau sumber materi guru yang aktif dalam pembelajaran, sedangkan siswa hanya menerima materi. Hal ini merupakan salah satu penyebab rendahnya kualitas pemahaman siswa terhadap matematika (Zulkardi,2001; IMSTEP-JICA, 1999). Siswa menyelesaikan banyak soal tanpa pemahaman yang mendalam. Akibatnya kemampuan penalaran (berpikir kritis) dan kompetensi strategis siswa tidak berkembang.

    Informasi-informasi tersebut memperkuat pentingnya ketepatan pendekatan pembelajaran yang digunakan agar para peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya. Selain itu fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran tradisional ternyata kurang mendukung untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa dengan baik.

    Di lain pihak, Contextual Teaching and Learning (CTL) membantu guru mengaitkan materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh dari usaha siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru ketika ia belajar.

  • RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Matematika Kelas IV/2
    RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
    Satuan Pendidikan : SDN Bendogerit I
    Mata Pelajaran : Matematika
    Kelas / Semester : IV / II
    Hari / Tanggal : Rabu, 8 Desember 2010
    Waktu : 2 x 35 menit

    A. Standar Kompetensi
    Memahami sifat bangun ruang sederhana dan hubungan antarbangun datar

    B. Kompetensi Dasar
    Menentukan sifat-sifat bangun ruang sederhana

    C. Indikator
    1. Mengenal bangun ruang balok dan kubus
    2. Mengidentifikasi sifat-sifat balok dan kubus.
    3. Menggambar model balok dan kubus

    D. Tujuan Pembelajaran
    1. Melalui pengamatan model bangun ruang balok dan kubus, siswa mampu mengenal 3 bagian dari balok dan kubus.
    2. Melalui pengamatan model bangun ruang balok dan kubus, siswa mampu menyebutkan 4 sifat balok dan kubus.
    3. Melalui penjelasan dan pengamatan model bangun ruang balok dan kubus, siswa mampu mengambar model balok dan kubus dengan benar.

    E. Materi Pembelajaran
    Mengenal Sifat-Sifat Bangun Ruang (Terlampir)

    F. Kegiatan Pembelajaran
    1. Kegiatan Awal (5 menit )
    • Salam
    • Doa
    • Presensi
    • Apersepsi
    - “Anak-anak, ada banyak benda di sekitar kita berbentuk pola, salah satunya penghapus yang saya pegang ini”
    - “Penghapus ini termasuk bangun ruang balok, ayo apa lagi benda-benda disekitar kita yang termasuk bangun ruang balok?”
    - Nah anak-anak pada hari ini kita akan mempelajari tentang sifat-sifat bangun ruang (balok dan kubus).”
    - Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai

    2. Kegiatan Inti (45 menit )
    • Siswa dan guru bertanya jawab tentang contoh benda-benda yang termasuk model balok dan kubus.
    • Siswa mendengarkan penjelasan guru dengan menggunakan media benda ruang balok dan kubus.
    • Siswa dan guru melakukan tanya jawab tentang bagian-bagian bangun ruang balok dan kubus.
    • Siwa dan guru bertanya jawab tentang sifat-sifat bangun ruang balok dan kubus.
    • Siswa dibagai menjadi beberapa kelompok.
    • Setiap kelompok mengerjakan LKS dengan melakukan pengamatan pada media model bangun ruang balok atau kubus.
    • Siswa bersama guru membahas hasil kerja kerja kelompok.

    3. Kegiatan Akhir (20 menit )
    • Guru membagikan soal evaluasi
    • Siswa mengerjakan soal evaluasi
    • Siswa mengumpulkan soal evaluasi
    • Kesan-kesan siswa yang berkaitan dengan pembelajaran yang telah dilakukan
    • Saran-saran dari siswa untuk pembelajaran berikutnya agar lebih baik
    • Guru mengakhiri pelajaran
    • Doa dan salam penutup

    G. Model dan Metode Pembelajaran
    • Model Pembelajaran
    Jigsaw
    • Metode Pembelajaran
    1. Ceramah
    2. Diskusi
    3. Penugasan
    4. Tanya Jawab

    H. Media dan Sumber Belajar
    1. Media
    • Model Bangun Ruang Balok dan Kubus.
    2. Sumber Belajar
    • Astuti, Ari, dkk. 2008. Ayo Belajar Matematika. Jakarta: BSE
    • Tim Bina Karya Guru. 2007. Terampil Berhitung Matematika untuk SD Kelas IV. Jakarta: Erlangga
    • Akhsin, Nur, dkk. 2006. Matematika untuk Kelas IV SD/MI. Klaten: Cempaka Putih

    I. Penilaian
    • Prosedur Penilaian : Proses dan Akhir
    • Teknik Penilaian : Tes
    Jenis Tes : Tertulis
    Bentuk Tes : Subyektif
    • Alat Penilaian : Lembar soal dan lembar pengamatan
    • Kriteria Penilaian :
    1. Penilaian proses didasarkan pada kegiatan siswa selama mengikuti KBM. Aspek yang dinilai adalah :
    a. Keaktifan siswa selama KBM
    b. Ketepatan dalam menjawab pertanyaan
    c. Kerjasama dalam kelompok
    2. Penilaian akhir didasarkan pada hasil kerja siswa dalam mengerjakan LKS dan soal evaluasi

    I. Lampiran
    1. Ringkasan materi
    2. Profil Media
    3. LKS (Lembar Kerja Siswa)
    4. Kunci Jawaban LKS
    5. Lembar soal tes akhir dan kunci jawaban
    6. Format penilaian proses dan hasil

  • Tujuan Inovasi Pendidikan
    Menurut santoso (1974), tujuan utama inovasi, yakni meningkatkan sumber sumber tenaga, uang dan sarana, termasuk struktur dan prosedur organisasi. Tujuan inovasi pendidikan adalah meningkatkan efisiensi,relevansi, kualitas, dan efektivitas. Sarana serta jumlah peserta didik sebanyak banyaknya, dengan hasil pendidikan sebesar besarnya (menurut kriteria kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan pembangunan), dengan jumlah yang sekecil kecilnya.

    Tujuan inovasi pendidikan Indonesia tahap demi tahap, yaitu :
    A. Mengejar ketinggalan ketinggalan yang dihasilkan oleh kemajuan kemajuan ilmu dan teknologi sehingga makin lama pendidikan di Indonesia makin berjalan sejajar dengan kemajuan kemajuan tersebut.
    B. Mengembangkan terselenggaranya pendidikan sekolah maupun luar sekolahbagi setiap warga negara. Misalnya meningkatkan daya tampung usia sekolah SD, SLTP, SLTA, dan perguruan tinggi. Di samping itu, akan di usahakan peningkatan mutu yang dirasakan semakin menurun dewasa ini. Dengan sistem penyampaian sistem yang baru, dihaarpkan peserta didik menjadi manusia yang aktif, kreatif, dan terampil memecahkan masalahnya sendiri.

    Masalah yang Menuntut Diadakan Inovasi Pendidikan di Indonesia yaitu:
    A. Perkembangan ilmu pengetahuan menghasilkan kemajuan teknologi yang mempengaruhi kehidupan sosial, ekonomi, politik, pendidikan, dan kebudayaan bangsaIndonesia.
    B. Laju eksplosi penduduk yang cukup pesat, yang menyebabkan daya tampung, ruang, dan fasilitas pendidikan yang sangat tidak seimbang.
    C. Melonjaknya aspirasi masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik, sedangkan dipihak lain kesempatan sangat terbatas.
    D. Mutu pendidikan yang dirasakan makin menurun, yang belum mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
    E. Belum berkembangnya alat organisasi yang efektif, serta belum tumbuhnya suasana yang subur dalam masyarakat untuk mengadakan perubahan perubahan yang dituntut oleh keadaan sekarang dan yang akan datang.
    F. Kurang ada relevansi antara program pendidikan dan kebutuhan masyarakat yang sedang membangun.
    G. Keterbatasan dana.
    Sejak proklamasi kemerdekaan hingga saat ini, telah banyak diperkenalkan inovasi inovasi pendidikan dan atau kurikulum yang diadopsi dari luar negeri maupun hasi pemikiran para ilmuan Indonesia sendiri. Semua inovasi tersebut diharapkan dapat memcahkan permasalahan pendidikan yang sedang dialami di Indonesia.

  • Pengertian Inovasi Pendidikan
    Secara etimologi inovasi berasal dari Kata Latin innovation yang berarti pembaharuan atau perubahan. Kata kerjanya innovo yang artinya memperbaharui dan mengubah inovasi ialah suatu perubahan yang baru menuju kearah perbaikan, yang lain atau berbeda dari yang ada sebelumnya, yang dilakukan dengan sengaja dan berencana (tidak secara kebetulan).

    Istilah perubahan dan pembaharuan ada pebedaan dan persamaanya. Perbedaannya , kalau pada pembaharuan ada unsur kesengajaan. Persamaannya. Yakni sama sama memilki unsur yang baru atau lain dari yang sebelumnya. Kata “Baru” dapat juga diartikan apa saja yang baru dipahami, diterima, atau dilaksanakan oleh si penerima inovasi, meskipun bukan baru lagi bagi orang lain. Nemun, setiap yang baru itu belum tentu baik setiap situasi, kondisi dan tempat.

    Ibrahim (1988) mengemukakan bahwa inovasi pendidikan adalah inovasi dalam bidang pendidikan atau inovasi untuk memecahkan masalah pendidikan. Jadi, inovasi pendidikan adalah suatu ide, barang, metode yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau kelompok orang (masyarakat), baik berupa hasil intervensi (penemuan baru) atau discovery (baru ditemukan orang), yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau memecahkan masalah pendidikan nasional.

    Inovasi (pembaharuan) terkait dengan invention dan discovery. Invention adalah suatu penemuan sesuatu yang benar benar baru, artinya hasil kreasi manusia. Penemuan sesuatu (benda) itu sebelumnya belum pernah ada, kemudian diadakan dengan bentuk kreasi baru. Discovery adalah suatu penemuan (benda), yang benda itu sebenarnya telah ada sebelumnya, tetapi semua belum diketahui orang. Jadi, inovasi adalah usaha menemukan benda yang baru dengan jalan melakukan kegiatan (usaha) baik invention dan discovery.

  • Pentingnya Inovasi di Bidang Pendidikan
    Kata inovasi seringkali dikaitkan dengan perubahan, tetapi tidak setiap perubahan dapat dikategorikan sebagai inovasi. Rogers (1983 : 11) memberikan batasan yang dimaksud dengan inovasi adalah suatu gagasan, praktek, atau objek benda yang dipandang baru oleh seseorang atau kelompok adopter lain. Kata "baru" bersifat sangat relatif, bisa karena seseorang baru mengetahui, atau bisa juga karena baru mau menerima meskipun sudah lama tahu.

    Berdasarkan batasan dan penjelasan Rogers tersebut, dapat dikatakan bahwa munculnya inovasi karena ada permasalahan yang harus diatasi, dan upaya mengatasi permasalahan tersebut melalui inovasi (seringkali disebut dengan istilah "pembaharuan" meskipun istilah ini tidak identik dengan inovasi). Inovasi ini harus merupakan hasil pemikiran yang original, kreatif, dan tidak konvensional. Penerapannya harus praktis di mana di dalamnya terdapat unsur-unsur kenyamanan dan kemudahan. Semua ini dimunculkan sebagai suatu upaya untuk memperbaiki situasi / keadaan yang berhadapan dengan permasalahan.

    Seperti telah dikemukakan bahwa munculnya suatu inovasi adalah sebagai alternatif pemecahan masalah, maka langkah pertama pengembangan suatu inovasi didahului dengan pengenalan terhadap masalah (Rogers, 1983 ; Lehman, 1981). Identifikasi terhadap masalah inilah yang kemudian mendorong dilakukannya penelitian dan pengembangan (R&D) atau evaluasi kurikulum, yang dirancang untuk menciptakan suatu inovasi. Dalam hal ini perlu untuk diperhatikan bahwa inovasi akan mempunyai makna jika inovasi tersebut diterapkan atau diadopsi, sebab jika inovasi tersebut tidak diterapkan/diadopsi/disebarluaskan maka inovasi tersebut hanya akan menjadi inovasi yang tidak terpakai. Terhadap pengadopsian ini dikenal strategi sentralisasi dan strategi desentralisasi. (disebut penyebaran/difusi inovasi jika ditinjau dari sisi pengembang inovasi, sedangkan adopsi inovasi merupakan prosedur yang dilihat dari sisi calon pemakai/adopter). Baik strategi sentralisasi maupun desentralisasi akan memunculkan permasalahan baru pada saat adopsi/difusinya.

    Perubahan adalah suatu bentuk yang wajar terjadi, bahkan para filosof berpendapat bahwa tidak ada satupun di dunia ini yang abadi kecuali perubahan. Hal yang sama juga terjadi dalam dunia pendidikan. Dari waktuu ke waktu harus ada sebuah pembaharuan dalam hal pendidikan baik dari segi kurikulum, metode, penetapan materi pengajaran harus disuaikan dengan karakteristik siswa dan aspek lingkungan yang sangat mempengaruhi. Semua perubahan akan membawa resiko, tetapi strategi mempertahankan struktur suatu kurikulum, metode, model dan media. Tanpa perubahan akan membawa bencana dan malapetaka, sebab mengkondisikan dalam posisi status quo menyebabkan pendidikan tertinggal dan generasi bangsa tersebut tidak dapat mengejar kemajuan yang diperoleh melalui perubahan.

    Posisi pendidikan menjadi sangat vital dalam pembentukan pribadi manusia, sebab manusia yang memiliki kecerdasan intelektual setinggi apapun tidak akan bermanfaat secara positif bila tidak memiliki kecerdasan afektif secara emosional, sosial, maupun spiritual. Tereliminasinya pendidikan nilai pada kurikulum lembaga pendidikan formal disinyalir oleh berbagai kalangan sebagai salah satu penyebab utama akan kemerosotan moral dan budi pekerti masyarakat yang tercermin dari tingginya angka kriminalitas maupun perbuatan amoral. Dalih integrasi pendidikan nilai dalam pendidikan kewarganegaraan dan keagamaan, pada implementasinya menjadi tidak tepat sasaran karena pendidikan nilai diberikan dengan metode hapalan dengan porsi yang minim untuk memenuhi evaluasi proses pendidikan yang hanya mengukur ranah kognitif semata. Tentunya hal tersebut bertolakbelakang dengan prinsip pendidikan nilai yang mencakup ranah afektif dan tidak dapat terukur dengan model evaluasi pendidikan sebagaimana ditentukan oleh sistem pendidikan nasional. Dengan demikian, inovasi selalu dibutuhkan, terutama dalam bidang pendidikan, untuk mengatasi masalah-masalah yang tidak hanya terbatas masalah pendidikan tetapi juga masalah-masalah yang mempengaruhi kelancaran proses pendidikan.

    Salah satu aspek penting dalam konteks pendidikan di manapun adalah dengan memperhatikan kurikulum, metode, model dan media yang diusung oleh pendidikan tersebut. Seringkali kurikulum, metode, model dan media dijadikan objek penderita, dalam pengertian bahwa ketidakberhasilan suatu pendidikan diakibatkan terlalu seringnya kurikulum, metode, model dan media tersebut berubah. Padahal, seharusnya dipahami bahwa kurikulum, metode, model dan media seyogyanya dinamis, harus berubah mengikuti perubahan yang terjadi dalam masyarakatnya. Cuban (1991) mengemukakan bahwa untuk memahami perubahan kurikulum perlu untuk dipahami tiga pokok pemikiran tentang perubahan tersebut yakni (a) rencana perubahan itu selalu baik, (b) harus dipisahkan antara perubahan (change) dengan kemantapan (stability), dan (c) apabila rencana perubahan sudah diadopsi maka perlu untuk dilakukan perbaikan terhadap rencana tersebut (improvement).

  • Tujuan Perencanaan Pembelajaran
    Salah faktor yang membawa keberhasilan adalah gur senantiasa membuat perencanaan pengajaran sebelumnya. Pada garis besar perencanaan pembelajaran itu bertujuan utnuk mengarahkan dan membimbing kegiatan guru dan siswa dalam proses pembelajaran.

    Secara ideal tujuan perencanaan pembelajaran adalah mengusai sepenuhnya bahan dan materi ajar, metode dan penggunan alat dan perlengkapan pembelajaran, menyampaikan kurikulum atas dasar bahasan dan mengelola alokasi waktu yang tersedia serta membelajarkan siswa sesuai yang diprogramkan. Tujuan pembelajaran itu memungkinkan guru memilih metode yang sesuai sehingga proses pembeljaran itu mengarah dan dapat mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Bagi guru setiap pemilihan metode berarti menentukan proses belajar mengajar mana yang dianggap efektif untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Hal ini juga mengarahkan bagaimana guru mengorganisasikan kegiatan-kegiatan siswa dalam proses pembelajaran yang telah dipilihnya. Dengan demikian betapa pentingnya tujuan itu diperhatikan dan dirumuskan dalam setiap pembelajaran agar pembeljaran itu benar-benar dapat mencapai tujuan sebgaimana yang tertuang dalam kurikulum.

    Terdapat juga beberapa fungsi yang dikemukakan oleh Oemar Hamalik (2001) bahwa pada garis besarnya perencanaan pembelajaran berfungsi sebagai berikut.
    • Memberika guru pemahaman yang elbih jelas tentang tujuan pendidikan sekolah dan hubungan dengan pembeljaran untuk mencapai tujuan itu.
    • Membantu guru pemperjelas pemikiran tentang sumbangan pembelajarannya terhadap tujuan pendidikan.
    • Menambah keyakinan guru atas nilai-nilai pembelajaran yang diberikan dan prosedur yang digunakan.
    • Membantu guru dalam mengenal kebutuhan-kebutuhan siswa, minat siswa dan mendorong motivasi siswa.
    • Membantu guru memelihara kegairahan mengajar dan senantias memberikan bahan-bahan yang update pada siswa.
    Maka tujuan yang paling mendasar dari sebuah perencanaan pembejaran adalah sebagai pedoman atau petunjuk guru  serta mengarahkan dan membimbing kegitan guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Berdasarkan beberapa kepentingan tersebut, tujuan dan manfaat pembelajaran antara lain adalah:
    • Sebagai landasan pokok bagi guru dan siswa dalam mencapai kompetensi dasar dan indikator yang telah ditetapkan.
    • Memberikan gambaran mengenai acuan kerja jangka pendek
    • Karena disusun dengan menggunakan pendekatan sistem memberikan pengaruh terhadap pengembangan individu siswa.

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Informasi Terbaru