• Potret Pendidikan di Indonesia Mungkin semua orang sudah mengenal cerita dari novel terkanal Laskar Pelangi. Yaitu pada intinya menceritakan bagaimana pendidikan di daerah yang bisa dikatakan terpencil, dengan segala kekurangannya. Namun ada semangat untuk melakukan dengan lebih baik, mendidik dan belajar. Cerita Laskar Pelangi yang diinspirasi dari kisah nyata pengarangnya memang membuat yang membaca atau melihat filmnya muncul sebuah rasa sedih akan potret pendidikan di Indonesia, tapi juga semangat dan motivasi yang tinggi untuk belajar atau mengajar. Keterbatasan bukan menjadi kendala untuk berprestasi. Ada tokoh-tokoh dalam cerita itu yang memberikan pencerahan dan inspirasi pada kita. Ada bu Guru yang dengan keikhlasan dan kesungguhannya mengajar, serta anak-anak dengan keterbatasanya belajar dengan semangat tinggi.

    Kisah itu mungkin masih bisa kita jumpai di dunia nyata. Bahwa pendidikan di Indonesia khususnya di Sekolah Dasar masih mengenal daerah terpencil. Karena memang hampir dipastikan Jenjang Pendidikan yang masih banyak mendapat label terpencil adalah tingak SD. Bukan hanya karena jumlahnya yang banyak, tapi juga ini adalah jenjang pendidikan yang paling dasar.

    Apakah semua yang terjadi di daerah terpencil dengan segala keterbatasannya seperti cerita di Laskar Pelangi? Pastinya tidak, karena tidak semua guru mempunyai sikap seperti bu Guru di laskar pelangi, tak semua anak memiliki sifat seperti anak-anak laskar pelangi. Ada banyak kompleksitas permasalahan atau kendala di daerah terpencil. Ada segi ekonomi masyarkat sekitar, orang-orang tua murid yang juga akan mempengaruhi. Kecerdasan anak-anak, kesehatan berpengaruh dalam keberhasilan pendidikan. Dan tak kalah lebih berpengaruh adalah sarana dan prasarana.

    Memang seorang guru mempunyai peranan yang penting, bagaimana tak hanya mengajarkan apa yang diamanatkan oleh kurikulum tapi juga membimbing, memerikan motivasi kepada siswanya. Dengan berbagai tantangan yang ada, misalnya; jalan menuju sekolah yang masih sulit saja itu membuat kegairahan untuk mengajar ke sekolah menjadi berkurang.

    Harus ada campur tangan pemerintah yang lebih serius menanganinya. Memberikan perlakuan yang adil, jika di perkotaan saja ada SD berlabel bertaraf Internasional maka pendidikan yang ada di daerahpun juga harus dibangun lebih lagi. Agar tidak terjadi gap yang semakin lebar. Secara umum, untuk pemerintah berikan perhatian yang lebih untuk daerah-daerah tertinggal.

    Tulisan ini ditulis oleh Kurnia Septa juga terbit di Kompasiana

    more
  • Ciri-Ciri Pembelajaran Modern Di sekolah terjadi proses belajar mengajar, ada guru dan murid. Ada beberapa kegiatan yang harus dirubah untuk menuju proses pembelajaran yang lebih modern dan tepat. Situasi atau kegiatan mengajar yang kuno, konvesional, ataupun klasik (teaching) harus dirubah menjadi learning, lebih modern yang disesuaikan dengan karakter anak dan pengembangan IPTEK. Berikut ini ciri-ciri atau prinsip pembelajaran masa depan (learning).
    • Siswa aktif dan guru hanya mengarahkan. Harus dirubah dari kebiasaan guru yang aktif ceramah di depan kelas dan siswa hanya menonton di tempat duduknya sendiri-sendiri. Siswalah yang harus aktif menemukan dan menyimpulkan pengetahuan, menanamkan konsep, guru hanya sebagai fasilitator yang mengarah siswa.
    • Mendidik (education). Harus dirubah konsep mengajar menjadi mendidik. Dari memberikan perintah-perintah menjadi proses mendidik yaitu melaksanakan langsung atau memberi contoh dalam perbuatan.
    • Mendapatkan pengalaman nyata. Siswa itu bukan sebuah botol kosong yang lalu diisi oleh guru. Siswa bisa mengisinya sendiri dengan pengalaman nyata yang diberikan guru.
    • Berpusat pada siswa, pembelajaran yang bermakna. Situasi kelas yang hanya berpusat pada guru, dengan memberikan tugas-tugas harus dirubah dengan menjadikan siswa sebagai pusatnya.
    • Siswa sebagai subyek, aktif, kritis dan kreatif. Model pengajaran yang membuat siswa menjadi obyek, siswa pasif dan statis harus dirubah. Siswalah yang melakukan sendiri, maju ke depan, berdiskusi, dan menuangkan ide-idenya.
    • Hasil belajar diukur dengan berbagai cara tak hanya tes. Karena ada berbagai macam kompetensi yang diinginkan dari sebuah pembelajaran, maka bentuk tesnya pun beragam. Selain itu tak hanya tes akhir tapi juga ada penilaian proses.
    • Belajar dapat dilakukan dimana saja tak hanya di dalam kelas yang dibatasi tembok, tapi bisa di lingkungan sekitar.
    • Karya siswa menjadi acuan bukan hasil tes yang menjadi acuanPerilaku siswa berasal dari kesadaran diri siswa, pengetahuan dekat dengan kehidupan nyata dan berguna dalam kehidupan. Tidak menjadikan tes sebagai acuan dan perilaku siswa tidak berasal dari drill.Adanya perubahan perilaku, memiliki respon terhadap sesuatu serta memberi makna pada siswa, tidak hanya mengubah kognitif atau mengingat.Siswa mencoba untuk memecahkan masalah bukan guru menyampaikan informasi saja.
    Demikian tadi apa yang bisa dilakukan untuk mengubah dari teaching menuju learning atau dari pengajaran menuju pembelajaran. Sehingga guru bisa berusaha untuk menciptakan pembelajaran yang mengandung maksud seperti diatas.

    Tulisan ini juga diterbitkan di Kompasiana

    more
  • Langkah-Langkah Pembelajaran dalam VCT John Jarolimek (1974) menjelaskan langkah pembelajaran dengan Value clarification technique (VCT) dalam 7 tahap yang dibagi ke dalam 3 tingkat, setiap tahapan dijelaskan sebagai berikut.

    Kebebasan Memilih, Pada tingkat ini terdapat 3 tahap, yaitu: (1) Memilih secara bebas, artinya kesempatan untuk menentukan pilihan yang menurutnya baik. Nilai yang dipaksakan tidak akan menjadi miliknya secara penuh; (2) Memilih dari beberapa alternatif. Artinya, untuk menentukan pilihan dari beberapa alternatif pilihan secara bebas; (3) Memilih setelah dilakukan analisis pertimbangan konsekuensi yang akan timbul sebagai akibat pilihannya.

    Menghargai,Terdiri atas 2 tahap pembelajaran, yaitu; (1) Adanya perasaan senang dan bangga dengan nilai yang menjadi pilihannya, sehingga nilai tersebut akan menjadi bagian dari dirinya; (2) Menegaskan nilai yang sudah menjadi bagian integral dalam dirinya di depan umum. Artinya, bila kita menggagap nilai itu suatu pilihan, maka kita akan berani dengan penuh kesadaran untuk menunjukkannya di depan orang lain.

    Berbuat, Pada tahap ini, terdiri atas 2 tahap, yaitu; (1) Kemauan dan kemampuan untuk mencoba melaksanakannya (2) Mengulangi perilaku sesuai dengan nilai pilihannya. Artinya, nilai yang menjadi pilihan itu harus tercermin dalam kehidupannya sehari-hari.

    VCT menekankan bagaimana sebenarnya seseorang membangun nilai yang menurut anggapannya baik, yang pada gilirannya nilai-nilai tersebut akan mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehai-hari di masyarakat. Dalam praktik pembelajaran, VCT dikembangkan melalui proses dialog antara guru dan siswa. Proses tersebut hendaknya berlangsung dalam suasana santai dan terbuka, Sehingga setiap siswa dapat mengungkapkan secara bebas perasaannya.

    Hermi Yanzi dalam artikelnya yang berjudul Pembelajaran Inovatif Berbasis VCT (Value Clarification Technique/Teknik Pengungkapan Nilai) Untuk Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) menjelaskan langkah-langkah VCT sebagai berikut. (1) Membuat/mencari media stimulus. Berupa contoh keadaan/perbuatan yang memuat nilai-nilai kontras yang disesuaikan dengan topik atau tema target pembelajaran. Dengan persyaratan hendaknya mampu merangsang, melibatkan dan mengembangkan potensi afektual siswa, terjangkau dengan tingkat berpikir siswa. Misalnya contoh peristiwa "Tabrak Lari". (2) Kegiatan pembelajaran. Pertama, guru melontarkan stimulus dengan cara membaca/menampilkan cerita atau menampilkan gambar, kegiatan ini dapat dilakukan oleh guru sendiri atau meminta bantuan kepada siswa lain. Kedua, memberikan kesempatan kepada siswa untuk berdialog sendiri atau sesama teman sehubungan dengan stimulus tadi. Ketiga, melaksanakan dialog terpimpin melalui pertanyaan yang telah disusun oleh guru yang berhubungan dengan stimulus tadi, baik secara individual maupun berkelompok. Keempat, menentukan argumen atau pendirian melalui pertanyaan guru baik secara individual maupun berkelompok. Kelima, pembahasan atau pembuktian argumen. Keenam penyimpulan.

    Implementasi Pelaksanaan VCT

    Hermi Yanzi dalam artikelnya yang berjudul Pembelajaran Inovatif Berbasis VCT (Value Clarification Technique/Teknik Pengungkapan Nilai) Untuk Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) menjelaskan langkah-langkah implementasi dalam pembelajaran VCT sebagai berikut.

    Persiapan, diawalili dengan melakukan tindakan yaitu Pertama, menyusun RPP sesuai dengan pokok bahasan. Dalam kesempatan ini diambil contoh materi kedisiplinan. Kedua, menetapkan bagian mana dari materi kedisiplinan yang akan disajikan melalui analisis nilai, materi dapat dipilah seperti; kedisiplinan dirumah, sekolah maupun di jalan raya. Ketiga, menyusun skenario pembelajaran sehingga jelas langkah-langkah pembelajarannya. Keempat, menyiapkan media stimulus untuk ber-VCT seperti cerita, guntingan koran atau memutar video. Kelima, menyiapkan lembar kerja yang berisi panduan terperinci bagi siswa dalam ber-VCT.

    Pelaksanaan, diawalili dengan melakukan tindakan yaitu Pertama, setelah membuka pelajaran, dijelaskan kepada siswa bahwa mereka akan ber-VCT. Kedua, pelontaran stimulus oleh guru atau siswa yang telah di rancang sedemikian rupa. Ketiga, guru memperhatikan aksi dan reaksi spontan siswa terhadap stimulus yang diberikan. Keempat, melaksankan dialog terpimpin melalui perntanyaan guru baik secara individual, kelompok maupun secara klasikal. Kelima, menentukan argumen dan klarifikasi pendirian. Keenam, pembahasan/pembuktian argumen. Pada tahap ini sudah mulai ditanamkan target nilai dan konsep yang sesuai dengan materi. Ketujuh, penyimpulan yang dapat berupa bagan intisari materi.

    more
  • Pembelajaran Value Clarification Technique (VCT) Teknik mengklarifikasi nilai (value clarification technique) atau sering disingkat VCT dapat diartikan sebagai teknik pengajaran untuk membantu siswa dalam mencari dan menentukan suatu nilai yang dianggap baik dalam menghadapi suatu persoalan melaui proses menganalisis nilai yang sudah ada dan tertanam dalam diri siswa.

    Menurut A. Kosasih Djahiri (1985) model pembelajaran VCT meliputi; metode percontohan; analisis nilai; daftar/matriks; kartu keyakinan; wawancara, yurisprudensi dan teknik inkuiri nilai. Selain itu dikenal juga dengan metode bermain peran. Metode dan model di atas dianggap sangat cocok diterapkan dalam pembelajaran PKn, karena mata pelajaran PKn mengemban misi untuk membina nilai, moral, sikap dan prilaku siswa, disamping membina kecerdasan (knowledge) siswa.
    Kelemahan yang sering terjadi dalam proses pembelajaran nilai atau sikap adalah proses pembelajaran dilakukan secara langsung oleh guru, artinya guru menanamkan nilai-nilai yang dianggapnya baik tanpa memerhatikan nilai yang sudah tertanam dalam diri siswa. Akibatnya, sering terjadi benturan atau konflik dalam diri siswa karena ketidakcocokan antara nilai lama yang sudah terbentuk dengan nilai baru yang ditanamkan oleh guru. Siswa sering mengalami kesulitan dalam menyelaraskan nilai lama dan nilai baru.

    Salah satu karakteristik VCT sebagai suatu model dalam strategi pembelajaran sikap adalah proses penanaman nilai dilakukan melalui proses analisis nilai yang sudah ada sebelumnya dalam diri siswa kemudian menyelaraskannya dengan nilai-nilai baru yang hendak ditanamkan. VCT sebagai suatu model dalam strategi pembelajaran moral bertujuan (1) Untuk mengukur atau mengetahul tingkat kesadaran siswa tentang suatu nilai. (2) Membina kesadaran siswa tentang nilai-nilai yang dimilikinya baik tingkatannya maupun sifatnya (positif dan negatifnya) untuk kemudian dibina ke arah peningkatan dan pembetulannya. (3) Untuk menanamkan nilai-nilai tertentu kepada siswa melalui cara yang rasional dan diterima siswa, sehingga pada akhirnya nilai tersebut akan menjadi milik siswa. (4) Melatih siswa bagaimana cara menilai, menerima, serta mengambil keputusan terhadap sesuatu persoalan dalam hubungannya dengan kehidupan sehari-hari di masyarakat.

    Pembelajaran VCT menurut A. Kosasih Djahiri (1992), dianggap unggul untuk pembelajaran afektif karena; pertama, mampu membina dan mempribadikan nilai dan moral; kedua, mampu mengklarifikasi dan mengungkapkan isi pesan materi yang disampaikan; ketiga mampu mengklarifikasi dan menilai kualitas nilai moral diri siswa dan nilai moral dalam kehidupan nyata; keempat, mampu mengundang, melibatkan, membina dan mengembangkan potensi diri siswa terutama potensi afektualnya; kelima, mampu memberikan pengalaman belajar dalam berbagai kehidupan; keenam, mampu menangkal, meniadakan mengintervensi dan menyubversi berbagai nilai moral naif yang ada dalam sistem nilai dan moral yang ada dalam diri seseorang; ketujuh, menuntun dan memotivasi untuk hidup layak dan bermoral tinggi.

    Beberapa hal yang harus diperhatikan guru dalam mengimplementasikan VCT melalui proses dialog , antara lain yaitu (1) Hindari penyampaian pesan melalui proses pemberian nasihat, yaitu memberikan pesan-pesan moral yang menurut guru dianggap baik. (2) Jangan memaksa siswa untuk memberi respons tertentu apabila memang siswa tidak menghendakinya. (3) Usahakan dialog dilaksanakan secara bebas dan terbuka, Sehingga siswa akan mengungkapkan perasaannya secara jujur dan apa adanya. (4)Dialog dilaksanakan kepada individu, bukan kepada kelompok kelas. (5)Hindari respons yang dapat menyebabkan siswa terpojok, Sehingga ia menjadi defensif. (6) Tidak mendesak siswa pada pendirian tertentu. (7) Jangan mengorek alasan siswa lebih dalam.

    Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka melalui strategi pembelajaran kooperatif metode Value clarification technique (VCT) diharapkan siswa akan lebih bergairah dan menyenangkan dalam menerima pelajaran PKn yang pada gilirannya tujuan pembentukan atau penanaman nilai dan sikap dapat tercapai.

    more
  • PENILAIAN DALAM PEMBELAJARAN TEMATIK A. Pengertian

    Penilaian dalam pembelajaran tematik adalah suatu usaha untuk mendapatkan berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan hasil dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai oleh anak didik melalui program kegiatan belajar.

    B. Tujuan

    Tujuan Penilaian pembelajaran tematik adalah:
    1. Mengetahui percapaian indikator yang telah ditetapkan
    2. Memperoleh umpan balik bagi guru, untuk pengetahui hambatan yang terjadi dalam pembelajaran maupun efektivitas pembelajaran
    3. Memperoleh gambaran yang jelas tentang perkembangan pengetahuan, keterampilan dan sikap siswa
    4. Sebagai acuan dalam menentukan rencana tindak lanjut (remedial, pengayaan, dan pemantapan).

    C. Prinsip

    1. Penilaian di kelas I dan II mengikuti aturan penilaian mata-mata pelajaran lain di sekolah dasar. Mengingat bahwa siswa kelas I SD belum semuanya lancar membaca dan menulis, maka cara penilaian di kelas I tidak ditekankan pada penilaian secara tertulis.
    2. Kemampuan membaca, menulis dan berhitung merupakan kemampuan yang harus dikuasai oleh peserta didik kelas I dan II. Oleh karena itu, penguasaan terhadap ke tiga kemampuan tersebut adalah prasyarat untuk kenaikan kelas.
    3. Penilaian dilakukan dengan mengacu pada indikator dari masing-masing Kompetensi Dasar dan Hasil Belajar dari mata-mata pelajaran.
    4. Penilaian dilakukan secara terus menerus dan selama proses belajar mengajar berlangsung, misalnya sewaktu siswa bercerita pada kegiatan awal, membaca pada kegiatan inti dan menyanyi pada kegiatan akhir.
    5. Hasil karya/kerja siswa dapat digunakan sebagai bahan masukan guru dalam mengambil keputusan siswa misalnya: Penggunaan tanda baca, ejaan kata, maupun angka.

    D. Alat Penilaian

    Alat penilaian dapat berupa Tes dan Non Tes. Tes mencakup: tertulis, lisan, atau perbuatan, catatan harian perkembangan siswa, dan porto folio. Dalam kegiatan pembelajaran di kelas awal penilaian yang lebih banyak digunakan adalah melalui pemberian tugas dan portofolio. Guru menilai anak melalui pengamatan yang lalu dicatat pada sebuiah buku bantu. Sedangkan Tes tertulis digunakan untuk menilai kemampuan menulis siswa, khususnya untuk mengetahui tentang penggunaan tanda baca, Jean, kata atau angka

    Berikut adalah contoh penilaian yang dapat dilakukan guru:

    A. Kewarganegaraan dan
    Pengetahuan Sosial : Tes Lisan
    • Menyebutkan peristiwa/kegiatan yang dialami
    • Mengemukakan peristiwa/kegiatan yang berkesan
    • Mengekspresikan perasaan waktu memberi kesan.

    B. Bahasa Indonesia : Perbuatan
    • Kelancaran membaca
    • Melafalkan kata
    • Melagukan/intonasi
    • Cara bertanya jawab
    Tugas
    • Melengkapi kalimat

    C. Ilmu Pengetahuan Alam
    : Perbuatan
    • Mendemonstrasikan cara menggosok gigi
    : Lisan
    • Menyebutkan cara memelihara gigi
    • Menjelaskan manfaat menggosok gigi

    E. Aspek Penilaian

    Pada pembelajaran tematik penilaian dilakukan untuk mengkaji ketercapaian Kompetensi Dasar dan Indikator pada tiap-tiap mata pelajaran yang terdapat pada tema tersebut. Dengan demikian penilaian dalam hal ini tidak lagi terpadu melalui tema, melainkan sudah terpisah-pisah sesuai dengan Kompetensi Dasar, Hasil Belajar dan Indikator mata pelajaran.

    Nilai akhir pada laporan (raport) dikembalikan pada kompetensi mata pelajaran yang terdapat pada kelas satu dan dua Sekolah Dasar, yaitu: Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu Pengetahuan Sosial, Seni Budaya dan Keterampilan, dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan kesehatan.

    more
  • TAHAP PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TEMATIK 1. Tahapan kegiatan
    Pelaksanaan pembelajaran tematik setiap hari dilakukan dengan menggunakan tiga tahapan kegiatan yaitu kegiatan pembukaan/awal/pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Alokasi waktu untuk setiap tahapan adalah kegiatan pembukaan kurang lebih satu jam pelajaran (1 x 35 menit), kegiatan inti 3 jam pelajaran (3 x 35 menit) dan kegiatan penutup satu jam pelajaran (1 x 35 menit)

    a. Kegiatan Pendahuluan/awal/pembukaan
    Kegiatan ini dilakukan terutama untuk menciptakan suasana awal pembelajaran untuk mendorong siswa menfokuskan dirinya agar mampu mengikuti proses pembelajaran dengan baik.

    Sifat dari kegiatan pembukaan adalah kegiatan untuk pemanasan. Pada tahap ini dapat dilakukan penggalian terhadap pengalaman anak tentang tema yang akan disajikan. Beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan adalah bercerita, kegiatan fisik/jasmani, dan menyanyi

    b. Kegiatan Inti
    Dalam kegiatan inti difokuskan pada kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk pengembangan kemampuan baca, tulis dan hitung. Penyajian bahan pembelajaran dilakukan dengan menggunakan berbagai strategi/metode yang bervariasi dan dapat dilakukan secara klasikal, kelompok kecil, ataupun perorangan.

    c. Kegiatan Penutup/Akhir dan Tindak Lanjut
    Sifat dari kegiatan penutup adalah untuk menenangkan. Beberapa contoh kegiatan akhir/penutup yang dapat dilakukan adalah menyimpulkan/mengungkapkan hasil pembelajaran yang telah dilakukan, mendongeng, membacakan cerita dari buku, pantomim, pesan-pesan moral, musik/apresiasi musik.

    Contoh jadwal pelaksanaan pembelajaran perhari dapat dijabarkan menjadi:
    Contoh 1:

    Kegiatan Jenis kegiatan
    Kegiatan pembukaan Anak berkumpul bernyanyi sambil menari mengikluti irama musik

    Kegiatan inti
    • Kegiatan untuk pengembangan membaca
    • Kegiatan untuk pengembangan menulis
    • Kegitan untuk pengembangan berhitung•

    Kegiatan penutup Mendongeng atau membaca cerita dari buku cerita

    Contoh 2:
    Kegiatan Jenis kegiatan
    Kegiatan pembukaan
    Waktu berkumpul (anak m,enceritakan pengalkaman, menyanyi, melakukan kegiatan fisik sesuai dengan tema)

    Kegiatan inti
    • Pengembnagan kemmapuan menulis (kegiatan kelompok besar)
    • Pengembnagan kemampuan berhitung kegiatan kelompok kecil atau berpasangan)
    • Melakukan pengamatan sesuai dengan tema, misalnya mengamati jenis kendaraan yang lewat pada tema transporasi, menggambar hewan hasil pengamatan

    Kegoiatan penutup
    • Mendongeng
    • Pesan-pesan moral
    • Musik/menyanyi

    2. Pengaturan Jadwal pelajaran
    Untuk memudahkan administrasi sekolah terutama dalam penjadwalan. Guru bersama dengan guru mata pelajaran pendidikan agama, guru pendidikan Jasmani dan guru muatan lokal perlu bersama-sama menyusun Jadwal pelajaran.

    more
  • TAHAP PERSIAPAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TEMATIK Dalam pelaksanaan pembelajaran tematik, perlu dilakukan beberapa hal yang meliputi tahap perencanaan yang mencakup kegiatan pemetaan kompetensi dasar, pengembangan jaringan tema, pengembangan silabus dan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran.

    A. Pemetaan Kompetensi Dasar
    Kegiatan pemetaan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh dan utuh semua standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator dari berbagai mata pelajaran yang dipadukan dalam tema yang dipilih. Kegiatan yang dilakukan adalah:

    1. Penjabaran Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ke dalam indikator
    Melakukan kegiatan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar dari setiap mata pelajaran ke dalam indikator. Dalam mengembangkan indikator perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
    • Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik
    • Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran
    • Dirumuskan dalam kata kerja oprasional yang terukur dan/atau dapat diamati

    2. Menentukan tema
    a. cara penentuan tema
    Dalam menentukan tema dapat dilakukan dengan dua cara yakni:

    Cara pertama, mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat dalam masing-masing mata pelajaran, dilanjutkan dengan menentukan tema yang sesuai.

    Cara kedua, menetapkan terlebih dahulu tema-tema pengikat keterpaduan, untuk menentukan tema tersebut, guru dapat bekerjasama dengan peserta didik sehingga sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.

    b. Prinsip Penentuan tema
    Dalam menetapkan tema perlu memperhatikan beberapa prinsip yaitu:
    • Memperhatikan lingkungan yang terdekat dengan siswa:
    • Dari yang termudah menuju yang sulit
    • Dari yang sederhana menuju yang kompleks
    • Dari yang konkret menuju ke yang abstrak.
    • Tema yang dipilih harus memungkinkan terjadinya proses berpikir pada diri siswa
    • Ruang lingkup tema disesuaikan dengan usia dan perkembangan siswa, termasuk minat, kebutuhan, dan kemampuannya

    3. Identifikasi dan analisis Standar Kompetensi, Kompetensi dasar dan Indikator
    Lakukan identifikasi dan analisis untuk setiap Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar dan indikator yang cocok untuk setiap tema sehingga semua standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator terbagi habis.

    B. Menetapkan Jaringan Tema
    Buatlah jaringan tema yaitu menghubungkan kompetensi dasar dan indikator dengan tema pemersatu. Dengan jaringan tema tersebut akan terlihat kaitan antara tema, kompetensi dasar dan indikator dari setiap mata pelajaran. Jaringan tema ini dapat dikembangkan sesuai dengan alokasi waktu setiap tema.


    C. Penyusunan Silabus
    Hasil seluruh proses yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya dijadikan dasar dalam penyusunan silabus. Komponen silabus terdiri dari standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, pengalaman belajar, alat/sumber, dan penilaian.

    D. Penyusunan Rencana Pembelajaran
    Untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran guru perlu menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran. Rencana pembelajaran ini merupakan realisasi dari pengalaman belajar siswa yang telah ditetapkan dalam silabus pembelajaran. Komponen rencana pembelajaran tematik meliputi

    1. Identitas mata pelajaran (nama mata pelajaran yang akan dipadukan, kelas, semester, dan waktu/banyaknya jam pertemuan yang dialokasikan).

    2. Kompetensi dasar dan indikator yang akan dilaksanakan.

    3. Materi pokok beserta uraiannya yang perlu dipelajari siswa dalam rangka mencapai kompetensi dasar dan indikator.

    4. Strategi pembelajaran (kegiatan pembelajaran secara konkret yang harus dilakukan siswa dalam berinteraksi dengan materi pembelajaran dan sumber belajar untuk menguasai kompetensi dasar dan indikator, kegiatan ini tertuang dalam kegiatan pembukaan, inti dan penutup).

    5. Alat dan media yang digunakan untuk memperlancar pencapaian kompetensi dasar, serta sumber bahan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran tematik sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai.

    6. Penilaian dan tindak lanjut (prosedur dan instrumen yang akan digunakan untuk menilai pencapaian belajar peserta didik serta tindak lanjut hasil penilaian).

    more

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Baca Informasi Terbaru

Informasi Terhangat Hari Ini