• SIAPKAH GURU MENGHADAPI PKG 2013?
    Oleh: Ali Ansori, S.S, M.Pd
    Widyaiswara LPMP Prov. Kep. Bangka Belitung


    Menjelang pelaksanaan Penilaian Kinerja Guru (PKG) 2013 yang dikhususkan bagi guru yang sudah bersertifikasi, para guru dituntut untuk mempersiapkan diri terutama di beberapa aspek dalam lingkup kompetensi pedagogik dan professional mereka. Diantara aspek yang dimaksud adalah kegiatan perancangan, pelaksanaan yang mencakup kegiatan awal, inti dan akhir. Sedangkan aspek yang ketiga adalah evaluasi. Bagaimana seharusnya para guru menyongsong program yang sangat menentukan karir kedepan mereka tersebut? Be creative!, mungkin itulah jawaban idealnya. Tulisan ini bermaksud menggugah setiap guru untuk selalu mengasah lebih tajam kreatifitasnya masing-masing. Sebab dengan menjadi kreatiflah ia yang bersangkutan dapat menunjukkan kinerja yang baik, bahkan baik sekali saat mengikuti PKG nanti. Namun, yang lebih penting adalah ia mampu menunjukan keprofesionalan dalam melaksanakan tugas secara berkesinambungan kapanpun dan dimanapun.

    Berangkat dari pelbagai fakta dan pengalaman di lapangan dalam berinteraksi dengan para pendidik di semua level pendidikan melalui kegiatan diklat, magang, monitoring dan evaluasi, dapat penulis gambarkan bahwa kompetensi pedagogik dan profesional guru masih perlu ditingkatkan. Tuntutan agar para guru memiliki kreatifitas yang berkesinambungan dalam dua kompetensi diatas merupakan suatu hal yang tidak bisa dipandang sebelah mata, bahkan mustahil diabaikan. Ini berarti bahwa guru membutuhkan dorongan yang maksimal untuk melakukan itu, baik dari internal guru itu sendiri maupun eksternal dirinya.

    Menurut Prof. Dr. Selo Soemardjan, kreatifitas merupakan sifat pribadi seorang individu (dan bukan merupakan sifat sosial yang dihayati oleh masyarakat) yang tercermin dari kemampuannya untuk menciptakan sesuatu yang baru. Jadi, setiap orang sebenarnya memiliki potensi kreatif, namun dalam derajat yang berbeda-beda dan dalam bidang yang berbeda-beda. Potensi ini perlu dipupuk sejak dini agar dapat diwujudkan. Untuk itu diperlukan kekuatan-kekuatan pendorong, baik dari luar (lingkungan) maupun dari dalam individu sendiri.

    Carl Rogers menyebutkan tiga kondisi internal dari pribadi yang kreatif, yaitu: Pertama, Keterbukaan terhadap pengalaman. Kita tahu bahwa tugas pokok guru adalah mengajar, mendidik dan melatih. Ketiga hal tersebut secara simultan terintegrasi dalam kegiatan rutinitas setiap guru di sekolah. Melalui rutinitas tersebutlah setiap guru sebenarnya bisa berefleksi, memikirkan kembali apa yang sudah dikerjakan, melakukan perencanaan baru untuk tindakan selanjutnya, dan melakukan tindakan baru yang relevan sambil selalu melakukan pengamatan untuk refleksi diri buat tindakan berikutnya. Begitulah seharusnya langkah-langkah tersebut berjalan membentuk lingkaran-lingkaran kreatifitas, dimana guru terus belajar melalui pengalaman-pengalamannya sendiri. Experience is the best teacher. Jadi sebenarnya melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan langkah yang tepat bagi guru untuk membuat perubahan-perubahan yang konstruktif dalam pembelajaran. Karena menurut Depdiknas, PTK merupakan bentuk kajian yang sistematis reflektif, dilakukan oleh pelaku tindakan atau guru, dan dilakukan untuk memperbaiki kondisi pembelajaran. Melalui PTKlah nantinya perbaikan pembelajaran, profesionalisme, self confidence, pengembangan pengetahuan dan keterampilan, peningkatan hasil belajar, dan peningkatkan kualitas pendidikan akan muncul.

    Kedua, kemampuan untuk menilai situasi patokan pribadi seseorang (internal locus of evaluation). Dari pengalaman-pengalaman yang sudah dilakukan, setiap guru seharusnya dapat memetakan dirinya sendiri sehingga terbentuklah profil diri berupa kekuatan atau kelemahan kinerjanya. Profil diri tersebutlah yang akan membantunya dalam mengevaluasi diri untuk melaksanakan kinerja yang lebih baik dari sebelumnya. Misalnya, ketika ia menemukan dirinya lemah dalam pelaksanakan proses belajar mengajar yang ditandai dengan rendahnya hasil belajar dan rendahnya motivasi belajar siswa, maka berarti yang bersangkutan harus meningkatkan kompetensi pedagogiknya melalui berbagai kegiatan yang relevan dan menunjang seperti membaca berbagai sumber mengenai cara mengajar yang tepat, mengikuti seminar, lokakarya tentang pengelolaan kelas, melakukan peer teaching dan lain sebagainya.

    Yang ketiga adalah berani bereksperimen, yaitu kemampuan untuk bermain atau bereksplorasi dengan unsur-unsur, bentuk-bentuk, konsep-konsep, serta membentuk kombinasi-kombinasi baru berdasarkan hal-hal yang sudah ada sebelumnya. Dalam hal ini, guru sebagai agent of change harus berani mencoba melakukan segala bentuk eksperimen, karena dari percobaan-percobaan tersebutlah yang bersangkutan mampu meningkatkan kompetensi diri, menemukan inovasi-inovasi baru dalam pembelajaran. Bahkan, ia akan mampu menciptakan suasana pembelajaran yang joyful dan meaningful bagi para siswa di kelas karena mereka telah dilibatkan secara langsung, bertemu dengan banyak exposure, dan melakukan kegiatan-kegiatan yang konkrit. Hal ini tentu relevan dengan apa yang dikatakan oleh seorang Confusius yang sangat populer dalam dunia pendidikan yang berbunyi I hear and I forget, I see and I believe, dan I do and I understand. Jadi, ujaran tersebut sebenarnya merupakan bentuk motivasi kenapa guru harus menerapkan pendekatan student-centered dalam pelaksanaan pembelajaran.

    Drs.A.M.Heru Basuki, Mpsi., seorang dosen psikologi mengatakan bahwa apabila seseorang memiliki ketiga ciri kreatifitas diatas, maka kesehatan psikologisnya sangat baik. Hal tersebut karena ia akan berfungsi sepenuhnya menghasilkan karya-karya kreatif, dan hidup secara kreatif. Ketiga ciri atau kondisi tersebut merupakan dorongan dari dalam (internal press) untuk kreasi.

    Selain faktor-faktor internal tersebut, setiap orang juga bisa berkreasi jika ada dorongan dari luar. Bagi seorang guru, faktor-faktor eksternal yang dapat menumbuhkan dan meningkatkan kreativitas individunya adalah faktor leadership, interpersonal dan environment. Menurut sebuah hasil penelitian dari Ohio State University bahwa faktor kepemimpinan di sekolah berpengaruh 71,4% terhadap kinerja guru. Jadi peran kepala sekolah sebagai pemimpin memberikan dampak yang besar bagi civitas akademik sekolah. Hal itu karena kepala sekolah adalah pengelola pendidikan di sekolah secara keseluruhan, dan kepala sekolah adalah pemimpin formal pendidikan di sekolahnya. Dalam suatu lingkungan pendidikan di sekolah, kepala sekolah bertanggung jawab penuh untuk mengelola dan memberdayakan guru-guru agar terus meningkatkan kemampuan kerjanya. Dengan peningkatan kemampuan atas segala potensi yang dimilikinya itu, maka dipastikan guru-guru yang juga merupakan mitra kerja kepala sekolah dalam berbagai bidang kegiatan pendidikan dapat berupaya menampilkan sikap positif terhadap pekerjaannya dan meningkatkan kompetensi profesionalnya. Sebagai contoh, ketika seorang kepala sekolah bersikap responsif terhadap kebutuhan guru menjelang pelaksanaan PKG 2013, maka iapun mulai membuka kesempatan bagi para guru untuk melakukan pengembangan-pengembangan diri. Misalnya dengan memfasilitasi para guru dengan sarana prasarana berupa internet, bahan ajar, alat peraga dan media atau multi media pembelajaran yang variatif dan aplikatif sesuai dengan yang mereka butuhkan agar mereka lebih eksploratif dalam menyiapkan dan melakukan pembelajaran. Disamping juga ia memberi akses kepada setiap guru untuk bisa belajar mandiri atau dengan teman sejawat melalui pelaksanaan Lesson Studi sekolah atau PTK dan mengadakan berbagai kegiatan penunjang lainnya tentang pengelolaan kelas, pengembangan silabus dan RPP, penerapan pendekatan, metode, dan model pembelajaran melalui kegiatan workshop ataupun diklat. Dengan cara demikian, para guru akan termotivasi untuk selalu aktif dan kreatif dalam melaksanakan tupoksi mereka.

    Faktor eksternal berikutnya adalah Interpersonal. Menurut Teori Multiple Intelligences (Gardner,1993), kemahiran interpersonal didefinisikan sebagai upaya untuk berinteraksi dengan orang lain dan memahami mereka. Pengajaran bisa diuraikan sebagai suatu proses yang berkaitan dengan penyebaran ilmu pengetahuan dan keterampilan supaya murid dapat mempelajari dan menguasainya dengan berkesan (meaningful). Proses pembelajaran tidak dapat dilaksanakan dengan berkesan tanpa komunikasi yang berkesan. Oleh sebab itu untuk memastikan pengajaran dapat disampaikan dengan berkesan, guru-guru harus mempunyai kemahiran komunikasi interpersonal untuk menarik perhatian pelajar memahami apa yang coba disampaikan. Dengan kata lain, baik atau buruknya kaedah pengajaran dan pembelajaran yang dilahirkan dapat dihubungkan dengan corak komunikasi yang dipakai antara guru dan murid baik melalui lisan ataupun non lisan. Jadi, komunikasi interpersonal sangat penting dimiliki oleh setiap guru. Dengan komunikasi yang dimaksud guru bisa menciptakan interaksi yang baik antara ia dengan siswa dan siswa dengan siswa dalam berbagai bentuk kegiatan pembelajaran, misalnya bertanya, diskusi, bercerita, presentasi dan lain sebagainya. Maka semakin baik komunikasi yang ia bangun, sebenarnya semakin baik pula upayanya untuk meningkatkan profesionalitas dan kualitas pembelajaran di kelas. Hal ini tentu akan semakin mendorongnya untuk selalu berkreasi terus menerus guna mencari yang terbaik.

    Sedangkan faktor yang terakhir adalah Environment. Secara eksplisit dinyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran di dalam kelas antara lain adalah kompetensi guru, metode pembelajaran yang dipakai, kurikulum, sarana dan prasarana, serta lingkungan pembelajaran baik lingkungan alam, (psiko)sosial dan budaya (Depdikbud, 1994). Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa lingkungan sekolah dimana rasa kebersamaan sesama guru tinggi, dukungan sarana memadai, target akademik tinggi, dan kemantapan integritas sekolah sebagai suatu institusi dapat mendukung pencapaian prestasi akademik siswa yang lebih baik. Selain dari itu, ditemukan juga bahwa iklim kerja sekolah dimana pemberdayaan guru menjadi prioritas adalah sangat esensial bagi keefektifan sekolah yang pada muaranya mempengaruhi prestasi siswa secara keseluruhan. Jadi, lingkungan sekolah yang kondusif dapat mendorong ke prilaku positif seorang guru. Ia akan menjalankan tugas dan perannya secara optimal karena ia dapat berkreasi mengembangkan ide-ide yang ia punya menjadi suatu yang bermakna.

    Berdasarkan pembahasan diatas, dapat penulis katakan bahwa guru yang kreatif dapat dicirikan dari kemampuannya dalam melaksanakan tupoksi secara profesional, antara lain: 1), mampu mengekspos siswa pada hal-hal yang bisa membantu mereka dalam belajar, 2) mampu melibatkan mereka dalam segala aktivitas pembelajaran, 3) mampu memberikan motivasi buat siswa baik secara verbal maupun non verbal, 4) mampu mengembangkan strategi pembelajaran (penerapan pendekatan, metode, model dan tehnik) dalam proses pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan karakter materi, 5) mampu menciptakan pembelajaran yang joyful dan meaningful, 6) mampu berimprovisasi dalam proses pembelajaran 7), mampu membuat dan mengembangkan media pembelajaran yang menarik dan aplikatif, 8) mampu membuat dan mengembangkan bahan ajar yang variatif dan 9) mampu menghasilkan inovasi-inovasi baru dalam pembelajaran.

    Kreatifitas mendatangkan perubahan. Kalimat itulah yang mungkin harus selalu dipegang oleh para guru, sehingga mereka berpikir bahwa keterpanggilan untuk berkreasi ternyata merupakan suatu tuntutan yang wajar. Bahkan sebaliknya, tidaklah wajar jika tidak ingin berkreasi. Kita selalu ingat slogan sebuah perusahaan otomotif yang berbunyi : “inovasi tiada henti”. Artinya bahwa, jika mereka tidak cepat berinovasi, maka konsekwensi logisnya mereka akan sulit maju terdepan bahkan tidak mampu bersaing dengan perusahaan lainnya. Jadi, sangat menarik sekali bila guru dengan meminjam istilah tersebut selalu berusaha untuk menciptakan perubahan-perubahan dalam melaksanakan tupoksinya. Kreatif berarti berani berubah, karena dapat memberikan spectrum hasil yang berbeda dari setiap tindakan yang berbeda.

    Namun, guru tidak harus menunggu ketok palu PKG berbunyi dulu untuk berubah, karena mengubah paradigma lama menuju paradigm baru dalam melakukan pembelajaran adalah sebuah tuntutan bukan tawaran. Harus dilakukan sedini mungkin. Bahkan dalam hukum agama bisa dikatakan fardlu ‘Ain, yaitu suatu hal yang wajib dilaksanakan setiap individu. Dalam Al-Quran sendiri Allah subhanahu wata’ala menegaskan bahwa tidak akan berubah nasib suatu kaum hingga mereka sendiri mengubahnya (Arro’du: 11). Jadi, eksistensi manusia itu ada justru karena perubahan itu sendiri.

    *) Artikel ini dikirim oleh penulis ke SekolahDasar.Net

    more
  • Latihan Soal UKG Online Guru TK/PAUD
    Soal Uji Kompetensi Guru (UKG) untuk guru taman kanak-kanak (TK) dan pendidikan anak usia dini (PAUD). Pada waktu sebelumnya, SekolahDasar.Net sudah berbagi soal latihan UKG untuk guru kelas SD dan guru PAI SD. Sebagai salah satu pendidikan dasar, guru-guru TK/PAUD pun juga akan dites kompetensinya.

    Seperti diberitakan dijauh hari, untuk soal UKG Online terdiri dari 2 jenis soal, yaitu kompetensi pedagogik dan profesional. Bagi guru TK atau PAUD yang ingin belajar mengerjakan soal latihan UKG online bisa mencobanya, kurang lebih contoh soal UKG online untuk guru TK/PAUD seperti ini:

    Q.46) Menurut Jean Piaget, anak yang membangun kemampuan kognitif melalui interaksi dengan dunia sekitar disebut
    A. Strukturalisme
    B. Konstruktivisme
    C. Behaviorisme
    D. Progressivisme

    Q.47) Anak usia taman kanak-kanak berada pada tahap perkembangan
    A. Praoperasional
    B. Formal operasional
    C. Konkrit operasional
    D. Sensorimotor

    Q.48) Proses penyerapan informasi baru ke dalam informasi yang telah ada di dalam skemata (struktur kognitif) anak adalah
    A. Ekuilibrium
    B. Akomodasi
    C. Adaptasi
    D. Asimilasi

    Q.49) Anak yang sudah mulai dapat membedakan antara fantasi dan kenyataan yang sebenarnya, berada dalam rentang usia
    A. 4-5 tahun
    B. 2-3 tahun
    C. 3-4 tahun
    D. 5-6 tahun

    Q.50) Pembelajaran yang paling tepat untuk mengembangkan kognitif anak usia 5-6 tahun adalah
    A. Mengajar membaca, menulis dan berhitung
    B. Memberi kesempatan pada anak untuk memperoleh pengalaman langsung dalam berbagai aktivitas pembelajaran
    C. Memberikan pekerjaan rumah agar anak dapat belajar di rumah
    D. Memberi pelajaran sebagai persiapan masuk sekolah dasar

    Q.51) Bagaimanakah cara anak memperoleh bahasa ketika berusia kurang dari satu tahun?
    A. Mendengarkan orang dewasa berbicara
    B. Meniru ucapan orang dewasa
    C. Memperhatikan muka orang dewasa dan menanggapi dengan bahasa mereka
    D. Bermain-main dengan bunyi (mengoceh)

    Q.52) Salah satu komponen bahasa yang menekankan pada penggunaan bahasa dalam konteks komunikatif adalah
    A. Morfologi
    B. Fonologi
    C. Semantik
    D. Pragmatik

    Q.53) Semantik sebagai salah satu komponen bahasa adalah
    A. Susunan kata, organisasi kalimat, dan elemen lain suatu kalimat
    B. Suatu pengertian yang mengacu pada susunan internal yang terdapat dalam sebuah kata
    C. Suatu sistem aturan yang mengatur suatu pengertian atau visi dari suatu kata atau kombinasi beberapa kata
    D. Berkaitan dengan kaidah yang membentuk struktur, distribusi dan urutan ujaran, dan susunan suku kata

    Q.54) Teori yang menyatakan bahwa semua anak dilahirkan dengan memiliki kemampuan untuk menggunakan bahasa adalah
    A. Sosiokultural
    B. Genetik
    C. Behavioristik
    D. Konstruktivistik

    Q.55) Yang tidak termasuk dalam prinsip-prinsip DAP (Developmentally Appropriate Practice) yang diterapkan sebagai acuan bagi pembelajaran anak usia dini agar sesuai dengan tahap perkembangan anak adalah
    A. Membuat lingkungan yang saling asuh
    B. Pembelajaran untuk membantu perkembangan dan belajar anak
    C. Menyusun kurikulum yang sesuai
    D. Memacu perkembangan anak dengan memberikan pelajaran baca dan menulis

    Contoh Soal UKG online guru TK/PAUD bisa dilihat di sini.

    more
  • Pedoman dan Instrumen Penilaian Kinerja Guru
    "Tak Hanya Kompetensi, Kinerja Guru Juga Akan Diuji" menjadi judul berita salah satu portal berita di kanal edukasinya (23/10/2012). Rencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk penilaian kinerja guru di tahun 2013 sepertinya akan benar-benar dilaksanakan. Penilaian kinerja guru ini juga akan dilakukan per individu sama seperti yang diterapkan pada Uji Kompetensi Guru (UKG).

    Kelihatannya Kemendikbud (pemerintah) akan menjalankan kurikulum baru dengan diikuti peningkatan kualitas guru. Apalagi sebelumnya penyelenggaraan UKG juga menuai pro-kontra. Mau tidak mau, untuk menghindari anggapan kebijakan yang kurang tepat, semua akan mendapatkan pembaruan, mulai kurikulum baru, penilaiaan kinerja atau bahkan pengangkatan calon guru.

    Sosialisasi penilaian kinerja (PK) guru sudah dilaksanakan jauh hari. Penilaian kinerja guru dilaksanakan untuk mewujudkan guru yang profesional, dengan kualitas layanan profesi yang bermutu. Menemukan secara tepat tentang kegiatan guru di dalam kelas, dan membantu mereka untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya, akan memberikan kontribusi secara langsung pada peningkatan kualitas pembelajaran yang dilakukan, sekaligus membantu pengembangan karir guru sebagai tenaga profesional.

    Hasil dari penilaian kinerja guru akan dimanfaatkan untuk menyusun profil kinerja guru sebagai input dalam penyusunan program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Hasil penilaian kinerja guru juga digunakan sebagai dasar penetapan perolehan angka kredit guru dalam rangka pengembangan karir guru sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.

    Agar lebih jelas dan memahami tentang Penilaian Kinerja Guru, Bapak ibu bisa mendownload file Pedoman Penilaian kinerja Guru dan Instrumen Penilaian Kinerja Guru, pada link tautan di bawah ini :
    Download Pedoman Penilaian Kinerja Guru
    Download Instrumen Penilaian Kinerja Guru

    more
  • [Artikel] Tidak Ada Lagi Bahasa Inggris SD

    TIDAK ADA LAGI BAHASA INGGRIS SD DI KURIKULUM 2013?

    Oleh: Ali Ansori, S.S, M.Pd
    Widyaiswara LPMP Prov. Kep. Bangka Belitung

    Sudah hampir 14 tahun pembelajaran Bahasa Inggris berlangsung di Sekolah Dasar (SD) terhitung semenjak dicetuskan secara resmi pada tahun 1994. Tentu selama masa kurun waktu tersebut telah banyak kebijakan ataupun usaha yang muncul demi memuluskan program mercesuar untuk menyonsong era globalisasi dimana komunikasi dengan bahasa Inggris merupakan sesuatu yang tak bisa dihindari di hampir semua aspek kehidupan manusia. Diantara kebijakan ataupun usaha tersebut adalah perubahan bahasa Inggris yang semula sebagai mata pelajaran muatan lokal pilihan menjadi mata pelajaran muatan local wajib di beberapa daerah, yang pertama hanya dilaksanakan di kelas-kelas atas kemudian merambah ke kelas 1, 2, dan 3, pengalokasian dana khusus pada APBN dan APBD untuk peningkatan kompetensi guru Bahasa Inggris SD melalui diklat-diklat dan termasuk aneka ragam kegiatan mandiri sekolah dan masyarakat yang telah banyak dilakukan. Artinya bahwa betapa banyak waktu, tenaga dan biaya yang telah dikorbankan oleh masing-masing pihak yang terlibat demi mensukseskan program ini. Kenyataannya kini semua harus gigit jari, karena belum lagi kita memetik hasil penuh berupa hadirnya kecakapan anak-anak didik kita berkomunikasi dengan Bahasa Inggris sejak mereka duduk di bangku SD, kini muncul kebijakan baru pemerintah melalui kemendikbud untuk tidak memasukkan Bahasa Inggris sebagai pelajaran yang diajarkan di SD.

    Pada pembahasan kurikulum baru beberapa hari yang lalu secara eksplisit dikatakan bahwa mata pelajaran Bahasa Inggris akan dihapus dari jenjang SD, terutama kelas 1 hingga kelas 3. Menurut Wamendikbud bidang pendidikan Musliar Kasim, alasan utamanya adalah karena di tingkat sekolah paling dasar anak-anak membutuhkan pembelajaran Bahasa Indonesia yang belum tentu mereka lafazkan huruf-hurufnya dengan baik dan lagipula apa arti filosofis di belakangnya. Kebijakan penghapusan Bahasa Inggris ini akan menjadi wajib disekolah negeri. Bahkan sekolah yang berstatus Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang 80 persen proses pengajaran seluruh mata pelajarannya memakai Bahasa Inggris harus mengikuti kurikulum yang baru ini (Okezone, 10/10/2012).

    Ini tentu merupakan sesuatu yang pahit kita rasakan, dimana ketika geliat semangat mulai meningkat, kuda-kuda telah terpasang, dan langkah-langkah baru siap diayunkan, tiba-tiba semua harus terhenti sebelum mencapai garis finish. Dimana suara orang-orang yang mengusulkan ide awal tersebut? Mengapa dibiarkan terhenti jika ia dianggap dapat memberi kontribusi dalam mencerdaskan anak bangsa? Sudahkah dianalisa secara dalam mengenai dampak yang akan muncul? Tulisan ini ingin menegaskan tentang pentingnya program tersebut untuk tetap dilaksanakan dengan mengajak semua pihak untuk flashback, memahami manfaat, dan memikirkan dampak terhadap penghentiannya.

    Kita ketahui bahwa kebijakan tentang memasukkan pelajaran bahasa Inggris di sekolah dasar sesuai dengan kebijakan Depdikbud RI No. 0487/1992, Bab VIII, yang menyatakan bahwa sekolah dasar dapat menambah mata pelajaran dalam kurikulumnya, asalkan pelajaran itu tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional. Kemudian, kebijakan ini disusul oleh SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 060/U/1993 tanggal 25 Februari 1993 tentang dimungkinkannya program bahasa Inggris sebagai mata pelajaran muatan lokal SD, dan dapat dimulai pada kelas 4 SD (Depdiknas). Dasar Kebijakan tersebut adalah adanya kebutuhan keterampilan berbahasa Inggris untuk ikut berpartisipasi dalam era komunikasi dan globalisasi, serta untuk transfer ilmu, baik dalam bahasaInggris lisan (ceramah, diskusi, presentasi) atau tertulis (membaca referensi, menulis laporan, dan sebagainya). Jika itu yang menjadi tujuannya, maka dapat dikatakan bahwa penghentian program Bahasa Inggris SD yang telah disuarakan tidak sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang hendak mencetak para insan yang berpikir dan bersikap global. Bagaimana hendak menciptakan generasi yang punya daya saing global jika Bahasa Inggris sebagai alat komunikasi tidak diperkenalkan lebih awal.

    Tentu sangat disayangkan langkah buru-buru yang diambil oleh pemerintah mengenai hal tersebut karena tidak ada dasar pemikiran yang jelas yang dijadikan acuan untuk itu. Jika persoalannya semata-mata karena bahasa Inggris dapat mengganggu perkembangan bahasa ibunya anak-anak yaitu Bahasa Indonesia, maka alasan yang diberikan sangat lemah sekali. Karena justru dengan mengenalkan bahasa Inggris kepada anak sejak dini akan membantu mereka memahami bahwa ada bahasa lain selain bahasa ibu. Disamping hal tersebut dapat mengembangkan fungsi kognitif mereka. Prof.Kasihani E. Suyanto, M.A, P.hD. dalam acara pengukuhan Guru Besarnya mengatakan bahwa anak usia 10 tahun (kelas 4 SD) sedang dalam proses berubah yang tadinya “egosentris” ke hubungan timbal balik atau “reciprocity” sehingga bila pengajaran bahasa asing dimulai lebih dini maka hal ini akan memicu keterampilan kognitif. Selain itu, tidak ada penelitian yang mengatakan bahwa mempelajari bahasa asing dapat mempengaruhi akuisisi bahasa ibu anak saat mereka sudah menguasai bahasa itu. Siswa kelas 4 SD bisa dikategorikan pada kelompok anak yang sudah menguasai bahasa Indonesia dengan baik karena mereka sudah bisa berbicara, mendengar, membaca, dan menulis. Artinya, ketika di saat bersamaan mereka juga harus belajar bahasa Inggris, maka itu tidak akan mempengaruhi penguasaan bahasa Indonesia mereka.

    Dari sisi neuro physiology, ada studi tentang perberkembangan kemampuan otak secara aplikatif, disebutkan bahwa pada tahun ke sembilan sampai tahun ke dua belas seorang anak mampu memfokuskan dalam belajar berbicara, A Specialist in learning to speak, oleh karena itu ketika seorang anak telah mencapai umur sekian akan mampu belajar dua atau tiga bahasa sekaligus secara baik. Selain itu, sebuah penelitian lain menegaskan bahwa anak ketika belajar lebih dari satu bahasa pada masa dini, kemampuannya dalam menyerap bahasa lebih baik dari pada di usia dewasa.

    Apalagi jika persoalannya hanya mengenai keberadaan Bahasa Inggris yang diasumsikan dapat menghilangkan rasa nasionalisme anak-anak. Menurut hemat penulis, masalah nasionalisme merupakan masalah character building, jauh dari permasalahan akibat belajar bahasa asing dalam hal ini bahasa Inggris. Terlalu sempit sudut pandang kita jika menjadikan hal tersebut sebuah alasan agar pembelajaran bahasa Inggris tak perlu digalakkan sejak SD. Asumsi demikian hanyalah berupa sentimen primordial terhadap budaya barat yang mungkin konatasinya selalu keburukan karakter masyarakatnya, yang juga belum tentu benar adanya. Bagaimana dengan pembelajaran bahasa Arab? Sama sekali tidak pernah dipermasalahkan karena yang dimunculkan adalah stigma kebaikan, bahwa bahasa Arab adalah bahasa agama. Padahal kenyataannya ia dipakai bukan untuk agama an sich. Kita mesti berpikir pair bahwa bahasa hanyalah sebuah alat komunikasi, tidak akan pernah melunturkan nilai-nilai apapun, termasuk nasionalisme. Daripada itu ketika di satu sisi pembelajaran bahasa Inggris harus digalakkan, di sisi lain rasa kebanggaan terhadap bahasa Indonesia dan nasionalisme harus dikuatkan melalui kegiatan-kegiatan character building.

    Namun yang kita kawatirkan disini adalah jika penghentian program ini hanya merupakan cuci tangan pemerintah untuk menutupi “aib” terhadap pembelajaran bahasa di SD yang selama ini berjalan tanpa arah yang pasti. Kita ketahui bahwa pendidikan bahasa Inggris di sekolah dasar sangat miskin. Status subjek hanya subjek lokal. Ini tidak termasuk dalam mata pelajaran nasional, subyek penting. Bahasa Inggris di sekolah dasar tidak memiliki kurikulum yang jelas dan silabus. Dan itu diajarkan oleh inkompetensi dan guru wajar tanpa pengecualian. Guru tidak memiliki sertifikat kelulusan bahasa Inggris. Jelasnya, pembelajaran bahasa Inggris sejauh ini tidak mencapai output yang optimal.

    Jika demikian maksud dari kemunculan kebijakan yang baru ini, maka hal ini merupakan pengabaian dari banyaknya manfaat yang sebenarnya bisa dipetik dari pelaksanaan program tersebut. Menurut I Made Sukamerta dalam penelitian tesisnya tentang implementasi kebijakan pembelajaran bahasa Inggris pada sekolah dasar di kota Denpasar, bahwa makna implementasi kebijakan pengajaran bahasa Inggris sejak SD akan bermanfaat bagi siswa dalam menempuh pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi. Di samping itu pula, kebijakan pengajaran bahasa Inggris SD berarti telah memenuhi tuntutan era globalisasi dan kemajuan dunia dalam berbagai aspek kehidupan. Bisa dibayangkan jika pemerintah kembali kepada kebijakan dimana pembelajaran bahasa Inggris baru dimulai di bangku SMP, maka artinya anak-anak akan kehilangan exposure untuk belajar bahasa asing tersebut hampir selama 3 tahun. Sungguh sangat disayangkan. Padahal, seperti yang dikatakan oleh Prof. Kasihani E. Suyanto, M.A, P.hD, meskipun semua lulusan SMU/SMK/MA telah belajar bahasa Inggris selama 6 tahun. Kenyataan menunjukkan bahwa setelah 6 tahun belajar bahasa Inggris, lulusan belum dapat memanfaatkan keterampilan berbahasa Inggrisnya pada waktu mereka belajar di perguruan tinggi. Itulah kenapa program tersebut harus dimulai lebih dini, minimal dari kelas empat SD, sehingga jangka waktu belajar bahasa asing ini menjadi lebih lama bagi anak-anak.

    Selain mengenai beberapa permasalahan diatas, penghentian program pembelajaran bahasa Inggris di SD bisa memberikan banyak dampak negatif, antara lain: Pertama, memunculkan stigma buruk dari masyarakat bahwa pemerintah tidak konsisten dengan kebijakannya sendiri, ganti menteri ganti kurikulum. Selain pemerintah seakan tidak memberikan kesempatan buat anak untuk mengembangkan diri sejak dini dalam penguasaan bahasa asing. Kedua, mengkerdilkan bahasa Inggris di mata orang tua siswa dan siswa itu sendiri. Persepsi yang sudah terbentuk di masyarakat bahwa bahasa Inggris adalah bahasa yang sangat penting untuk dikuasai. Orangtua siswa sangat mendukung pemberian pelajaran bahasa Inggris sejak awal. Bahkan harapan orangtua pada umumnya adalah supaya pemberian pelajaran bahasa Inggris diberikan bukan dari kelas empat, melainkan dari kelas satu. Jika program tersebut terhenti, tentu akan meresahkan mereka. Ketiga, sedikit banyak mengganggu program sekolah yang sudah berupaya melaksanakan berbagai macam penguatan berkaitan dengan pembelajaran bahasa Inggris sebagai muatan lokal wajib di sekolah. Keempat, melemahkan peran dan fungsi LPTK-LPTK yang sudah menjalankan program-program tertentu, misalnya penyiapan program bahasa Inggris untuk anak-anak secara khusus pada program studi bahasa Inggris mereka dan mengganggu pelaksanaan kerjasama mereka dalam penyediaan tenaga pengajar bahasa Inggris bagi SD yang selama ini berlangsung. Terakhir, merugikan lembaga-lembaga kursus bahasa Inggris yang sejauh ini telah banyak membantu masyarakat dalam mengembangkan kecakapan berbahasa Inggris. Ketika animo orang tua turun terhadap kepentingan pembelajaran bahasa Inggris buat putra-putri mereka, maka bisa mengkecilkan pangsa pasar lembaga-lembaga tersebut yang sejauh ini banyak diisi oleh para siswa PAUD dan SD.

    Kita berharap bahwa pendidikan bahasa Inggris di Indonesia khususnya di sekolah dasar tetap dipertahankan karena banyak memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Penulis tetap berpikir bahwa penguasaan bahasa Inggris harus dicapai lebih awal. Ini akan sangat terlambat jika bahasa Inggris diperkenalkan di SMP. Namun, kita harus berbenah, tidak mengulangi langkah keliru ketika pertama kali kebijakan tentang pendidikan bahasa Inggris di sekolah dasar ini diluncurkan. Semua harus disiapkan secara matang, sehingga tidak asal-asalan.

    Meskipun akhirnya kebijakan pemerintah sudah bulat untuk tidak memasukkan Bahasa Inggris pada kurikulum mendatang, maka sejalan dengan apa yang dinyatakan oleh anggota komite III DPD , agar pemerintah tetap membuat alternatif lain supaya siswa tetap dapat menguasai Bahasa Inggris karena sifatnya sudah menjadi bahasa pergaulan internasional (Okezone, 10/10/2012). Jika tidak demikian, penguasaan bahasa Inggris masyarakat kita akan lemah, sehingga tidak mampu memegang kendali dalam komunikasi global dan bangsa kita pun semakin tertinggal.

    *) Artikel ini dikirim oleh penulis ke SekolahDasar.Net

    more
  • Kata Kerja Operasional untuk Merumuskan Indikator Pembelajaran di RPP
    Indikator dalam sebuah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan penanda pencapaian Kompetensi Dasar (KD). Indikator tersebut ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan ketrampilan.

    Indikator dalam RPP dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.

    Kata Kerja Operasional (KKO) indikator dimulai dari tingkatan berpikir mudah ke sukar, sederhana ke kompleks, dekat ke jauh, dan dari konkret ke abstrak (bukan sebaliknya). Kata kerja operasional pada KD benar-benar terwakili dan teruji akurasinya pada deskripsi yang ada di kata kerja operasional indikator pembelajaran.

    Dalam menyusun RPP dan merumuskan indikator pembelajaran, seorang guru memerlukan kata kerja operasional sebagai langkah konkret untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Berikut ini adalah daftar kata kerja operasional yang dapat digunakan dalam merumuskan indikator pembelajaran, baik menyangkut aspek Kognitif, Afektif, maupun Psikomotor.


    ASPEK KOGNITIF

    No

    KOMPETENSI

    INDIKATOR KOMPETENSI

    1
    Knowledge (Pengetahuan) Menyebutkan, menuliskan, menyatakan, mengurutkan mengidentifikasi, mendefinisikan, mencocokkan, memberi nama, memberi label, dan melukiskan.

    2
    Comprehension (Pemahaman) Menerjemahkan, mengubah, menggeneralisasi, menguraikan, menuliskan kembali, merangkum, membedakan, mempertahankan, menyimpulkan, mengemukakan pendapat, dan menjelaskan.

    3
    Application (Penerapan) Mengoperasikan, menghasilkan, mengubah, mengatasi, menggunakan, menunjukkan, mempersiapkan, dan menghitung.

    4
    Analysis (Analisis) Menguraikan, membagi-bagi, memilih, dan membedakan.

    5
    Synthesis (Sintesis) Merancang, merumuskan, mengorganisasikan, menerapkan, memadukan, dan merencanakan.

    6
    Evaluation (Evaluasi) Mengkritisi, menafsirkan, mengadili, dan memberikan evaluasi.

    ASPEK AFEKTIF

    No

    KOMPETENSI

    INDIKATOR KOMPETENSI

    1
    Receiving (Penerimaan) Mempercayai, memilih, mengikuti, bertanya, dan mengalokasikan.

    2
    Responding (Menanggapi) Konfirmasi, menjawab, membaca, membantu, melaksanakan, melaporkan, dan menampilkan.

    3
    Valuing (Penanaman nilai) Menginisiasi, mengundang, melibatkan, mengusulkan, dan melakukan.

    4
    Organization (Pengorganisasian) Memverifikasi, menyusun, menyatakan, menghubungkan, dan mempengaruhi.

    5
    Characterization (Karakterisasi) Menggunakan nilai-nilai sebagai pandangan hidup, mempertahankan nilai-nilai yang sudah diyakini

    ASPEK PSIKOMOTOR

    No

    KOMPETENSI

    INDIKATOR KOMPETENSI

    1
    Observing (Pengamatan) Mengamati proses, memberi perhatian pada tahap-tahap sebuah perbuatan, memberi perhatian pada sebuah artikulasi

    2
    Imitation (Peniruan) Melatih, mengubah, membongkar sebuah struktur, membangun kembali sebuah struktur, dan menggunakan sebuah model.

    3
    Practicing (Pembiasaan) Membiasakan perilaku yang sudah dibentuknya, mengontrol kebiasaan agar tetap konsisten.

    4
    Adapting (Penyesuaian) Menyesuaikan model, mengembangkan model, dan menerapkan model.

    Itulah pedoman dalam menggunakan kata kerja operasional yang digunakan untuk merumuskan indikator pembelajaran dalam menyusun RPP untuk mencapai tujuan pembelajaran dan mengukur keterlaksanaannya, mencangkup kompetensi aspek kognitif, afektif dan psikomotor.

    Sumber: http://didik-haryono.blogspot.com/2012/03/kata-kerja-operasional-untuk-merumuskan.html

    more
  • Akankah Bahasa Inggris Dihapus dari Kurikulum SD?
    Pergantian kurikulum yang akan diterapkan tahun 2013 mendatang diberitakan akan menghapus mata pelajaran Bahasa Inggris untuk siswa Sekolah Dasar (SD). Sebelumnya memang pernah dikatakan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kemendikbud, Suyanto bahwa hampir dipastikan untuk siswa SD hanya akan ada 7 mata pelajaran dari 11 mata pelajaran sebelumnya diajarkan di SD.

    Dari 7 mata pelajaran yang akan diajarkan untuk siswa SD di kurikulum pendidikan baru 2013, Bahasa Inggris tidak termasuk di dalamnya. Wacana penghapusan mata pelajaran Bahasa Inggris pada kurikulum SD yang akan diterapkan pada tahun ajaran 2013/2014 menuai penolakan dari kalangan orang tua siswa.

    Pengamat Pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Lody Paat mengatakan, Kemendikbud harus memiliki alasan yang ilmiah dan teoritis jika berniat mencoret mata pelajaran Bahasa Inggris untuk siswa SD.

    Ia menjelaskan bahwa pengajaran Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran harusnya tidak dipermasalahkan. Namun jika penggunaan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar untuk semua mata pelajaran hal itu yang ditentang.

    Semantara itu Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Pendidikan Musliar Kasim mengatakan, pelajaran Bahasa Inggris tidak wajib untuk siswa SD. "Jadi, bukan dihapus. Ini karena di SD memang tidak ada pelajaran Bahasa Inggris," kata Musliar dikutip dari Kompas.com (17/10/2012).

    Pelajaran Bahasa Inggris baru akan dimulai pada sekolah menengah pertama (SMP). Walaupun demikian demikian, Kemendikbud tidak membatasi jika ada sekolah dasar yang ingin menambah pelajaran dengan Bahasa Inggris.

    Menurut Wamendikbud, Pada jenjang SD, anak-anak lebih membutuhkan pembelajaran Bahasa Indonesia. Dia menilai, selama ini anak-anak SD belum melafazkan huruf-huruf dengan baik, dan begitu pula apa arti filosofis dari kata itu. Kasihan jika anak-anak dipaksa untuk belajar Bahasa Inggris karena beban pelajaran mereka akan semakin berat.

    Terkait polemik penghapusan mata pelajaran Bahasa Inggris dalam kurikulum SD pada tahun ajaran 2013/2014, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, mengatakan bahwa semua kemungkinan itu dapat terjadi. Kementerian saat ini masih sedang melakukan pembahasan yang ditargetkan selesai pada akhir Oktober, sebelum dibahas bersama Wakil Presiden RI, Boediono.

    Nuh menjelaskan bahwa pembahasan kurikulum baru ini terbagi dalam tiga fase, yaitu pembahasan di lingkungan kementerian, konsultasi dengan Wakil Presiden dan yang terakhir adalah uji publik. Bahasa Inggris sendiri direncanakan untuk dihapus, namun belum sampai pada tahap ketok palu.

    "Tunggu saja. Nanti saya bilang nggak ada, ternyata ada kan repot. Ini masih dimatangkan lagi. Apakah ada hanya untuk siswa kelas 4-6 saja atau ada semua atau tidak ada semua," kata M Nuh dikutip dari Kompas.com (15/10/2012).

    Terkait dengan wacana penghapusan mata pelajaran Bahasa Inggris dari kurikulum SD yang baru, bagaimana komentar Bapak Ibu? Setuju atau tidak? Tulis saja di kolom komentar!

    more
  • Contoh Latihan Soal UKG Guru PAI SD
    Beberapa bulan yang lalu, memang heboh dengan uji kompetensi guru (UKG) untuk semua guru yang sudah mendapat sertifikasi pendidik profesional, baik guru SD, SMP maupun SMA/SMK. Saat ini pun UKG tahap kedua juga masih ada yang berlangsung.

    Bagaimana dengan guru mata pelajaran pendidikan agama islam (PAI) SD? Seperti ketika PLPG, guru PAI SD dibawah urusan Kementerian Agama. Sehingga saat guru-guru kelas SD atau guru Penjas melaksanakan UKG, guru PAI SD ada yang sampai ini belum melaksanakan UKG. Padahal UKG diperuntukan untuk semua guru yang sudah tersertifikasi.

    Sudahlah, yang terpenting nanti atau kapan ketika dilaksanakan Ujian untuk guru PAI SD, semuanya sudah siap. Untuk itu, penting juga guru PAI untuk belajar mengerjakan soal-soal UKG. Dalam sebuah halaman, ada contoh soal-soal UKG untuk guru PAI SD. Seperti berikut contoh soalnya ini:

    Di Indonesia terdapat peraturan tentang Wakaf,sedangkan peraturan Menteri dalam Negeri terdapat pada No ..............
    A. 1 Tahun 1977
    B. 2 Tahun 1977
    C. 3 Tahun 1977
    D. 4 Tahun 1977

     Orang yang mengeluarkan zakat disebut juga.................
    A. Gharim
    B. Muzaki
    C. Mustahik
    D. Riqob

    Kewajiban zakat merupakan rukun Islam yang ke
    A. ke 1
    B. ke 2
    C. ke 3
    D. ke 4

    Seorang Muslim yang mene,ukan harta Rikaz berupa emas sebesar 1000 gram, maka zakat yang harus dikeluakan adalah.........
    A. 100 gram
    B. 150 gram
    C. 200 gram
    D. 250 gram


    Selengkapnya, bisa dilihat di sini.

    more
  • Download Kumpulan Soal UTS SD Semester 1 & 2
    Sebagian sudah ada yang melaksanakan ulangan tengah semester (UTS). Evaluasi dilakukan secara berkala, secara resmi biasanya dinas mengadakan UTS secara serentak di wilayah kecamatan (UPT). Guru telah mengajarkan materi yang harus dikuasai siswa, untuk mengukur hasilnya salah satunya dengan ujian, yaitu mengerjakan soal UTS.

    Bagi sebagain daerah soal UTS dibuat per kecamatan, lalu dicetak dan distribusikan ke SD-SD. Kali ini SekolahDasar.Net akan berbagi kumpulan soal UTS SD, baik untuk UTS semester 1 dan 2. Berikut link untuk mendownload soal UTS SD untuk semua kelas, mulai dari kelas 1, 2, 3, 4, 5, dan 6:

    1. Kumpulan soal UTS SD semester 1 | Download
    2. Kumpulan soal UTS SD semester 2 | Download

    Kumpulan soal yang disimpan dan dapat didownload di 4shared itu dalam bentuk satu folder yang berisi soal-soal UTS untuk kelas 1-6. Soal-soal UTS untuk semester 1 dan 2 terdiri dari semua mata pelajaran SD, seperti: PKn, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, dan Matematika.

    Semoga kumpulan soal-soal UTS di atas bisa bermanfaat, baik bagi guru maupun orang tua siswa yang mencarikan soal-soal UTS untuk bahan belajar. Agar hasil yang didapat di UTS bisa memuaskan dan maksimal. Selamat Belajar...

    more
  • Sosialisasi Kisi-kisi Ujian Nasional UN 2013
    Para pelajar yang ada di tingkat akhir jenjang pendidikan mulai dari SD, SMP, SMA ataupun SMK tahun depan harus masih menjalani Ujian Nasional (UN). Walau sudah banyak yang menantang dan menyayangkan aturan ini. Saat ini Kemendikbud bersama Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) masih terus menyempurnakan kisi-kisi soal Ujian Nasional (UN) 2013.

    Kisi-kisi UN 2013 yang telah dibuat sejak tahun 2012 ini ditargetkan selesai pada pekan kedua atau pekan ketiga bulan November untuk selanjutnya segera disosialisasikan ke sekolah-sekolah sehingga para guru dapat fokus mempersiapkan anak didiknya. Sehingga targetnya sosialisasi kisi-kisi UN 2013 sudah bisa dilakukan bulan November.

    Pembuatan kisi-kisi UN 2013 juga didasarkan dan dikembangkan pada kurikulum yang tengah diajarkan guru pada anak didiknya. Oleh sebab itu, pendalaman materi bagi anak didik sebenarnya dapat dilakukan tanpa menunggu kisi-kisi.

    Sebenarnya sosialisasi kisi-kisi UN 2013 baru bisa dilakukan setelah BSNP memberi mengizinkan untuk melansir kisi-kisi UN tersebut. Karena secara teknis, Kemendikbud hanya berwenang memberikan konsep atau draf kisi-kisi UN, langkah selanjutnya menjadi wewenang penuh BSNP sebagai badan yang bertanggungjawab besar pada UN.

    Hati-hati dan jangan mempercayai kisi-kisi atau bocoran soal UN yang diperjualbelikan bebas di pasaran. Karena, tidak akan ada kisi-kisi atau kunci jawaban UN yang diperjualbelikan. Kisi-kisi UN 2013 tidak disajikan dalam bentuk butir-butir soal. Melainkan kisi-kisi yang diberikan hanya menampilkan judul, atau panduan mengenai materi apa saja yang akan diujikan.

    Sumber: Kompas.com

    more
  • Video Media IPA Sistem Peredaran Darah Manusia
    Untuk materi ilmu pengetahuan alam (IPA) kelas V semester 1 untuk standar kompetensi (SK) 1 yaitu Mengidentifikasi fungsi organ tubuh manusia dan hewan, tentu lebih banyak mempelajari tentang bagian organ tubuh manusia dan fungsinya. Termasuk di dalam SK tersebut dijabarkan lagi, diantaranya:
    1.4 Mengidentifikasi organ peredaran darah manusia
    1.5 Mengidentifikasi gangguan pada organ peredaran darah manusia

    Untuk mengajarkan materi Sistem peredaran darah manusia, selain bisa menggunakan media pembelajaran yang biasanya cara membuatnya ada di buku paket, yaitu dengan menggunakan balon, pipa dan toples. Untuk rincinya di beberapa buku BSE sudah ada cara membuat dan cara menggunakannya untuk membantu siswa memahami sistem peredaran darah, khususnya pada kerja jantung.

    Setelah mencari-cari video di YouTube yang bisa dimanfaatkan untuk menjadi media pembelajaran IPA kelas V, dengan materi sistem peredaran darah manusia serta gangguan yang terkait dengan peredaran darah manusia, ketemulah video ini.



    Seperti yang Bapak Ibu simak, video ini hanya memberikan visualisasi tanpa narasi penjelasan. Sehingga untuk menggunakan video di atas sebagai salah satu media pembelajaran IPA kelas V tentang sistem peredaran darah manusia, Anda sendirilah yang harus memberikan narasi penjelasannya.

    Semoga video sistem peredaran darah manusia dan penyakit atau gangguan peredaran darah bisa membantu Bapak Ibu untuk mengajarkan materi tersebut. Sudahkah Bapak Ibu juga melihat dan mendownload video sistem pernapasan dan pencernaan?

    more
  • Video Media Pembelajaran IPA Rangka Manusia
    Salah satu materi IPA untuk kelas IV yang mungkin dirasa sulit adalah materi tentang Rangka Manusia. Sebagai mata pelajaran yang mempelajari anggota tubuh dan fungsinya. Di dalam kurikulum IPA kelas IV ada standar kompetensi yang harus diajarkan yaitu, (1) Memahami hubungan antara struktur organ tubuh manusia dengan fungsinya, serta pemeliharaannya.

    Materi pokok rangka manusia, masuk dalam 2 KD, yaitu:
    1.1 Mendeskripsikan hubungan antara struktur kerangka tubuh manusia dengan fungsinya
    1.2 Menerapkan cara memelihara kesehatan kerangka tubuh.

    Rangkuman Materi IPA Kelas IV: Rangka Manusia
    1. Secara umum rangka manusia dibagi menjadi 3 bagian, yaitu
    a. Rangka kepala (tengkorak); berfungsi untuk melindungi organ penting yang ada di bagian kepala, antara lain otak.

    b. Rangka badan;
    - Tulang leher; berfungsi untuk menopang kepala dan melindungi tenggorokan (bernapas), kerong kongan (makanan) dan pita suara (penghasil suara).
    - Tulang dada dan tulang rusuk; berfungsi untuk melindungi organ-organ yang ada di bagian dada, seperti jantung (pemompa darah) dan paru-paru (bernapas).
    - Tulang punggung; berfungsi untuk melindungi sumsum tulang belakang (mengandung sel-sel saraf). dan berfungsi sebagai penopang anggota tubuh bagian atas.
    - Tulang panggul berfungsi sebagai penyambung antara tubuh bagian atas dan tubuh bagian bawah dan sebagai penyangga organ dalam bagian perut (usus halus dan usus besar).

    c. Rangka anggota gerak;
    - Tulang lengan terdiri atas tulang pangkal lengan, tulang pengumpil, tulang hasta, tulang pergelangan tangan, tulang telapak tangan, dan tulang jari-jari tangan.
    - Tulang tungkai terdiri atas tulang paha, tulang tempurung lutut, tulang kering, tulang betis, tulang pergelangan kaki, tulang-tulang telapak kaki, dan tulang jari-jari kaki.

    2. Fungsi rangka sangat penting dalam tubuh kita, yaitu:
    a. memberikan bentuk pada tubuh.
    b. melindungi bagian-bagian tubuh yang lunak (jantung, paru-paru, ginjal, hati, dll).
    c. menjaga tubuh agar tetap tegak.
    d. tempat menempelnya otot.

    3. Berdasarkan bentuknya, tulang rangka dibagi menjadi 3 macam, yaitu;
    a. Tulang pipa; memiliki bentuk utama seperti tabung dan berongga (tulang lengan dan kaki). Rongga pada tulang pipa berisi sumsum kuning. Sumsum kuning ini banyak mengandung lemak (cadangan makanan). Pada ujung-ujung tulang pipa yang mengembung, di dalamnya terdapat rongga-rongga kecil yang berisi sumsum merah (pembentuk sel-sel darah).
    b. Tulang pendek; memiliki ukuran tulang yang pendek (tulang belakang tulang pergelangan tangan, dan tulang pergelangan kaki). Di dalamnya hanya terdapat rongga-rongga kecil berisi sumsum merah (pembentuk sel-sel darah).
    c. Tulang pipih; berbentuk pipih (tulang rusuk, tulang dada, dan tulang tengkorak kepala)dan berfungsi sebagai tempat pembentukan sel-sel darah.

    4. Kelainan pada tulang;
    a. Lordosis; yaitu tulang belakang bengkok ke belakang. Kelainan ini menyebabkan seseorang menjadi bungkuk.
    b. Kifosis; yaitu tulang belakang bengkok ke depan. Kelainan ini menyebabkan dada menjadi terlalu membusung.
    c. Skoliosis; tulang belakang bengkok ke samping. Kelainan ini menyebabkan badan menjadi condong ke kiri atau ke kanan.
    d. Osteoporosis; rapuh pada tulang yang disebabkan kekurangan kalsium
    (sumber)

    Setalah mencari-cari video yang cocok untuk digunakan sebagai media pembelajaran maka ketemulah 5 video yang bisa digunakan untuk media pembelajaran IPA kelas IV dengan materi Sistem Kerangka Manusia. Berikut adalah videonya:

    1. Fungsi Rangka (Functions of Human Skeleton)



    2. Struktur Tulang (Skeletal Structure)



    3. Macam Tulang (Types of Bone)



    4. Persendian (Joints)



    5. Kelainan Tulang (Bone Disorders)

    more
  • Penyakit-penyakit yang Harus Diwaspadai Guru
    Penyakit-penyakit yang Harus Diwaspadai Guru
    Semakin bertambah umur penyakit-penyakit mulai juga menjangkiti, termasuk juga guru. Setidaknya ada beberapa penyakit yang apabila diderita akan mengurangi profesionalisme guru. Oleh sebab itu semua guru untuk mewaspadai jenis penyakit ini, yang apabila sudah menyerang guru akan menghalanginya menjadi guru yang profesional.

    Untuk menjadi guru yang profesional itu membutuhkan kemauan, kemampuan dan keterampilan yang tinggi dan mau mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk. Inilah penyakit-penyakit yang harus diwaspadai guru, seperti yang dikatakan oleh Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Gorontalo, Idah Syahidah yang dikutip dari Republika.

    1. Tipes = tidak punya selera
    Gejala dari penyakit ini adalah selalu monoton dalam memberikan pelajaran, sehingga anak-anak menjadi bosan dan malas untuk mengikuti pelajaran

    2. Mual = mutu amat lemah
    Kualitas guru yang kurang sehingga berpengaruh pada hasil kegiatan belajar mengajar, walau sudah mendapatkan tunjangan sertifikasi untuk peningkatan mutu.

    3. Kudis = kurang disiplin
    Bisa terlihat dari datang yang terlambat dan sebagainya. Para guru yang dapat menyebabkan murid-murid juga akan meniru kebiasaan negatif tersebut.

    4. TBC = tidak bisa computer
    Kemajuan teknologi komputer yang bisa dimanfaatkan untuk penunjang kegiatan pembelajaran atau administrasi malah memilih cara lama. Karena alasan tidak bisa komputer dan malas belajar.

    5. Kram = kurang terampil
    Ada media pembelajaran di sekolah, tidak dipakai dibiarkan saja sampai rusak karena waktu bukan rusak karena dipakai ketika belajar mengajar.

    6. Asam urat = asal sampaikan materi kurang akurat
    "Anak-anak dibuka halaman 25, dibaca sampai halaman 27, lalu halaman 28 dikerjakan ya!". Mungkin kurang lebih seperti itulah.

    7. Lesu = lemah sumber
    Hanya memiliki sedikit buku penunjang. Apalagi kalau hanya menggunakan LKS yang sebenarnya bukan LKS yaitu rangkuman materi dan kumpulan soal.

    8. Diare = di kelas anak-anak remehkan
    Bisa jadi karena hanya ceramah di depan. Atau jika tidak hubungan guru dan murid hanya sebatas bukan guru yang disukai murid-muridnya.

    Apakah Bapak Ibu pernah mendengarkan anekdot-anekdot seperti di atas? Bisa juga loh menambahkan penyakit yang harus diwaspadai guru. Atau mau berbagi tips penyembuhannya, tulis saja di kotak komentar!

    more
  • Tips Menjadi Guru yang Disenangi Muridnya
    Tentunya menjadi harapan dan keinginan semua guru untuk bisa disukai atau disenangi murid-muridnya. Pasti begitupun dengan Anda sebagai Bapak Ibu guru SD. Guru yang di senangi muridnya ada tanda khusus, yaitu selalu dinanti kehadiranya. Kalau dia belum hadir, muridnya akan berusaha mencari atau menanyakannya. Bukannya ada jam kosong murid membiarkannya, dan tidak peduli. Saat diajar, ketika jam berakhir murid masih merasa kurang, dan lain sebagainya.

    Menjadi guru yang disukai juga bukan berarti menuruti semua yang murid mau atau inginkan. Karena jika guru menuruti semua keinginan murid bisa jadi malah membuat keluar dari tujuan dan kegiatan proses belajar mengajar. Lalu bagaimana cara menjadi guru yang disenangi murid-muridnya? Inilah tipsnya:

    1. Mengunakan metode pembelajaran yang bervariatif dan menyenangkan. Setiap materi memiliki cara penyampaiaan yang beragam. Guru jangan hanya terpaku dengan satu metode saja, misalnya hanya ceramah. Juga gunakan metode yang menyenangkan, yaitu yang membuat murid aktif dan melakukan sendiri.

    2. Guru yang mampu menciptakan kondisi belajar mengajar yang kondusif. Guru yang menguasai materi dan menyampaikannya dengan enak dan mudah dipahami murid. Dan guru yang memberikan penilaian yang obyektif.

    2. Guru yang humoris. Jika ditanya, guru yang seperti apa yang paling disukai murid? Hampir pasti kebanyakkan adalah guru yang humoris. Tentu dengan candaan dan humor membuat belajar lebih menyenangkan. Tetapi bukan berarti humor yang menyinggung kekurangan muridnya, melainkan humor pada tempat dan saat yang tepat.

    3. Guru yang memberikan hak dan kebutuhan muridnya. Murid juga memiliki hak yang harus dipenuhi oleh gurunya, misalnya hak bertanya dan mendapatkan jawaban yang tepat. Dan juga guru yang senangi adalah guru yang memberikan kebutuhan siswa, baik itu kebutuhan akan karakter dan perkembangannya ataupun kebutuhan untuk dihargai.

    4. Guru yang menjaga wibawa, selain menciptakan hubungan yang harmonis dengan muridnya, guru juga harus menjaga wibawanya. Itu tercermin dari tingkah laku atau sikap di dalam kelas atau di luar kelas.

    5. Guru yang mampu menjadi contoh atau suri tauladan. Semakin lama semakin berkurang sosok panutan, guru harus tetap bisa menjadi contoh untuk murid-muridnya. Tidak hanya pandai berbicara tetapi juga mampu mempraktekannya.

    6. Guru yang selalu berpenampilan menarik dan murah senyum serta sabar. Menjaga penampilan yang menarik, rapi membuat murid merasa betah dengan guru. Begitupun dengan senyum, murid yang yang ‘bermasalah/nakal’ akan luntur dan akan menyukai guru yang suak senyum dengan tulus dan sabar.

    7. Guru yang mendidik dengan hati dan menginspirasi. Mendidik atau mengajar bukan hanya dianggap sebagai pekerjaan atau profesi, lebih dari itu juga dimaknai sebagai pengabdian dan ibadah. Murid bukan hanya sebagai obyek, tetapi juga insan seperti anak, yang tidak hanya dididik juga didoakan.

    Itulah beberapa tips atau cara agar bisa menjadi guru yang disenangi murid-muridnya. Apakah Bapak Ibu punya pengalaman dan masukan untuk menjadi guru yang disenangi muridnya? Agar proses belajar mengajar bisa lebih bermakna. Di setiap akhir tahun ajaran, bisa meminta masukan dari murid, menurutnya apa saja kekurangan kita sebagai guru dan apa yang mereka inginkan.

    more
  • 50 Persen Lebih SD Belum Punya Perpustakaan
    50 Persen Lebih SD Belum Punya Perpustakaan
    Bacalah untuk membuka jendela dunia. Bacalah adalah kata perintah yang memang memiliki nilai lebih. Bukan saja karena perintah pada ayat Al-quran yang pertama. Karena memang membaca adalah kegiatan aktif untuk mendapatkan ilmu pengetahuan baru. Kebiasaan membaca sebagai salah satu kegiatan berbahasa harus ditanamkan sejak dini.

    Salah satu cara untuk meningkatkan minat baca anak dengan menyediakan buku atau menyediakan tempat baca berupa perpustakaan. Tetapi sayangnya perpustakaan merupakan sarana standar yang harus ada di sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan, belum semua sekolah dasar (SD) memilikinya.

    Sebanyak 76.478 sekolah dari jenjang SD hingga SMA sederajat belum memiliki perpustakaan. Dikutip dari kompas.com (8/10), lebih dari 50 persen SD, yakni 55.545 sekolah, belum memiliki perpustakaan. Sementara di SMP, 12.029 sekolah belum mempunyai perpustakaan. Sedangkan di jenjang SMA/SMK, 8.904 sekolah tidak memiliki perpustakaan.

    Sesuai dengan amanat Undang-Undang Perpustakaan, sekolah harus mengalokasikan 5 persen Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah untuk meningkatkan koleksi perpustakaan. Menurut Kepala Perpustakaan Nasional, Sri Sularsih, pengadaan perpustakaan sekolah menjadi tanggung jawab Kemdikbud. Dengan alokasi pendidikan nasional yang semakin meningkat, seharusnya keberadaan perpustakaan di sekolah juga meningkat, termasuk koleksi bukunya.

    Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kemdikbud, Suyanto menjelaskan, Di tahun 2012, pemerintah akan membangun 9.442 perpustakaan. Kemudian pada 2013, dibangun 1.500 perpustakaan lagi sehingga pada akhir tahun 2013 ditargetkan 75 persen SD sudah memiliki perpustakaan.

    Perpustakaan sekolah jadi salah satu cara potensial untuk membangun minat baca di kalangan siswa, yang jumlahnya puluhan juta orang. Nantinya perpustakaan sekolah tidak hanya dimanfaatkan siswa dan guru, tetapi juga masyarakat sekitar. Apakah di sekolah Bapak Ibu sudah mempunyai perpustakaan?

    more
  • Jumlah SD di Indonesia Ada 148.361
    Beberapa hari yang lalu ada seorang yang tanya berapa di mana di bisa tahu jumlah sekolah setingkat SD se-Indonesia dan dengan rincian masing-masing jumlah SD di suatu Provinsi dan Kabupaten Kota.

    Terkait dengan pertanyaan tersebut, sebenarnya Kemendikbud sedang melakukan pendataan sekolah untuk tingkat SD dan SMP. Pasti ada beberapa Bapak Ibu guru beberapa waktu yang lalu disibukkan dengan tugas tambahan untuk menjadi operator aplikasi pendataan. Operator ini kurang lebih tugasnya merekap data mengenai sekolahnya yang terkait sarana prasarana, peserta didik dan tenaga pendidik.

    Hasil dari data tersebut, setelah selesai dikirim (upload) di server pusat Kemendikbud. Sehingga terkumpullah data sekolah se-Indonesia, per-Provinsi, per-Kabupaten/Kota, bahkan per-Kecamatan. Untuk melihat jumlah sekolah dan data terkait, bisa dilihat di halaman website http://infopendataan.dikdas.kemdikbud.go.id

    Sampai tulisan ini dibuat (07/01/2012), memang belum semua data masuk. Tetapi secara umum jumlah SD, SMP, dan SLB bisa diketahui. Total SD yang ada di Indonesia adalah 148.361, SMP 36.425, dan SLB 2.027, screnshotnya seperti di bawah ini:

    Pendataan ini untuk memenuhi seluruh kebutuhan data Kemendikbud sebagai dasar perencanaan dalam pelaksanaan program yang bersifat transaksional dengan Daerah maupun langsung dengan sekolah dan seluruh entitas data Pendidikan seperti : Penyaluran dana BOS, Rehab, Tunjangan Guru, Subsidi siswa miskin.

    Sekali lagi, data sampai tulisan ini dibuat belum masuk semua. Anda yang membutuhkan informasi dan data jumlah sekolah pendidikan dasar di Indonesia, bisa memantau di website di atas.

    more
  • Download Kumpulan Soal IPA Kelas IV Semester 1
    Download Kumpulan Soal IPA Kelas IV Semester 1
    Kembali berbagi bank soal, kali ini SekolahDasar.Net akan berbagi kumpulan soal ulangan harian atau tes formatif untuk mata pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) kelas IV (empat). Pada mata pelajaran IPA kelas IV semester 1, materinya pun termasuk cukup banyak, ada 6 Standar Kompetensi, lebih rincinya SK dan KD seperti di bawah ini.

    Standar Kompetensi & Kompetensi Dasar IPA Kelas IV Semester 1
    1. Memahami hubungan antara struktur organ tubuh manusia dengan fungsinya, serta pemeliharaannya
    1.1 Mendeskripsikan hubungan antara struktur kerangka tubuh manusia dengan fungsinya
    1.2 Menerapkan cara memelihara kesehatan kerangka tubuh
    1.3 Mendeskripsikan hubungan antara struktur panca indera dengan fungsinya
    1.4 Menerapkan cara memelihara kesehatan panca indera

    2. Memahami hubungan antara struktur bagian tumbuhan dengan fungsinya
    2.1 Menjelaskan hubungan antara struktur akar tumbuhan dengan fungsinya
    2.2 Menjelaskan hubungan antara struktur batang tumbuhan dengan fungsinya
    2.3 Menjelaskan hubungan antara struktur daun tumbuhan dengan fungsinya
    2.4 Menjelaskan hubungan antara bunga dengan fungsinya

    3. Menggolongkan hewan, berdasarkan jenis makanannya
    3.1 Mengidentifikasi jenis makanan hewan
    3.2 Menggolongkan hewan berdasarkan jenis makanannya

    4. Memahami daur hidup beragam jenis makhluk hidup
    4.1 Mendeskripsikan daur hidup beberapa hewan di lingkungan sekitar, misalnya kecoa, nyamuk, kupu-kupu, kucing
    4.2 Menunjukkan kepedulian terhadap hewan peliharaan, misalnya kucing, ayam, ikan

    5. Memahami hubungan sesama makhluk hidup dan antara makhluk hidup dengan lingkungannya
    5.1 Mengidentifikasi beberapa jenis hubungan khas (simbiosis) dan hubungan “makan dan dimakan” antar 5.2makhluk hidup (rantai makanan)
    Mendeskripsikan hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungannya

    6. Memahami beragam sifat dan perubahan wujud benda serta berbagai cara penggunaan benda berdasarkan sifatnya
    6.1 Mengidentifikasi wujud benda padat, cair, dan gas memiliki sifat tertentu
    6.2 Mendeskripsikan terjadinya perubahan wujud cair -> padat -> cair; cair -> gas -> cair; padat -> gas
    6.3 Menjelaskan hubungan antara sifat bahan dengan kegunaannya

    Untuk mendownload kumpulan soal ulangan harian IPA kelas IV semester 1, silahkan download di sini, Anda tinggal mengklik download yang berwarna hijau. Kumpulan soal ulangan harian IPA kelas 4 dengan format doc (MS Word) akan Anda dapatkan. Dalam kumpulan soal tersebut terdiri soal pilihan ganda dan esay dengan materi-materi pokok:
    1. Rangka Manusia
    2. Alat Indera
    3. Bagian-bagian Tumbuhan
    4. Penggolongan Hewan
    5. Daur Hidup Hewan
    6. Cara Memperlakukan Hewan
    7. Hubungan Antarmakhluk Hidup dengan Lingkungan
    8. Sifat Benda dan Perubahan Wujudnya
    9. Sifat Benda dan Kegunaannya

    Semoga kumpulan soal ulangan harian IPA untuk kelas empat ini bisa bermanfaat, baik bagi Bapak Ibu guru untuk bahan membuat soal evaluasi atau untuk orang tua dan siswa SD kelas empat untuk bahan belajar. Jangan lupa follow @sekolahdasar di twitter.

    more
  • Apa Bedanya Guru Dulu dengan Guru Sekarang?
    Masih teringat dan belum selesai kasus tawuran antar pelajar dan Miyabi di LKS, yang menjadi sorotan media beberapa minggu terakhir. Tentu saja ini sedikit banyak mencoreng dunia pendidikan di negeri ini. Dan mau tidak mau, sekolah dan guru juga menjadi lembaga dan orang yang juga menjadi perhatian. Penilaian masyarakat luas sangat beragam terhadap kasus ini yang secara tidak langsung akan mengurai permasalahan-permasalahan yang dihadapi di dunia pendidikan.

    Di tulisan ini akan membahas faktor interen pendidikan, khususnya sekolah atau guru. Sekolah dianggap membiarkan saja bentuk kekerasan, walau sebenarnya tidak ada lembaga pendidikan atau tenaga pendidikan yang menghendaki sebuah kekerasan. Ada juga yang berkomentar, guru sekarang berbeda dengan guru yang dulu. Katanya guru sekarang mendidik tidak dengan hati, mereka mengajar untuk pekerjaan.

    Kalau dilihat dari sejarahnya, memang guru sekarang lebih enak dibanding dengan guru zaman dulu jika dilihat dari segi kesejahteraan. Walau hal ini juga bisa dibantah, karena masih banyak guru yang berstatus guru honorer atau guru tidak tetap yang jauh mendapat perhatian. Secara umum, keterbatasan sarana dan prasarana mulai berkurang, seharusnya pendidikan kita tidak hanya jalan di tempat.

    Guru zaman dalam melaksanakan tugasnya cenderung dalam keterbatasan, bangunan yang rusak, buku yang tidak lengkap, gaji yang sedikit. Tetapi dengan keterbatasan itu guru mampu mengatasinya dengan terus mendidik anak-anak yang mampu menjadi penerus bangsa. Masyarakat sebenarnya sederhana dalam memaknai keberhasilan pendidikan, bukan dengan angka misalnya mendapat selalu mendapat juara atau mendapatkan nilai tertinggi. Masyarakat menilai keberhasilan anak didiknya tidak hanya keberhasilan akademis, tetapi anaknya bisa dewasa secara emosional, memiliki karakter yang baik dan bisa bersikap terpuji.

    Guru zaman dahulu memiliki kewenangan yang luas untuk mendidik anak di sekolah, sebagai orang tua di sekolah. Tidak ada yang namanya orang tua melaporkan guru anaknya. Orang tua dan guru bisa berhubungan dengan harmonis dengan orang tua anak didik. Ketika pulang ke rumah, orang tua bisa menjadi guru yang baik bagi anaknya, masyarakat mampu mengajarkan nilai kehidupan.

    Berbeda zaman tentu juga berbeda tantangan yang dihadapai, guru zaman sekarang tidak lagi terlalu dipusingkan dengan keterbatasan. Guru zaman sekarang lebih banyak tuntutan dan aturan yang harus dipatuhi. Sistem dan aturan memaksa guru terseret untuk melakukan yang menyalahi makna dari profesinya. Mulai dari diombang-ambingkan dengan kepentingan penguasa daerah, aturan yang membuat ruang gerak terbatas. Sibuk dengan tugas administrasinya. Semua menjadi terasa harus seperti yang ada di dalam buku.

    Satu lagi yang membedakan guru sekarang dengan guru dulu adalah, guru sekarang kurang lagi dihormati oleh anak didiknya. Pertanyaan besarnya, mengapa guru tidak lagi dihormati anak didiknya? Jika dulu, anak didik selalu menghormati anak didiknya bahkan sering didengar cerita anak didik yang rela menunggu di depan pintu gerbang untuk menunggu gurunya datang dan membawakan tas dan sepedanya. Walau kadang guru memberikan hukuman pada anak didik, tetapi anak tetap menghoramati gurunya.

    Sekarang banyak guru profesional, tetapi tidak tahu profesional itu yang seperti apa. Gaji cukup bahkan lebih tetapi masih saja merasa kurang, sampai-sampai SK-nya disekolahkan di bank. Biarlah, dulu ya dulu, sekarang ya sekarang. Mau berubah atau tidak tergantung orang dan sistem pendidikannya bisa merubah atau tidak. Pasti masih ada guru yang mendidik dengan hati. Tiap masa berbeda itu wajar, karena yang tantangan yang dihadapi juga berbeda, tentu harapannya bisa lebih baik. Sudahlah, tidak baik membicarakan orang apalagi membanding-bandingkan, tapi kalau komentar silahkan saja!

    Ditulis oleh Kurnia Septa
    Anda juga bisa menulis dan mengirimkan artikel reportase atau opini di sini.

    more
  • 7 Mata Pelajaran untuk SD di Kurikulum Baru 2013
    Rencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk mengubah kurikulum KTSP 2006 dengan kurikulum baru yang akan mulai berlaku 2013 sudah bisa dipastikan akan benar terjadi. Kurikulum pendidikan nasional yang saat ini masih digodok dan jadwalnya akan Februari 2013 nanti terjadi penyederhanaan jumlah mata pelajaran.

    Kurikulum pendidikan nasional dengan konsep penyederhanaan jumlah mata pelajaran terus digodok bersama tim dari pemerintah pusat dan sejumlah pakar pendidikan. Hampir dipastikan untuk siswa sekolah dasar (SD) hanya akan ada 7 mata pelajaran dari 11 mata pelajaran sebelumnya diajarkan di bangku sekolah dasar.

    Seperti dikatakan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Dasar, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Suyanto yang dikutip dari Kompas (02/10). Inilah 7 mata pelajaran yang akan diajarkan untuk siswa SD di kurikulum pendidikan baru 2013:
    1. Pendidikan Agama
    2. Bahasa Indonesia
    3. PPKn
    4. Matematika
    5. Kesenian
    6. Pendidikan Jasmani dan Olahraga Kesehatan
    7. Pengetahuan Umum

    Khusus untuk mata pelajaran IPA dan IPS, Kemendikbud menilai kedua mata pelajaran itu belum perlu dipisahkan untuk jenjang SD. Diwacanakan, keduanya akan dilebur menjadi satu mata pelajaran bernama Pengetahuan Umum yang memiliki muatan yang terintegrasi dengan jenjang SMP dan SMA.

    Sebelumnya Suyanto juga menyampaikan jumlah mata pelajaran di SD untuk kurikulum pendidikan baru ini akan lebih disederhanakan, tetapi muatannya lebih mendalam. Hal ini berbeda dengan kondisi mata pelajaran di SD saat ini yang cakupannya terlalu luas, tetapi tidak sebanding dengan isi materinya.

    Kemendikbud memilih mata pelajaran yang lebih mengedepankan pembentukan sikap dan mengandung dasar-dasar mata pelajaran yang memiliki substansi pengembangan wawasan umum. Kurikulum baru ini akan mulai disosialisasikan dan diuji publik sebelum Februari 2013, dan mulai berlaku pada tahun ajaran 2013-2014. Bagaimana komentar Bapak Ibu Guru dengan penyerderhanaan mata pelajaran di SD dengan menjadi 7 mata pelajaran saja? Tulis saja di kolom komentar!

    more
  • [Foto] Mengelola Kelas yang Baik dan Kreatif Salah satu tugas guru selain mengajar adalah sebagai salah satu ciri guru yang profesional adalah mampu mengelola kelas dengan baik. Di dalam kelas segala aspek pendidikan bertemu dan berproses, guru dengan murid, kurikulum dengan materi.

    Definisi pengelolaan kelas atau manajemen kelas segala usaha yang dilakukan untuk menciptakan dan memelihara suasana belajar mengajar yang efektif, menyenangkan, menghindari gangguan dan dapat memotivasi belajar siswa.

    Pengelolaan kelas sendiri dapat dilihat dari dua segi, yaitu pengelolaan yang menyangkut siswa dan pengelolaan fisik (ruangan, perabot, alat pelajaran). Pengelolaan kelas diperlukan karena kelas selalu dinamis dalam bentuk perilaku, perbuatan, sikap, mental, dan emosional siswa.

    Masih ingatkan dengan kegiatan online SekolahDasar.Net, yaitu "Kontes Foto Mengelola Kelas dengan Baik dan Kreatif"? Kegiatan online ini mengajak guru-guru SD maupun MI untuk berbagi dalam wujud foto, bagaimana Bapak Ibu guru dalam mengelola kelas. Kontes foto ini akan berlangsung sampai 20 Oktober 2012. Sejak dimulai 27 Agustus yang lalu, sudah ada banyak foto yang diunggah atau diikutsertakan. Berikut beberapa foto pengelolaan kelas dari peserta kontes:


    Bapak Ibu guru masih bisa juga ikut mengikuti Kontes Mengelola Kelas dengan Baik dan Kreatif ini, masih ada 20 hari ke depan, tepatnya sampai 20 Oktober 2012. Baca syarat dan ketentuaan mengikuti lomba di sini. Akan dipilih empat peserta yang akan mendapatkan voucher pulsa. Mari berbagi pengalaman, dengan mengikuti kontes foto mengelola kelas dengan baik dan kreatif, baca info lengkapnya di sini ~ http://bit.ly/lombaSD-1

    more

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Baca Informasi Terbaru