• Data Ini Harus Dilengkapi PTK di Dapodik Terkait Tunjangan
    Sekarang ini segala pendataan sekolah dilakukan secara online, termasuk guru atau pendidik dan tenaga kependidikan (PTK). Semua unsur data sekolah termasuk data peserta didik dan PTK akan diupdate datanya berdasarkan data pada Data Pokok Kependidikan (DAPODIK) sekolah. Data itu diisi melalui aplikasi pendataan sekolah dan dikirim ke server pusat DAPODIK.

    Tujuan utama pendataan sekolah dilakukan secara online adalah agar sekolah terus berkembang dan maju. Dengan sistem online ini pihak sekolah terutama kepala sekolah beserta guru atau PTK harus aktif dalam mencari informasi terkait dengan kebijakan pemerintah. Selain memantau informasi dari Dinas Pendidikan setempat, sekolah harus rajin memantau informasi di situs-situs pendidikan.

    Sistem online DAPODIK ini berdampak juga pada guru atau PTK yang sudah bersertifikat pendidik. Mulai tahun 2013 penerbitan SK Tunjangan Profesi atau yang lebih dikenal dengan SK Dirjen akan didasarkan data guru atau PTK yang bersangkutan pada DAPODIK yang diupload ke Server Pusat Pendataan Sekolah. Oleh sebab itu pastikan data Anda sebagai guru atau PTK yang terdaftar di DAPODIK itu benar dan falid. Untuk mengecek data bisa dilihat di website Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (DIREKTORAT P2TK DIKDAS).

    Dari data yang diinput dan dikirim ke server pusat DAPODIK ada data-data terkait guru atau PTK pada Dapodik yang wajib untuk diisi, karena berpengaruh langsung ke Program-program di P2TK DIKDAS, termasuk dalam penerbitan SK Tunjangan Profesi. Berikut data harus dilengkapi guru atau PTK untuk DAPODIK:

    1. NUPTK harus diisi dan Valid, pengaruhnya:
    NUPTK Kosong tidak lolos syarat tunjangan dan PAK
    Dianggap belum setifikasi karena NUPTK Salah
    2. Nama PTK diisi dengan benar, pengaruhnya:
    Jadi masalah saat pencairan Tunjangan di Bank
    3. Tanggal Lahir harus benar, pengaruhnya
    Jika salah menyebabkan salah menghitung usia
    4. TMT pengangkatan diisi dengan benar
    Masa kerja tidak benar sehingga tidak memenuhi Syarat Tunjangan
    5. Pengisian Gol./Ruang harus benar
    6. Tugas mengajar harus sesuai
    7. Kode Bidang Studi Sertifikasi harus benar
    8. Status Aktif harus benar
    9. Tanggal Pensiun (jika sudah)
    10. Tanggal Cuti (dari dan sampai)
    11. Keterangan Cuti
    12. Tanggal Wafat (jika sudah)
    13. Status Kepegawaian
    14. SK Inpassing
    15. Pendidikan yang Sedang ditempuh
    16. Alamat email

    Setiap guru atau PTK wajib mempunyai email. Calon penerima tunjangan profesi harus meng-konfirmasi kebenaran data yang bersangkutan melalui email. Usulan yang belum dikonfirmasi tidak dapat diteruskan prosesnya, atau dianggap benar setelah batas waktu terlewati. Selain itu, Informasi mengenai SK yang bersangkutan akan dikirimkan ke alamat email masing-masing. Selanjutnya apa saja kelengkapan yang wajib diisi terkait tunjangan profesi, untuk apa saja dan pengaruhnya bisa didownload di sini. Jika terjadi kesalahan atau memperbaiki data, Guru atau PTK bisa megubahnya lewat Aplikasi Pendataan yang ada di masing-masing sekolah bersangkutan.

    more
  • Cara Mengecek Data Siswa & PTK di Server Pusat Beberapa bulan terakhir ini sekolah, khususnya sekolah dasar (SD) diminta untuk melakukan pendataan ataupun updating data lewat Aplikasi Pendataan dari Kemendikbud. Pendataan ini meliputi data sekolah, sarana dan prasarana sekolah, daftar rombongan belajar, daftar siswa, dan daftar pendidik dan tenaga kependidikan.

    Untuk itulah sekolah menugaskan salah tenaga pendidiknya untuk menjadi operator Aplikasi Pendataan Pendidikan yang bertugas menginput data dan mengirimkannya ke server pusat. Aplikasi Pendataan Pendidikan yang terbaru, bisa didownload di sini. Setiap sekolah memiliki kode registrasi yang berbeda-beda, ketika proses penginstalan aplikasi ke komputer.

    Setelah semua data yang diminta di Aplikasi Pendataan terisi, selanjutnya operator mengirimnya melalui aplikasi pendataan yang terkoneksi internet. Hasil data yang sudah diinput dan dikirim ke server pusat Info Pendataan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan hasilnya secara umum bisa dilihat di websitenya.

    Bagi guru atau tenaga kependidikan yang ditugaskan menjadi operator Aplikasi Pendataan bisa mengecek data sekolah, siswa, sarpras, dan PTK yang sudah dikirim (diupload). Untuk mengecek data yang terkirim ke server pusat, operator dapat mengeceknya lewat aplikasi yang dijalankan secara online, yang tidak jauh berbeda dengan Aplikasi Pendataan yang sudah terinstal di komputer.

    Cara Mengecek Data Siswa & PTK yang Terkirim ke Server Pusat
    1. Buka Web Manajemen Pendataan [ klik di sini ]


    2. Masukan Username dengan mengetik email yang dipakai operator untuk masuk ke Aplikasi Pendataan. Begitupun juga dengan password, jangan sampai salah mengetikkannya.


    3. Anda diminta menunggu, dan jika berhasil masuk,akan menemukan halaman seperti ini.


    Dari Manajemen Pendataan itu, Anda bisa dapat informasi tentang input data yang sudah dilkukan, mulai Data sekolah yang terdiri dari data siswa, sarpras, rombel, dan PTK. Tersedia juga informasi Daftar register pengiriman, untuk mengecek status file dan verifikasi.

    more
  • Kelulusan UN Tinggi Hasil UKG Berbanding Terbalik
    Hasil Ujian Nasional (UN) yang dikerjakan siswa secara tertulis dengan pengawasan yang ketat menghasilkan tingkat kelulusan yang tinggi. Pada tahun 2012 kelulusan UN mencapai 99 persen di seluruh Indonesia, ini berbading terbalik dengan Hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) yang berlangsung pada Agustus hingga November secara online. Hasil UKG tersebut menunjukan tingkat kelulusan yang masih rendah, nilai rata-rata yang didapatkan guru 42. Pada UKG yang berisi tes kompetensi pedagogik dan profesional, guru dinyatakan lulus jika nilainya mencapai 70.

    Dengan hasil UN yang berbanding terbalik dengan UKG menimbulkan banyak tanda tanya. Berdasarkan data hasil UN dan UKG yang seharusnya berbanding lurus, secara logika kelulusan UN yang tinggi dihasilkan dari tenaga guru yang juga berkompeten. Tetapi ternyata, hasil UN dan UKG tidak sinkron. UN yang selama ini diselenggarakan penuh dinilai penuh kecurangan. UN yang masih diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ini oleh Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), justru membentuk karakter manipulatif dari para siswa.

    "Bagaimana mungkin para guru mutu rendah ini bisa menghasilkan siswa yang kelulusan UN mencapai 99 persen di seluruh Indonesia? Jelas ada kecurangan," kata Retno Listyarti, Sekjen FSGI dilansir dari Kompas (27/12/2012).

    Kebijakan baru yang diambil Kemendikbud dalam UN 2013 dengan membuat 20 variasi soal UN dalam satu kelas ini justru menunjukkan sebenarnya pihaknya mengakui adanya kecurangan dalam UN. Kemendikbud yang selalu mengatakan tidak ada kecurangan dalam pelaksanaan UN jadi terbantahkan. Dengan soal dibuat bervariasi dengan alasan agar siswa fokus berarti Kemendikbud tahu jika ada kecurangan dalam UN.

    Kecurangan UN ini sudah dan terjadi secara sistemik serta masif. Dengan adanya berbagai macam kecurangan ini, bagaimana bisa UN dijadikan pemetaan kualitas pendidikan. Semestinya, pemerintah mau melihat fenomena yang terjadi ini. Dan tidak menjadikan guru sebagai umpan yang dipersalahkan jika ada kecurangan dalam UN.

    Sekjen FSGI juga menilai UN masih terus dilaksanakan karena berorientasi pada proyek. Banyak kebijakan pendidikan yang dibuat pemerintah sia-sia dan menghambur-hamburkan uang negara. "Variasi soal ini juga bentuk dari proyek karena berarti penggandaan soalnya kan akan lebih banyak," kata Retno.

    Begitupun dengan UKG yang tidak bisa dijadikan patokan untuk memetakan kompetensi guru, karena bentuk tes yang tidak sesuai untuk mengukur keseluruhan kompetensi guru. Hasil yang tidak sinkron antara hasil UN dengan hasil UKG memang menimbulkan banyak kecurigaan. Bagaimana Bapak Ibu mengomentari fenomena itu? Tulis saja di kolom komentar!

    more
  • Anggaran Kurikulum Baru Rp 684 M, Akankah Tingkatkan Kualitas Pendidikan?
    Proses perubahan kurikulum sudah memasuki tahap uji publik, sudah banyak masukan yang diberikan terkait rencana perubahan kurikulum. Meskipun demikian, untuk anggaran yang akan digunakan untuk pengadaan buku dan persiapan guru akan oleh DPR RI belum disetujui sampai Panitia Kerja (Panja) Kurikulum memberikan rekomendasi. Sedangkan anggaran untuk pelaksanaan uji publik di berbagai kota yang ada di Indonesia tidak menjadi permasalahan oleh Panja Kurikulum.

    Menurut salah satu anggota komisi X DPR RI, pola penganggaran untuk pelatihan guru masih membingungkan. Ini disebabkan pihak Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMP-PMP) Kemendikbud mengaku tidak ada penganggaran untuk pelatihan guru dalam rangka persiapan kurikulum baru, yang ada anggaran untuk bimbingan teknis.

    Berdasarkan data yang dipegang oleh Panja Kurikulum dari Kemendikbud, anggaran kurikulum 2013 ini mencapai Rp 684,4 milyar yang terbagi menjadi Rp 513,8 milyar dan Rp 170,6 milyar. Dengan rincian sebagai sebagai berikut :

    Direktorat PSD untuk kurikulum: Rp 269,3 milyar
    Direktorat PSMP untuk kurikulum: 130,1 milyar
    Direktorat P2TK untuk bimbingan teknis guru: Rp 114,4 milyar
    Total: Rp 513,8 milyar

    Direktorat PSMA: 3,6 milyar
    Penyediaan buku pegangan guru: Rp 4,4 milyar
    Penyediaan buku silabus kurikulum: Rp 4,4 milyar
    Penyediaan buku siswa: Rp 84,1 milyar
    Direktorat PSMK untuk penyediaan buku pegangan guru: Rp 3,7 milyar
    Penyediaan buku silabus kurikulum (SMK): Rp 3,7 milyar
    Penyedin buku siswa (SMK): Rp 66,7 milyar
    Total: Rp 170,6 milyar.
    *) Sumber: Kompas (20/12/2012)

    Dengan adanya perubahan kurikulum baru anggaran yang dibutuhkan pun juga membengkak dan belum tentu kualitas pendidikan Indonesia 2013 akan meningkat. Ade Haryani seorang praktisi pendidikan berpendapat, peningkatan kualitas pendidikan Indonesia untuk tahun baru 2013 sebaiknya lebih kepada pemerataan pendidikan dan pembebasan biaya pendidikan bagi siswa kurang mampu di seluruh wilayah.

    Ade Hrayani seperti dilansir dari Antara (26/12/2012), juga berharap agar pemerintah benar-benar tepat sasaran dalam memberikan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan dana tersebut jangan digunakan untuk kegiatan yang mengada-ada.

    Banyak kalangan berpendapat perubahan kurikulum tidak selalu menjadi prioritas dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Metode pembelajaran, proses pembelajaran, tenaga pengajar berkualitas, dan fasilitas belajar yang akan banyak berpengaruh pada peningkatan kualitas pendidikan. Pemerintah mengeluarkan anggaran biaya besar untuk perubahan kurikulum 2013, tetapi hal itu belum tentu akan meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia.

    more
  • Pembelajaran Menggunakan Media Komik “SUKI” Apakah itu komik “Suki”? Komik Suki merupakan kependekan dari “ Semua Untuk Karakter Siswa”. Salah satu inovasi yang dihasilkan oleh salah satu kelompok inovasi pendidikan mahasiswa PGSD UNY 2009. Komik Suki merupakan media pembelajaran yang dikembangkan untuk lebih memahamkan siswa mengenai karakter tertentu. Dalam komik yang pertama adalah mengenalkan mengenai karakter kedisiplinan.

    Komik Suki menceritakan seorang anak yang tidak disiplin dan yang kurang disiplin. Setiap hari dia terlambat. Di juga jarang mandi. Kemudian ada suatu kejadian yang mengakibatkan dia kapok untuk tidak disiplin. Apa gerangan kejadian tersebut. Silahkan di baca.

    Strategi pembelajaran menggunakan media komik “SUKI” (Semua Untuk Karakter Siswa) . Komik ini diberikan untuk anak kelas tinggi pada pembelajaran tentang karakter. Dapat diberikan dengan terintegrasi dengan mata pelajaran tertentu pada kurikulum 2013, bahasa Indonesia atau mata peajaran PKn. Ciri khas pada komik ini adalah berkolaborasi dengan metode cooperative learnening serta “SUKI” sebagai seorang tokoh atau mascot dalam komik.

    Bentuk Komik. Kritik dan saran sangat kami harapkan
    Langkah Penggunaan
    Komik SUKI digunakan dalam sebuah pembelajaran, komik ini disajikan untuk memberikan contoh perilaku yang kurang baik yang kadang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Langkah-langkah penggunaan komik SUKI dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
    1. Apersepsi mengenai kondisi saat ini, masa depan dan keseharian warga kelas.
    2. Guru membagikan komik kepada siwa.
    3. Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok, dimana setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa.
    4. Siswa berdiskusi mengenai tokoh, sifat dan pesan yang terkandung dalam komik yang dibacanya.
    5. Guru memberikan penekanan mengenai berbagai cerita, unsur yang ada di dalamnya.

    *) Ditulis dan dikirim oleh Anjar Nanuwijaya | anjarnanuwijaya@gmail.com

    more
  • Langkah-langkah Pelaksanaan Mix Learning
    Mix Learning adalah sebuah strategi yang kami ciptakan dengan menggabungkan Active Learning, Quantum Learning, dan Cooperative Learning.

    Berikut langkah-langkah pelaksanaan Mix Learning:
    1. Membentuk kelompok-kelompok yang heterogen dengan cara membagi tiga macam kertas yang memiliki warna yang berbeda-beda, misal warna merah, kuning, dan hijau. Tiap kelompok dipimpin oleh seorang siswa yang ditunjuk oleh guru. Pemimpin kelompok memiliki tugas membagikan sub-sub materi yang harus dihafalkan oleh kelompok tersebut kepada masing-masing anggotanya.

    2. Materi yang akan dihafal oleh siswa nanti disampaikan dahulu oleh guru, namun materi yang disampaikan adalah materi yang masih bersifat umum.

    3. Semua kelompok diberi kesempatan untuk menghafalkan materi yang diberikan oleh guru dalam waktu yang ditentukan.

    4. Setelah waktu atau kesempatan menghafal selesai, diadakan kuis yang bersistem pengumpulan poin. Tiap kelompok maju ke depan siswa lainnya untuk menyampaikan materi yang telah dihafalkannya tadi. Kriteria yang dinilai antara lain adalah kelengkapan materi, keruntutan materi, kelancaran berbicara, penguasaan materi, kreatifitas dalam menyampaikan materi, dan keberanian siswa. Namun, dalam kesempatan kali ini, tiap kelompok cukup menyampaikan apa yang telah mereka hafalkan saja.

    5. Sebagai tugas rumah, tiap kelompok harus mencari referensi atau media apapun itu yang bisa digunakan untuk mempermudah siswa lainnya memahami materi yang mereka sampaikan dengan hafalan.

    6. Untuk pertemuan berikutnya, tiap kelompok menyampaikan kembali hafalan materi yang disampaikan pada pertemuan sebelumnya dengan menggunakan media atau alat-alat yang telah dipersiapkan di rumah.

    7. Setelah semua kelompok menyampaikan materinya, guru menilai semua aspek yang akan dinilai. Kemudian guru mengumumkan pemenang dan memberikan reward untuk kelompok yang mendapat nilai terbaik.

    8. Namun, guru juga harus memberikan reward kepada semua kelompok meskipun berupa pujian agar semua siswa merasa berhasil atas usaha keras mereka.

    9. Guru menyampaikan kesimpulan materi.

    *) Ditulis dan dikirim oleh Anton Yogi Setiawan, mahasiswa PGSD UNY angkatan 2009

    more
  • Membuat Media Pembelajaran dari Botol Bekas
    Indonesia pernah menikmati kejayaan sebagai salah satu produsen pesawat terbang dengan lahirnya N-250 yang merupakan pesawat regional komuter turboprop rancangan asli IPTN. Di tangan Bacharuddin Jusuf Habibie, Indonesia dapat dianggap telah sejajar dengan negara-negara pembuat pesawat terbang yang terlebih dahulu memproduksi pesawat terbang, baik untuk tujuan komersil maupun militer. Bertitik tolak pada hal tersebut kami yang mana notabene kelak akan menjadi guru SD, mempunyai mimpi untuk siswa sekolah dasar agar mampu menjadi seperti bapak BJ. Habibie, dengan kata lain kami berharap melalui pembelajaran yang kami lakukan dapat menumbuhkan semangat juang peserta didik untuk menjadi pembaharu seperti bapak BJ. Habibie sebagai bapak teknologi Indonesia, bukan hanya pengekor atau peniru.

    Masih banyak oknum pendidik beranggapan bahwa media pembelajaran selalu terkait dengan teknologi tinggi, elektronika, digital dan biaya mahal contohnya yang kita kenal sebagai media pembelajaran adalah media cetak, Transparansi, Audio, Slide Suara, Video, Multimedia Interaktif, E-learning. Namun sesungguhnya hal tersebut merupakan pemikiran yang sempit dalam memaknai arti dari sebuah media pembelajaran. Media pembelajaran terdiri dari berbagai macam jenis, dari media pembelajaran yang sederhana dan murah hingga media pembelajaran yang canggih dan mahal. Dari mulai rakitan pabrik hingga buatan tangan para guru itu sendiri yang mana dapat dimodifikasi oleh siswa menurut kreativitas masing-masing.

    Media pembelajaran dibuat untuk menyederhanakan materi pembelajaran, mendekatkan dengan siswa dan mengongkritkan konsep yang akan disampaikan oleh guru. Dan media juga bisa menjadi jembatan sebelum siswa khususnya akan melakukan praktik. Sementara di sisi lain, kami rasa siswa mulai rindu dengan media kreatif yang dapat mengaktifkan siswa atau melibatkan partisipasi siswa secara langsung dan bukan hanya melalui power point saja.

    Dalam kehidupan sehari-hari kita selama hidup selalu menghasilkan sampah, maka dari itu kita sudah selayaknya untuk mengurangi jumlah produksi sampah yang terus bertambah. Pengurangan tersebut harus dimulai dari individu masing-masing, keluarga, masyarakat dan lingkungan. Untuk mengurangi jumlah produksi sampah kita harus membiasakan diri untuk hidup ramah lingkungan. Pembiasaaan diri ramah lingkungan dimulai pada anak usia sekolah dasar serta perlu adanya pembiasaan-pembiasaan yang harus diberikan oleh guru. Sebagai calon guru sudah selayaknya nanti dapat menginformasikan kepada peserta didik agar dapat mengurangi produksi sampah dengan membiasakan diri ramah lingkungan. Sebagai guru ketika hendak menggunakan media dalam pembelajaran juga sebaiknya memilih media atau bahan pembuatan media yang ramah lingkungan.

    Menanggapi tantangan tersebut Mahasiswa PGSD UNY 2009, saudara Bayu Aji sebagai kapten kami bermaksud mengembangkan media pembelajaran yang kami beri nama “Miniatur Teknologi dari Bahan Utama Botol Bekas“. Kami membuat beberapa bentuk miniatur teknologi tersebut diantaranya adalah Kapal Pegas, Mobil Tolkas, Kincir Tornado Warna.

    Mengapa Botol Bekas (Tolkas)? Media ini merupakan media yang ramah lingkungan karena dalam pembuatannya bahan utama yang digunakan berasal dari barang bekas yang mana apabila dimanfaatkan dapat mengurangi pencemaran lingkungan sehingga murah dan tidak membutuhkan bahan bakar energi seperti minyak. Dalam operasionalnya guru dapat melibatkan siswa untuk membuat media ini, sehingga akan menumbuhkan kreativitas dan imajinasi anak, selain itu juga sesuai dengan karakteristik anak usia sekolah dasar yang pada hakikatnya menyukai belajar sambil bermain. Mengacu pada mimpi kami untuk pendidikan bahwa dengan pembelajaran menggunakan media ini diharapkan dapat menginspirasi dan memotivasi agar siswa mampu menjadi bapak BJ. Habibie mendatang.

    *) Ditulis dan dikirim oleh Septiana Pradina, Mahasiswa PGSD UNY 2009

    more
  • Membentuk Karakter Siswa Melalui Metode Invact
    Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter siswa sangat penting untuk ditingkatkan.

    Metode Invact hadir untuk menjawab kebutuhan pendidikan akan pentingnya penanaman karakter pada siswa. Metode ini melengkapi kurikulum baru 2013 yang merancangkan pembelajaran SD tematik di semua kelas sehingga penanaman nilai untuk pembentukan karakter menjadi terintegrasi dalam pembelajaran. Oleh karena itu pembelajaran menjadi lebih bermakna.

    A. Pengertian Metode Invact
    Metode invact (increase value activity) adalah metode penanaman nilai menggunakan berbagai aktivitas yang dilakukan sebelum kegiatan pembelajaran dimulai dan direfleksi aplikasi nilainya setelah kegiatan pembelajaran selesai. Metode ini merupakan salah satu cara untuk membentuk karakter siswa.

    B. Karakteristik Metode Invact
    1. Aktivitas yang digunakan merupakan aktivitas yang mengandung nilai-nilai kehidupan.

    2. Aktivitas bisa berupa permainan, menonton video, mendengarkan atau membaca cerita, menganalisis lagu secara sederhana, dan sebagainya.

    3. Guru harus menyusun agenda tema untuk satu tahun. Guru harus menentukan karakter apa yang diharapkan muncul dalam satu tahun ajaran (goal = karakter utama). Karakter ini kemudian dipetakan menjadi beberapa karakter khusus yang membentuk karakter utama tersebut dimiliki oleh seseorang. Jumlah karakter khusus menyesuaikan kebijakan guru bisa dua, tiga, empat, dan sebagainya. Kemudian dari karakter khusus ini dicari nilai-nilai utama pembentuk karakter tersebut. Nilai utama ini yang akan menjadi payung nilai satu bulan atau bisa satu minggu. Dari nilai utama ini kemudian ditentukan nilai khusus yang akan diaplikasikan pada kegiatan pembelajaran. Misalnya selama satu minggu menggunakan nilai utama kerjasama maka hari pertama menggunakan nilai indahnya perbedaan, hari kedua bersahabat dengan semua teman, dan seterusnya.

    4. Aktivitas yang dipilih disesuaikan dengan tema pada pertemuan tersebut.

    5. Nilai dalam setiap kegiatan pembelajaran disesuaikan dengan nilai khusus yang sudah disepakati bersama. Misalnya tentang mencintai lingkungan, maka pada soal cerita pembelajaran Matematika menggunakan cerita-cerita yang berhubungan dengan pelestarian lingkungan.

    6. Penemuan nilai dalam aktivitas dilakukan dengan diskusi bersama antara guru dan siswa. Guru harus melakukan banyak pancingan kepada siswa dalam diskusi supaya nilai yang disepakati bersama sesuai dengan tema pada pertemuan tersebut dan urutan tema dalam agenda.

    7. Nilai yang dipilih akan menjadi tema nilai pertemuan satu hari tersebut. Di akhir kegiatan pembelajaran akan ada refleksi nilai. Siswa yang mengaplikasikan nilai tersebut selama satu hari akan mendapat bintang sedangkan siswa yang melanggar akan dikurangi bintangnya. Pada akhir semester atau akhir tahun ajaran bintang-bintang tersebut akan dihitung dan siswa tertentu (yang memiliki bintang terbanyak atau memenuhi jumlah bintang tertentu tergantung kebijakan guru) akan mencapat reward dari guru atau sekolah.

    8. Sebisa mungkin guru harus mengawasi siswa selama kegiatan pembelajaran di sekolah dan memacu siswanya untuk jujur dalam kegiatan refleksi.

    9. Guru memiliki buku catatan bintang untuk anak dan menyediakan reward untuk siswa yang disepakati akan mendapat reward (jumlah bintang terbanyak atau memenuhi jumlah tertentu tergantung kebijakan guru).

    10. Aktivitas dilakukan sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Aktivitas ini merupakan kegiatan di luar apersepsi.

    11. Waktu untuk aktivitas 10-15 menit sedangkan untuk refleksi 5-10 menit atau menyesuaikan kebijakan sekolah dan guru.

    C. Langkah-langkah Metode Invact
    1. Kegiaatan diawali dengan doa dan salam.
    2. Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang aktivitas yang akan dilakukan.
    3. Siswa mengikuti instruksi guru untuk melakukan aktivitas.
    4. Siswa dan guru berdiskusi untuk menentukan nilai apa yang akan disepakati bersama untuk menjadi tema nilai pada pertemuan satu hari tersebut.
    5. Selama satu hari aplikasi dari nilai tersebut akan dilakukan siswa dan dimonitor guru maupun sesama siswa.
    6. Setelah pembelajaran selesai dilakukan refleksi untuk menentukan siswa yang mendapat bintang atau dikurangi bintangnya serta nasehat dari guru.
    7. Kegiatan diakhiri dengan salam dan doa.

    D. Kelebihan Metode Invact
    1. Sistematis, memiliki tujuan yang jelas dan strategi yang tersusun di awal tahun.
    2. Meningkatkan kebermaknaan kegiatan pembelajaran.
    3. Strategis, secara tidak langsung masuk (include) dalam kegiatan pembelajaran.
    4. Meningkatkan motivasi siswa. Karena mengawali kegiatan pembelajaran dengan aktivitas yang menyenangkan dan bernilai maka dapat menumbuhkan sikap “suka sekolah” bagi siswa.
    5. Meningkatkan profesionalitas dan kreativitas guru dengan learning by do dalam menentukan nilai dan aktivitas yang akan dilakukan.

    E. Kekurangan Metode Invact
    1. Menambah waktu kegiatan pembelajaran sekitar 20-30 menit sehingga siswa harus pulang lebih siang. Kemungkinan juga akan mengubah jadwal istirahat pembelajaran.
    2. Menambah biaya operasional di sekolah.
    3. Keefektifannya bergantung pada kedisiplinan guru dan siswa.

    F. Contoh Aktivitas dan Nilai
    PENYELAMATAN BENDERA PUSAKA
    Tujuan : Menanamkan Nilai-2 Nasionalisme
    Peserta : 4 orang
    Waktu : +10 menit
    Media : Tongkat Berbendera, Tali, Standar Tongkat, Penutup Mata
    Proses : Memindahkan Tongkat berbendera yang sudah diikat dengan tali yang dipegang masing-masing orang

    BLIND GLASSES
    Tujuan : Memupuk Kerjasama, Disiplin, Kepemimpinan
    Peserta : + 8 orang
    Waktu : + 10 menit
    Media : Penutup Mata, Kain, Botol berisi air
    Proses : Peserta ditutup mata, memegang ujung kain yang ditengahnya ada botol berisi air mebawa dari satu titik ke titik lainnya.

    MENUJU PULAU BAHAGIA
    Tujuan : Melatih kepemimpinan, keterampilan, Kerjasama
    Peserta : 8 orang
    Waktu : 10 menit
    Media : Benang/Tali, Gelas Plastik
    Proses : Diajak bernyanyi Maju Tak Gentar terlebih dahulu, kemudian Gelas Plastik yang dibolongi ditaruh di benang yang kedua ujungnya dipegang oleh 2 orang, kemudian gelas plastik tersebut ditiup agar berpindah.

    *) Ditulis dan dikirim oleh Puji Trimaryanti, mahasiswa PGSD UNY 2009

    more
  • Mr and Mrs Jusi, Jurnal Siswa Sahabat Guru Perubahan kurikulum dalam dunia pendidikan Indonesia seperti bukan hal yang mengejutkan lagi bagi kita. Diawali dengan diterapkannya KBK yang sangat berbeda dengan kurikulum sebelumnya, kemudian penyempurnaan KBK menjadi KTSP, dan kini muncul rencana KTSP yang akan digantikan oleh kurikulum 2013.

    Mengacu pada penerapan kurikulum KBK dan KTSP yang muncul sebagai langkah inovatif dari pemerintah, sampai saat ini masih kita jumpai kendala komunikasi antara guru dan siswa dalam pembelajaran. Kendala tersebut salah satunya adalah keengganan siswa untuk bertanya dan menanggapi pertanyaan guru. Misalnya ketika guru menanyakan kepada siswa mengenai materi apa yang belum dapat mereka pahami dengan baik, siswa cenderung diam dan tidak merespon sesuai dengan harapan. Peristiwa yang demikian terjadi tidak hanya di SD tetapi juga sampai tingkat SMA.

    Keengganan siswa menyampaikan pendapatnya dapat disebabkan karena sifat siswa yang pemalu ataupun karena adanya jarak antara siswa dan guru. Proses pembelajaran yang demikian menyebabkan pembelajaran yang ada selama ini berjalan secara monoton dan satu arah. Guru akan menganggap semua siswa telah mengerti dan segera beralih ke materi selanjutnya. Hal ini tentunya sangat merugikan. Oleh karena itu, diperlukan suatu solusi yang dapat menjembatani komunikasi antara siswa dan guru, terutama untuk siswa sekolah dasar.

    Lembar catatan Mr and Mrs Jusi

    Mahasiswa PGSD UNY angkatan 2009 yang digawangi oleh Rahma Latif dkk mencoba untuk menjawab tantangan tersebut dengan membuat brand yang dinamakan Mr. Jusi and Mrs. Jusi. Brand Mr and Mrs Jusi merupakan kependekan dari “Journal Siswa” yang digunakan sebagai nama umum sebuah buku catatan. Fungsi utama buku ini adalah sebagai buku catatan pelajaran dan juga journal harian berisi perasaan siswa selama mengikuti pelajaran. Bagian-bagian buku tersebut terdiri dari cover jurnal, lembar biodata siswa, lembar peta konsep, lembar catatan, dan lembar komentar orang tua pada akhir halaman.

    Pada Cover ditampilkan gambar karakter Mr. and Mrs. Jusi untuk menarik minat siswa menulis di dalam journal. Kemudian pada lembar catatan disediakan kolom untuk mengutarakan perasaan siswa selama mengikuti pelajaran. Pada kolom tersebut juga terdapat karakter Mr. and Mrs. Jusi beserta emotive yang mewakili perasaan siswa.

    Dengan menggunakan buku ini, guru tidak hanya dapat mengerti apa saja yang menjadi kendala siswa dalam mengikuti pelajaran. Guru juga dapat meningkatkan kemampuan menulis siswa dan menjadikan Mr and Mrs Jusi sebagai buku penghubung komunikasi guru dan orang tua. Oleh karena itu, Mr. and Mrs Jusi juga merupakan sahabat guru bukan?

    *) Ditulis dan dikirim oleh: Rizqi Luthvi Navisa, 
    Mahasiswa PGSD UNY angkatan 2009

    more
  • Cara Mencari NISN (Nomor Induk Siswa Nasional)
    Setiap siswa yang bersekolah di sekolah formal memiliki NISN (Nomor Induk Siswa Nasional) dengan kode pengenal identitas yang bersifat unik, standar dan berlaku sepanjang masa. Nomor ini membedakan satu siswa dengan siswa lainnya di seluruh sekolah se-Indonesia. Setiap siswa dapat melihat atau mencari NISN-nya di situs NISN

    Layanan NISN yang dikelola oleh Pusat Data dan Statistik Kemdiknas yang merupakan bagian dari program Dapodik (Data Pokok Pendidikan). NISN menerapkan sistem komputerisasi yang terpusat dan online untuk pengelolaan nomor induk siswa skala nasional sesuai Standar Pengkodean yang telah ditentukan.

    Penentuan dan pemberian kode pengenal identitas siswa pada NISN itu berdasarkan sumber data siswa ketika pengajuan NISN dan sudah divalidasi atau diverifikasi oleh setiap sekolah dan atau Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten secara online. Hasilnya oleh Pusat Sistem NISN tersebut ditampilkan secara terbuka dalam batasan tertentu melalui situs NISN.

    Cara Mencari Nomor Induk Siswa Nasional (NISN)
    1. Untuk melihat NISN, kunjungi situs NISN atau klik di sini
    2. Pilih tab pencarian yang diinginkan.
    2. Klik tab Pencarian berdasarkan NISN
    3. Masukan NISN Siswa yang mininal 9 digit.
    4. Klik Cari jika sudah.

    5. Pencarian NISN berdasarkan nama
    6. Masukan nama siswa, tempat lahir dan tanggal lahir
    7. Klik Cari jika sudah.

    Melalui kedua pencarian diatas, yaitu pencarian berdasarkan NISN atau berdasarkan nama, maka akan muncul siswa aktif dengan NISN-nya. Jika tidak ditemukan sama sekali berarti sekolah belum mendaftarkan siswanya untuk mendapatkan NISN.

    more
  • Asah Kreatifitas Anak dengan Tidak Banyak Melarang
    Memiliki anak yang kreatif adalah dambaan setiap orang tua. Dengan kreatifitas yang terus berkembang akan menjadikan anak kelak menjadi orang yang sukses. Dalam mengasah kreatifitas juga ditentukan oleh perilaku guru dan orang tua terhadap anaknya. Sikap dan budaya orang tua yang banyak melarang anak dapat bedampak pada anak yang menjadi takut untuk berkreasi. Begitupun dengan sikap yang tidak mentolerir kegagalan, itu menyebabkan anak akan lebih suka berada dalam zona nyaman.

    Ketika anak mendapat larangan dari orang tua, seperti kata 'jangan' atau 'tidak boleh', itu akan mematikan kreatifitas anak. Mereka akan cenderung tumbuh menjadi pengekor. Tidak ada inisiatif dan takut salah, mereka hanya akan mengikuti kebiasaan atau petunjuk orang lain. Anak-anak tidak berani mengembangkan diri dan mengeluarkan ide kreatif karena ada kekhawatiran tidak sesuai dengan apa yang diajarkan guru di sekolah atau orang tua di rumah.

    Dalam proses belajar mengajar, misalnya anak sering dimarahi karena jawaban tidak sesuai dengan yang guru jelaskan, padahal jawabannya juga benar. Akhirnya anak-anak ini mencari aman dengan menjawab pertanyaan sesuai keinginan guru.

    Oleh sebab itulah para guru harus mulai bisa menerima jawaban dari anak-anak yang mungkin berbeda tetapi juga tidak salah. Yang terpenting pula, guru menghargai proses anak menemukan jawaban. Dengan diberi kesempatan dan dihargai, anak-anak akan berani berkreasi, tidak takut mengeluar ide kreatifnya, berimajinasi, dan mengambil resiko. Anak-anak akan menciptakan sesuatu yang baru.

    Sama halnya dengan orang tua, jangan terus memarahi anak. Misalnya ketika anak mendapatkan nilai jelek, orang tua terus memarahi. Orang tua harus mencari tahu kesulitan atau kendala yang dihadapi anak. Ajak mereka untuk mencari solosinya bersama-sama. Jangan sampai karena takut nilai jelek, anak-anak melakukan berbagai cara agar dapat nilai bagus tanpa mempedulikan sekitar.

    Guru dan orang tua harus membiasakan anak untuk tidak mudah menyerah dalam mencapai sesuatu. Tidak hanya itu, anak didorong untuk mencari jalan keluar dari masalah-masalah kecil yang sedang dihadapi. Jika anak gagal tidak terus dimarahi tapi justru mereka harus diberi semangat terus untuk bangkit dan anak mau mencoba lagi. Mereka akan berusaha mencari hal yang baru lagi, mengeluarkan kreatifitasnya untuk mencapai hasil yang diinginkan.

    more
  • Februari Buku Pelajaran Kurikulum Baru Dicetak
    Bulan Februari 2013, Kementerian pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud) targetnya akan mencetak buku pelajaran baru terkait dengan kurikulum baru yang akan diterapkan Juni 2013. Buku pelajaran ini akan diperbanyak setelah silabus yang disusun pihak Kemendikbud selesai.

    Pembahasan silabus sendiri sudah dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdikbud pada awal Desember lalu. Penyusunan silabus melibatkan para guru, dosen dan ahli pendidikan. Hal ini dilakukan agar konten dalam buku pelajaran terjaga, tidak terkontaminasi hal-hal yang semestinya bukan konsumsi anak.

    Dalam Kurikulum 2013 Kemendikbud melaksanakan kebijakan baru, yaitu buku pelajaran yang akan digunakan guru dan peserta didik akan dibuat oleh tim penyusun yang dibentuk Kemendikbud dengan beranggotakan guru-guru dan para ahli pendidikan. Ini dilakukan untuk menghindari konten yang tidak sesuai. Tim penyusun bertanggung jawab penuh pada buku pelajaran yang digunakan di sekolah.

    Saat ini silabus untuk buku ajar bagi guru dan peserta didik masih dimatangkan lagi agar Februari proses pencetakkan atau penggandaannya dapat langsung dilaksanakan. Hal ini sesuai yang dikatakan Mendikbud. "Setelah rumusan dan silabusnya selesai baru digandakan. Sekitar Februari nanti akan digandakan," kata Muhammad Nuh ketika berkunjung ke Pondok Pesantren Nadhlatul Wathon di Pancor, Nusa Tenggara Barat, Minggu (16/12/2012).

    Nantinya wewenang penggandaan buku pelajaran untuk Kurikulum 2013 ini sendiri, oleh pihak kementerian akan diserahkan pada tiap pemerintah daerah. Dengan demikian, masing-masing daerah dapat memperbanyak buku pelajarn yang akan digunakan sesuai kebutuhan berdasarkan jumlah guru dan peserta didik.

    more
  • Guru Tak Perlu Lagi Repot Menyusun Silabus
    Pemerintah atau Kementerian pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud) akan mengambil alih pembuatan silabus pada kurikulum 2013. Alasan silabus akan disusun oleh Kemendikbud karena pelaksanaan kurikulum sebelumnya yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di lapangan selama ini masih kedodoran. Ini disebabkan oleh kemampuan guru yang beragam dalam membuat silabus.

    Mendikbud, Muhammad Nuh juga menilai ada guru yang tidak bisa menyusun silabus. Ini dikatanya pada Jumat (21/12/2012) di Jakarta seperti dilansir dari Kompas.com. "Variasi sekolah dan guru itu luar biasa. Ada yang bisa membuat silabus, ada juga yang tidak. Jadi, kalau guru diwajibkan bikin silabus, ya remek," kata Nuh.

    Pada kurikulum baru yang akan diterapkan Juni 2013, guru tak perlu repot-repot lagi untuk membuat silabus untuk pengajaran terhadap anak didiknya. Silabus merupakan program pembelajaran yang akan dijadikan dasar untuk membuat rencana pembelajaran.

    Pembahasan silabus sendiri sudah dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdikbud pada awal Desember. Penyusunan silabus melibatkan para guru, dosen dan ahli pendidikan. Setelah silabusnya rampung disusun, selanjutnya dilakukan proses penggandaan buku pelajaran.

    KTSP memberikan peluang kepada sekolah dan guru untuk menyusun silabus dan menjalankan proses pembelajaran dianggap membuat pengawasan dan kontrol pendidikan jadi sulit. Kurikulum yang saat berjalan membuat sekolah dan guru berwenang menyusun silabus dan menjalankan proses pembelajaran sesuai dengan cara yang diketahuinya sendiri-sendiri.

    Mendikbud juga menilai dengan beragamnya kemampuan guru dalam menyusun silabus menyebabkan banyak bermunculannya Lembar Kerja Siswa (LKS) dengan konten tak sesuai yang berdampak pada anak didik. Itu disebabkan kemampuan guru dalam membuat soal latihan untuk anak didik kadang terbatas sehingga menggunakan LKS sebagai pilihannya.

    "Munculnya LKS itu kan karena guru kadang susah membuat soal. Kami juga tidak bisa apa-apa karena kan sudah diserahkan pada sekolah," kata Mohammad Nuh.

    more
  • Inilah Tiga Kelemahan Kurikulum 2013
    Inilah Tiga Kelemahan Kurikulum 2013
    Rencana perubahan kurikulum yang akan menggantikan kurikulum sebelumnya, yaitu kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) menuai banyak kritik. Sejak awal rencana perubahan ini digulirkan menuai pro kontra, mulai dari dihapusnya mata pelajaran Bahasa Inggris sampai dengan waktu penerapan yang terkesan dipaksakan. Mulai Juni 2013, kurikulum baru ini akan digunakan sebagai pengganti KTSP.

    Draf kurikulum 2013 yang sudah dirilis dalam uji publik, dinilai oleh Dewan Pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki banyak kelemahan. Pihaknya mencatat sejumlah kelemahan dari isi kurikulum yang mengurangi jumlah mata pelajaran SD dari sepuluh menjadi enam mata pelajaran ini.

    Kelemahan pertama menurut Wuryadi, Ketua Dewan Pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), kurikulum 2013 bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional karena penekanan pengembangan kurikulum hanya didasarkan pada orientasi pragmatis.

    Perubahan Kurikulum 2013 juga tidak didasarkan pada evaluasi dari pelaksanaan kurikulum sebelumnya (KTSP) 2006 sehingga dapat membingungkan guru dan pemangku pendidikan dalam pelaksanaannya.

    "Saat ini, KTSP saja baru menuju uji coba dan ada beberapa sekolah yang belum melaksanakannya. Bagaimana bisa, kurikulum 2013 ditetapkan tanpa ada evaluasi dari pelaksanaan kurikulum sebelumnya," kata Wuryadi di Yogyakarta (18/12/2012).

    Kelemahan kedua, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tidak pernah langsung melibatkan guru dalam merumuskan kurikulum 2013. Kemendikbud seolah melihat semua guru dan peserta didik memiliki kemampuan yang sama. Dalam kurikulum 2013, Wuryadi menilai tak adanya keseimbangan antara orientasi proses pembelajaran dan hasil. Keseimbangan itu sulit dicapai karena kebijakan ujian nasional (UN) masih diberlakukan

    Kelemahan ketiga, yang terpenting adalah pengintegrasian mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dengan enam mata pelajaran baru untuk jenjang sekolah dasar (SD). Langkah menghapus mata pelajaran IPA dan IPS dinilai tidak tepat karena rumpun ilmu mata pelajaran-mata pelajaran itu berbeda.

    Dengan melihat kelemahan-kelemahan kurikulum 2013, Dewan Pendidikan DIY meminta pemerintah melakukan desain ulang. Saat ini pihaknya, seperti dikutip dari Kompas, juga akan mengirimkan hasil kajian tersebut kepada pihak-pihak terkait, seperti Kemendikbud, DPR RI, serta Presiden dan Wakil Presiden RI. Bagaimana komentar Bapak Ibu? Apa yang menjadi kelemahan kurikulum 2013, yang membuat sebaiknya kurikulm baru ini jangan dulu diterapkan?

    more
  • Yuk Download dan Baca Kode Etik Guru Indonesia
    Yuk Download dan Baca Kode Etik Guru Indonesia
    Kode Etik Guru Indonesia (KEGI) merupakan pedoman sikap dan perilaku dalam melaksanakan tugas profesi sebagai pendidik, anggota masyarakat dan warga negara. Menempatkan guru sebagai profesi terhormat, mulia, dan bermartabat yang dilindungi undang-undang

    Dalam pembukaan Kode Etik Guru Indonesia ditulis bahwa peranan guru semakin penting dalam era global. Hanya melalui bimbingan guru yang profesional, setiap siswa dapat menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, kompetetif dan produktif untuk menghadapi persaingan di masa datang.

    Untuk melaksanakan tugas profesinya guru Indonesia menyadari sepenuhnya bahwa perlu ditetapkan Kode Etik Guru Indonesia sebagai pedoman bersikap dan berperilaku yang mengejewantah dalam bentuk nilai-nilai moral dan etika dalam jabatan guru sebagai pendidik putera-puteri bangsa.

    Dalam Kode Etik Guru Indonesia yang telah dibuat oleh Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ada enam bagian utama, diantaranya: (1) Pengertian, tujuan, dan Fungsi Kode Etik Guru Indonesia, (2) Sumpah/Janji Guru Indonesia, (3) Nilai-nilai Dasar dan Nilai-nilai Operasional, (4) Pelaksanaan, Pelanggaran, dan Sanksi, (5) Ketentuan Tambahan, dan (6) Penutup.

    Kode Etik Guru Indonesia ini mengatur hubungan antara guru dengan peserta didik, orang tua, masyarakat, teman sejawat, organisasi profesi lainnya, dengan profesinya sendiri. Kode Etik Guru Indonesia mulai 1 Januari 2013 akan mengikat seluruh guru Indonesia. Jika menyalahi kode etik tersebut, guru akan dikenai sanksi. Penerapan Kode Etik Guru Indonesia dimaksudkan untuk menjaga profesionalisme guru. Bagi Bapak Ibu yang ingin membaca lebih lengkap isi Kode Etik Guru Indonesia dan mendownloadnya, bisa klik tautan di bawah ini:

    more
  • Tidak Ada Lagi LKS di Kurikulum 2013
    Tidak Ada Lagi LKS di Kurikulum 2013
    Ganti kurikulum berarti ganti juga buku-buku pelajaran yang digunakan sebagai bahan ajar di sekolah. Ini berarti akan memberatkan orang tua atau guru dan menyulitkan peserta didik untuk memenuhi buku sebagai sumber belajar. Tetapi, hal itu dibantah oleh Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud), Musliar Kasim. Dia memastikan, kurikulum baru tidak akan menyulitkan peserta didik, terutama dalam memenuhi kebutuhan buku belajar seperti Lembar Kerja Siswa (LKS) yang selama ini dinilai memberatkan.

    "Untuk kurikulum baru, LKS tidak ada lagi. Yang ada adalah buku panduan guru untuk mengajar dan buku siswa," kata Musliar Kasim (10/12/2012).

    Dalam kurikulum baru yang diterapkan Juni 2013, pemerintah juga akan melengkapinya dengan buku panduan bagi guru dan siswa. Rencananya, buku-buku pelajaran yang akan digunakan oleh peserta didik akan dibuat oleh tim penyusun yang dibentuk Kemendikbud. Tim penyusun ini beranggotakan guru-guru dan para ahli pendidikan. Penerbit-penerbit buku hanya akan memiliki hak untuk menggandakan, bukan menulis buku pelajaran baru.

    Banyaknya buku yang harus dimiliki peserta didik, seperti LKS, menurut Wamendikbud ini disebabkan tidak adanya komitmen kalangan guru dalam menerapkan kurikulum yang ada. Ketidakmauan guru untuk membuat LKS membuat penerbit memanfaatkan itu. Penerbitlah yang menyusun LKS tersebut dan menawarkannya ke sekolah-sekolah. Sehingga peserta didik harus kembali mengeluarkan uang untuk mendapatkan bahan belajar seperti LKS.

    "Mestinya kalau kita komit, tidak diperlukan adanya LKS ini. Selama ini (LKS, red) ada karena guru malas saja. Karena sudah terbiasa seperti itu, maka penerbit memang mencari celah untuk masuk," jelas Musliar Kasim di Jakarta.

    Sebelumnya, Mendikbud Mohammad Nuh juga menjelaskan buku-buku pelajaran baru tidak boleh membebani masyarakat. Dalam kurikulum baru, buku ajar disiapkan oleh Kemdikbud. Hanya ada satu buku saja yang akan diajarkan oleh guru di sekolah. "Buku-buku baru sebagai pengembangan kurikulum tidak boleh menjadi beban bagi masyarakat. Nanti tidak ada lagi LKS, karena dalam buku sudah ada soal-soalnya. Sehingga anak-anak juga bawa bukunya enak, nyaman," ujar Mohammad Nuh, (6/12/2012).

    LKS memang sebaiknya dibuat sendiri oleh guru, sesuai dengan rencana pembelajaran yang sudah dibuatnya. LKS bukan kumpulan soal, melainkan langkah-langkah kegiatan yang dilakukan peserta didik untuk membangun pengetahuanya, yang mungkin itu bisa berupa pertanyaan. Bagaimana komentar Bapak Ibu? Yang jelas, akan seperti apa buku pelajaran dan LKS yang akan digunakan Kemendikbud pada kurikulum 2013 membuat kita penasaran.

    more
  • Buku di Kurikulum 2013 Dibuat Oleh Kemendikbud
    Buku di Kurikulum 2013 Dibuat Oleh Kemendikbud
    Kurikulum baru yang akan mulai diterapkan tahun ajaran baru 2013/2014 merombak hampir seluruh sistem pembelajaran di sekolah dasar (SD). Perubahan kurikulum ini mengurangai mata pelajaran yang saat ini berjumlah 10 menjadi 6 mata pelajaran. Proses pembelajaran dengan mengunakan metode berbasis tematik integratif ini juga membawa perubahan pada buku-buku pelajaran sebagai bahan ajar.

    Rencananya, buku-buku pelajaran yang akan digunakan oleh peserta didik akan dibuat oleh tim penyusun yang dibentuk Kemendikbud dengan beranggotakan guru-guru dan para ahli pendidikan. Penerbit-penerbit buku mata pelajaran hanya akan memiliki hak untuk menggandakan, bukan menulis buku pelajaran baru.

    "Buku tidak kita serahkan ke siapapun, tapi oleh tim yang kita bentuk sendiri. Harus ada penanggung jawab yang utama. Yang lain cuma tinggal mencetak saja. Kita pastikan dulu ini beres, urusan siapa yang mencetak itu urusan belakangan," kata Mendikbud Mohammad Nuh (6/12/2012).

    Alasan kebijakan hanya tim penyusun dari Kemendikbud yang berhak menyusun buku-buku pelajaran yang digunakan di kurikulum 2013 adalah untuk menghindari kesalahan konten. Seperti kejadian beberapa waktu yang lalu, ada buku pelajaran yang memuat konten pornografi dan konten-konten lain yang tidak layak dikonsumsi peserta didik.

    Tim penyusun yang dibentuk Kemendikbuk sebagai penanggung jawab utama pada buku pelajaran yang digunakan di sekolah. Penyusun buku pegangan untuk kurikulum 2013 oleh tim penyusun buku beranggotakan guru-guru dan para ahli pendidikan ini untuk menanggulangi kesalahan penerbit-penerbit buku pelajaran.

    "Jadi kalau ada penanggung jawab utama maka kalau muncul Maria Ozawa di buku pelajaran, atau 'Kisah Bang Maman Kali Pasir' maka akan jelas siapa yg bertanggung jawab. Isi buku 100 persen menjadi tanggung jawab pusat. Yang lain tinggal mencetak saja," jelas Mohammad Nuh.

    Saat kurikulum 2013 sedang memasuki tahap uji publik untuk mendapatkan tanggapan dari berbagai elemen masyarakat. Rencananya, mulai Juni 2013 akan dilakukan implementasi terbatas dari kurikulum baru tersebut. Kemudian, pada tahun 2015 akan dilakukan evaluasi dari implementasinya. Bagaimana komentar Bapak Ibu? Setuju atau tidak jika buku pelajaran hanya akan dibuat oleh Kemendikbud?

    more
  • Menjaga Profesionalisme dengan Kode Etik Guru
    Mulai Januari 2013, PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) sebagai organisasi profesi guru akan menjalankan Kode Etik Guru Indonesia. Dengan dijalankannya kode etik guru seluruh Indonesia merupakan berita gembira, karena kode etik ini akan menjadi pedoman etis bagi seseorang guru dalam menjalankan profesinya.

    Kode etik berisi apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan seseorang dalam konteks menjalankan profesi. Kode etik guru ini mengatur hubungan antara guru dengan peserta didik, orang tua, masyarakat, teman sejawat, organisasi profesi lainnya, dengan profesinya sendiri. Kode etik yang nantinya akan dijalankan oleh PGRI terhadap semua anggota diharapkan mampu untuk menjaga profesionalisme perilaku guru.

    Kode etik organisasi profesi mempunyai fungsi menjaga profesionalisme anggotanya. Seperti halnya dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia yang menyebutkan setiap dokter senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan tetap setia pada cita-citanya yang luhur.

    Begitupun dengan Kode Etik Guru Indonesia, hal itu juga dimaksudkan untuk menjaga profesionalisme anggotanya. Istilah profesionalisme di sini lebih pada profesionalisme perilaku bukan hanya profesionalisme administratif.

    "Kode Etik Guru Indonesia (KEGI) resmi diberlakukan. Guru menyalahi kode etik akan diberi sanksi tegas sesuai kode etik yang berlaku," kata Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistyo.

    Sudah semestinya, seorang guru sebagai bagian dari oraginsasi profesi juga harus mengerti, memahami dan melaksanakan kode etiknya sebagai tenaga profesional. Secara administratif banyak guru Indonesia yang sudah profesional, ini ditunjukkan dengan sertifikasi pendidik.

    Sekarang ini lebih dari 1 juta guru Indonesia memiliki sertifikat pendidik, secara administratif mereka diakui sebagai tenaga profesional. Bagi Bapak Ibu yang menginginkan memiliki Kode Etik Guru Indonesia, bisa mendownloadnya dengan mengklik tautan berikut: Download Kode Etik Guru Indonesia

    Menjalankan Kode Guru Indonesia yang dibuat oleh PGRI ini bukannya tanpa masalah. Seperti yang kita tahu sekarang di Indonesia terdapat puluhan organisasi profesi guru. Selain PGRI ada Ikatan Guru Indonesia (IGI), Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), dan sebagainya.

    Pertanyaannya, Bersediakah organisasi-organisasi tersebut menjalankan Kode Etik Guru Indonesia yang notabene dibuat oleh PGRI? Tidaklah mudah meminta organisasi profesi untuk menjalankan kode etik profesi yang dirumuskan oleh organisasi profesi lain yang (kemungkinan) dianggap sebagai saingannya.

    Rencana PGRI untuk menjalankan kode etik kepada seluruh anggotanya perlu diapresiasi, hal ini untuk menjaga profesionalisme perilaku guru. Kalau guru benar-benar terjaga profesionalismenya, sebagian permasalahan pendidikan di Indonesia akan dapat terselesaikan. Menjaga profesionalisme guru merupakan komitmen kita untuk memajukan pendidikan nasional.

    *) Dikutip dengan perubahan dari artikel Profesionalisme Perilaku Guru yang ditulis oleh Ki Supriyoko, Wakil Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa

    more
  • Alamat Situs untuk Melaporkan Kebutuhan Sekolah Keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh sekolah atau guru semata, tetapi juga harus didukung oleh masyarakat yang peduli dengan pendidikan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) baru-baru ini membuka portal Bantu Sekolahku. Situs ini digunakan untuk melaporkan langsung ke pemerintah daerah dan pemerintah pusat tentang kebutuhan pendidikan atau sekolah.

    Situs yang beralamat di http://bantusekolahku.kemdikbud.go.id ini terbuka untuk orang tua, siswa, guru, dan masyarakat umum untuk melaporkan kebutuhan-kebutuhan yang penting bagi sekolah yang ada di dekatnya. Laporan tersebut dicatat dan di selesaikan secara sistematis oleh sistem Pendidikan baik, Kemendikbud, pemerintah daerah maupun sekolah itu sendiri.

    Bantu Sekolahku, sebuah sistem online yang yang terintegrasi dengan media sosial facebook ini mendapat dukungan dari Bank Dunia, Uni Eropa dan Kerjaan Belanda. Filosofi dibalik Bantu Sekolahku adalah untuk menarik pengetahuan orang tua dan masyarakat, pengalaman dan keinginan untuk meningkatkan institusi kependidikan dalam langkah konkrit.


    Untuk menggunakan Portal Bantu Sekolahku untuk melaporkan kebutuhan sekolah, Bapak Ibu bisa login atau masuk ke situs ini dengan akun facebook. Ada empat menu utama dalam situs Bantu Sekolahku yaitu cari satuan pendidikan, laporkan kebutuhan, telusuri kebutuhan, dan laporan bantu sekolahku. Sistem ini untuk mengatasi tantangan pengiriman jasa dan kebutuhan akan transparansi dan akuntabilitas.

    Saatnya Bapak Ibu untuk mencoba datang ke situs Bantu Sekolahku, untuk melaporkan, bangunan rusak, kurang kelas, kebutuhan sekolah yang mendesak untuk segera dipenuhi demi lancarnya proses pendidikan. Semoga sistem diklaim sebagai sistem pertama di dunia ini mampu dimanfaatkan secara maksimal, bagi penyelenggara pendidikan (pemerintah) untuk merekam laporan masyarakat. Sehingga dapat mengurangi kesenjangan dalam kualitas pendidikan pada tingkat sekolah.

    more
  • Alternatif Mapel dan Jam Belajar di Kurikulum SD Saat ini Kementerian Pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud) sedang melakukan uji publik untuk kurikulum 2013. Terjadi banyak perubahan sistem pembelajaran untuk jenjang Sekolah Dasar (SD), baik dari segi jumlah mata pelajaran atau pun jumlah jam belajar.

    Kurikulum 2013 yang diterapkan Juni 2013 mengurangi jumlah mata pelajaran SD yang saat ini ada 10 menjadi 6 mata pelajaran, yaitu: Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, Seni Budaya, Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan.

    Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang sebelumnya diajarkan di SD, akan diajarkan secara terpadu atau terintegrasi dengan mata pelajaran yang lain. Dengan diterapkannya sistem pembelajaran berbasis tematik integratif di kurikulum 2013, mata pelajaran IPA dan IPS bukannya dihapus dari kurikulum, tapi diintegrasikan berdasarkan tema.

    Dalam uji publik kurikulum 2013, muncul beberapa alternatif mengenai mata pelajaran yang akan diajarkan di SD beserta jumlah jamnya. Kurikulum 2013 juga akan menambah sebanyak empat jam pelajaran per minggu. Berikut tabel alternatif usulan struktur kurikulum baru SD.

    Alternatif satu menyebutkan nama mata pelajaran IPA dan IPS sama sekali tidak dimunculkan, hanya muatannya yang muncul di pelajaran-pelajaran lain. Sedang alternatif dua, IPA dan IPS akan dimunculkan sebagai nama mata pelajaran mulai kelas 4-6 SD. Jumlah jam belajar akan bertambah menjadi 30-34 jam per minggu untuk kelas 1-3 SD dan 36 jam per minggu untuk kelas 4-6 SD. Bagaimana komentar Bapak Ibu?

    more
  • Ayo Ikut Beasiswa ke Jepang Khusus untuk Guru
    Ada kabar gembira bagi Bapak Ibu Guru, Jepang membuka beasiswa untuk guru, mulai guru SD sampai SMA. Pemerintah Jepang membuka kesempatan untuk para guru di Indonesia mengikuti Program Penataran Guru melalui beasiswa Monbukagakusho 2013. Mereka yang lolos seleksi di Monbukagakusho akan akan mengikuti program penataran non-gelar selama 1 tahun di Jepang terhitung mulai dari Oktober 2013.

    Dikutip dari pengumuman resminya, Program beasiswa Pemerintah Jepang ini dirancang khusus bagi para guru untuk meningkatkan kualitas pengajaran sesuai dengan bidangnya. Mereka akan diberikan pelatihan dalam cara mengajar, pembuatan rencana belajar-mengajar yang lebih efektif dan menarik minat siswa dan hal-hal lain yang dapat meningkatkan kualitas dan kemampuan para guru.

    Pendaftaran beasiswa Monbukagakusho 2013 dibuka mulai 19 November 2012 dan ditutup pada 25 Januari 2013. Syarat mengikuti beasiswa Monbukagakusho haruslah lulusan S-1 atau D-4 yang mengajar secara aktif di SD, SMP atau SMA/SMK, baik sekolah negeri maupun swasta, paling tidak selama lima tahun pada tanggal 1 April 2013, dan harus berusia di bawah 35 tahun pada tanggal tersebut.

    Para peserta beasiswa diminta belajar bahasa Jepang karena bahasa pengantar di universitas adalah bahasa Jepang. Fasilitas yang akan didapatkan peserta beasiswa Monbukagakusho 2013 adalah: Tiket kelas ekonomi p.p. Indonesia (Jakarta) – Jepang. Bebas biaya ujian masuk, biaya kuliah, dan uang pendaftaran, dan diberikantTunjangan bulanan.

    Kesempatan memperoleh beasiswa untuk belajar ke Jepang tanpa ikatan Dinas ini juga Bapak Ibu guru SD raih. Jika Bapak Ibu berminat, pengumuman lengkap dan proses mengajukan aplikasi atau pendaftaran bisa dilihat di laman resmi Program Teacher Training di Website Kedutaan Besar Jepang di Indonesia. Pendaftaran beasiswa Monbukagakusho ditutup pada tanggal 25 Januari 2013. Informasi selanjutnya bisa ditanyakan lewat email ke beasiswa@dj.mofa.go.jp, atau dengan menghubungi 021 – 3192 4308 ext. 175 atau 176.

    more
  • Metode Tematik Integratif Pada Kurikulum Baru
    Kurikulum 2013 untuk jenjang sekolah dasar (SD) dan sederajat, rencananya akan menggunakan metode tematik integratif. Metode ini sebenarnya bukan hal baru bagi guru SD. Di kurikulum sebelumnya pun, untuk kelas rendah seperti kelas satu, dua dan tiga sudah menggunakan metode pembelajaran tematik.

    Dalam metode tematik integratif, materi ajar tidak disampaikan berdasarkan mata pelajaran tertentu, melainkan dalam bentuk tema-tema yang mengintegrasikan seluruh mata pelajaran. Metode ini sudah diterapkan di banyak sekolah. Karena dinilai berhasil, pemerintah lalu mengadopsi dan berencana menerapkan metode ini secara nasional.

    Metode tematik integratif adalah pembelajaran yang menggunakan tema dalam mengaitkan beberapa materi ajar sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna pada siswa. Tema adalah pokok pemikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan. Tema akan yang akan menjadi penggerak mata pelajaran yang lain.

    Pada kurikulum baru SD masing-masing kelas akan disediakan banyak tema. Umumnya tiap tingkatan kelas mempunyai delapan tema berbeda. Tema yang sudah dipilih itu harus selesai diajarkan dalam jangka waktu satu tahun. Guru yang menentukan atau memilih teknis pengajaran maupun durasi pembelajaran satu tema.

    Satu tema yang dipilih oleh guru dapat diintegrasikan pada enam mata pelajaran wajib yang ditentukan yaitu Agama, PPKn, Matematika, bahasa Indonesia, Seni Budaya dan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Kurikulum baru SD ini menekankan aspek kognitif, afektif, psikomotorik melalui penilaian berbasis test dan portofolio yang saling melengkapi. Elemen perubahan kurikulum untuk jenjang SD secara umum adalah holistik integratif berfokus pada alam, sosial, dan budaya

    Dengan adanya perubahan pendekatan pembelajaran pada kurikulum 2013, maka ada penambahan sebanyak empat jam pelajaran per minggu. Metode tematik integratif membuat siswa harus aktif dalam pembelajaran dan mengobservasi setiap tema yang menjadi bahasan. Untuk kelas I-III yang awalnya belajar selama 26-28 jam dalam seminggu bertambah menjadi 30-32 jam seminggu. Sedangkan untuk kelas IV-VI yang semula belajar selama 32 jam per minggu di sekolah bertambah menjadi 36 jam per minggu.

    more
  • Download Pedoman Lengkap Penilaian Kinerja Guru
    Penilaian kinerja guru (PKG) akan dilakukan per individu sama seperti yang diterapkan pada uji kompetensi guru (UKG). Kemendikbud (pemerintah) akan menjalankan kurikulum baru dengan diikuti peningkatan kualitas guru. Semua akan mendapatkan pembaruan, mulai kurikulum baru, penilaiaan kinerja atau bahkan pengangkatan calon guru.

    Sebelumnya pernah ditulis sosialisasi penilaian kinerja guru sudah dilaksanakan jauh hari. Penilaian kinerja guru dilaksanakan untuk mewujudkan guru yang profesional, dengan kualitas layanan profesi yang bermutu. Menemukan secara tepat tentang kegiatan guru di dalam kelas, dan membantu guru untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya. Sehingga terjadi peningkatan kualitas pembelajaran.

    Hasil dari penilaian kinerja guru akan dimanfaatkan untuk menyusun profil kinerja guru sebagai input dalam penyusunan program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Selain itu, hasil penilaian kinerja guru juga digunakan sebagai dasar penetapan perolehan angka kredit guru dalam rangka pengembangan karir guru.

    Penilaian kinerja guru akan berlaku secara efektif mulai tanggal 1 Januari 2013 sebagaimana Permendiknas 35/2010 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Berikut kumpulan lengkap peraturan, buku pedoman, dan petunjuk teknis PKG yang bisa didownload:

    Permenpan No 16 tahun 2009 | download
    Permendiknas No 35 tahun 2010 | download
    Permendiknas No 38 tahun 2010 | download
    Permepan+Mendiknas 2010 | download
    Buku 1 Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) | download
    Buku 2 Domlah PK Guru | download
    Buku 4 Pedoman PKB dan Angka Kredit | download
    Buku 5 Pedoman Penilaian Kegiatan PKB | download
    Pedoman PKG Pengawas | download
    Pedoman PKG Kepsek | download
    Pedoman PKG Kaprog | download
    Pedoman PKG Kalab | download
    Tabel peningkatan Angka Kredit | download
    Perhitungan Soal PAK PK Guru | download
    Penskoran dan skala konversi | download
    Lampiran 2B laporan dan ev guru BP | download
    Lampiran 1D Form Penghitungan AK PKG | download
    Lampiran 1B laporan dan ev PKG | download
    Lampiran 1 C rekap hasil PKG | download
    Kompetensi Guru Kelas dan Cara Menilai | download
    Kompetensi Guru BK dan Cara Menilai | download

    more
  • Banyak Guru SD Tidak Mendapat Pelatihan
    Ilmu pengetahuan terus berkembang, begitupun dengan ketrampilan mengajar. Sudah semestinya kemampuan guru juga terus ditingkatkan untuk menghadapai tantangan dan meningkatkan kualitas pendidikan. Tetapi kenyataannya banyak guru, khususnya guru sekolah dasar (SD) yang banyak tidak mendapat pelatihan untuk meningkatkan kompetensinya.

    Sebuah survei oleh Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) pada Agustus-November 2012 di 20 kabupaten/kota menyebutkan sekitar 62 persen dari 1.700 guru SD yang disurvei tidak pernah mendapatkan pelatihan. Adapun guru di kota besar rata-rata hanya mengikuti pelatihan satu kali dalam lima tahun. Bahkan dalam survei tersebut, ditemukan guru pegawai negeri sipil yang mendapatkan pelatihan terakhir tahun 1980.

    Sekretaris Jenderal FSGI Retno Listyarti ketika memaparkan hasil survei (5/12/2012) mengakui kalau kualitas guru memang kurang. Tetapi kualitas guru rendah bukan salah guru semata, itu juga karena kapasitas guru tidak dibangun melalui pelatihan. ”Tidak perlu memakai uji kompetensi guru, kami sudah tahu kalau kualitas guru memang kurang,” kata Retno

    Kenyataan bahwa guru SD kurang memperoleh pelatihan dibenarkan oleh Kepala Pusat Pengembangan Profesi Pendidik Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan pada Kemendikbud, Unifah Rosyidi. Menurutnya, tugas pemberian pelatihan seharusnya dilakukan oleh pemerintah daerah karena sejak otonomi daerah, penanganan guru SD menjadi tanggung jawab daerah.

    Otonomi daerah membuat daerah bertanggung jawab pada proses perekrutan hingga remunerasi guru, sedangkan pemerintah pusat bertanggung jawab pada sertifikasi guru, memastikan ketersediaan guru, dan merancang kebutuhan guru.

    Pihak Kemendikbud tersebut berdalih uji kompetensi guru yang dilaksanakannya adalah bentuk upaya pemerintah pusat untuk ikut bertanggung jawab minimnya guru SD yang mendapat pelatihan. Uji kompetensi guru dilakukan untuk mengetahui secara persis kondisi guru sehingga bisa diberikan pelatihan sesuai dengan kebutuhan tiap-tiap guru.

    Terkait dengan penerapan kurikulum baru 2013, pelatihan guru menjadi sangat penting, mengingat kurikulum 2013 membutuhkan metode pengajaran yang berbeda. Sistem pembelajaran SD yang berbasis tematik integratif menuntut guru untuk bisa menggali kreativitas siswa.

    more
  • Kumpulan Soal Matematika Kelas 6 Semester 1
    Tak terasa sebentar lagi sudah akan masuk pekan UAS, bagi semua siswa sekolah dasar (SD). Untuk itu, dalam menghadapi ujian akhir semester ini, banyak siswa yang belajar lebih giat untuk menghadapi ujian. Salah satu cara untuk mempersiapkan diri, yaitu dengan mencoba banyak latihan soal, apalagi matematika.

    Oleh sebab itu SekolahDasar.Net akan merangkum beberapa link atau tautan yang menyediakan kumpulan soal, khususnya matematika. Di dalam dunia internet ada beberapa soal-soal metematika untuk kelas 6 SD, semester 1 yang bisa didownload dan digunakan sebagai salah satu bahan belajar. Langsung, simak saja kumpulan soal berikut ini:

    Soal Ujian Tengah Semester (UTS) Matematika, kelas 6 semester 1: Terdiri dari 30 soal, selengkapnya bisa didownload di sini.

    Soal Matematika Kelas 6 Semester 1: Terdiri dari 25 soal, untuk latihan ulangan akhir semester 1, selengkapnya bisa dilihat dan didownload di sini

    Soal Matematika Bilangan Bulat Kelas 6 SD Semester 1, selengakpanya bisa didownload di sini.

    Soal Ujian Akhir Semester 1 Kelas 6, Mata pelajaran Matematika. Terdiri dari 40 soal, bisa digunakan untuk latihan UAS semester 1, selengkapnya bisa didownload di sini.

    Folder Kumpulan Soal Matematika SD Kelas 6, download di sini.

    Sementara itu dulu, kumpulan soal matematika kelas 6 semester 1, lain kali jika ada tambahan akan diupdate lagi. Semoga kumpulan soal ini bisa membantu siswa kelas 6 dalam mempersiapkan diri dalam menghadapi ujian semester ganjil.

    more
  • Nasib IPA dan IPS di Kurikulum Pendidikan Baru
    Kurikulum baru yang akan diterapkan pada tahun ajaran baru 2013, membuat banyak perubahan pada sistem pembelajaran sekolah dasar (SD). Kurikulum 2013 itu mengurangi jumlah mata pelajaran SD menjadi 6 yang saat ini ada 10 mata pelajaran, yaitu: Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Seni Budaya dan Keterampilan, Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan, serta Muatan lokal dan Pengembangan diri.

    Enam mata pelajaran yang diajarkan di SD pada kurikulum 2013 itu adalah Matematika, Bahasa Indonesia, Agama, Pendidikan Jasmani, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, dan Seni Budaya. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang sebelumnya diajarkan di SD, akan diajarkan secara terpadu atau terintegrasi dengan mata pelajaran yang lain.

    Berita sebelumnya menyebutkan untuk mata pelajaran IPA akan menjadi materi pembahasan pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika. Mata pelajaran IPS akan menjadi pembahasan materi pelajaran Bahasa Indonesia dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Sedangkan mulok dan pengembangan diri itu kaitannya nanti dengan Seni Budaya.

    Dengan diterapkannya sistem pembelajaran berbasis tematik integratif di kurikulum 2013, mata pelajaran IPA dan IPS bukannya dihapus dari kurikulum, tapi diintegrasikan berdasarkan tema. Khusus pengintegrasian mata pelajaran IPA dan IPS ini, Mendikbud M Nuh memberikan tiga alternatif dalam uji publik kurikulum pendidikan 2013 yang dilakukan secara online dan juga melalui roadshow ke lima kota besar dan 33 kabupaten/kota di Indonesia.

    Tiga alternatif yang menentukan nasib mata pelajaran IPA dan IPS pada uji publik kurikulum 2013 seperti dikutip dari Viva.co.id itu adalah: (1.) Nama mata pelajaran IPA dan IPS sama sekali tidak dimunculkan, hanya muatannya yang muncul di pelajaran-pelajaran lain. (2.), IPA dan IPS akan dimunculkan sebagai nama mata pelajaran mulai kelas 4 SD sampai 6 SD. (3.), IPA dan IPS hanya akan dimunculkan sebagai pelajaran tersendiri untuk kelas 5 dan 6 SD.

    “Intinya, yang dihapuskan adalah nama pelajarannya, IPA dan IPS. Tapi substansi pelajaran IPA dan IPS tidak ada satu pun yang dihilangkan,” ujar Ibnu Hamid, Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemendikbud.

    Selain menghilangkan mata pelajaran IPA dan IPS, pada kurikulum 2013 juga akan hanya menjadikan Bahasa Inggris sebagai kegiatan ekstra kurikuler dan Pramuka menjadi kegiatan ekstra kurikuler yang wajib diikuti siswa SD. Bagaimana komentar Bapak Ibu tentang perubahan mata pelajaran SD, khususnya IPA dan IPS ini? Tulis saja di kolom komentar!

    more
  • Sertifikasi Guru Masih Abu-abu
    Certification di dalam kamus WordWeb didefinisikan sebagai “validating the authenticity of something or someone”. Berdasarkan definisi tersebut, sertifikasi profesi guru dapat dipahami sebagai proses validasi (uji sahih) kompetensi guru. Seorang guru yang lulus dalam sertifikasi akan mendapat sertifikat pendidik. Menurut UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen maupun PP Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru, sertifikat pendidik adalah bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru sebagai tenaga profesional.

    Mekanisme sertifikasi guru diatur secara rinci di dalam PP 74/2008. Sertifikasi bagi calon guru ditempuh melalui pendidikan profesi guru (PPG) di perguruan tinggi yang “direstui” oleh Pemerintah. Bagi guru dalam jabatan, sertifikasi ditempuh melalui uji kompetensi dalam bentuk penilaian portofolio. Bila belum mencapai persyaratan uji kompetensi—semacam passing grade—guru dapat menempuh program remedial dengan dua alternatif: (1) melengkapi persyaratan protofolio; atau (2) mengikuti pendidikan dan pelatihan guru (PLPG).

    Kelemahan Portofolio
    Pada masa awal penyelenggaraan sertifikasi, sebagian besar guru dalam jabatan berhasil memperoleh sertifikat melalui penilaian portofolio. Memasuki tahun kedua atau ketiga, pola ini mulai menuai banyak kritik dari kalangan pengamat, praktisi, dan pakar pendidikan. Yang memprihatinkan, kritik itu dipicu oleh indikasi (atau, temuan?) adanya praktik-praktik manipulasi dalam proses pengumpulan dokumen portofolio. Kecurangan itu dapat dilakukan dengan aneka modus: penggandaan, penjiplakan, dan jual-beli dokumen.

    Teknologi digital memungkinkan orang melakukan “kloning” dokumen dengan sangat mudah. Sehelai piagam atau sertifikat bukti keikutsertaan dalam forum ilmiah atau bahkan pendidikan dan pelatihan (diklat) dapat digandakan dan dimiliki secara berjamaah hanya dengan mengganti identitas pemegangnya. Silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dalam sekejap bisa beredar ke segenap penjuru negeri. Setiap orang bisa memilikinya hanya dengan dua kali klik: copy lalu paste. Langkah berikutnya, tiap-tiap pemilik itu tinggal mengganti identitas diri dan institusinya.

    Karya tulis ilmiah pun mengalami nasib serupa. Ada modus penggandaan massal secara sukarela. Ini biasanya dilakukan secara berkelompok dan terjadi barter karya tulis antaranggota. Ada pula yang memakai modus penjiplakan tanpa setahu penulis atau pemilik karya. Bagi yang merasa kedua cara itu masih sulit, ada cara yang lebih simpel: membeli. Cukup dengan mengangkat telepon atau menulis SMS, dalam hitungan jam orang bisa mendapatkan karya tulis sebanyak judul dan dalam bidang yang dikehendaki.

    Karya tulis bukan satu-satunya komoditas dalam perdagangan dokumen portofolio. Piagam keikutsertaan dalam forum ilmiah dan sertifikat diklat pun sempat menjadi komoditas yang paling laris di kalangan guru. Tidak tanggung-tanggung, sebuah organisasi profesi di bidang kependidikan tingkat pusat rela berkeliling sejumlah kota untuk menjajakan sertifikat bertajuk diklat nasional. Lebih naif lagi, “pelacuran” diklat ini melibatkan sejumlah oknum dosen perguruan tinggi negeri penyelenggara program pengadaan tenaga kependidikan.

    Entah sekadar kebetulan atau memang sebagai dampak, pergantian Menteri segera diikuti oleh perubahan kebijakan menyangkut sertifikasi guru. Sejak periode sertifikasi 2011, tidak ada lagi guru yang langsung memperoleh sertifikat pendidik hanya melalui penilaian portofolio. Semua guru peserta sertifikasi wajib menjalani PLPG.

    Mampukah revisi ini membasmi “maksiat” di seputar sertifikasi guru? Setidaknya, kewajiban bagi semua peserta sertifikasi untuk mengikuti PLPG itu mampu meredam nafsu para guru untuk berburu dokumen portofolio demi mengejar passing grade. Kalaupun tidak mampu menghilangkan sama sekali, perubahan mekanisme tersebut terbukti jitu dalam menurunkan frekuensi kasus manipulasi dokumen portofolio. Publikasi undangan seminar, lokakarya, atau diklat untuk guru—yang dulu sempat menjamur di berbagai media—kini berangsur normal kembali.

    Langkah ini punya nilai kemaslahatan yang cukup bermakna, mengingat dokumen portofolio itu berfungsi sebagai rapor kompetensi guru peserta sertifikasi. Arti penting penghapusan jalur portofolio murni itu akan kentara bila dirunut rantai nilai hukumnya. Bagaimana autentisitas sertifikat pendidik yang diperoleh berkat “jasa” berjilid-jilid dokumen portofolio yang dikoleksi secara curang? Jika sertifikat pendidik tersebut kelak berbuah tunjangan profesi, lalu bagaimana nilai kehalalan uang sebesar gaji pokok yang diterima setiap bulan itu?

    Titik Simpangan
    Kecurangan dalam pemerolehan dokumen portofolio bukan satu-satunya fakta yang mencederai sertifikasi guru. Walau harus diakui lebih bermakna daripada jalur portofolio murni, PLPG sendiri masih menyisakan keraguan akan efektivitasnya. Pertanyaan usil bisa diajukan, misalnya, sejauh mana diklat selama sepuluh hari itu mampu mengantarkan para peserta meraih kompetensi yang dipersyaratkan untuk menerima sebutan pendidik profesional? Atau, yang lebih sederhana, seberapa intensif interaksi instruktur-peserta selama masa PLPG sehingga instruktur mampu menilai secara autentik kompetensi peserta?

    Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 mengamanatkan bahwa guru harus memiliki, menghayati, menguasai, dan mengaktualisasikan empat kompetensi. Keempatnya adalah kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Ditilik indikator pencapaiannya, rasanya mustahil empat kompetensi tersebut dapat dinilai secara autentik dalam waktu sesingkat itu. Apalagi jika diingat bahwa sejumlah indikator tidak mungkin teraktualisasi di ruang PLPG. Jika penilaian yang dipakai untuk menguji kompetensi hanya bersifat superfisial dan artifisial, lantas bagaimana bobot kesahihan sertifikat yang dihasilkan?

    Sertifikasi guru juga menyimpan potensi konflik, baik vertikal maupun horizontal. Konflik vertikal dipicu oleh sedikitnya dua hal: penetapan peserta dan penyaluran tunjangan. Penetapan peserta sertifikasi sering menimbulkan ketidakpuasan karena prioritas pemeringkatannya kurang terpahami oleh para guru yang sudah mengantre. Dari tahun ke tahun tidak sedikit guru senior yang harus menelan pil pahit kekecewaan karena merasa tersalip oleh juniornya.

    Mekanisme penyaluran tunjangan profesi untuk guru yang sudah bersertifikat juga tak kunjung jernih. Janji-janji Pemerintah untuk memenuhi hak para pendidik yang sudah menyandang predikat profesional secara tepat waktu selalu saja terasa sebagai isapan jempol belaka. Setiap kali terjadi keterlambatan pencairan tunjangan profesi, selalu ditanggapi dengan saling melempar kesalahan antara birokrasi pusat dan daerah. Tak ayal, karut-marut birokrasi ini mengundang tanggapan carut-marut di aras akar rumput.

    Pencetus konflik horizontal antarguru intern satuan pendidikan adalah regulasi menyangkut kriteria guru yang berhak menerima tunjangan profesi. Guru bersertifikat pendidik tidak serta-merta berhak menikmati penghasilan ganda. Kuota beban mengajar minimal 24 jam pelajaran per minggu tidak selalu dapat dipenuhi oleh setiap guru. Alokasi jam tatap muka tiap mata pelajaran per kelas per minggu sudah diatur di dalam struktur kurikulum.

    Benturan antarregulasi itulah yang menyeret pimpinan sekolah ke situasi dilematik. Demi meredam ketegangan antarguru, biasanya kepala sekolah terpaksa “kreatif”. Guru-guru yang mengalami “paceklik” jam mengajar diberi tugas tambahan, yang kadang-kadang diada-adakan. Lagi-lagi, sertifikasi menjelma sebagai jebakan kedustaan bagi kalangan pendidik, yang nota bene kurator karakter anak bangsa.

    Jika dirunut secara jeli, karut-marut sertifikasi guru itu berpangkal pada bias orientasinya. Babak baru dalam sejarah keguruan kita ini berorientasi pada kualitas profesionalisme atau kesejahteraan guru? Jika perbaikan kesejahteraan yang dibidik, renumerasi layak dipertimbangkan sebagai solusi yang lebih sederhana. Jika sasarannya peningkatan kompetensi, sertifikasi guru mesti diimplementasikan secara meritokratik. ***

    Ditulis dan dikirim oleh: Teguh Gw
    Penulis adalah guru di SD Islam Hidayatullah Semarang

    more

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Informasi Terbaru