» » » » Program Gizi Anak Sekolah Dasar Tidak Efektif

Program Gizi Anak Sekolah Dasar Tidak Efektif

Program Gizi Anak Sekolah Dasar Tidak Efektif

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan serta memperbaiki gizi anak-anak Indonesia. Salah satu contohnya Kemdikbud telah mencanangkan Program Gizi Anak Sekolah Dasar (Progas) pada 3 kabupaten di Nusa Tenggara Timur.

Perhatian Pemerintah Pusat kepada wilayah Nusa Tenggara Timur sangat besar melalui berbagai terobosan. Salah satunya pencanangan program Gizi Anak Sekolah Dasar (Progas) untuk anak Sekolah Dasar di Kabupaten Manggarai barat, Belu dan Timur Tengah Selatan.

Progas ini menjadi satu tambahan program anak dan merupakan satu motivasi untuk perkenalkan kepada kita yang tidak terbiasa dengan sarapan pagi karena itu sangat penting khususnya untuk generasi muda bangsa yang berada Nusa Tenggara Timur. Kepedulian seperti ini mau membangunkan rasa sadar kita bahwa makan pagi itu tidak harus menjadi sesuatu kebutuhan untuk anak-anak agar memiliki semangat dan kemampuan.

Baca: Anak Perlu Sarapan Sebelum Belajar di Sekolah

Progas ini untuk meningkatkan gizi anak-anak yang selama ini kurang sarapan pagi. Dengan demikian, anak-anak lebih kuat dan belajar lebih giat. Kita harapkan pencanangan ini dapat terlaksana dengan baik dan pertanggungjawaban lebih baik, sehingga di tahun mendatang bisa menyeluruh di wilayah Indonesia.

Jika dipahami, tujuan progas sangatlah bermanfaat bagi anak-anak di Nusa Tenggara Timur. Namun disisi Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Pengelolaannya masih belum efektif. Apalagi rencana pencairan di awal januari 2017 kemarin ternnyata Dana yang masuk pada pertengahan tahun 2017.

Dan ini sangat mengganggu kesibukan KBM guru dalam penyusunan Rencana Kegiatan dan belanja sekolah (RKAS) Progas. Apalagi Pemerintah menekankan agar Dana Progas semaksimal mungkin di habisi dalam tahun 2017 ini.

Dan pada tahap pelaksanaan kegiatan Progas tentu mengganggu aktivitas guru dan siswa dalam proses belajar mengajar, ini terbukti dengan jadwal sarapan anak anak yaitu 15 menit sebelum istirahat pertama. Timbul pertanyaan “ Apakah sarapan itu matang tepat waktu yang jadwal masaknua Pkl 08.00 pagi sedangkan Istirahat pertama Pkl 09.00. Ketika sarapan itu dimakan pada pkl 11.00 apakah itu disebut sarapan?

Bukan hanya itu, Para guru sibuk dengan banyak SPJ yang nota bene bukan Jurusan Akuntansi melainkan Guru Kelas yang mengetahui sepintas tentang akuntansi pengelolaan keuangan.

Dan Kegiatan Progas 4 kali dalam seminggu, para guru dan beberapa pihak orang tua yang nota bene akuntasinya kurang memadai sibuk dengan memasak, belum dihitung berapa lama masakan itu matang.

Oleh karena itu diharapkan kepada Pemerintah Pusat di Bidang Pendidikan Sekolah Dasar untuk diadakan Pelatihan Pengeloaan Keuangan Progas sampai pada tahapan pelaporan, bukan hanya sekedar penjelasan singkat pada Juknis yang sudah Peroleh. Dan Pembayaran Pajak atas Penggunaan dana tersebut harus dijelaskan secara terinci untuk wilayah Nusa Tenggara Timur yang berada di wilayah yang terislir dalam memperoleh informasi.

*) Ditulis oleh FLORIANUS JONI, S. Pd. Guru Honorer SD Negeri Bambor, Manggarai Barat, NTT

Baca juga:



SekolahDasar.Net | 1 Mei 2017
Ketik email Anda untuk:

KOMENTAR ANDA