Kacau, Pendidikan Dasar Kita Lebih Banyak Akademiknya Daripada Nilai Budi Pekerti
Cari Berita

Atas


Kacau, Pendidikan Dasar Kita Lebih Banyak Akademiknya Daripada Nilai Budi Pekerti

Admin
Rabu, 27 Februari 2019

Kacau, Pendidikan Dasar Kita Lebih Banyak Akademiknya Daripada Nilai Budi Pekerti
Pendidikan dasar di negeri ini harus dibenahi dengan menekankan pendidikan karakter.

Pendidikan dasar seharusnya menempatkan pendidikan karakter sebagai titik tekan. Di tingkat pendidikan dasar yang diperlukan adalah mengajarkan nilai-nilai integritas yang didalamnya mengandung kejujuran, bertanggung jawab, konsisten, nilai-nilai kemandirian, dan nilai-nilai persatuan yang mengajarkan toleransi, hormat menghormati, sopan santun kepada yang lebih tua.

"Pendidikan nilai-nilai inilah sebenarnya yang akan membekali orang untuk menghadapi dunia nyata, apa yang sering juga disebut sebagai life skills," kata Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia Profesor Hamdi Muluk yang SekolahDasar.Net kutip dari Republika (27/02).

Menurutnya, setelah nilai-nilai itu tertanam dengan baik dan menghasilkan karakter yang kuat maka anak baru mulai diajari menguasai keterampilan skolastik seperti membaca, berhitung, berbahasa, dan ilmu pengetahuan. Bukan justru sebaliknya. Pendidikan dasar di negeri ini harus dibenahi dengan menekankan pendidikan karakter.

"Sistem pendidikan dasar kita ini agak kacau. PAUD, TK, dan SD lebih banyak muatan akademiknya ketimbang pendidikan nilai-nilai budi pekerti," kata Hamdi.

Dengan pendidikan dasar seperti sekarang, tak mengherankan muncul berbagai tindakan tak pantas dari anak sekolah seperti tawuran, bullying, hingga melakukan kekerasan kepada guru. Hal itu diperparah dengan pengaruh lingkungan dan ketiadaan teladan dari tokoh-tokoh yang semestinya memberikan contoh yang baik.

Baca: Mendikbud Tak Suka Guru Terlalu Sabar, Harus Berwibawa

Oleh karena itu, selain pembenahan pendidikan dasar juga perlu diperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda. Ia berharap pendidikan agama lebih mencerahkan anak-anak untuk menghargai kehidupan yang lebih demoktaris, toleran, hormat menghormati, rahmatan lil alamin. Bukan malah dikasih doktrin kaku halal atau haram, kafir, sesat, dan sebagainya.

"Ini supaya anak-anak tidak tumbuh dengan fanatisme agama yang ekstrem karena ini yang menjadi bibit-bibit radikal teroris di masa depan. Guru-guru agama juga perlu ditatar ulang agar dapat mengajarkan kepada muridnya nilai-nilai agama yang santun dan menghargai antarumat," kata anggota kelompok ahli BNPT ini.