Soal Pilihan Ganda Menghambat Daya Kritis Siswa
Cari Berita

Atas


Soal Pilihan Ganda Menghambat Daya Kritis Siswa

Kamis, 14 Februari 2019

Soal Pilihan Ganda Menghambat Daya Kritis Siswa
Sistem ujian tidak boleh hanya menyodorkan soal-soal pilihan ganda, namun juga harus dilengkapi dengan model lainnya seperti essai.

Sistem evaluasi yang diterapkan pada siswa harus bervariatif dan tidak hanya mengacu pada pilihan ganda. Terlalu banyak mengkonsumsi soal pilihan ganda dapat merusak sistem belajar dan menghambat daya kritis.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Kabalitbang), Kemendikbud, Totok Suprayitno mengatakan, sistem ujian tidak boleh hanya menyodorkan soal-soal pilihan ganda, namun juga harus dilengkapi dengan model lainnya seperti essai.

Sistem tes yang diterapkan dalam Ujian Nasional (UN) tidak boleh diterapkan di semua level ujian. Jika sistem UN dengan soal pilihan ganda diterapkan pada ujian di sekolah dan kelas, maka akan merusak sistem belajar.

Baca: Guru Harus Ajarkan Siswa Berpikir Kritis, Ini Alasannya

"Kalau UN pilihan ganda, maka USBN jangan multiple choice juga, ujian level kelas jangan seperti UN, harus lebih detail, memberi kesempatan siswa untuk menjawab, menjelaskan," kata Totok.

Menurutnya, saat ini anak beragumentasi UN sekarang susah, karena mereka terbiasa menjawab A,B,C,D saja. Seharusnya, siswa harus diberi kesempatan untuk tidak selalu menjawab salah dan benar.

"Sekarang kan biasa ada belenggu-belenggu, kalau enggak salah ya benar. Versi jawaban ala kunci, tidak ada yang versi jawaban ala anak," kata Totok yang SekolahDasar.Net kutip dari Medcom (14/02/19).

Harapannya assessment level kelas, sekolah, nasional tidak saling menggantikan. Assessment, tidak hanya ujian, namun juga observasi. Sudah ada beberapa sekolah yang melakukan itu. Ada sekolah yang tidak terbayangkan melakukan inovasi ternyata bisa inovasi.