5 Penyakit yang Kerap Menulari Anak di Sekolah
Cari Berita

Atas


5 Penyakit yang Kerap Menulari Anak di Sekolah

Jumat, 17 Mei 2019

5 Penyakit yang Kerap Menulari Anak di Sekolah
Para orang tua harus terus mengawasi si kecil, karena akhir-akhir ini banyak sekali penyakit yang kerap menulari anak di sekolah.

Para orang tua harus terus mengawasi si kecil saat di sekolah, karena akhir-akhir ini banyak sekali penyakit menular di sekolah. Meskipun Anda tidak bisa selalu mengawasi keadaan anak ketika sedang berada di sekolah, namun mengetahui berbagai macam penyakit yang kerap menulari anak ketika berada di sekolah sangat diperlukan.

Semakin banyaknya jumlah anak-anak di lingkungan sekolah bisa meningkatkan risiko penularan berbagai macam penyakit. Berikut ada penjelasan mengenai 5 penyakit menular yang mengintai anak selama di sekolah.



5 Penyakit Menular di Sekolah


Terdapat 5 penyakit yang kerap menulari si kecil selama di sekolah dan Anda sebagai orangtua harus mengetahuinya.

1. Selesma


Salesma memiliki istilah lain yaitu common cold. Penyakit ini adalah salah satu jenis infeksi virus yang terjadi pada bagian saluran napas bagian atas atau ISPA. Anak-anak memiliki risiko lebih untuk mengalami penyakit ini karena daya tahan tubuhnya belum sempurna seperti pada orang dewasa.

Beberapa gejala yang biasanya muncul yaitu berupa pilek, batuk, nyeri menelan serta demam ringan. Biasanya selesma bisa sembuh tanpa pengobatan khusus dalam waktu 4 hingga 7 hari. Ketika anak terkena selesma, berikanlah minum air putih yang banyak dan minta ia untuk beristirahat.

2. Gondongan


Gondongan merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus bernama paramyxo virus. Virus ini sangat mudah menular. Gondongan biasanya akan sembuh pada waktu sekitar 14 hari. Beberapa gejala yang biasanya timbul yaitu berupa demam, badan lemas, pembesaran bagian kelenjar liur yang rasanya nyeri serta nafsu makan menjadi menurun.

Penularan penyakit gondongan lewat percikan ludah yang asalnya dari batuk atau bersin penderita gondongan. Selain itu, penularannya juga bisa terjadi ketika bersentuhan langsung dengan berbagai macam benda yang sudah terkontaminasi oleh ludah dari penderita. Upaya pencegahan dari penyakit ini yaitu dengan pemberian vaksin.

3. Cacar air


Cacar air disebabkan oleh virus yang bernama varicella zoster. Penyakit ini bisa menimbulkan gejala yaitu berupa demam serta timbulnya bentol di bagian kulit yang rasanya gatal. Cacar air biasanya bisa sembuh sendiri dalam waktu 7 hingga 10 hari.Meredakan gejala demam yang timbul bisa dilakukan dengan pemberian obat penurun panas.

Lihat: Penyebab Anak Alami Hambatan Pertumbuhan dan Cara Mencegahnya

Sedangkan untuk meredakan gejala gatal yang timbul bisa dilakukan dengan pemberian obat antihistamin. Pencegahan terbaik untuk penyakit cacar air ini yaitu dengan pemberian vaksin. Ingatkan si kecil supaya menghindari bersentuhan secara langsung dengan temannya yang mengalami cacar air mengingat penyakit ini cepat menular.

4. Diare


Penyakit yang kerap menulari anak di sekolah berikutnya adalah diare. Diare bisa disebabkan oleh berbagai macam hal, seperti alergi makanan, infeksi serta intoleransi laktosa. Diare yang terjadi karena infeksi bisa menular ke orang lain. Supaya si kecil tidak tertular, Anda harus memberikan banyak asupan cairan harian untuknya. Jika anak terlanjur diare, maka berikanlah cairan oralit supaya terhindar dari dehidrasi. Obat antibiotik mungkin dibutuhkan jika diare terjadi karena infeksi bakteri.

5. Campak


Biasanya penyakit campak memiliki gejala berupa batuk, demam tinggi, pilek, mata merah serta munculnya ruam merah pada bagian kulit. Jika terdapat tanda-tanda seperti tersebut pada si kecil, Anda sebaiknya segera memeriksakannya ke dokter.Untuk membantu mengatasi campak dalam waktu selama 7 hingga 14 hari bisa dilakukan dengan pemberian vitamin A, obat penurun panas serta istirahat cukup. Pencegahan dilakukan dengan pemberian vaksin.

Penyakit yang kerap menulari si kecil memang banyak macamnya. Anda harus pahami dengan baik untuk bisa melakukan upaya pencegahan. Karena lebih baik melakukan upaya pencegahan daripada harus mengobati.