Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Memasuki Tahun Kedua Pandemi, Dunia Pendidikan Berada di Titik Kritis

Memasuki Tahun Kedua Pandemi, Dunia Pendidikan Berada di Titik Kritis
Siswa kehilangan pengalaman belajar.

Meski kualitas pembelajaran jarak jauh (PJJ) meningkat seiring meningkatnya penguasaan teknologi oleh guru. Namun, tetap saja teknologi tidak dapat menggantikan interaksi langsung antara guru dan siswa. 

Lihat juga: PJJ Setahun Menyebabkan Anak Mengalami Krisis Kesehatan Mental

Kehilangan pembelajaran tidak bisa dihindari, perbedaan akses ke sumber daya tetap tidak teratasi, juga berdampak memperlebar kesenjangan pencapaian pembelajaran antara siswa dari keluarga miskin dan keluarga kaya.

Menuju tahun kedua pandemi Covid-19 ini menjadi titik kritis bagi sistem pendidikan di seluruh dunia. Penutupan sekolah yang berlanjut semakin merugikan siswa yang bisa berdampak pada masa depan mereka nanti. 

Sementara pembukaan sekolah kembali masih terkendala jumlah kasus Covid-19 yang masih tinggi serta munculnya sejumlah varian baru Covid-19. Belum lagi vaksinasi yang belum menyentuh seluruh insan pendidikan.

Survei McKinsey Global Institute di delapan negara yang dipublikasi Forum Ekonomi Dunia menunjukkan, mayoritas guru yang disurvei menyatakan, pembelajaran jarak jauh (PJJ) tidak efektif. Para guru melaporkan, siswa kehilangan pengalaman belajar (learning loss).

Hasil survei tersebut menunjukkan titik kritis sistem pendidikan yang harus segera diatasi. Padahal, hasil survei ini merupakan skenario terbaik, kondisi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah bisa jauh lebih buruk lagi.

Langkah penting pertama ketika sekolah belum bisa dibuka kembali, adalah meningkatkan kualitas pembelajaran jarak jauh. Menurut Anggi Afriansyah, peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, perlu adaptasi dan pola-pola baru dalam PJJ.

”Pola baru berarti kita harus mengikis ketergantungan pada teknologi (untuk pembelajaran) meski pemerataan akses teknologi tetap penting. Otoritas pendidikan di pusat dan daerah harus memastikan kesetaraan akses, harus ada ekstra policy untuk itu,” kata Anggi yang SekolahDasar.Net kutip dari Kompas (15/03/21).

Berlangganan via Email