Mengajarkan Budaya Baca-Tulis dengan Dadu dan Pohon Literasi
Cari Berita

Atas


Mengajarkan Budaya Baca-Tulis dengan Dadu dan Pohon Literasi

Kamis, 21 Maret 2019

Belajar membaca dan menulis sebagai upaya membudayakan literasi dengan menggunakan media pembelajaran berupa dadu dan pohon literasi.

Guru dituntut mampu menciptakan model pembelajaran yang diminati siswa, sehingga mereka termotivasi menimba ilmu dan betah mengikuti pelajaran. Model pembelajaran yang dianggap kurang efektif, seperti metode ceramah diganti dengan metode lain. Karena penggunaan metode ceramah siswa hanya mendengarkan tanpa terlibat langsung. Siswa hanya menerima informasi yang disampaikan guru.

Dalam mengajarkan siswa mencintai budaya literasi, siswa harus diajak aktif berkreasi agar senang dalam pembelajaran tersebut. Selain membudayakan membaca selama 15 menit sebelum pelajaran, bisa dengan model lain. Tujuannya agar siswa mencintai budaya membaca dan menulis. Banyak cara yang dapat dilakukan oleh guru agar tujuan tersebut tercapai.

Seperti apa yang dilakukan guru kelas VI SDN Rejosalam I Jombang, Jawa Timur. Yulia Nuryani Candra, S.Pd. Senin itu, siswa kelas 6 dibagi menjadi 5 kelompok secara heterogen. Dengan setiap kelompok berisi 3-4 orang. Kelas 6 hari itu akan belajar membaca dan menulis sebagai upaya membudayakan literasi dengan menggunakan media pembelajaran berupa dadu dan pohon literasi.

“Harapan dari pembelajaran ini untuk mengenalkan literasi. Melatih siswa membuat pertanyaan dengan 5W+1H. Serta menunjukkan bahwa menulis itu mudah dan menyenangkan,” jelas Bu Yulia panggilan akrab guru kelas VI tersebut dilansir SekolahDasar.Net dari harianbhirawa.net.

Langkah-Langkah Menggunakan Media Dadu dan Pohon Literasi

  • Sebagai kegiatan awal, setiap anak dalam kelompok dibagikan sebuah teks cerita rakyat dengan judul “Baru Kelinthing”.
  • Siswa diberi waktu 15 menit untuk menyelesaikan bacaannya.
  • Langkah selanjutnya, permainan diawali dengan guru membagikan dadu kepada setiap kelompok, dengan tiap nomor dadu berisi jenis pertanyaan yang berbeda.
  • Jika dadu menunjukkan angka 1, maka kelompok harus menyusun pertanyaan dengan awal kata “apa”, angka 2 dengan kata “siapa”. Angka 3 dengan kata “di mana”, angka 4 dengan kata “kapan”, angka 5 dengan kata “mengapa”, dan angka 6 dengan kata “bagaimana”.
  • Setiap kelompok diberikan kesempatan untuk melempar dadu sebanyak 4 kali.
  • Pertanyaan-pertanyaan harus disusun berdasarkan bacaan yang sudah dibaca, kemudian dilempar kepada siswa dalam kelompok lain.
  • Guru di sini berfungsi memperkuat jawaban yang dikemukakan siswa.
  • Setelah siswa menjawab pertanyaan dan benar, selanjutnya siswa menulis soal dan jawaban pada selembar kertas yang sudah dibentuk buah-buahan.
  • Sebagai langkah akhir siswa memajangnya pada pohon literasi.

Baca juga: Majalah Dinding Sarana Menumbuhkan Budaya Literasi

Bu Yulia mengatakan metode pembelajaran dengan menggunakan dadu dan memajang hasilnya pada pohon literasi, membuat siswa bermain sambil belajar. Kemampuan siswa membuat kalimat pertanyaan semakin tarasah. Selain itu menjadikan siswa aktif dan kreatif dalam menyusun kalimat pertanyaan, pembelajaran membaca dan menulis pun menjadi menyenangkan.