Kreativitas Guru Menentukan Kualitas Pendidikan saat Pandemi
Cari Berita

Atas


Kreativitas Guru Menentukan Kualitas Pendidikan saat Pandemi

Jumat, 05 Juni 2020

Kendati sulit diwujudkan, pasti kreativitas para guru di Tanah Air akan bermunculan di tengah pandemi seperti ini.

Kreativitas guru sangat menentukan kualitas pendidikan di masa pandemi virus corona (covid-19). Proses belajar mengajar selama pandemi menuntut kesiapan guru dan murid. Metode pembelajaran jarak jauh secara daring selama ini kurang efektif karena hanya bersifat satu arah. Belum lagi, metode pembelajaran lebih banyak hanya memberikan tugas kepada siswa.

"Di masa seperti ini kualitas pendidikan akan turun, itu harus kita sadari. Tetapi mungkin saja ada kreativitas guru yang muncul," kata Pakar pendidikan sekaligus penasihat Dewan Pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta Wuryadi yang SekolahDasar.Net kutip dari Medcom (05/06/20).

Ia mengatakan interaksi pembelajaran jarak jauh lebih banyak satu arah. Kebanyakan guru hanya menyediakan tugas-tugas, sampai ada murid yang mengeluh bosan. Bahkan sebagian murid merasa tugas yang diberikan guru cukup berat, padahal hanya berupa pilihan ganda.

Jika proses belajar mengajar hanya bersifat memberikan dan mengerjakan tugas semata, maka aspek pendidikannya belum tercapai. Sebab, selain melibatkan dialog dua arah, pendidikan harus memadukan antara pikiran dan perasaan siswa.

Dalam mendidik guru harus memberi arahan bagaimana murid sampai pada situasi dan kondisi di mana mereka tidak hanya menggunakan otak, tapi juga hatinya. Kendati sulit diwujudkan, Wuryadi meyakini kreativitas para guru di Tanah Air akan bermunculan di tengah tekanan seperti ini.

Lihat juga: New Normal Bisa Dilakukan di Sekolah dengan 19 Syarat Ini

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Iwan mengatakan pada era normal baru prioritas utama adalah keamanan, kesehatan, dan keselamatan siswa dan guru.

"Kalau daerahnya aman, tapi sekolah tidak aman, sekolah dilarang melaksanakan pembelajaran yang mengumpulkan massa. Begitu juga kalau komunitas sekolah menyampaikan tidak aman, tidak perlu dibuka," kata Iwan.

Menutup sekolah, kata dia, bukan berarti pembelajaran tidak terjadi. Pilihannya bisa melaksanakan belajar dari rumah, baik secara daring, luring, atau blended. Paling penting, orientasi pembelajarannya berdasarkan pada kebutuhan siswa.