» » Pembelajaran Konstektual

Pembelajaran Konstektual

a. Pengertian Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar dimana guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, sementara siswa memperoleh pengetahuan, ketrampilan dan konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit, dan proses mengkonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat Nurhadi, dkk, 2006. Sedangkan menurut Sanjaya (2005) pendekatan kontekstual merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannyadalam kehidupan mereka. Pada dasarnya pembelajaran kontekstual guru di dalam menyampaikan konsep pembelajaran berusaha memberikan sesuatu yang nyata bukan sesuatu yang abstrak sesuai dengan lingkungan sekitar anak, sehingga pengetahuan yang diperoleh anak dengan pembelajaran di kelas merupakan pengetahuan yang dimiliki dan dibangun sendiri, ada keterkaitan dengan penerapan kehidupan sehari-hari yang bisa dijadikan bekal untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan berdasarkan pengetahuan yang telah dibangun dan dimilikinya.

b. Komponen Pembelajaran Kontekstual
Komponen utama pembelajaran kontekstual di kelas antara lain ada tujuh sebagai berikut : (a) Konstruktivisme (Constructivism), (b) Bertanya (Questioning), (c) Menemukan (Inquiry), (d) Masyarakat belajar (Learning Community), (e) Pemodelan (Modeling), (f) Refleksi (Reflection), (g) Penilaian sebenarnya (Authentic Assement) (Nurhadi, dkk).
Adapun uraian dari ketujuh komponen tersebut adalah;

a. Kontruktivisme
Kontruktivisme yaitu suatu kegiatan dimana siswa membangun pengetahuan sedikit demi sedikit dari pengetahuan yang dimiliki siswa, diharapkan siswa belajar bukan hanya menghafal tetapi melalui mengalami sehingga akan bermakna. Kontruktivisme adalah proses memebangun atau mrenyusun pengetahuan dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman (Sanjaya).
b. Bertanya
Bertanya yaitu kegiatan bertanya dalam pembelajaran bisa guru dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan siswa bahkan siswa dengan orang lain (nara sumber) sebagai upaya guru dalam membimbing siswa, menggali informasi dan menilai sejauh mana kemampuan yang telah diperoleh siswa.
c. Menemukan
Menemukan yaitu suatu kegiatan dimana siswa berusaha menemukan sendiri pengetahuan bukan hasil mengingat-ingat fakta-fakta,
d. Masyarakat Belajar
Masyarakat Belajar yaitu suatu kegiatan dimana siswa memperoleh hasil belajar dari hasil belajar bekerja sama atau tukar pendapat dengan orang lain,
e. Pemodelan
Pemodelan bisa diartikan suatu contoh nyata yang ditunjukkan guru atau orang lain bisa asli atau tiruan dan bisa berbentuk demonstrasi, pemberian contoh tentang konsep-konsep,
f. Refleksi
Refleksi yaitu berpikir kembali apa yang telah dilakukan dan apa yang akan diperoleh siswa dalam kegiatan pembelajaran,
g. Penilaian Otentik
Penilaian yaitu suatu kegiatan pengumpulan data dari berbagai sumber yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Ketujuh komponen tersebut bisa dimasukkan ke dalam pembelajaran sesuai dengan materi yang dibahas.
Penilaian otentik adalah proses pengumpulan informasi oleh guru tentang perkembangan dan pencapaian pembelajran yang dilakukan anak didik melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan, memebuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran dan kemampuan (kompetensi) telah benar-benar dikuasai dan dicapai. Majid, Abdul (2007)

E. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual memiliki beberapa karakteristik diantaranya sebagai berikut: (1) melakukan hubungan yang bermakna, (2) melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan, (3) belajar yang diatur sendiri, (4) bekerja sama, (5) berpikir kritis dan kreatif, (6) mengasuh dan memelihara pribadi siswa, (7) mencapai standar yang tinggi, dan (8) menggunakan penilaian autentik. Johnson, 2002 (Dalam Nurhadi, dkk, 2006).
Dari pendapat tersebut karakteristik pembelajaran konstektual dapat diuraikan sebagai berikut: (1) siswa diharapkan aktif dalam pembelajaran baik secara kelompok maupun individu, (2) siswa membuat hubungan di dalam sekolah dan di dalam kehidupan nyata sebagai bagian dari anggota masyarakat, (3) siswa belajar dan melakukan pekerjaan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, (4) siswa diharapkan mampu bekerja sama dalam kelompok maupun dalam pembelajaran di kelas, (5) siswa berpikir kritis dan kreatif agar dapat menganalisis, mensitensis, dan memecahkan masalah, (6) memberi bimbingan dan dukungan pada siswa, (7) siswa diharapkan mencapai standar pencapaian yang tinggi, dan (8) menggunakan penilaian yang nyata dan sebenarnya dari apa yang telah diperoleh siswa dari lingkungannya.
Sanjaya (2005) mengemukakan lima karakteristik pentingdalam proses pembelajran yang menggunakan pendekatan kontekstual(CTL), yaitu: pembelajaran Kontekstual merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activing knowledge). Artinya apa yang dipelajarai tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari.

Pada dasarnya karakteristik pembelajaran kontekstual menekanan pada pembelajaran yang bermakna, bukan hanya sekedar menghafal melainkan mengalami dan berbuat serta mampu bekerja sama untuk memecahkan dan memperoleh informasi baru berupa pengetahuan dan guru bukan satu-satunya sumber belajar serta menggunakan berbagai strategi penilaian bukan hanya tes saja.

F. Kata Kunci Pembelajaran Kontekstual
Kata kunci pembelajaran kontekstual yaitu sebagai berikut: (1) real word learning, (2) mengutamakan pengalaman nyata, (3) berpikir tingkat tinggi, (4) berpusat pada siswa, (5) siswa aktif, kritis dan kreatif, (6) pengetahuan bermakna dalam kehidupan, (7) dekat dengan kehidupan nyata, (8) perubahan perilaku, (9) siswa praktek bukan menghafal, (10) pembentukan manusia, (11) memecahkan masalah, (12) siswa katif guru mengajar, dan (13) hasil belajar diukur dengan berbagai cara bukan pada tes saja. (Nurhadi, dkk, 2006). Berdasarkan kata kunci di atas maka pembelajaran konstektual pada dasarnya menitik beratkan pada pembelajaran yang nyata, siswa mengalami bukan hanya menghafal, berpusat pada siswa, menginginkan adanya perubahan tingkah laku dari belum bisa menjadi bisa dan mampu berpikir secara kritis, kreatif dalam memecahkan masalah dan guru bukan merupakan sumber satu-satunya dalam belajar.

G. Prinsip Pembelajaran Kontekstual
Prinsip penerapan pembelajaran kontekstual yang perlu dipegang guru adalah sebagai berikut: (1) merencanakan pembelajaran sesuai dengan kewajaran mental sosial, (2) membentuk kelompok yang saling bergantung, (3) menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran yang mandiri, (4) mempertimbangkan keragaman siswa, (5) mempertimbangkan multi intelegensi siswa,
(6) menggunakan teknik-teknik bertanya untuk meningkatkan pembelajaran siswa, perkembangan masalah, dan ketrampilan berpikir tingkat tinggi,
(7) menerapkan penilaian autentik Nurhadi, dkk, 2006. Prinsip penerapan pembelajaran kontekstual yang berbasis kontekstual agar tercapai tujuan pembelajaran yang optimal dan bermakna bagi siswa. Perlu memperhatikan mulai dari merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, mempertimbangkan karakteristik dan perbedaan masing-masing peserta didik sampai melakukan sesuatu penilaian.

H. Penerapan Pembelajaran Kontekstual di Kelas
Penerapan pembelajaran kontekstual di kelas pada dasarnya adalah deengan menerapkan ketujuh komponen pembelajaran kontekstual antara lain adalah: (1) Konstruktivisme (Constructivism) kegiatan siswa yang diharapkan adalah siswa sedikit demi sedikit dari konteks yang tertabas melalui pengalaman nyata, siswa membangun sendiri kemampuan yang diperolehnya, dan siswa belajar melalui pengalaman yang bermakna untuk memperoleh pemahaman yang mendalam, (2) Bertanya (Questioning) kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan siswa serta mengarahkan ssiwa memperoleh informasi dan berpikir kritis, (3) Menemukan (Inquiry)inti dari penerapan CTL adalah hasil penemuan sendiri bukan hasil mengingat, siklus ini adalah pengamatan, bertanya, mengajukan dugaan, pengumpulan data, menganalisis data, menyajikan dan mengkomunikasikan data baik individu atau kelompok, (4) Masyarakat belajar (Learning Community) kegiatan yang dilakukan pada dasarnya adalah berbicara dan berbagi pengalaman dengan orang lain, serta mampu bekerja sama dengan orang lain untuk memperoleh pengalaman misalnya bekerja sama dengan kelompok dan bekerja berpasangan, guru disarankan melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok sehingga hasil belajar diperoleh dari tukar pendapat antar teman, antar kelompok dan antar yang tahu dengan yang belum tahu sehingga di dalam kelas terjadi ikatan yang erat antar penghuni kelas sehingga muncul kondisi yang kondusif, (5) Pemodelan (Modeling), pada dasarnya membahas gagasan, mendomonstrasikan, dan melakukan sesuatu sesuai yang diinginkan guru agar siswa mau melakukan sesuatu, (6) Refleksi (Reflection) penerapanya di kelas beripikir kembali tentang apa yang telah dipelajari, merespon kegiatan belajar siswa sewrta memberi kesempatan siswa untuk mencatat ide-ide baru yang telah dipelajari, guru bisa bertanya langsung, catatan kegiatan pembelajaran, kesan dan saran untuk dapat melihat apakah siswa memperoleh pengetahuan yang ia terima sudah lengkap atau belum dan mungkin ada yang belum mengerti, (7) Penilaian sebenarnya (Authentic Assement) penerapnnya di kelas dilakukan selama dan sesudah pembelajaran berlangsung, yang diukur bukan mengingat fakta tetapi ketrampilan dan performasi, dilakukan berkesinambungan, terintegrasi, dapat digunakan sebagai balikan, dan dapat digunakan sebagai proyek kegiatan dan laporannya, pekerjaan rumah, kuis, karya siswa, persentasi, demonstrasi, laporan, jurnal, hasil tes tulis, dan karya tulis sebagai dasar menilai prestasi siswa. Penerapan pembelajaran kontekstual di kelas garis besarnya adalah sebagai berikut:
(1) kembangkan pikiran bahwa anak akan belajar lebih bermaknsa dengan jalan bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya, (2) laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik, (3) kembangkan sikap ingin tahu siswa dengan bertanya, (4) ciptakan masyarakat belajar, (5) hadirkan model, (6) lakukan refleksi,
7) lakukan penilaian dengan berbagai cara.



SekolahDasar.Net | 6 Juli 2011
Ketik email Anda untuk:

KOMENTAR ANDA