Minat Jadi Guru Rendah Karena Dinilai Kurang Bergengsi
Cari Berita

Atas


Minat Jadi Guru Rendah Karena Dinilai Kurang Bergengsi

Sabtu, 18 Mei 2019

Minat Jadi Guru Rendah Karena Dinilai Kurang Bergensi
Profesi guru kurang diminati siswa, sebagai profesi yang menjanjikan di masa depan.

Animo siswa untuk menjadi guru begitu rendah. Fakta ini berdasarkan hasil angket yang disebar di 8584 SMA/MA penyelenggara UNBK (ujian nasional berbasis komputer) yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Ini menjadi peringatan dini bagi seluruh pemangku kepentingan di bidang pendidikan. Betapa menyedihkannya jika profesi yang sangat penting bagi bangsa namun tidak diminati generasi mudanya.

"Jika hasil angket UN soal minat jadi guru rendah jadi polemik, artinya berhasil untuk 'ayo dong, wake up call itu'," kataKepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud, Totok Suprayitno.

Rendahnya minat terhadap profesi guru disebabkan persepsi masyarakat terhadap profesi guru kurang bergengsi. Siswa memilih profesi yang lebih menjanjikan dan terpandang di masa depan. Baik dilihat dari sisi strata sosial di masyarakat dan juga sisi finansialnya.

“Katakanlah dibandingkan lawyer, dokter, insinyur. Anak kalau ditanya ingin jadi apa, jawabnya ingin jadi dokter. Jadi persepsi mereka itu seperti profesi yang lebih tinggi dibanding pendidik,” kata Totok yang SekolahDasar.Net dari Medcom (18/05/19).

Menurutnya, perlu edukasi perubahan pola pikir dan persepsi, bahwa profesi sebagai seorang guru bergengsi dan menjanjikan. Bukan hanya dilihat dari sisi pendapatan yang masuk kategori menengah. Namun juga, peran guru sangat penting sekali untuk mencerdaskan anak bangsa.

Lihat: Pendidikan Akan Suram Karena Siswa Cerdas Tak Ingin Jadi Guru

Profesi guru kurang diminati siswa, sebagai profesi yang menjanjikan di masa depan. Bahkan dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Kemendikbud, lebih banyak siswa yang memilih profesi Youtuber daripada menjadi guru.

“Ketika ditanya cita-cita ingin menjadi apa, spektrum jawaban siswa ini luar biasa. Banyak yang ingin menjadi pengusaha sukses dan hebat, youtubers, wirausaha dan yang jadi presiden juga ada,” kata Totok.

Menurutnya, dari jumlah responden yang diuji, hanya 11 persen di antaranya saja yang tertarik menjadi guru di masa mendatang. Dari 11 persen itu pun, siswa yang tertarik menjadi guru didominasi perempuan.

Mirisnya lagi, siswa yang memilih cita-cita menjadi seorang guru justru adalah siswa yang nilai akademisnya rendah. Dari pencapaian nilai UN, nilai mereka yang bercita-cita jadi guru di bawah rata-rata nilai siswa yang memilih profesi lain.

“Lalu seperti apa prestasi yang ingin menjadi guru tadi, nilai Bahasa Indonesianya lumayan, Bahasa inggris lumayan, tapi masih di bawah 50. Matematikanya not so bad, lumayan, jadi intinya siapa yang ingin menjadi guru adalah not the best dari siswa itu,” terangnya.

Padahal, profesi guru menuntut seseorang memiliki kecerdasan dalam mengajar dan paham materi yang diajarkan. Jika tidak pintar, bagaimana bisa siswa yang diajarkan menjadi berguna bagi bangsa Indonesia.

“Harapannya siswa terbaik menjadi guru itu mencerdaskan kehidupan bangsa dan memang dilakukan oleh orang-orang terbaik. Daya tarik menjadi guru ini kurang. Kemendikbud seharusnya banyak kampanye nanti ya,” pungkasnya.



PGRI Sudah Menduga, Karena Profesi Guru Tidak Menarik Lagi


Minimnya cita-cita menjadi guru sebagai profesi masa depan ternyata tidak mengejutkan bagi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Organisasi profesi guru yang beranggotakan tiga juta guru ini mengakui, profesi pahlawan tanpa tanda jasa memang tak lagi menjanjikan materi.

Ketua Umum PGRI, Unifah Rosyidi menyadari adanya fakta profesi tenaga pendidik bukan profesi impian anak muda saat ini. Ditambah di sejumlah media massa kerap diberitakan bahwa nasib kesejahteraan guru saat ini sangat rendah.

Tahapan dan prasyarat menjadi guru profesional yang tersertifikasi pun semakin tidak mudah. Gelar sarjana pendidikan bukan jaminan bisa langsung diangkat menjadi guru profesional. Calon guru harus menempuh Pendidikan Profesi Guru (PPG) satu hingga dua tahun dengan biaya mandiri.

Ditambah lagi seretnya pencairan tunjangan profesi guru akan jadi pertimbangan para milenial. Melihat fakta-fakta di atas, membuat kalangan anak muda berpikir seribu kali untuk menjadi guru.

“Orang akan melihat lebih menarik jika tunjangan kinerja enggak berbelit-belit. Jadi kalau ini diteruskan maka kita akan susah mendapatkan calon guru yang the best,” terang Unifah.

Pemerintah seharusnya memberikan apresiasi lebih kepada para guru yang totalitas menjalankan profesi ini. Seperti memperhatikan dua kali gaji pokok dan tersertifikasi. Sehingga, calon guru terbaik ini akan menjadi semangat untuk menjalankan amanah sebagai guru yang mencerdaskan bangsa.

“Kalau motivasinya kesejahteraan maka kami akan sulit, tapi kan nggak bisa lepas kesejahteraan dengan motivasi. Maka harus ada spesial intensif jika mau dapat calon terbaik,” tegasnya.