Hati-Hati dengan 6 Ucapan yang Merusak Psikologi Anak
Cari Berita

Atas


Hati-Hati dengan 6 Ucapan yang Merusak Psikologi Anak

Rabu, 04 Desember 2019

Hati-Hati dengan 6 Ucapan yang Merusak Psikologi Anak
Ucapan yang merusak psikologi anak adalah penyebab rusaknya mental anak di masa depan, yang disebabkan oleh kedua orang tuanya.

Menurut Dr Nurul Afifah dalam buku yang berjudul Don’t Be Angry Mom, kebiasaan memarahi anak dengan ucapan yang tidak pantas bisa menimbulkan dampak positif pada psikologinya. Di antaranya ialah menimbulkan depresi, pendiam, kurang percaya diri dan selainnya. Maka dari itu, hindari ucapan yang merusak psikologi anak ketika marah.

Namun, sayangnya tidak semua orang tua bisa mengontrol ucapan ketika marah. Sehingga keluar ungkapan yang sejatinya tidak bagus untuk tumbuh kembang anak. Atas dasar tersebut, berikut dijelaskan beberapa jenis ucapan yang terlarang untuk digunakan saat marah, yang juga ada di dalam buku populer di atas. Ini ucapan tersebut:

1. Jangan dan Tidak Boleh

Ucapan terlarang yang pertama ini juga disampaikan oleh salah seorang mentor Therapy Private Practice, Brenna Hicks. Menurutnya ungkapan kata “jangan” akan membekas di otak anak sebagai pelarangan yang berkonotasi negatif.

Efeknya adalah anak akan menjauhi benda atau perilaku tersebut selamanya. Lebih baik ganti dengan kata “tidak”. Maksudnya adalah orang tua tidak ingin ia melakukannya saat ini saja, bukan untuk selamanya.

2. Kamu Selalu Berbuat Salah

Ada kalanya ketika anak bandel dan suka berbuat ulah, orang tuanya langsung dakwah dia dengan kata “Kok kamu bandel, sih?Selalu saja berbuah salah”. Padahal ucapan ini sangat tidak bagus diucapkan pada anak.

Pasalnya, yang ditangkap oleh anak adalah, segala perbuatannya adalah salah. Efeknya ialah, anak menjadi ragu untuk berkarya. Mereka justru menjadi anak pendiam dan kurang pergaulan.

3. Nakal Sekali Sih Kamu, Coba Tiru Kakakmu Yang Baik Itu Loh Nak

Terkadang, orang tua marah kepada anak, dengan menyebutkan orang lain di hadapannya, yang notabene tidak ada sangkut paut dengan peristiwa tersebut. Tujuannya adalah membandingkan si anak dengan orang tersebut.

Kata yang semaksud adalah, “Kamu kok nakal sih?Coba tiru kakakmu yang baik itu loh nak, tidak membuat Mama marah”. Ucapan ini cukup membuat Orang tua puas. Tetapi bagi anak justru membekas sebagai ajang permusuhan antara dia dengan kakaknya.

4. Kamu Tidak Malu Ya!

Ucapan yang merusak psikologi anak yang ke empat adalah “Kamu tidak malu ya”! Harapan orang tua dengan ucapan tersebut adalah agar anak berpikir kalau perbuatan tersebut tidak boleh dilakukan di usianya.

Namun, seorang anak yang masih kecil, justru memantik rasa marah di hatinya kepada kedua orang tuanya. Karena secara alami, otak anak mencerna kata “malu” sebagai diksi yang hina dan nista.

5. Menyesal Aku Melahirkanmu

Tidak banyak orang tua yang mengeluarkan kata “menyesal aku melahirkanmu”. Namun, kasusnya tetap ada, terutama diucapkan oleh single parent atau orang tua tunggal. Ucapan ini sering terlontar, akibat masa sulit yang dihadapi dalam perkawinan. Sehingga tak jarang, anak dianggap benalu yang mengingatkannya pada masa-masa tersebut.

Sehingga ketika marah muncul kata tersebut yang sejatinya sangat menyakiti hati anak. Dijamin dengan ucapan ceroboh semacam itu, anak tidak lagi memiliki rasa hormat pada orang tuanya.

6. Kamu Benar Mirip Ayah/Ibumu

Para dokter psikologi anak menyampaikan, berhati-hatilah menggunakan kata perbandingan anak dengan orang tua ketika sedang marah atau menasehati. Hindari ucapan, “Kamu benar-benar mirip ayah/ibumu”.

Karena ucapan ini membekas pada psikologi anak untuk lebih dekat hanya pada satu orang tuanya saja. Sedangkan yang lain, dia anggap sebagai penyebab kemarahan.

Lihat juga: 7 Ucapan Menenangkan Saat Emosi Anak Memuncak

Memarahi ataupun menasehati anak yang salah, harus dilakukan. Agar tidak ada lagi pengulangan di lain waktu. Namun, tetap menghindari ucapan yang merusak psikologi anak seperti pandangan ahli di atas. Karena kemarahan dengan ucapan ini, justru membuat perilakunya tidak berubah malah bertambah parah.