Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Menciptakan Kemerdekaan Dalam Pendidikan

Menciptakan Kemerdekaan Dalam Pendidikan
Membangun kemerdekaan pendidikan dan pembelajaran menuntut guru untuk memahami karakteristik setiap peserta didik.

Pendidikan kita hari ini dengan segala infrastruktur yang tersedia justru persoalan moralitas menjadi semakin memprihatinkan kekerasan yang dilakukan oleh guru terhadap murid, maupun sebaliknya, murid terhadap guru, menjadi pemandangan keseharian hampir di berbagai daerah.

Demikian juga dengan fenomena tawuran atau perkelahian antar pelajar seakan menjadi ekstra Kurikuler bagi pada anak didik Peristiwa demi peristiwa memprihatinkan ini, semakin hari bukan semakin berkurang, namun semakin bertambah.

Padahal, Jumlah sekolah sejak jaman kemerdekaan, hingga kini jumlahnya jauh semakin banyak. Jumlah Sekolah Dasar kini sebanyak 26119000 Sekolah Menengah sebanyak 9901000 dan Sekolah Menengah Kejuruan sebanyak 1735000 Semakin banyak sekolah yang seharusnya mencerminkan semakin baiknya moralitas publik, justru yang terjadi sebaliknya.

Esensi pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik agar siap menghadapi masa depan yang tidak belum mereka perhitungkan dan membutuhkan mereka untuk beradaptasi terhadap berbagai kemungkinan yang akan mereka temui dimasa mendatang.

Dalam proses pembelajaran, masih terjadi adanya doktrinasi dalam setiap materi pelajaran. Kegiatan belajar lebih banyak berkutat pada tingkat berpikir minimal, guru sekedar menyuruh sekaligus melarang anak didiknya tanpa memberi kesempatan untuk belajar mandiri.

Paradigma pembelajaran yang ada saat ini masih cenderung mengimpor pengetahuan dari luar dirinya. Akibatnya pengembangan potensi kemampuan daya nalar dan kreativitas mengalami kemandegan, tidak menciptakan kemerdekaan berpikir bagi peserta didik.

Berdasar epistemologinya, pendidikan dikaitkan dengan masalah kurikulum, terutama dalam hal penyusunan dasar-dasar kurikulum termasuk di dalamnya terkaitan metode pembelajaran yang digunakan, dan segala proses keilmuan yang ada di dalam lembaga pendidikan Pendidikan hendaknya mampu menciptakan manusia yang senantiasa mempelajari dirinya sendiri dari wujud materi, psikologi, dan rohaninya.

Pendidikan yang ada saat ini bukan pendidikan melainkan jual beli pengetahuan. Pengetahuan itu bahan. Ilmu adalah cara memasak bahan. Pendidikan dan pembelajaran yang terjadi di sekolah hanya memberikan bahannya saja. Peserta didik tidak dilatih untuk mendapatkan ilmu Sehingga yang terjadi adalah tidak ada yang namanya pendidikan, tapi jual beli pengetahuan.

Padahal pendidikan merupakan solusi utama menghasilkan generasi penerus yang merdeka secara jiwa dan raga. Seorang pendidik harus merasa merdeka batin dan pikirannya sebelum memberikan pendidikan dan pembelajaran yang memerdekakan peserta didiknya.

Makna kemerdekaan pendidikan dan pembelajaran bagi seorang pendidik yaitu pendidik bagaimana dapat menciptakan ruang gerak yang bebas bagi muridnya untuk mengeskplorasi pengalaman belajarnya tanpa terbelenggu oleh tuntutan kurikulum.

Pendidik yang terpaku pada kurikulum dan muatan materi dalam buku teks hanya akan membunuh daya pikir siswa. Muatan materi biologi dalam kurikulum bukanlah tujuan dari pendidikan dan pembelajaran. Namun, bagaimana muatan materi biologi tersebut menjadi alat untuk dapat memberikan pengalaman belajar bagi peserta didik.

Membangun kemerdekaan pendidikan dan pembelajaran menuntut guru untuk memahami karakteristik setiap peserta didik dan menyadari sepenuhnya bahwa peserta didik merupakan subjek dalam proses pendidikan dan pembelajaran Sehingga dalam mendesain pengalaman belajar, pendidik fokus pada nilai-nilai apa yang dapat diinternalisasi peserta didik sebagai pengalaman batin dan rekonstruksi pengetahuan apa yang dapat dibangun oleh peserta
didik.

Bukan hanya guru saja yang harus merdeka batin dan pikiran, siswa yang dididikpun juga harus merdeka. Kemerdekaan yang dimiliki oleh guru harus bisa membangun kemerdekaan untuk siswanya Kemerdekaan batin tersebut dapat digunakan untuk membangun kecerdasan IESAAC.

Kecerdasaan ISAAC adalah kepanjangan dari Intelegensi Emosional, Spiritual, Affirmative Assertive, dan Creative quotient. Dengan rasa merdeka dalam diri siswa, mereka akan lebih mudah untuk mengkonstruk berbagai informasi yang didapat dalam kehidupan dan menjadikan dia sebagai suatu ilmu pengetahuan.

Selama ini banyak siswa dan mahasiswa yang belum memiliki kemerdekaan batin. Batin dan pikiran mereka masih terbelenggu dengan satu tujuan dan kekhawatiran akan masa depan, sehingga mereka tidak dapat mengembangkan potensi kecerdasan IESAAC yang ada di
dalam diri.

Mereka akan cenderung lebih focus pada salah satu hal yang dianggap penting dan potensial untuk masa depannya. Padahal, di dunia ini tidak ada satupun yang dapat menjamin masa depan. Sebagai contoh, siswa SD hingga SMA dihantui dengan rasa takut yang berlebihan akan adanya Ujian Nasional. Oleh karenanya, mereka akan lebih fokus pada salah satu
pada kecerdasan yang dimiliki, yaitu kecerdasan intelegensi saja.

Sementara untuk kecerdasan yang lain seolah menjadi tidak penting untuk dikembangkan kemerdekaan batin dalam diri seseorang dapat muncul dengan sendiri karena kesadaran yang dimiliki oleh individu tersebut dengan melihat dan membaca realita yang ada di masyarakat tempat tinggalnya. Akan tetapi kemerdekaan batin ini juga dapat diperoleh melalui pemberian orang lain, misalnya melalui guru yang mendidiknya. Disinilah peran pendidik yang sebenarnya guruharus dapat meminimalisir proses penjajahan batin siswanya agar dalam proses pengembangan kecerdasan ISAAC dapat lebih mudah.

Berlangganan via Email