Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Pembelajaran Daring Jangan Mengurangi Kehidupan Sosial Anak

Pembelajaran Daring Jangan Mengurangi Kehidupan Sosial Anak
Orang tua mengawasi anaknya selama belajar secara daring.

Awal tahun 2021 dengan tekad menggebu guru-guru dan sekolah-sekolah sudah mulai mempersiapkan kegiatan pendidikan secara tatap muka dengan protokol kesehatan ketat untuk mencegah covid-19. Namun, pembelajaran tatap muka urung terlaksana karena lonjakan kasus covid-19 masih intens terjadi di mana-mana.

Menurut Guru Besar IPB University dari Departemen Gizi Masyarakat, Prof Dr Ali Khomsan, situasi pendidikan saat ini bak buah simalakama. Beraktivitas di sekolah memunculkan kekhawatiran tertular covid-19, sementara belajar secara daring di rumah sudah mulai terasa melelahkan dan membosankan.

“Wabah covid-19 yang menyebar di hampir seluruh negara di dunia memunculkan kelelahan psikis yang luar biasa bagi semua orang termasuk para pelajar,” kata Prof Ali yang SekolahDasar.Net kutip dari laman IPB.

Belajar dari rumah juga menjadi beban bagi orang tua. Pasalnya, orang tua tidak hanya harus mengawasi anaknya selama belajar secara daring, namun sering kali juga harus menuntun anaknya dalam mengerjakan PR (pekerjaan rumah). Orang tua pun ikut stres memikirkan PR anaknya, di samping memikirkan nafkah dan uang belanja yang semakin menyusut karena sektor perekonomian yang belum pulih.

Di sisi lain, kondisi ini memaksa anak-anak usia sekolah untuk melek teknologi yang akan menuai manfaat besar jika diarahkan di jalur yang positif.  Ini harus diarahkan sehingga kegemaran menggunakan gadget bukan sekadar untuk bermedia sosial atau main games. Gadget bisa menjadi sumber informasi dan teknologi. Hal ini akan menuntun anak-anak untuk menjadi lebih terampil.

Akses internet yang mudah membuat siswa tidak perlu lagi mengandalkan sistem hafalan untuk menguasai informasi. Dunia pendidikan justru harus mendorong agar anak-anak bisa lebih berani mengemukakan pendapat dan meningkatkan kemampuan analisis mereka. Seperti halnya sistem pendidikan Barat yang selalu merangsang curiousity atau keingintahuan seorang siswa.

Guru besar IPB University bidang Community Nutrition ini berharap situasi pandemi dan sistem pembelajaran daring jangan sampai mengurangi kehidupan sosial anak. Dunia yang semakin kompetitif menuntut individu-individu dengan emotional quotient (EQ) yang tinggi. EQ (bukan IQ) dalam kehidupan modern saat ini dianggap lebih dapat memprediksi kesuksesan seseorang.

Karena itulah, menurutnya, tantangan pendidikan pada 2021 adalah menghasilkan anak Indonesia yang memiliki kemampuan bekerja sama (teamwork), mampu mengambil keputusan dengan cepat dan tepat, dapat berkomunikasi dengan baik, berpikir kreatif, memiliki jiwa kepemimpinan, serta motivasi yang tinggi.

Berlangganan via Email