» » » » Budaya Sekolah, Rahasia di Balik Integritas Seorang Peserta Didik

Budaya Sekolah, Rahasia di Balik Integritas Seorang Peserta Didik

Keberhasilan pengembangan budaya sekolah menjadi penentu keberhasilan meningkatkan lulusan yang bermutu.
Sebut saja dua sekolah. Sekolah A dan B. Keduanya memiliki sumber keuangan yang sama besar, namun penampilan fisik dan prestasinya berbeda. Kenapa? Jawabannya tentu tidak sesederhana seperti “Dikarenakan begini” atau “Dikarenakan begitu”. Namun jauh di atas semua fasilitas dan keuangan sebagai penopang kehidupan di sekolah, ada satu faktor yang sangat berpengaruh: budaya sekolah. Apa maksudnya budaya sekolah?

Istilah “ budaya “ mula-mula datang dari disiplin ilmu Antropologi Sosial. Apa yang tercakup dalam definisi sangatlah luas. Istilah budaya dapat diartikan sebagai totalitas pola perilaku, kesenian, kepercayaan, kelembagaan, dan semua produk lain dari karya dan pemikiran manusia yang mencirikan kondisi suatu masyarakat atau penduduk yang ditransmisikan bersama.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991:149) mendefinisikan budaya dalam dua pandangan, pertama hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan , kesenian, dan adat istiadat ; kedua menggunakan pendekatan antropologi, yaitu keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah laku.

Dalam pemakaian sehari-hari, orang biasanya menyamakan pengertian budaya dengan tradisi (tradition). Dalam hal ini, tradisi diartikan sebagai ide-ide umum, sikap dan kebiasaan dari masyarakat yang nampak dari perilaku sehari-hari yang menjadi kebiasaan dari kelompok dalam masyarakat tersebut.

Koentjaraningrat (1987) mengartikan budaya sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan miliknya melalui belajar. Sedangkan Tylor mengartikan budaya sebagai suatu kesatuan yang unik dan bukan jumlah dari bagian-bagian suatu kemampuan kreasi manusia yang immaterial, berbentuk kemampuan psikologis, seperti ilmu pengetahuan, teknologi, kepercayaan, keyakinan, seni dan sebagainya.

Agar budaya tersebut menjadi nilai-nilai yang tahan lama, maka harus ada proses internalisasi budaya. Dalam bahasa Inggris, Internalized berarti to incorporate in oneself. Jadi internalisiasi berarti proses menanamkan dan menumbuhkembangkan suatu nilai atau budaya menjadi bagian diri (self) orang yang bersangkutan.
Penanaman dan penumbuhkembangan nilai tersebut dilakukan melalui berbagai didaktik metodik pendidikan dan pengajaran. Seperti pendidikan, pengarahan, indoktrinasi dan lain sebagainya.

Koentjaraningrat, menyebutkan bahwa budaya itu paling sedikit mempunyai tiga wujud, yaitu kebudayaan sebagai : (1) suatu kompleks ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma ; (2) suatu kompleks aktivitas kelakuan dari manusia dalam masyarakat ; dan (3) sebagai benda-benda karya manusia. Tiga wujud budaya di atas, dalam konteks organisasi disebut dengan budaya organisasi (organizational culture). Dalam konteks perusahaan, diistilahkan dengan budaya perusahaan (corporate culture), dan pada lembaga pendidikan/sekolah disebut dengan budaya sekolah (school culture).

Dari beberapa pengertian tentang budaya diatas, dapat disimpulkan bahwa budaya sekolah adalah nilai-nilai dominan yang didukung oleh sekolah atau falsafah yang menuntun kebijakan sekolah terhadap semua unsur dan komponen sekolah termasuk stakeholders pendidikan.

Bila dihubungkan kepentingan sekolah, maka budaya sekolah merupakan pengetahuan dan hasil karya cipta komunitas sekolah yang berusaha ditransformasikan kepada peserta didik, dan dijadikan pedoman dalam setiap tindakan komunitas sekolah. Pengetahuan dimaksud terwujud dalam setiap sikap dan perilaku nyata komunitas sekolah, sehingga mencerminkan warna kehidupan sekolah yang bisa dijadikan cermin bagi siapa saja yang terlibat di dalamnya.

Contoh sederhananya adalah kebiasaan murid mencium tangan guru dan rutinitas shalat Dhuha, senam/olahraga dan melakukan kebersihan pada setiap hari Jumat di sekolah. Bisa jadi bagi sebagian orang, kegiatan ini terlalu berat, namun jika sudah menjadi sebuah rutinitas, maka inilah budaya yang melekat di lingkungan sekolah tersebut.

Budaya sekolah; Visi Besar Kepala Sekolah

Walau bagaimanapun budaya sekolah merupakan cerminan dari etos kerja, prinsip, dan visi besar dari kepala sekolah.

Belum semua sekolah memahami pentingnya budaya sekolah. Hal ini terlihat pada fakta bahwa belum semua sekolah memiliki program pengembangannya. Kondisi ini terjadi karena sebagian kepala sekolah belum memahami dan terampil dalam merencanakan, melaksanakan pengembangan, dan mengukur efektivitas pengembangan budaya sekolah. Hal itu tidak berarti kepala sekolah tidak memperhatikan pengembangannya.

Baca juga: Kepala Sekolah; Manager and Leader

Pada kenyataannya banyak kepala sekolah yang sangat memperhatian akan pentingnya membangun suasana sekolah, suasana kelas, membangun hubungan yang harmonis untuk terbentuknya norma, keyakinan, sikap, karakter, dan motif berprestasi sehingga tumbuh menjadi sikap berpikir warga sekolah yang positif. Hanya saja kenyataan itu sering tidak tampak pada dokumen program pengembangan budaya.

Berkenaan dengan itu, Stolp dan Smith (1994: xiii) menyatakan bahwa, bagaimanapun keadaannya, perubahan budaya lingkungan sebenarnya menjadi tantangan yang berat. Sekolah berada dalam kondisi ketidakpastian. Karena itu, sekolah memerlukan perhatian pimpinan yang cerdas, yang pandai memecahkan masalah yang kompleks pada gelombang perubahan yang arahnya serba tidak pasti. Langkah ini biasa disebut dengan mindset experimental.

Gelombang masalah yang datang selalu berbeda. Karena itu kepala sekolah harus selalu membaharui idenya secara inovatif untuk mendukung kebijakan dan tindakan yang efektif atau mencapai tujuan.

Tantangan utama kepala sekolah dalam mengembangkan budaya sekolah adalah membangun suasana sekolah yang kondusif melalui pengembangan komunikasi dan interaksi yang sehat antara kepala sekolah dengan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan orang tua peserta didik, masyarakat, dan pemerintah. Komunikasi dan interaksi yang sehat memiliki dua indikator yaitu tingkat keseringan dan kedalaman materi yang dibahas. Di samping itu, kepala sekolah perlu mengembangkan komunikasi multi arah untuk mengintegrasikan seluruh sumber daya secara optimal.

Relevan dengan kondisi itu, Peter Senge menyatakan bahwa kepala sekolah perlu memerankan diri sebagai teladan yang ditunjukkan dengan indikator :
1) Menjadi personal yang berdisiplin tinggi dalam memfokuskan energi dalam mewujudkan visi-misi, bersabar, dan memahami fakta secara objektif.
2) Menjadi mental model dalam mempengaruhi dan memahami keadaan sekitar dan serta dapat merespon dengan tepat.
3) Mengembangkan visi-misi bersama sebagai dasar untuk mengembangkan komitmen yang berkembang secara berkelanjutan sehingga kepala sekolah tidak hanya mengembangkan kepatuhan.
4) Mengembangkan tim pembelajar yang dialogis, mengembangkan kapasitas tim, mengganti asumsi dengan pemikiran bersama.
5) Mengembangkan berpikir sistem yang mengintegrasikan dengan keempat disiplin di atas.

Mengapa harus mengembangkan budaya sekolah?

Jawaban dari pertanyaan ini sebenarnya menunjukkan visi besar seorang kepala sekolah. Tujuan dari pengembangan budaya sekolah adalah untuk membangun suasana sekolah yang kondusif melalui pengembangan komunikasi dan interaksi yang sehat antara kepala sekolah dengan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, orang tua peserta didik, masyarakat, dan pemerintah. Jadi jelaslah di sini, sebuah proses pendidikan menciptakan dan membutuhkan suasana yang komprehensif yang melibatkan hampir semua elemen kehidupan di sekitar. Semuanya terlibat, guru di sekolah, orang tua di rumah, lingkungan sekitar dan juga pemerintah.

Dari uraian itu dapat disimpulkan bahwa keberhasilan pengembangan budaya sekolah menjadi penentu keberhasilan meningkatkan lulusan yang bermutu. Karena itu, kepala sekolah penting memperhatikan berbagai prinsip utama sebagai berikut:
1) Budaya merupakan norma, nilai, keyakinan, ritual, gagasan, tindakan, dan karya sebagai hasil belajar.
2) Perubahan budaya mencakup proses pengembangan norma, nilai, keyakinan, dan tradisi sekolah yang dipahami dan dipatuhi warga sekolah yang dikembangkan melalui komunikasi dan interaksi sehingga mengukuhkan partisipasi.
3) Untuk dapat mengubah budaya sekolah memerlukan pemimpin inspiratif dan inovatif dalam mengembangkan perubahan perilaku melalui proses belajar
4) Efektivitas perubahan budaya sekolah dapat terwujud dengan mengembangkan sekolah sebagai organisasi pembelajar melalui peran kepala sekolah menjadi teladan.
5) Mengembangkan budaya sekolah memerlukan ketekunan, keharmonisan, dan perjuangan tiada henti karena budaya di sekitar sekolah selalu berubah ke arah yang tidak selalu sesuai dengan harapan sekolah.

Jadi, ketika kita mendapati ada seseorang lulusan SD, SMP, atau SMA, yang mempunyai integrasi yang tinggi dan dapat dipertanggungjawabkan, yakinlah bahwa hal tersebut bukanlah sebuah proses yang berdiri sendiri, melainkan ada mekanisme yang sangat syamil dari sudut rumah, ruang kelas, dan lingkungan sekitar. Nah, sudahkah sekolah kita berbudaya?

*) Ditulis oleh Anwar Mulyana, M.Pd. Kepala SDN 2 Nagri Kidul Purwakarta



SekolahDasar.Net | 21 Agustus 2015
Ketik email Anda untuk:

KOMENTAR ANDA