Guru Harus Berani Kreatif Hindari Mengajar Secara Monoton
Cari Berita

Atas


Guru Harus Berani Kreatif Hindari Mengajar Secara Monoton

Jumat, 26 Juni 2020

Guru Harus Berani Kreatif Hindari Mengajar Secara Monoton
Saat ini, guru harus berani kreatif hindari mengajar secara monoton. Kenapa? Supaya proses belajar-mengajar makin berkembang dan berkualitas

Ada yang bilang bahwa kata guru berasal dari bahasa Jawa yakni digugu lan ditiru yang berarti, sosok yang bisa memberi panutan atau teladan. Namun sebagai panutan dan teladan itu justru membuat seorang guru terjebak dalam zona nyaman dan enggan melakukan inovasi dalam mengajar. Padahal seorang guru haruslah kreatif dalam mendidik murid.

Apalagi untuk guru jenjang Sekolah Dasar (SD) yang mengajar anak usia rata-rata 7-12 tahun, tentu paham jika mereka mudah bosan. Supaya itu tidak terjadi, guru haruslah bisa selalu menggali kreativitasnya dalam menciptakan konsep belajar.

Dewi Sartika selaku Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat mengungkapkan kepada Pikiran Rakyat, bahwa untuk bisa merancang konsep belajar yang menarik, seorang guru harus terus mengembangkan kemampuan diri. Bahkan menurut Dewi, guru juga harus bisa jadi sahabat bagi anak didiknya.

Guru Bukan Cuma Sebagai Pengajar Saja


Saat ini, murid-murid SD juga sudah sangat paham teknologi, membuat guru tidak boleh alergi dalam penggunaan gawai. Bahkan dalam kondisi kekurangan, guru haruslah bisa terus kreatif dan update. Hal itu pula yang pernah dilakukan oleh Supriyanto, guru SDN 05 Bukit Jaya, Riau dalam meningkatkan literasi murid-muridnya.

Lihat juga: 7 Tips Bagi Guru untuk Membentuk Kemampuan Literasi Siswa

Pria yang mengajar di pedalaman Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau itu mengajak serta lima guru lain untuk membenahi perpustakaan sekolah. Meskipun fasilitas SDN 05 Bukit Jaya sangat terbatas dan akses menuju Ukui begitu minim, Supriyanto tidak menyerah. Supriyanto berhasil membuat para murid membaca seluruh buku dengan berbagai metode pengajarannya yang baru.

Sebagai guru yang berani kreatif agar proses pembelajaran tidak membosankan, Supriyanto mengajak para murid bebas membaca buku fiksi, melakukan narasi tokoh, mementaskan drama berdasarkan buku hingga praktek pelajaran IPA langsung di alam. Hasilnya? Sejak pendirian perpustakaan di tahun 2010 itu, tidak ada lagi murid SDN 05 Bukit Jaya yang lulus dengan nilai empat lagi.

Teknik-Teknik Kreatif yang Bisa Diterapkan Guru


Menurut James Gallagher seperti dikutip dari tulisan Rombot, S.Sos., S.Pd., M.Pd., kreativitas adalah sebuah proses mental. Seseorang yang berhasil menciptakan ide dan produk baru dari hal yang sudah ada, adalah bukti kreativitas itu sendiri. Nah untuk mempermudahnya, berikut adalah beberapa teknik mengajar kreatif yang bisa diterapkan kepada murid-murid SD:

Pakai Contoh Kasus


Agar murid tidak bosan, guru harus kreatif di kelas dengan tidak sepenuhnya berkutat dengan buku pelajaran. Buku memang penting, tapi agar teori itu tersampaikan, gunakan contoh kasus sehari-hari. Misalkan saja saat hendak mengajarkan tenggang rasa orangtua dan anak, mungkin bisa mengambil contoh dari keluarga selebritis yang harmonis.

Manfaatkan Media Sosial


Seperti yang sudah disebutkan tadi, anak-anak SD saat ini sudah menggunakan media sosial. Manfaatkan hal itu dalam proses pembelajaran misalkan materi bahasa Inggris. Guru bisa meminta murid menuliskan salah satu postingan selebritis yang mereka follow dalam bahasa Inggris, lalu mencoba mempelajari tenses dan mengartikannya ke bahasa Indonesia.

Diskusi dan Permainan


Terakhir, jangan lupa untuk selalu mengajak murid berdiskusi dan ciptakan permainan seru di kelas, demi mencairkan suasana. Tindakan ini sesuai dengan peran guru sebagai fasilitator, di mana murid sebagai pusat pembelajaran harus mulai bisa menerapkan self-learning lewat diskusi. Semakin sering diskusi, murid akan bisa melengkapi informasi satu sama lain lebih efektif.

Tentunya masih banyak lagi hal-hal kreatif yang bisa dilakukan guru supaya suasana kelas tidak monoton. Karena memang pada dasarnya, kualitas anak didik sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam memberikan pembelajaran. Jadi, apakah Anda sudah cukup kreatif untuk para siswa?