Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Pelaksanaan Metode Pemberian Tugas untuk Meningkatkan Rasa Tanggungjawab Siswa

*) Oleh Kevin Uci Nursanty

Metode pemberian tugas adalah suatu metode mengajar yang diterapkan dalam proses belajar-mengajar. Biasanya guru memberikan tugas itu sebagai 5 pekerjaan rumah. Akan tetapi sebenarnya ada perbedaan antara pekerjaan rumah dan pemberian tugas seperti halnya yang dikemukakan: Menurut Roestiyah (1996:132) dalam literatur yang dijelaskan bahwa pemberian tugas dapat diartikan pekerjaan rumah, tetapi sebenarnya ada perbedaan antara pemberian tugas dan pekerjaan rumah.

Untuk pekerjaan rumah, guru menyuruh siswa membaca buku kemudian memberi pertanyaan-pertanyaan di kelas, tetapi dalam pemberian tugas guru menyuruh siswa membaca dan menambahkan tugas, bahwa ”teknik pemberian tugas memiliki tujuan agar siswa menghasilkan hasil belajar yang lebih mantap, karena siswa melaksanakan latihan-latihan selama melakukan tugas, sehingga pengalaman siswa dalam mempelajari sesuatu menjadi lebih terintegrasi”.

Pemberian tugas terbagi menjadi 3 fase yaitu:
a. Pendidik memberi tugas
b. Siswa didik melaksanakan tugas
c. Mempertanggung jawabkan kepada pendidik tentang tugas yang dikerjakannya.

Selain itu, fase pemberian tugas setidaknya memenuhi prosedur sebagai berikut:

1) Tugas yang jelas agar hasil belajar siswa memuaskan, maka guru merumuskan tujuan yang hendak dicapai oleh siswa.

2) Petunjuk-petunjuk yang jelas mengenai penggunaan metode tugas, perlu dipertimbangkan bentuk tugas yang diberikan, tujuan yang hendak dicapai dan cara siswa menyelesaikan tugas tersebut.

Guru dalam memberikan tugas hendaknya menunjukkan aspek-aspek yang jelas dengan maksud agar perhatian siswa didik waktu belajar akan lebih dipusatkan pada aspek-aspek yang dipentingkan. Terdapat tiga alasan pentingnya penggunaan metode tugas dalam proses pembelajaran yaitu apabila guru mengharapkan agar semua pengetahuan yang telah diterima siswa lebih mantap.

Untuk mengaktifkan siswa mempelajari sendiri masalah dengan mambaca sendiri, mengerjakan soal-soal sendiri, dan lain-lain. Agar siswa lebih rajin belajar. Oleh karena itu, dalam penggunaan metode penugasan dibutuhkan kerja sama yang baik antara guru dan anak. Ketika siswa mengerjakan tugas tidak lepas dari pengawasan/bimbingan guru.

Langkah-langkah yang harus diikuti dalam penggunaan metode tugas ada 3, yaitu:

1). Fase pemberian tugas. Tujuan yang akan dicapai harus jelas. Jenis tugas yang tepat sehingga siswa mengerti apa yang ditugaskan tersebut sesuai dengan kemampuan anak. Ada petunjuk/sumber yang dapat membantu pekerjaan anak.Menyediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas tersebut.

2). Langkah pelaksanaan tugas. Diberikan bimbingan/pengawasan oleh guru. Diberikan dorongan sehingga siswa mau bekerja.Diusahakan/dikerjakan oleh siswa sendiri, tidak menyuruh orang lain.

3). Dan Fase mempertanggung jawabkan tugas. Siswa setelah mengerjakan tugas misalnya mencocok, siswa harus merapikan tempat belajar, dan alat-alat belajar didalam kelas.

Pelaksanaan Metode Pemberian Tugas untuk Meningkatkan Rasa Tanggungjawab Siswa

Menurut pengamatan penulis di dalam pelaksanaan pembelajaran, penggunaan model pembelajaran yang bervariatif masih sangat rendah dan guru cenderung menggunakan model konvensional (ceramah) pada setiap pembelajaran yang dilakukannya. Hal ini mungkin disebabkan kurangnya penguasaan guru terhadap model-model pembelajaran yang ada.

Situasi lain terlihat dalam kelas saat proses belajar mengajar yaitu sebagian murid yang memiliki kesulitan dalam belajar tidak mau terbuka dan tidak berani mengungkapkan kesulitan pada guru karena takut dianggap bodoh. Sehingga siswa kurang aktif dalam mengikuti kegiatan belajar. Yang ditandai ini siswa tersebut tidak membawa buku paket, tidak mengumpulkan Pekerjaan Rumah (PR) dan tidak menjawab pertanyaan test awal dengan benar.

Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini mengikuti tahap tindakan yang bersiklus. Model penelitian ini mengacu pada modifikasi spiral. Tiap siklus dilakukan beberapa tahap, yaitu 1) Perencanaan tindakan, 2) Pelaksanaan tindakan, 3) Observasi, dan 4) Refleksi. Jenis data dalam penelitian ini yaitu data kuantitatif dan data kualitatif.

Sedangkan data yang akan diperoleh akan dikumpulkan dengan pemberian tes awal dan tes pada setiap akhir tindakan. Observasi yang dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar observasi. Tujuannya untuk mengamati aktivitas guru (peneliti) dan siswa, yang melakukan observasi atau observer adalah teman sejawat.

Sedangkan catatan lapangan bersifat lebih umum, yang menyangkut tempat penelitian, baik dari jumlah siswa, guru, sarana dan prasarana yang tersedia pada lokasi penelitian dan hal-hal lain yang terjadi dalam proses pelaksanaan tindakan. Data kuantitatif diperoleh dari tes awal dan tes akhir data tersebut kemudian diolah dan dinyatakan dalam bentuk persentase.

Siswa dikatakan tuntas belajar secara indvidu jika persentase daya serap individu > 65%. Suatu kelas dinyatakan tuntas belajar secara klasikal jika > 80% siswa yang telah tuntas. Data kualitatif yang dikumpulkan kemudian diolah, dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber yaitu dari hasil observasi catatan lapangan dan pemberian tes.

Observasi dilaksanakan terhadap pemberi tindakan dan juga siswa yang menerima tindakan. Adapun yang melakukan observasi terhadap peneliti adalah teman sejawat. Pengamatan tersebut dilakukan dengan menggunakan format observasi yang telah disiapkan pada tahap perencanaan. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh peneliti pada saat pembelajaran berlangsung adalah:

(1) menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa,

(2) mengajukan pertanyaan untuk mengetahui pengetahuan prasyarat siswa dengan materi yang akan dipelajari,

(3) manjelaskan materi,

(4) membagi kelas menjadi tiga kelompok untuk mengadakan diskusi dengan tema yang telah ditentukan oleh guru. Kegiatan dilanjutkan dengan mengadakan presentasi hasil diskusi kelompok,

(5) mengajak 9 siswa menyimak materi (guru menerapkan metode pemberian tugas individu),

(6) memberikan tugas kepada siswa secara individu,

(7) memberikan bimbingan/pengawasan serta dorongan sehingga anak mau bekerja tugas dengan baik tanpa menyuruh orang lain.

(8) memberi penilaian hasil pekerjaan siswa,

(9) memberikan tugas (PR) kepada siswa untuk melakukan observasi,

(10) membimbing siswa merangkum hasil pembelajaran,

(11) menutup pelajaran dengan memberi salam.

Dari hasil observasi guru atau teman sejawat tentang pembelajaran dapat disimpulkan bahwa kegiatan guru belum berjalan dengan baik karena ternyata masih banyak kegiatan yang dilakukan guru dinilai cukup malahan ada yang masih dinilai kurang. Mengenai observasi terhadap siswa, diamati oleh saya dan teman sejawat yaitu: Uci Nursanty, ketika menerima tindakan berupa metode pemberian tugas individu.

Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh peneliti untuk melihat aktifitas siswa pada saat pembelajaran berlangsung adalah:


  1. memperhatikan penjelasan guru, 
  2. menjawab pertanyaan guru atau bertanya, 
  3. memahami materi yang disajikan guru, 
  4. kesiapan dan kesanggupan siswa dalam belajar, 
  5. kerjasama yang ditunjukkan oleh siswa dalam menyelesaikan permasalahan yang ada serta mampu menyelesaikannya, 
  6. kemampuan mengeluarkan pendapat, 
  7. keberanian menjawab pertanyaan-pertanyaan guru, 
  8. siswa mengerjakan soal latihan dengan cermat, tanpa bantuan orang lain 
  9. siswa mempertanggungjawabkan tugasnya, baik dalam bentuk laporan lisan maupun tertulis 
  10. siswa memberi kesimpulan terhadap materi yang telah diajarkan, 
  11. siswa antusias.


Pembelajaran yang diterapkan pada penelitian ini adalah metode pemberian tugas individu. Pelaksanaan metode pemberian tugas individu terdiri dari 3 fase yakni: fase menerima, fase mengerjakan, dan fase mempertanggungjawabkan tugas yang diberikan oleh guru.

Kegiatan yang dilakukan guru pada kegiatan ini adalah:

(1) menyampaikan tujuan pembelajaran dan mempersiapkan siswa,
(2) menggali pengetahuan prasyarat siswa dan memotivasi siswa.

Melalui penyampaian tujuan pembelajaran diharapkan siswa dapat termotivasi dan terfokus pada tujuan yang harus dicapai.Materi pelajaran yang diterima oleh siswa merupakan materi yang baru bgi mereka.Oleh karena itu, untuk mencapai indikator keberhasilan tindakan maka diperlukan materi prasyarat. Materi prasyarat yang diajukan merupakan materi yang telah dipelajari oleh siswa sebelumnya yang ada kaitannya dengan materi yang akan dipelajari. Dengan membangkitkan pengetahuan prasyarat, siswa akan terbentuk pemahaman awal sistem pemerintahan tingkat pusat.

*) Penulis adalah Mahasiswa Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar

Berlangganan via Email