Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Mendikbud Nadiem: Risiko Pembelajaran Jarak Jauh Menyeramkan

Mendikbud Nadiem: Risiko Pembelajaran Jarak Jauh Menyeramkan
Mendikbud Nadiem Makarim bicara risiko menyeramkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) via daring.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim menyatakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan sistem daring (online) adalah cara belajar yang tidak ideal. Menurutnya ada risiko besar yang berbahaya bagi anak-anak generasi masa pandemi Corona Virus Desease atau COVID-19.

"Ada risiko krisis pembelajaran dan lost generation, ini risiko yang cukup menyeramkan," kata Nadiem.

Hal itu dikatannya dalam diksusi webinar 'Sistem Pendidikan di Tengah Pandemi COVID-19' yang juga hadir Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. Hadir pula para guru, orang tua murid, hingga siswa sekolah.

Mantan bos gojek itu juga menjelaskan perihal risiko pembelajaran tatap muka dan juga risiko pembelajaran jarak jauh. Soal pembelajaran jarak jauh, risiko terbesarnya adalah anak-anak bakal keteteran belajar. Tidak hanya satu atau dua anak saja yang keteteran belajar, tetapi satu generasi.

"Nggak ada yang pernah membicarakan risiko satu generasi masyarakat Indonesia yang pembelajarannya ketinggalan," kata Nadiem yang SekolahDasar.Net dari detikcom (01/09/20).

Dampak pembelajaran jarak jauh secara daring tidak dirasakan langsung. Dampak dari satu generasi yang terpotong fase belajarnya baru nyata terasa pada tahun-tahun mendatang, saat generasi yang terpotong itu mulai tumbuh dewasa.

Lihat juga: Jika Pembelajaran Jarak Jauh Dipermanenkan Akan Terjadi Bencana Kebodohan

"Apa itu dampaknya? Kita tidak tahu karena baru setelah bertahun-tahun ke depan kita akan tahu. Tapi yang pasti, risiko itu sangat besar, semua badan riset sekarang menyebut itu juga," kata Nadiem.

Risiko belajar secara online itu tak hanya membayangi Indonesia, namun juga semua negara yang dilanda pandemi COVID-19. Nadiem mengatakan dampak itu akan lebih dirasakan di daerah di mana tidak ada fasilitas teknologi, internet, dan lain-lain.

Selama ini, sekolah yang menggelar PJJ mengeluhkan banyak kesulitan. Keluhan bukan hanya dari pihak sekolah saja namun juga dari orang tua murid. PJJ bukan situasi ideal, di mana mencul secara tiba-tiba tanpa ada pengalaman sebelumnya.

"Prioritas kami di Kemdikbud yang terpenting adalah bagaimana mengembalikan ke sekolah tatap muka seaman mungkin. Itu adalah prioritas kita. Prioritasnya bukan untuk memperpanjang PJJ, tapi prioritas yang terpenting adalah bagaimana kita bisa secara aman mengembalikan anak-anak kita ke pembelajaran tatap muka," jelas Nadiem.

Berlangganan via Email