Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Kekerasan Oleh Guru Dapat Memicu Siswa Menjadi Agresif

Kekerasan Oleh Guru Dapat Memicu Siswa Menjadi Agresif
Bukan hanya di rumah, kekerasan oleh guru rupanya dapat memicu siswa menjadi agresif juga. Sehingga guru harus sangat menjaga perilakunya.

Meskipun sekolah adalah tempat yang nyaman bagi anak, faktanya ada banyak sekali kasus kekerasan terjadi dan dilakukan oleh guru. Tidak bisa diremehkan, karena murid korban kekerasan guru bisa jadi agresif dan tentunya berpengaruh buruk ke lingkungan.

Menurut Rita Pranawati selaku Wakil Ketua KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), tindak kekerasan guru dengan perilaku murid yang agresif sangatlah terkait. Karena ternyata salah satu faktor penyebab murid jadi agresif adalah sosok guru yang tidak mampu menguasai kondisi kelas, lantaran rendahnya kompetensi Pedagogik.

Aksi-Aksi Kekerasan yang Sering Dilakukan Guru SD


Bicara soal kasus kekerasan yang dialami anak sekolah di Indonesia, ternyata cukup tinggi. Bahkan di sepanjang tahun 2019, KPAI menerima 153 aduan kasus kekerasan dengan 44% pelakunya adalah guru. Cukup disayangkan karena ternyata hal ini dipicu para guru yang masih menerapkan hukuman fisik, dengan alasan penegakan disiplin murid di sekolah.

Dari total aduan kasus itu, sekitar 39 persen dari terjadi di jenjang SD/MI sederajat. Berikut adalah beberapa contoh aksi kekerasan yang dilakukan guru-guru SD kepada muridnya:

Dicubit Guru, Murid Enggan Sekolah


Kasus ini terjadi pada Juli 2019 dan dialami tiga murid SDN Simomulyo I Surabaya. Seorang guru dilaporkan menjadi korban pencubitan guru hingga bagian tangan memar dan membiru. Aksi pencubitan terjadi karena murid salah mengerjakan tugas. Seperti dilansir Suara, salah satu murid yang jadi korban bahkan tidak berani ke sekolah karena terus dimarahi dan pernah dicubit.

Main Bola, Siswa Dianiaya Guru


Dilansir Kompas, kasus ini dialami R, murid kelas 6 di salah satu SDN di Kelurahan Kebon Manggis, Matraman, Jakarta Timur pada Februari 2020. R mengalami luka lebam pada mata sebelah kanan oleh seorang guru berinisial F. F awalnya meminta para murid untuk berhenti main sepakbola usai tryout, tapi karena tidak didengar, F lepas kontrol dan menganiaya R yang ikut main bola.

Kelas Terlalu Penuh, Guru Lakukan Kekerasan


Dari laporan Jawapos, disebutkan pada Agustus 2019 lalu ada 10 murid SDN 2 Sinabun, Kabupaten Buleleng, Bali menjadi korban kekerasan guru yang juga wali kelas dengan inisial FN. Salah satu korban adalah murid kelas 3 SD bernama Wira yang sampai luka lebam pada bahu, karena dipukul dengan tongkat sapu.

I Nyoman Supatha selaku Ketua Komite SDN 2 Sinabun angkat bicara kalau penyebab FN melakukan aksi kekerasan lantaran kelas terlalu penuh. Di mana untuk kelas 3 SD, ada 49 murid yang membuat kondisi belajar tidak nyaman.

Murid Ditampar Guru Karena Hina Teman


Terjadi pada Oktober 2019, kasus ini dialami MI (12), murid kelas 5 di SDN 87 Plaju, Palembang. MI jadi korban kekerasan fisik dari AI, wali kelas VB hingga mengalami lebam di pipi dan luka bibir bagian dalam. Seperti dilansir Intens, AI dilaporkan tersinggung karena MI mengejek teman sekelasnya sehingga membuat AI kehilangan kontrol dan memukul serta mengancam MI.

Murid Korban Kekerasan Berpotensi Jadi Agresif


Dari penelitian KPAI yang dilansir Harianjogja, sedikitnya ada 15 dampak kekerasan yang dialami anak-anak. Dengan salah satunya adalah membentuk mental anak menjadi buruk, karena korban kekerasan cenderung juga bakal menjadi pelaku.

Lihat juga: Cara Mengajar di Kelas yang Muridnya Luar Biasa Nakal

Hal ini sesuai dengan paparan Sukadji (1988), bahwa penegakan disiplin lewat hukuman fisik, memicu anak tumbuh jadi remaja yang tidak ramah, membenci orang hingga kehilangan spontanitas yang membuat mereka melampiaskan amarahnya dengan perilaku agresif. Untuk itulah supaya siswa tidak bersikap agresif, guru harus menghentikan tindak kekerasan fisik atau verbal dalam pengajaran.

Berlangganan via Email