Orangtua dan Guru Harus Cermat Mengawasi Jajanan Anak di Sekolah
Cari Berita

Atas


Orangtua dan Guru Harus Cermat Mengawasi Jajanan Anak di Sekolah

Minggu, 21 Juni 2020

Orangtua dan Guru Harus Cermat Mengawasi Jajanan Anak di Sekolah
Jajanan anak memang banyak jenisnya, tapi tidak semuanya higienis. Oleh karena itu, orangtua dan guru harus cermas mengawasi jajanan anak di sekolah.

Yang namanya anak kecil seperti misalnya para pelajar Sekolah Dasar (SD), tentu sangat doyan jajan. Sejak datang ke sekolah, waktu istirahat, pulang hingga sudah di rumah, anak-anak kecil memang suka membeli kudapan ringan. Meskipun senang melihat anak gemar makan, tapi orangtua dan guru haruslah cermat mengawasi kebiasaan jajan anak.

Lihat juga: Mengenal dan Cara Mengembangkan Sekolah Ramah Anak

Kenapa begitu? Jawabannya simple yakni tidak semua jajanan yang dijual itu higienis, terutama yang di sekolah. Ada banyak sekali penjual jajanan yang kurang memperhatikan faktor kebersihan alat masak, wadah jajan hingga kandungan nutrisi jajanan. Tentunya anak-anak SD ini tidak akan terlalu memperhatikan hal-hal tersebut, tapi ternyata memiliki dampak buruk ke tubuh.

Waspada, Ini Dampak Buruk Kebiasaan Jajan Anak


Seorang anak memang begitu identik dengan doyan jajan. Mereka bisa memakan snack yang manis dan tampilan unik sangat banyak. Namun kalau dibiarkan, malah bisa berakibat buruk. Bahkan beberapa di antaranya berkaitan dengan penyakit serius yang membuat orangtua dan guru harus mengawasi kebiasaan jajan anak di sekolah. Berikut beberapa dampak buruknya:

1. Gangguan Pencernaan


Inilah dampak buruk pertama yang bisa terjadi kalau anak suka jajan sembarangan. Seperti yang sudah disebutkan, tidak semua penjual jajanan itu higienis. Bisa saja jajanan itu mengandung zat-zat pewarna berbahaya atau dihinggapi lalat dan bakteri. Sehingga kalau disantap oleh anak-anak, akan memicu masalah gangguan pencernaan seperti penyakit diare atau tifus.

2. Anak Jadi Malas dan Boros


Seperti dilansir Educenter, kebiasaan jajan makanan yang kurang sehat rupanya bisa mempengaruhi perilaku anak. Apalagi kudapan yang digoreng dengan minyak sisa dan junkfood, akan lebih tinggi lemak trans yang tidak sehat bagi tubuh. Bukan tak mungkin kalau anak akan jadi malas bergerak, mudah letih dan akhirnya karena tidak aktif, mereka obesitas.

Lantaran lebih suka jajan daripada belajar, anak akan terbiasa hidup boros. Mereka bakal sulit menabung karena uang saku habis untuk membeli jajanan.

3. Picu Flu dan Demam


Dampak terakhir kalau anak suka jajan sembarangan adalah bisa memicu flu dan demam. Kok bisa? Seperti yang sudah disinggung, tidak semua penjual jajan di sekolah itu higienis, sehingga bisa saja ada bakteri, kuman hingga virus yang menempel pada makanan. Tentunya zat asing itu jika masuk ke dalam tubuh anak, akan membuat mereka flu, demam dan jatuh sakit.

Tips Supaya Anak Tidak Jajan Sembarangan


Bukan tanpa alasan kalau orangtua dan guru haruslah mengawasi kebiasaan jajan anak. Karena dalam mengatasi permasalah gizi di Indonesia pada anak usia SD, harus dimulai dengan mengkonsumsi jajanan yang sehat di sekolah. Apalagi menurut Laporan Aksi Nasional PJAS 2014, ada hampir 24% jajanan anak sekolah yang diuji BPOM, sudah terkontaminasi mikrobiologi, seperti dilansir Jawa Pos.

Dari pihak orang tua, mungkin bisa mulai membiasakan sarapan setiap pagi supaya anak tidak doyan jajan, membawa bekal sehat dari rumah hingga membatasi uang saku. Lantas bagaimana yang bisa dilakukan guru di sekolah dalam mengawasi kebiasaan jajan itu? Mungkin bisa mencontoh yang dilakukan SD Negeri 02 Manado.

Maissye Watania sebagai Kepala SDN 02 Manado mengeluarkan kebijakan kantin sehat supaya murid membeli jajanan di dalam sekolah. Selain terjaga kebersihannya, jajanan yang dijual di kantin aman dari zat pemanis, zat pewarna, zat perasa dan zat pengawet buatan. Karena dengan kerjasama antara orangtua dan guru dalam mengawasi jajanan anak, kesehatan mereka sudah pasti bisa terjamin.