Daripada Melakukan Kekerasan, Ini Solusi Agar Siswa Tidak Agresif
Cari Berita

Atas


Daripada Melakukan Kekerasan, Ini Solusi Agar Siswa Tidak Agresif

Rabu, 24 Juni 2020

Guru harus membuka hati dan menjadi role model yang baik akan membuat siswa agresif itu perlahan makin terbuka.

Selayaknya orangtua tapi di lingkup sekolah, guru tentu menjadi panutan. Apalagi untuk guru-guru Sekolah Dasar (SD) yang harus mengajari anak-anak, diperlukan kesabaran baik dalam tutur kata dan perbuatan. Bahkan sekalipun sekolah adalah tempat menuntut ilmu, peluang terjadinya kasus kekerasan masih besar. Apalagi kalau kekerasan dilakukan guru, murid bisa makin agresif.

Memang apa sih yang membuat murid-murid SD itu bisa bertindak agresif? Menurut Rita Pranawati selaku Wakil Ketua KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), ada dua faktor yang memicu anak bersikap agresif bahkan mengarah ke tindak kekerasan. Pertama adalah karena lingkungan keluarga dan rendahnya kompetensi pedagogik yang dimiliki guru, terutama dalam hal penguasaan di kelas.

Apa Itu Kompetensi Pedagogik?


Berasal dari bahasa Yunani kuno, pedagogik merupakan gabungan dari kata anak dan membimbing. Sehingga secara literal, pedagogik bisa diartikan sebagai membimbing anak. Dalam perkembangannya, pedagogik adalah ilmu atau seni menjadi seorang guru karena memang merujuk pada gaya pembelajaran. Agar guru bisa melakukan proses belajar-mengajar dengan tepat, haruslah paham pedagogik.

Berdasarkan UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dalam pasal 10 ayat (1) bahwa pedagogik adalah salah satu kompetensi wajib yang dimiliki guru dan diperoleh lewat pendidikan profesi. Melalui pedagogik, guru bakal lebih memahami murid-muridnya sehingga mempermudah dalam merencanakan sekaligus melaksanakan proses pembelajaran, dan mengembangkan kemampuan siswa.

Anak-anak yang memasuki usia 7 tahun memang akan memunculkan sikap-sikap agresif, karena ini merupakan bagian dari perkembangan mereka. Beberapa sikap agresif yang ditunjukkan seperti berkelahi, mengejek, berteriak, menangis dan merusak. Namun jika perbuatan onar ini dibiarkan, anak justru akan kesulitan berteman dan membuatnya berada di lingkaran setan.

Solusi Menghadapi Murid yang Agresif


Karena guru SD bertanggung jawab pada murid-murid berusia anak-anak, tentu dalam menghadapi murid agresif harus lebih tak biasa. Hal itu pula yang pernah dilakukan Sri Rahayu, Guru MI Al-Falah UM di Ujung Menteng, Jakarta Timur. Dalam menghadapi salah satu muridnya yang ‘istimewa’, Sri melakukan pendekatan berbeda demi menciptakan lingkungan belajar kondusif seperti berikut ini:

1. Mencari Faktor Pemicu


Memahami betul bahwa kekerasan guru terhadap murid bisa membuat siswa makin agresif, tentunya guru tidak boleh memaksakan kehendak baik secara verbal dan non verbal. Alih-alih kekerasan, guru haruslah mencari faktor pemicu murid bisa agresif. Seperti bertanya ke guru-guru lain yang ikut mengajar, orangtua hingga tetangga.

Dengan mencari faktor pemicu sikap agresif pada murid, guru tentu akan jadi lebih fleksibel dan termotivasi membantu. Karena pada dasarnya, guru tidak bisa menghakimi dan meremehkan, tapi mengarahkannya jadi lebih baik.

2. Mendengarkan Keluh Kesah


Anak-anak yang bersikap agresif rupanya juga butuh didengar. Mereka butuh tempat untuk mengeluarkan keluh kesahnya terhadap orangtua, guru dan temannya.

Daripada guru bersikap kasar yang memicu siswa jadi nakal, mendengarkan keluh kesah dan meminta maaf justru akan membuat siswa yang agresif tersentuh. Mereka akan jadi pribadi yang lebih terbuka dan jujur karena ada sosok yang mempercayai dan yang dipercaya.

Lihat juga: 7 Contoh Sikap Guru Teladan yang Wajib Anda Miliki

Melalui pendekatan berbeda dan penuh kesabaran inilah, perlahan pastinya sikap agresif yang dilakukan para murid akan berkurang. Daripada guru melakukan aksi kekerasan yang membuat murid makin agresif, mencoba membuka hati dan menjadi role model yang baik akan membuat siswa agresif itu perlahan makin terbuka. Sehingga kegiatan belajar-mengajar bisa lancar kembali.