Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Banyak Guru Tidak Percaya Diri Membuat Metode Pembelajaran yang Sederhana

Dirjen GTK Kemendikbud Sebut Banyak Guru Tidak Percaya Diri
Guru harus membuat pembelajaran jarak jauh (PJJ) menyenangkan. Salah satunya dengan menyederhanakan kurikulum yang ada.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Iwan Syahril mengatakan, banyak guru yang tidak percaya diri untuk membuat metode pembelajaran yang sederhana selama masa pandemi COVID-19. Menurutnya, guru-guru masih terpaku pada penuntasan kurikulum sehingga memberi siswa dengan banyak tugas.

"Berkali-kali kami sudah sampaikan, di masa pandemi COVID-19 ini tugas guru jangan menuntaskan kurikulum. Guru harus membuat pembelajaran jarak jauh (PJJ) menyenangkan. Salah satunya dengan menyederhanakan kurikulum yang ada," kata Iwan.

Guru dinilai masih terpaku pada kurikulum yang ada padahal harusnya dipilih mana paling utama. Melihat kondisi ini, Kemendikbud sudah menerbitkan kurikulum darurat untuk membantu guru-guru yang masih kebingungan. Terutama bagi guru masih merasa belum yakin untuk melakukan penyederhanaan secara mandiri.

"Kurikulum darurat merupakan opsi karena kami juga melihat ada sekolah atau guru-guru yang melakukan penyesuaian secara mandiri dan itu oke. Dan itu juga tidak masalah. Jadi ada opsi yang bisa dijalankan para guru terutama yang masih belum PD atau masih khawatir itu," kata Iwan yang SekolahDasar.Net kutip dari JPNN (25/08/20).

Iwan melihat para guru enggan menyederhanakan kurikulum secara mandiri karena takut salah. Nanti dianggap ini tidak resmi dan sebagainya. Kurikulum darurat yang diterbitkan Kemendikbud sudah disederhanakan. Menurutnya, kurikulum khusus ini fokus pada kompetensi yang esensial dan kompetensi prasyarat untuk kelanjutan pembelajaran di tingkat selanjutnya.

Jika Dipaksakan, Materi Hanya Sekadar Disampaikan


Pelaksanaan pembelajaran saat ini dipastikan tidak dapat menjangkau semua materi pada kurikulum. Jika dipaksakan, tidak menutup kemungkinan penyampaian materi hanya sekadar disampaikan. Artinya, ketercapaian target kedalaman materi sangat sulit untuk tercapai. Guru hanya mengejar selesainya target kurikulum tanpa memperhatikan kedalaman materi yang diserap siswa.

Masalah lainnya adalah kebiasaan guru yang masih mengandalkan buku paket sebagai acuan mengajar harus mulai disamarkan. Pasalnya, sampai saat ini belum ada buku paket yang berpedoman pada kurikulum khusus. Meskipun Kemendikbud telah menyusun modul literasi dan numerasi, hendaknya guru tetap menyesuaikan pembelajaran yang akan dilakukan.

Modul literasi dan numerasi yang dikembangkan Kemendikbud merupakan salah satu alternatif minimal yang dapat diajukan sebagai acuan pembelajaran saat ini. Guru harus meramu pembelajaran sendiri sesuai dengan kurikulum dan kondisi sekolah masing-masing. Jika guru tidak memungkinkan untuk meramu sendiri, wadah KKG dapat dimanfaatkan sebagai sarana berbagi dan sarana mencari solusi.

Sebelumnya, telah diterbitkan SK Kabalitbang No 018/H/KR/2020 mengenai Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar yang digunakan pada kurikulum khusus menjelaskan penyederhanaan target pencapaian kurikulum yang sudah termuat dalam Permendikbud Nomor 37 tahun 2018.

Lihat juga: Kurikulum Darurat COVID-19 Untuk Jenjang Sekolah Dasar

Penyederhanaan ini mencakup beberapa komponen. Ada materi yang benar-benar dihapus, ada juga materi yang digabungkan dengan materi lain. Penyederhanaan kurikulum SD diantaranya tampak muatan pelajaran Bahasa Indonesia. Materi mengenai gagasan pokok, beberapa kompetensi digabungkan untuk satu target pencapaian.

Contoh materi yang dihapus pada kurikulum darurat tampak pada kompetensi dasar Matematika, diantaranya adalah penaksiran dan hubungan antargaris, sedangkan materi faktor dan kelipatan, dalam kompetensi dasarnya digabungkan dengan materi KPK dan FPB.

Berlangganan via Email