• Guru yang Belum Sertifikasi Dilarang Mengajar
    Guru yang Belum Sertifikasi Dilarang Mengajar
    Guru-guru yang tidak bersertifikasi dan tidak S1 sampai Desember 2015, sesuai ketentuan UU dilarang mengajar.
    Guru yang belum sertifikasi atau belum memiliki sertifikat pendidik profesional yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bakal dilarang mengajar. Batas akhir ketentuan guru harus bersertifikasi dan mengantongi ijazah sarjana (S1) ini tinggal beberapa bulan lagi.

    Kepala Badan Pengembangan SDM Pendidikan dan Kebudayaan dan Peningkatan Mutu Pendidikan Kemendikbud, Syawal Gultom mengatakan sesuai UU Guru dan Dosen, seluruh guru yang belum S1 harus menyelesaikan pendidikannya dengan batas akhir Desember 2015, jika tidak mereka dilarang mengajar, ini agar indeks kompetensi guru jelas.

    "Guru-guru yang tidak bersertifikasi dan tidak S1 sampai Desember 2015, sesuai ketentuan UU dilarang mengajar. Tapi, kami harus hati-hati melaksanakan ini karena bisa menyebabkan terjadinya kekurangan guru," kata Syawal yang SekolahDasar.Net kutip dari JPNN (30/03/2015).

    Baca juga: Sarjana Lulusan FKIP Tidak Otomatis Jadi Guru

    Untuk mendapatkan sertifikat pendidik, guru harus mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG). PPG adalah semacam program pendidikan pra jabatan sebagai sertifikasi profesi jabatan. Program ini dilaksanakan oleh Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) selama 1 tahun. Setelah itu, guru mendapat gelar profesi dan sertifikat pendidik serta pantas menyandang status guru profesional.

  • Jadwal Tes Seleksi CPNS 2015 dan Kuotanya
    Tes seleksi CPNS tahun 2015 rencananya digelar sekitar Agustus sampai September dengan kuota maksimal 100 ribu.
    Pemerintah akan kembali melaksanakan tes seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dari jalur umum atau honorer kategori dua (K2). Tes seleksi CPNS tahun 2015 rencananya dijadwalkan sekitar Agustus sampai September.

    Baca juga: Persiapkan, Tes CPNS Untuk Honorer Dibuka Lagi

    Menurut Deputi SDM Aparatur Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB) Setiawan Wangsaatmaja, moratorium CPNS tetap jalan, tetapi sifatnya terbatas.

    Pemerintah saat ini tengah menghitung jumlah kebutuhan pegawai di seluruh instansi. Jabatan-jabatan yang masih dibuka antara lain tenaga pendidik, kesehatan serta tenaga fungsional tertentu.

    Kuota penerimaan CPNS tahun 2015 disiapkan mengikuti jumlah pensiun. Tahun ini, diperkirakan ada sekitar 75 ribu sampai 100 ribu PNS yang masuk Batas Usia Pensiun (BUP). Namun, jumlah itu akan dipetakan lagi.

    "Jadi bukan berarti 100 ribu PNS yang pensiun lantas kami angkat juga 100 ribu. Kami lihat dulu yang pensiun ini ada di jabatan mana," kata Setiawan yang SekolahDasar.Net kutip dari JPNN (29/03/2015).

    Menurut Setiawan, kuotanya bisa kurang dari jumlah PNS yang pensiun. Jadi, kalau yang pensiun tahun ini sekitar 100 ribu, tidak akan mungkin lebih dari itu kuota CPNS baru. Jabatan yang dimoratoriumkan adalah tenaga administrasi.

  • Basis Data di Kemendikbud Hanya Dapodik
    Dapodik akan menjadi basis data di Kemendikbud, sedangkan Padamu Negeri harus menyesuaikan.
    Dengan banyaknya aplikasi pendataan di sekolah, mulai dikeluhkan guru dan operator sekolah. Selama ini ada dua sistem pendataan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), yaitu Data Pokok Pendidikan (Dapodik) dan Padamu Negeri. Operator sekolah berharap hanya ada satu sistem pendataan pendidikan untuk mempermudah pekerjaaannya.

    “Yang saya lihat, dampaknya itu berada pada sekolah (operator sekolah, red). Kasihan mereka. Mereka menginput data Dapodik dan Padamu, bahkan juga ada beberapa aplikasi dari pemerintah daerah. Jadi, saya berharap sistem pendataan itu mbok ya satu saja,” kata M Yusuf, Staf Subag Perencanaan Dinas Pendidikan Kabupaten Temanggung.

    Baca juga: Operator Sekolah 'Bunuh Diri'

    Dengan banyaknya aplikasi yang harus dikerjakan sekolah, khususnya di tingkat Sekolah Dasar (SD) yang tidak memiliki tenaga khusus adminitrasi, hal ini membuat guru harus merangkap sebagai oparator sekolah. Akibatnya proses pembelajaran di sekolah bisa terganggu yang akhirnya siswa menjadi korban.

    Menanggapai dualisme pendataan tersebut, Direktur Jenderal Pendidikan Dasar, Hamid Muhammad, mengatakan bahwa di tubuh Kemendikbud hanya ada satu sistem pendataan. Dapodik akan menjadi basis data di Kemendikbud, sedangkan Padamu Negeri yang khusus menangani guru itu harus menyesuaikan dengan Dapodik.

    "Jadi nanti itu akan hanya ada satu sistem pendataan. Dan Dapodik inilah yang akan jadi basis data di kementerian, sedangkan Padamu Negeri yang khusus menangani guru itu harus menyesuaikan dengan sistem Dapodik yang ada di Dikdas, Dikmen, dan termasuk yang ada di PDSP,” tegas Hamid.

    Para guru dan operator sekolah diminta tidak khawatir mengenai masalah dua sistem pendataan ini. Menurut Hamid, satu sistem itu nanti akan diputuskan oleh Mendikbud, pihaknya sudah menyampaikan berkali-kali kepada Mendikbud bahwa Dapodik merupakan basis data yang akan dibangun ke depan.

  • Kualitas Pendidikan Tak Naik Bukan Salah Guru
    ”Jika kualitas pendidikan tak kunjung naik, padahal uang sudah keluar banyak, jangan salahkah gurunya".
    Meski pemerintah telah memberikan tunjangan profesi guru itu bukan jaminan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Menurut Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistiyo, tunjangan profesi bentuk penghargaan bagi guru.

    ”Jika kualitas pendidikan tak kunjung naik, padahal uang sudah keluar banyak, jangan salahkah gurunya. Adakah pemerintah membuat program pelatihan guru secara rutin. Bagaimana mau menagih mutu kalau pelatihan guru tidak ada,” kata Sulistiyo.

    Sulistiyo mengatakan, anggaran tunjangan profesi bukanlah pemborosan uang negara. Anggaran tunjangan profesi semakin besar hal yang wajar. Mengingat tunjangan profesi diberikan kepada guru secara bertahap, jumlah meningkat setiap tahun.

    Baca juga: Tunjangan Profesi Tidak Meningkatkan Mutu Guru

    Menurutnya masih banyak guru honorer yang rekrutmen, status kepegawaian, dan kesejahteraannya tidak jelas. Keberadaan mereka juga variatif, ada yang sangat dibutuhkan dan ada yang keberadaannya tidak memperoleh tugas yang jelas.

    Pemerintah diharapkan melakukan langkah penertiban melalui ketentuan yang dapat menjadi dasar rekrutmen, pembinaan, dan pengaturan kepegawaiannya. Terlebih guru-guru di pendidikan dasar yang merupakan bagian integral wajib belajar.

  • Pembelajaran Holistik yang Menyenangkan
    Pembelajaran Holistik Yang Menyenangkan
    Tujuan pembelajaran pendidikan holistik justru membentuk manusia secara utuh (holistic) yang berkarakter.
    Seringkali kita melihat bahwa sistem pendidikan di Indonesia sebetulnya hanya menyiapkan para siswa untuk masuk ke jenjang perguruan tinggi atau hanya untuk mereka yang memang mempunyai bakat pada potensi akademik saja. Hal ini terlihat dari bobot mata pelajaran yang diarahkan kepada pengembangan dimensi akademik siswa melalui kemampuan logika-matematika dan abstraksi (kemampuan bahasa, menghafal, abstraksi atau ukuran IQ).

    Padahal ada banyak potensi lainnya yang perlu dikembangkan, karena berdasarkan teori Howard Gardner, tentang kecerdasan majemuk, potensi akademik hanyalah sebagian saja dari potensi-potensi lainnya. Teori ini juga memberikan pandangan baru dalam dunia pendidikan secara global. Siswa dipandang berdasarkan kepada potensi yang dimilikinya. Bagaimana suatu sistem pendidikan lebih terfokus kepada potensi yang dimiliki oleh masing-masing individu. Hukum alam selalu menunjukkan bahwa di mana pun manusia di muka bumi ini, yang memiliki IQ di atas angka 120 tidak lebih dari 10 persen jumlah penduduk. Namun sebaliknya, sebagian besar mereka yang kecerdasannya bukan pada dimensi akademik justru menjadi seorang pemimpin, ilmuwan, pemikir, dan ahli strategis, serta dimensi-dimensi lainnya sepeti pekerjaan teknisi, musisi, mesin (motorik), artis, atau hal-hal lain yang sifatnya “lebih konkrit”. Kualitas produksi barang dan jasa pun sangat tergantung pada kualitas segmen penduduk yang mayoritas ini. (Doni Koesoema A., 2010).

    Tantangannya adalah apakah penduduk mayoritas pelajar di Indonesia ini sudah dipersiapkan untuk dapat bekerja secara profesional sehingga dapat menghasilkan generasi yang berkualitas?

    Sejak 2500 tahun lalu Socrates telah berkata bahwa tujuan yang paling mendasar dari pendidikan adalah utuk membuat seseorang yang “good” dan “smart” . Manusia yang terdidik seharusnya menjadi orang bijak, yaitu yang dapat menggunakan ilmunya untuk hal-hal yang baik ( beramal sholeh), dan dapat hidup secara bijak (thoughtful and decent human being).

    Karenanya sebuah sistem pendidikan yang berhasil adalah yang dapat membentuk mansia-manusia terampil dan berkarakter yang sangat diperlukan dalam mewujudkan sebuah Negara kebangsaan yang terhormat.

    Melalui konsep pembelajaran holistik proses pembelajaran berusaha memasukkan semua unsur-unsur nilai yang dibutuhkan oleh siswa dalam menghadapi zaman yang semakin berkembang. Karena dengan kurikulum yang disusun secara holistik dan sistematik, diharapkan mampu membangun dan mengembangkan potensi dan karakter siswa. Selain siswa diajak untuk senantiasa care dan peduli terhadap lingkungan, namun juga untuk mengembangkan ketrampilan dalam bersosialisasi karena melibatkan siswa dalam kegiatan nyata. Berbeda dengan pola pendekatan traditional, pembelajaran lebih menekankan kepada pengetahuan saja, dirancang secara terpisah-pisah dan bersifat abstraksi.

    Pembelajaran adalah pusat kegiatan belajar mengajar, yang terdiri dari guru dan siswa, yang bermuara pada pematangan intelektual, kedewasaan emosional, ketinggian spiritual, kecakapan hidup, dan keagungan moral. (Asmani, 2011). Sebagian besar waktu anak dihabiskan dalam rutinitas pembelajaran setiap hari. Jangan sampai waktu yang telah digunakan habis sia-sia tanpa bermakna.

    Namun dalam pembelajaran yang holistik mendorong seorang individu dalam menemukan identitas diri, makna dan tujuan hidup melalui hubungannya dengan masyarakat, lingkungan alam, dan nilai-nilai spiritual. Secara historis, pembelajaran secara holistik sebetulnya bukan hal yang baru. Para penganut pola pendekatan ini terus berkembang. Pola pembelajaran ini sangat berbeda jauh dengan pola pendekatan yang banyak digunakan saat ini. Namun pembelajaran holistik telah banyak digunakan oleh negara-negara maju. Mengapa pendidikan di Indonesia masih belum banyak menggunakan pola ini? Padahal pembelajaran holistik membantu mengembangkan potensi individu dalam suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan menggembirakan, demoktaris dan humanis melalui pengalaman dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Sedangkan pembelajaran traditional, lebih senang melihat siswa duduk tenang dan rapi, selalu mendapat ceramah dari gurunya, murid harus mendengar, menulis tanpa melakukan kegiatan, yang membuat siswa selalu tertekan dan murung.

    Baca juga: Berilah Anak Kesenangan dalam Belajar

    Bangsa kita sudah terlalu nyaman dengan kondisi yang ada sekarang, sehingga munculnya pemikiran baru dijadikan sesuatu hal yang berat untuk diterima. Padahal, menurut (Basil Bernstein, 2000) melalui pendidikan holistik, peserta didik diharapkan dapat menjadi dirinya sendiri (learning to be). Dalam arti dapat memperoleh kebebasan psikologis, mengambil keputusan yang baik, belajar melalui cara yang sesuai dengan dirinya, memperoleh kecakapan sosial, serta dapat mengembangkan karakter dan emosionalnya.

    Jika merujuk pada pemikiran Abraham Maslow dalam buku Goble, 2004 menyatakan bahwa; pendidikan harus dapat mengantarkan peserta didik untuk memperoleh aktualisasi diri (self-actualization) yang ditandai dengan adanya: (1) kesadaran; (2) kejujuran; (3) kebebasan atau kemandirian; dan (4) kepercayaan. Ini artinya bahwa siswa diberi nilai-nilai keyakinan, keluhuran, kesadaran dan kekuatan berdiri di atas kakinya sendiri dalam melakukan apapun. Namun kenyataannya, siswa dicekoki dengan segudang teori, siswa dibebani dengan segudang tugas-tugas dan PR, tanpa memperhatikan aspek psikologi siswa.

    Pembelajaran holistik memperhatikan kebutuhan dan potensi yang dimiliki peserta didik, baik dalam aspek intelektual, emosional, fisik, artistik, kreatif, dan spritual. Proses pembelajaran menjadi tanggung jawab personal sekaligus juga menjadi tanggung jawab kolektif, oleh karena itu strategi pembelajaran lebih diarahkan pada bagaimana mengajar dan bagaimana orang belajar. Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam mengembangkan strategi pembelajaran holistik, diantaranya: (1) menggunakan pendekatan pembelajaran transformatif; (2) prosedur pembelajaran yang fleksibel; (3) pemecahan masalah melalui lintas disiplin ilmu, (4) pembelajaran yang bermakna, dan (5) pembelajaran melibatkan komunitas di mana individu berada. Guru-guru memiliki segudang ilmu dan metode dalam mengajar, agar suasana di kelas menjadi hidup. Jauh berbeda dengan pola pembelajaran saat ini di Indonesia, guru masih berperan sebagai center oriented, dan siswa menjadi objeknya. Terlebih lagi, guru minim metode dalam mengajar.

    Dalam pola pendekatan holistik ini, peran dan otoritas guru untuk memimpin dan mengontrol kegiatan pembelajaran hanya sedikit dan guru lebih banyak berperan sebagai sahabat, mentor, dan fasilitator. (Asmani, 2011) mengibaratkan peran guru seperti seorang teman yang menemani dalam perjalanan, orang yang telah berpengalaman dan menyenangkan. Sekolah dipandang sebagai tempat yang menyenangkan, tempat yang selalu dirindukan untuk berkumpul dan tempat sarana bagi siswa bergembira. Namun kenyataannya, kebanyakan guru di sekolah sebagai diktator, siswa harus menerima setiap kehendak guru tanpa mempertimbangkan ide dari diri mereka sendiri, yang akhirnya menyebabkan siswa selalu merindukan liburan tiba, siswa tidak betah berada di sekolah lama-lama, karena lingkungan di luar sekolah lebih menyenangkan dan menggembirakan.

    Sekolah hendaknya menjadi tempat peserta didik dan guru bekerja sama guna mencapai tujuan yang saling menguntungkan. Komunikasi yang terbuka dan jujur sangat penting, perbedaan individu dihargai dan kerjasama lebih diutamakan dari pada kompetisi. Tidak ada perbandingan antara siswa yang satu dengan yang lainnya. Kebersamaan adalah kunci mencapai tujuan. Namun kenyataannya, kebanyakan sekolah justru menonjolkan ranking-ranking di kelas, acuannya perbandingan dengan siswa dalam satu kelas. Akibatnya, siswa pintar semakin memiliki ego yang tinggi, dan siswa bodoh semakin terkucilkan.

    Gagasan pembelajaran holistik masih sangat sedikit diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia, mungkin dalam penyelenggaraannya sangat jauh berbeda dengan pendidikan pada umumnya, salah satu contoh adalah homeschooling, yang saat ini telah berkembang, dan sekolah-sekolah swasta dengan kurikulum terpadu yang sudah mulai banyak diminati di Indonesia. Dan kenyataannya sekolah-sekolah pemerintah, lebih senang menggunakan pola pembelajaran traditional, semua berjalan sendiri-sendiri, tanpa satu-kesatuan yang utuh, sehingga hasil yang diperoleh seakan tanpa makna.

    Pembelajaran holistik di sekolah juga melakukan pendekatan secara inquiry dimana anak dilibatkan langsung dalam perencanaan, berekplorasi dan berbagi gagasan. Anak-anak didorong untuk berkolaborasi bersama teman-temannya dan belajar dengan cara mereka sendiri. Anak-anak diperdayakan sebagai si pembelajar dan mampu mengejar kebutuhan belajar mereka melalui tema-tema yang dirancang. Proses pembelajaran saling sambung-menyambung. Sehingga memudahkan siswa mengaitkan suatu peristiwa dengan peristiwa lainnya secara menyeluruh. Dan kenyataannya, sekolah-sekolah pada umumnya lebih suka menggunakan berbagai macam mata pelajaran, tanpa melihat kebutuhan peserta didik, yang akhirnya menjadi beban berat bagi siswa ketika menghadapi ujian akhir.

    Tujuan pembelajaran pendidikan holistik justru membentuk manusia secara utuh (holistic) yang berkarakter, yaitu mengembangkan aspek fisik, emosi, sosial, kreativitas, spiritual dan intelektual siswa secara optimal. Sehingga terbentuk manusia yang lifelong learners (pembelajar sejati). (Donie Koesoema, Pendidikan Karakter, 2007). Sekolah selalu didambakan oleh siswa, karena pandangan siswa, sekolah adalah tempat segala hal yang menarik bisa terjadi. Dengan menerapkan pembelajaran holistik diharapkan seluruh warga sekolah mampu menjadi pemegang peran penting dalam mewujudkan generasi yang siap baik psikis, jiwa maupun mentalnya. Dan harapan ke depannya, semoga pembelajaran holistik mampu diterima di tengah dunia pendidikan di Indonesia, agar sekolah menjadi tempat yang paling didamba dan dirindukan oleh siswa.

    *) Ditulis oleh Delta Nia, S.Pd, M.Pd, Guru Kelas di SDIT Al Ittihad Rumbai

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Trending Content Hari Ini