Zohri - Sang Juara Dunia, Prestasi yang Bisa Memotivasi Cita-Cita Siswa

Zohri - Sang Juara Dunia, Prestasi yang Bisa Memotivasi Cita-Cita Siswa
Dengan adanya gambaran Muhammad Zohri, semoga dijadikan motivasi belajar anak-anak indonesia.
Di tengah sepinya prestasi olah raga dibidang atletik terselip kebanggaan bangsa Indonesia setelah Lalu Muhammad Zohri menyabet medali emas pada kejuaraan dunia atletik U-20 pada nomor lari 100 m di Finlandia. Zohri, pemuda 18 tahun menjadi yang tercepat dengan catatan waktu 10,18 detik di final lari 100 m putra dan menjadi juara dunia.

Namun tidak banyak yang tahu ternyata Muhammad Zohri berasal dari keluarga yang kurang mampu, dari dusun Pangsor, Desa Pamenang, Kabupaten Lombok Utara. Bangunan rumah yang berada didesanya yaitu berupa gubuk bambu yang disalah satu bagian sisinya ada yang dilapisi lembaran dengan koran.

Kita dapat melihat banyak orang yang sukses, baik dibidang pendidikan, karir, bisnis, olah raga dan dibidang lainya. Berkaca dari sepenggal kisah ini, kita sebagai bangsa indonesia harus mempunyai mimpi. Dan bukan tidak mungkin suatu saat mimpi ini menjadi kenyataan. Dengan adanya gambaran Muhammad Zohri, semoga dijadikan motivasi belajar anak-anak indonesia.

“Dalam motivasi terkandung adanya keinginan, harapan, kebutuhan, tujuan, sasaran dan insentif. Keadaan jiwa tersebutlah yang mengaktifkan, mengarahkan, menyalurkan dan mengarahkan sikap dan perilaku individu belajar” ( Koeswara, 1989 )

Baca: Dengan Metode dan Motivasi yang Hebat, Tak Ada Anak Bodoh

Cita cita siswa banyak macamnya, ada siswa yang ingin jadi dokter, insinyur, pilot, polisi, diplomat, bahkan ada yang ingin jadi presiden. Namun dalam mencapai cita-cita tersebut tentu banyak faktor-faktor pendukungnya antara lain :
1. Adanya kemauan yang kuat
2. Pengetahuan dan wawasan yang mumpuni
3. Dukungan dari kedua orang tua
4. Biaya yang tercukupi
5. Dan Doa ( dari berbagai sumber )

Akan tetapi di luar ketentuan itu semua, adanya kemauan yang kuat menjadi motivasi yang terbesar untuk berprestasi. Karena adanya prestasi seseorang , siswa akan berfikir bahwa kalau orang lain bisa maka saya harus bisa. Dengan cara memperbaiki kualitas dirinya, pergaulan hidupnya dan akan berusaha untuk mengetahui apa kemauanya dan apa yang menjadi keahlianya yaitu dengan cara berusaha, berdoa dan belajar yang rajin.

Cita-cita semata-mata bukan hanya menjadi satu tujuan hidup bagi setiap orang, namun cita-cita bisa juga menjadi penyemangat, pemberi inspirasi dan motivasi untuk maju bagi siswa itu sendiri. Dengan demikian tujuan hidupnya dapat terarahkan.

*) Ditulis oleh Asep Sulistina guru SMK N 9 Kota Tangerang

Baca Selengkapnya

Faktor yang Memengaruhi Kualitas Pendidikan Nasional

Faktor yang Memengaruhi Kualitas Pendidikan Nasional
Faktor dan permasalahan ini satu sama lain sangat terkait, saling memengaruhi, dan penangannya butuh keseriusan.
Kualitas pendidikan nasional masih sangat rendah, dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia. Hal ini dikatakan oleh banyak pengamat pendidikan. Rendahnya kualitas tersebut, banyak faktor yang memengaruhinya.

Maswan, dosen Unisnu Jepara menulis di harian Suara Merdeka di antara faktor yang memengaruhi kualitas pendidikan nasional adalah faktor politik yang tidak kondusif, perkembangan ekonomi tidak stabil, konsep manajemen pendidikan belum terbangun secara profesional dan tersistem, sikap mental bangsa yang malas belajar dan sejenisnya.

Menurutnya jika hubungannya dengan faktor-faktor tersebut dikaji dari sudut pandang manajemen pendidikan, akhirnya memunculkan permasalahan pendidikan yang dapat kita identifikasi.

Faktor dan permasalahan ini satu sama lain sangat terkait, saling memengaruhi, dan penangannya butuh keseriusan. Permasalahan pendidikan ini diibaratkan seperti benang kusut, sangat dibutuhkan kecerdasan, keterampilan dan ketekunan dalam mengurainya.

Baca: Kualitas Pendidikan Tak Naik Bukan Salah Guru

Permasalahan pendidikan yang sangat mencuat dan ini yang memengaruhi rendahnya mutu pendidikan nasional, yaitu mutu sumber daya manusia (SDM), sarana prasarana yang sangat kurang, pembiayaan pendidikan yang minim, isi kurikulum yang tidak jelas arahnya, masalah pemerataan pendidikan dan sejenisnya.

Berbagai faktor dan permasalahan pendidikan tersebut yang belum dapat teratasi menyebabkan mutu pendidikan Indonesia menjadi sangat rendah. Ini terlihat dari ranking pendidikan Indonesia berada di level bawah dalam Program for International Studies Assessment (PISA) 2015. Indonesia berada di ranking ke-72, jauh di bawah Vietnam yang menempati rangking ke-8.

Baca Selengkapnya

Sertifikasi Guru Hanya Demi Mendapat Tunjangan

Sertifikasi Guru Hanya Sekadar Tambah Tunjangan
Sekarang sering sertifikasi tidak mencerminkan apa-apa, hanya prosedural untuk mendapatkan tunjangan.
Sertifikasi guru belum berbanding lurus dengan kualitas yang ada. Hal ini dikatakan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengkritik perkembangan pendidikan di Tanah Air. Menurutnya sertifikasi telah berubah menjadi sebatas prosedur untuk mendapat tunjangan guru yang lebih tinggi.

"Sekarang sering sertifikasi tidak mencerminkan apa-apa, hanya prosedural untuk mendapatkan tunjangan. Bukan berarti dia profesional bertanggung jawab berkualitas pada pekerjaannya," kata Sri Mulyani dalam Dialog Publik Pendidikan Nasional Persatuan Guru Republik Indonesia di Gedung Guru Indonesia, Jakarta (10/7/18).

Salah satu contoh sederhana dari profesionalitas dan tanggung jawab guru yaitu memastikan anak didiknya mengikuti pelajaran dengan baik, bukan sekadar hadir dalam kelas namun pikirannya berada di tempat lain. Lebih jauh, ia sempat menyinggung kinerja guru tetap yang kerap tidak terlihat mengajar dibandingkan dengan guru honorer.

Para guru diharapkan bisa bersikap baik sebab sikap guru dapat mewakili sikap pemerintah. Apalagi, sikap guru mulai dari cara mengajar hingga cara memberi nilai dapat ditiru oleh murid yang merupakan aset bangsa. Selain itu, ia meminta para guru betul-betul berkomitmen meningkatkan kualitasnya.

“Kalau saya lihat tunjangan guru, sertifikasi dulu saya senang ada. Tapi sekarang itu tidak mencerminkan apa-apa, cuma untuk dapat tunjangan. Maka kita harus berfikir keras mengenai kualitas guru ini," kata Sri Mulyani.

Sejatinya, guru melakukan sertifikasi untuk membuktikan kemampuan mengajarnya. Adapun pemerintah memberikan imbalan atas kemampuan tersebut dengan memberikan tunjangan profesi. Hal itu sesuai dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Baca: "Masih Ada Guru Sertifikasi yang Malas Mengajar"

Pemerintah telah mengalokasikan dana pendidikan sebesar 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) setiap tahunnya dalam upaya mendukung dunia pendidikan. Sebanyak sepertiga dari anggaran pendidikan dikelola pemerintah pusat, sementara dua pertiganya dikelola oleh pemerintah daerah.

Menurutnya pemanfaatan anggaran tersebut belum optimal. Jika dibandingkan dengan Vietnam yang juga mengalokasikan proporsi sebesar 20% untuk pendidikan, dari hasil tes, Indonesia masih berada di bawah Vietnam. Padahal, Indonesia sudah mengalokasikan sejak 2009 jauh lebih dulu dibandingkan Vietnam.

“Vietnam yang sudah memulai 20 persen dari APBN sejak 2013, tapi, kalau dihitung hasilnya, matematika misalnya, skor Vietnam tinggi di nilai 90, sedangkan kita di 50 sampai 40," kata Sri Mulyani.

Dengan anggaran yang tinggi, tenaga pengajar berpotensi untuk memperebutkan dana tanpa mempertimbangkan target dan tujuan yang sesuai dengan cita-cita anak didik. Menurutnya penggunaan APBN sebagai insentif di bidang pendidikan terus diperbaiki. Ini juga harus ditunjang dengan indeks hasil belajar pendidikan bisa lebih baik.

Baca Selengkapnya

Kalender Pendidikan Tahun Pelajaran 2018/2019

Kalender Pendidikan Tahun Pelajaran 2018/2019
Download Kalender Pendidikan (Kaldik) tahun pelajaran 2018/2019 resmi dari Dinas Pendidikan.
Untuk menyamakan persepsi terhadap waktu dalam penyelenggaraan pendidikan selama satu tahun, maka perlu adanya Kalender Pendidikan (kaldik). Dalam rangka memberikan pedoman kepada satuan Pendidikan baik negeri maupun swasta dalam mengatur waktu untuk kegiatan pembelajaran serta untuk mewujudkan efektivitas proses pembelajaran seluruh satuan pendidikan, maka setiap Provinsi menetapkan pedoman Kalender Pendidikan Tahun Pelajaran 2018/2019.

Kalender pendidikan merupakan rambu-rambu kegiatan yang harus disusun oleh satuan pendidikan dalam kurun waktu satu tahun. Pada Kalender Pendidikan Tahun Pelajaran 2018/2019 yang dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan memuat permulaan dan akhir tahun pelajaran, hari pertama kegiatan pembelajaran. Selain itu diatur pula beban belajar, kegiatan tengah semester, penilaian hasil belajar, libur sekolah, hari libur pada bulan ramadhan.

Bagi satuan pendidikan satuan pendidikan yang masih menggunakan Kurikulum 2006, jumlah minggu efektif pertahun sebanyak 34-38 minggu. Masing-masing semester jumlah minggu efektifnya berkisar antara 17 – 19 minggu. Sedangkan bagi satuan pendidikan satuan pendidikan yang seudah menggunakan Kurikulum 2013, jumlah minggu efektif minimal 36 minggu. Dengan rincian semester ganjil paling sedikit 18 minggu, dan semester genap paling sedikit 14 minggu.

Dalam penyelenggaraan pembelajaran, satuan pendidikan dapat menentukan jumlah hari belajar sebanyak lima atau enam hari perminggu. Jumlah hari belajar efektif fakultatif dalam satu tahun pelajaran sebanyak 3 hari. Dalam Kalender Pendidikan Tahun Pelajaran 2018/2019 ini juga dijelaskan apa yang harus dilakukan oleh kepala sekolah dan guru pada awal tahun dan guru pada awal semester.

Kalender Pendidikan resmi Tahun Pelajaran 2018/2019 dapat didownload melalui tautan berikut ini:


Satuan pendidikan diberi kewenangan untuk menentukan jadwal pelaksanaan kegiatan sesuai dengan karakteristik daerah masing-masing. Hal-hal yang harus diperhatikan pada awal tahun pelajaran adalah Penerimaan Peserta Didik Baru, pengaturan kelas dan penyusunan jadwal pelajaran. Kepala Sekolah berkewajiban membuat program Program Kerja Sekolah dan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS). Sedangkan kewajiban guru membuat Program Tahunan dan Semester dan Program Kegiatan Pembelajaran.

Baca Selengkapnya

Identifikasi Kemampuan Awal dan Kesulitan Belajar

Identifikasi Kemampuan Awal dan Kesulitan Belajar
Identifikasi Kemampuan Awal dan Kesulitan Belajar
Keragaman karakteristik perilaku dan pribadi peserta didik dipengaruhi banyak faktor. Guru perlu termotivasi dan bekerja keras menentukan keadaan karakteristik perilaku dan pribadi peserta didik dengan cermat sebelum memulai pembelajaran. Tidak semua peserta didik berhasil mencapai tujuan-tujuan belajar sesuai dengan taraf kualifikasi yang diharapkan. Indikasi kegagalan mencapai tujuan belajar perlu diidentifikasi secara jujur dan cermat untuk mendapatkan solusi kreatif dan tepat.

1. Identifikasi Kemampuan Awal


Untuk mengetahui apakah perubahan perilaku atau tingkat prestasi belajar yang dicapai itu adalah hasil pembelajaran yang bersangkutan, maka kita perlu menentukan keadaan karakteristik perilaku dan pribadi siswa pada saat mereka akan memasuki dan memulai pembelajaran. Keberhasilan pembelajaran antara lain dipengaruhi oleh karakteristik peserta didik baik sebagai individu maupun sebagai kelompok. Meskipun guru menghadapi kelompok kelas yang terdiri dari peserta didik yang memiliki umur yang relatif sama, namun mereka tidak dapat diberi perlakukan yang sama. Oleh karena itu pada awal pembelajaran guru harus meneliti dahulu kemampuan awal peserta didik, karena menjadi dasar bagaimana pembelajaran sebaiknya direncanakan dan apakah indikator pembelajaran yang semula dirumuskan harus mengalami perubahan. Apalagi bila perilaku awal berkaitan dengan kemampuan prasyarat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Makmun (2002:224) dengan mengetahui gambaran tentang entering behavior peserta didik, maka akan memberikan banyak bantuan kepada guru, diantaranya sebagai berikut ini :

a. Untuk mengetahui seberapa jauh adanya kesamaan individual antara peserta didik dalam taraf kesiapannya, kematangan, serta tingkat penguasaan dari pengetahuan dan ketarampilan dasar sebagai landasan bagi penyajian bahan baru.
b. Dapat mempertimbangkan dalam memilih bahan, prosedur, metode, teknik dan alat bantu belajar-mengajar yang sesuai.
c. Membandingkan nilai pre-tes dengan post-tes sehingga diperoleh indikator atau petunjuk seberapa banyak perubahan perilaku itu telah terjadi pada peserta didik, sebagai hasil pengaruh dari pembelajaran.

Hal penting bagi guru sebelum merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, seyogyanya dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini. Dengan memperhatikan tingkatan kelas, jenis bidang studi, usia, dan waktu yang tersedia dan terencana.

a. Sejauh manakah batas-batas (jenis dan ruang lingkup materi pengetahuan yang telah diketahui dan dikuasai peserta didik yang akan kita ajar?
b. Tingkat dan tahap serta jenis kemampuan (kognitif, afektif, psikomotor) manakah yang telah dicapai dan dikuasai peserta didik yang akan kita ajar?
c. Apakah siswa sudah cukup siap dan matang (secara intelektual dan emosional) untuk menerima bahan dan pola-pola perilaku yang akan kita ajarkan itu?

2. Identifikasi Kemampuan Awal Peserta Didik

a. Identifikasi Jenis dan Ruang Lingkup Pengetahuan yang Telah Diketahui dan Dikuasai Peserta Didik
1) Pada saat memulai pembelajaran berikan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi yang telah diberikan terdahulu (apersepsi).
2) Memberikan pre-tes dengan menggunakan instrumen pengukuran prestasi belajar yang memadai syarat (validitas, realibilitas dan sebagainya) sebelum pembelajaran.
b. Identifikasi Tingkat dan Tahap serta Jenis Kemampuan (Kognitif, Afektif, Psikomotor) yang telah dicapai oleh peserta didik.

3. Implementasi dalam Pembelajaran

Hal -hal yang harus dilakukan guru dalam memahami kemampuan awal atau perilaku awal peserta didik antara lain sebagai berikut ini.
a. Pada awal setiap pembelajaran, guru harus mengindentifikasi dulu perilaku awal atau kemampuan awal peserta didik, baik aspek pengetahuan yang telah dikuasainya, aspek kognitif, afektif dan psikomotor.
b. Tidak setiap aspek kemampuan peserta didik pada awal pembelajaran sama pentingnya.
c. Bila menyangkut kemampuan yang menjadi prasyarat untuk mencapai tujuan pembelajaran, maka guru harus memberikan beberapa pertanyaan secara lisan kepada kelas atau memberikan tes awal berupa tes tulis singkat.
d. Perbedaan karakteristik dalam kemampuan awal antara kelas yang satu dengan kelas lainnya, antara peserta didik yang satu dengan peserta didik lainnya dalam satu kelas, harus menjadi dasar pertimbangan perencanaan dan pengelolaan pembelajaran.
e. Saat akan melaksanakan pembelajaran kenali minat, motivasi belajar, dan sikap belajar peserta didik sehingga guru dapat menggunakan metode dan media pembelajaran yang menarik serta bagaimana cara guru meningkatkan minat, sikap dan motivasi belajar pada mata pelajaran yang bapak/ibu ampu.
f. Pemahaman perilaku awal mengenai aspek kesehatan fisik dan sensori-motorik, menjadi pertimbangan dalam memberikan materi atau tugas yang melibatkan kegiatan fisik dan psikomotor.

4. Kesulitan Belajar

Apabila peserta didik menunjukkan kegagalan tertentu dalam mencapai tujuan-tujuan belajarnya, maka peserta didik dikatakan mengalami kesulitan belajar.
a. Ciri Peserta Didik Gagal Mencapai Tujuan Belajar Menurut Burton (Makmun, 2002: 307) peserta didik dikatakan gagal jika memiliki ciri-ciri sebagai berikut ini.
1) Dalam batas waktu yang ditentukan peserta didik tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau penguasaan minimal yang telah ditetapkan oleh guru.
2) Tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi yang seharusnya sesuai dengan tingkat intelegensinya. Kasus peserta didik ini disebut underachievers (prestasinya tidak sesuai dengan kemampuan intelektualnya)
3) Tidak mewujudkan tugas-tugas perkembangan, termasuk penyesuaian sosial sesuai dengan pola organisme pada fase perkembangan tertentu. Kasus ini tersebut dikatakan ke dalam slow learners (peserta didik yang lambat belajar).
4) Tidak berhasil mencapai tingkat penguasaan yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan pada tingkat pelajaran berikutnya. Kasus peserta didik ini dapat dikategorikan ke dalam slow learners atau belum matang sehingga mungkin harus menjadi pengulang.

b. Diagnostik Kesulitan Belajar
1) Diagnosis merupakan istilah teknis yang diadopsi dari dunia medis. Disimpulkan dari pendapat Thorndike dan Hagen, Makmun (2009:307) menyatakan bahwa diagnosis adalah suatu proses menemukan kelemahan yang dialami seseorang melalui suatu pengujian dan studi yang seksama terhadap gejala-gejalanya sebagai upaya menemukan karakteristik atau kelemahan-kelemahan yang esensial untuk membuat suatu keputusan.
2) Pengertian Kesulitan Belajar Suatu proses yang berusaha untuk memahami jenis dan karakteristik kesulitan belajar serta latar belakang kesulitan-kesulitan belajar dengan cara mengumpulkan dan menggunakan data selengkap dan seobjektif mungkin sehingga dapat mengambil kesimpulan dan keputusan serta mencari alternatif pemecahan masalah.
3) Prosedur dan Teknik Diagnostik Kesulitan Belajar Langkah diagnostik kesulitan belajar menurut Ross dan Stanley (Makmun, 2004: 309) itu sebagai berikut ini:

a) Siapa yang mengalami gangguan ?
b) Di manakah kelemahan itu terjadi ?
c) Mengapa kelemahan itu terjadi ?
d) Penyembuhan apakah yang disarankan ?
e) Bagaimana kelemahan itu dapat dicegah ?

c. Faktor Penyebab Kesulitan Belajar Untuk memahami karakteristik dan faktor-faktor penyebab kesulitan belajar secara seksama, Burton (Makmun, 2002:310) melakukan diagnostik kesulitan belajar berdasarkan pada teknik dan instrumen yang pelaksanaannya yaitu sebagai berikut ini.
1) Diagnosis Umum Pada tahap ini biasa digunakan tes baku, seperti yang digunakan untuk evaluasi dan pengukuran psikologis dan hasil belajar. Tujuannya untuk menemukan siapakah yang diduga mengalami kelemahan tertentu.
2) Diagnosis Analitik Pada tahap ini biasanya digunakan tes diagnosis. Tujuannya untuk mengetahui di mana letak kelemahan tersebut.
3) Diagnosis Psikologi Pada tahap ini teknik, pendekatan, dan instrumen yang digunakan antara lain sebagai berikut
a) Observasi,
b) Analisis karya tulis,
c) Analisi proses dan respon lisan,
d) Analisis berbagai catatan objektif,
e) Analisi berbagai catatan objektif,
f) Wawancara,
g) pendekatan laboratories dan klinis, h) Studi kasus.
d. Prosedur dan Teknik Diagnostik Kesulitan Belajar

Berikut adalah rincian langkah-langkah diagnostik kesulitan belajar.
1) Identifikasi Kasus
Identifikasi kasus bertujuan untuk menandai dan menemukan peserta didik yang mengalami kesulitan belajar.
a) Untuk mengetahui peserta didik yang diduga mengalami kesulitan belajar dilakukan dengan membandingkan nilai peserta didik dengan kriteria yang telah ditetapkan sebagai batas lulus (KKM, rata-rata kelas). Peserta didik yang prestasi belajarnya di bawah KKM diduga memiliki kesulitan belajar. Mereka yang berada di bawah KKM diranking, untuk menentukan prioritas pemberian bantuan. Semakin jauh perbedaan antara nilai peserta didik dengan KKM maka kesulitan belajarnya semakin besar. Apabila mayoritas dari peserta didik nilainya berada di bawah KKM, maka termasuk kasus kelompok. Bila hanya sebagian kecil saja peserta didik yang nilainya di bawah KKM, maka termasuk kasus individual.
b) Untuk mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar selain dari nilai prestasi belajar dapat pula dilakukan dengan memperhatikan atau menganalisis catatan observasi atau laporan proses kegiatan belajar.
(1) Penggunaan catatan belajar siswa untuk mengetahui cepat atau lambatnya dalam menyelesaikan tugas atau pekerjaannya.
(2) Penggunaan catatan daftar hadir.
(3) Penggunaan catatan atau bagan partisipasi untuk mengetahui aktivitas dan partisipasi peserta didik dalam kelas. Peserta didik yang pasif diduga mengalami kesulitan belajar. Penggunaan catatan dan bagan partisipasi sangat berharga pada pelajaran yang mengutamakan komunikasi dan interaksi sosial dalam memberikan pendapat, menyanggah, dan menjawab dengan argumentasi tertentu.
(4) Penggunaan catatan sosiometri dilakukan pada bidang studi tertentu yang menuntut siswa bekerja sama dalam kelompok adalah untuk mengetahui anak yang terisolir.

2) Identifikasi Masalah
Berikut adalah beberapa pertanyaan yang dapat mengarahkan kita untuk mengetahui letak kesulitan belajar siswa.
a) dalam mata pelajaran mana kesulitan belajar itu terjadi?
b) pada kawasan tujuan belajar (aspek perilaku) yang manakah kesulitan belajar itu terjadi?
c) pada bagian (ruang lingkup) materi manakah kesulitan belajar itu terjadi?
d) pada segi-segi proses belajar yang manakah kesulitan belajar itu terjadi?
Berikut ini adalah cara melakukan identifikasi masalah (melokalisasi letak kesulitan belajar).
a) Mengidentifikasi kesulitan belajar pada bidang studi tertentu untuk mengetahui pada bidang studi manakah siswa mengalami kesulitan belajar.
b) Mengidentifikasi pada kawasan tujuan belajar dan bagian ruang lingkup materi pelajaran manakah kesulitan belajar terjadi.
c) Analisis Catatan Proses Pembelajaran
Untuk mengetahui kesulitan belajar pada aspek-aspek proses belajar tertentu dilakukan dengan menganalisis empiris terhadap catatan keterlambatan penyelesaian tugas atau soal, absensi, kurang aktif dalam partisipasi, kurang penyesuaian sosial. Hasil analisis tersebut dengan jelas menunjukkan posisi dari kasus-kasus yang bersangkutan.

3) Mengidentifikasi Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
a) Bila kasus kelompok (mayoritas peserta didik memiliki kesulitan belajar) maka faktor penyebab kesulitan belajar berasal luar diri peserta didik. Kemungkinan besar faktor penyebabnya kondisi sekolah (kualifikasi guru, pembelajaran, materi, sistem penilaian, strategi/metode/teknik pembelajaran yang tidak sesuai dengan keragaman peserta didik, dsb.)
b) Bila kasusnya individual, maka faktor penyebabnya kemungkinan berasal dari diri peserta didik. Faktor penyebab itu dapat bersumber pada (a) kemampuan dasar atau potensi yaitu intelegensi dan bakat; (b) bukan yang bersifat potensial, yaitu kurang memiliki keterampilan dan pengetahuan dasar yang diperlukan dari sutu bidang studi, aspek fisik (kesehatan, gangguan pancaindra, kecacatan, dsb.), emosional (kecemasan, phobia, penyesuaian yang salah), kurang minat dan motivasi belajar, sikap dan kebiasaan belajar yang negatif, kurang konsentrasi, kurang mampu menyesuaikan diri, dsb.

4) Membuat Alternatif Bantuan Pengambilan keputusan berdasarkan hasil diagnosis menjadi dasar dalam kegiatan memberikan bantuan kepada peserta didik yang memiliki kesulitan belajar
5) Melakukan Tindak Remedial atau Membuat Referal Bila permasalahan yang bertalian dengan sistem pembeajaran dan masih dalam kesanggupan guru, maka bisa diberikan oleh guru sendiri dengan layanan pembelajaran remedial.

5. Implementasi dalam Pembelajaran

a. Pahami gejala-gejala anak yang memiliki kesulitan belajar.
b. Identifikasi kesulitan belajar serta bantulah peserta didik mengatasi kesulitan belajarnya.
c. Berikan layanan pembelajaran remedial bila permasalahannya bertalian dengan pembelajaran dan masih dalam kesanggupan guru.
d. Membuat rujukan kepada tenaga ahli (konselor pendidikan, dokter, psikolog) bila permasalahannya di luar kemampuan guru.
e. Bantu peserta didik yang mengalami kesulitan belajar untuk mengoptimalkan prestasi belajarnya, meningkatkan kepercayaan diri, minat, dan sikap postif terhadap pelajaran.
f. Bekerja sama dengan rekan sejawat dan orangtua untuk lebih memahami faktor penyebab kesulitan belajar dalam diri peserta didik.
g. Cegahlah terjadinya kesulitan belajar pada peserta didik dengan merancang pembelajaran yang sesuai dengan keragaman peserta didik.

Baca Selengkapnya

Buku Guru dan Buku Siswa Kurikulum 2013 Kelas 3

Download buku guru dan buku siswa tematik kurikulum 2013 kelas 3 SD revisi terbaru.
Download buku guru dan buku siswa tematik kurikulum 2013 kelas 3 SD.
Buku Panduan Guru pada Kurikulum 2013 memiliki dua fungsi, yaitu sebagai petunjuk penggunaan Buku Siswa dan sebagai acuan kegiatan pembelajaran di kelas. Sedangkan Buku Pembelajaran Siswa Buku siswa merupakan buku panduan sekaligus buku aktivitas yang akan memudahkan para siswa terlibat aktif dalam pembelajaran.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan akses kepada masyarakat untuk memperoleh Buku Sekolah Elektronik (BSE) Kurikulum 2013. Buku Kurikulum 2013 untuk kelas 3 jenjang Sekolah Dasar (SD) bisa didownload secara gratis. Buku Kurikulum 2013 kelas 3 SD terdiri dari buku pegangan guru dan buku pelajaran bagi siswa.

Buku Guru Kurikulum 2013 kelas 3 SD untuk memudahkan para guru dalam melaksanakan pembelajaran tematik terpadu. Buku Kurikulum 2013 SD ini mencakup jaringan tema, ruang lingkup pembelajaran, tujuan pembelajaran, media dan alat pembelajaran, langkah-langkah kegiatan pembelajaran, pengalaman belajar, dan teknik penilaian.

Buku Siswa Kurikulum 2013 kelas 3 SD disusun berbasis aktivitas sebagai salah satu penunjang penerapan Kurikulum 2013 yang disempurnakan yang sangat mengedepankan pada pencapaian kompetensi siswa. Buku Siswa Kurikulum 2013 pada kelas 3 ini dibuat dengan berlandaskan pada Kompetensi Dasar yang telah disusun oleh Kemendikbud.

Baca: Buku Guru dan Siswa Kurikulum 2013 Kelas 6 SD

Buku Pembelajaran Siswa Buku Kurikulum 2013 merupakan buku panduan sekaligus buku aktivitas yang akan memudahkan para siswa terlibat aktif dalam pembelajaran. Buku Siswa kelas 3 SD Kurikulum 2013 edisi revisi terbaru tahun 2017 kali ini tidak dilengkapi dengan lembar latihan. Guru juga dapat berkreasi sendiri membuat soal-soal latihan dan bahan-bahan penilaian yang disesuaikan dengan kondisi peserta didik.

Buku Guru dan Buku Siswa Kurikulum 2013 untuk kelas 3 SD Semester 1

Download Buku Guru Tematik Kelas 3 SD/MI Semester 1




Download Buku Siswa Tematik Kelas 3 SD/MI Semester 1




Buku Guru dan Buku Siswa Kurikulum 2013 untuk kelas 3 SD Semester 2

Download Buku Siswa Tematik Kelas 3 SD/MI Semester 2

  • Buku siswa kelas 3 SD Kurikulum 2013 Tema 5 Permainan Tradisional - DOWNLOAD
  • Buku siswa kelas 3 SD Kurikulum 2013 Tema 6 Indahnya Persahabatan - DOWNLOAD
  • Buku siswa kelas 3 SD Kurikulum 2013 Tema 7 Energi dan Perubahannya - DOWNLOAD
  • Buku siswa kelas 3 SD Kurikulum 2013 Tema 8 Bumi dan Alam Semesta - DOWNLOAD


Download Buku Guru Tematik Kelas 3 SD/MI Semester 2

  • Buku guru kelas 3 SD Kurikulum 2013 Tema 5 Permainan Tradisional - DOWNLOAD
  • Buku guru kelas 3 SD Kurikulum 2013 Tema 6 Indahnya Persahabatan - DOWNLOAD
  • Buku guru kelas 3 SD Kurikulum 2013 Tema 7 Energi dan Perubahannya - DOWNLOAD
  • Buku guru kelas 3 SD Kurikulum 2013 Tema 8 Bumi dan Alam Semesta - DOWNLOAD

Dalam buku tematik Kurikulum 2013 kelas 3 semester 2 edisi revisi ini terdapat 4 tema. Sama halnya buku tematik kelas 3 semester 1 terdiri dari 4 tema juga. Setiap tema terdiri atas 4 subtema. Setiap subtema diuraikan ke dalam 6 pembelajaran. Satu pembelajaran dialokasikan untuk 1 hari. Kemendikbud memberikan akses untuk memperoleh Buku Kurikulum 2013 melalui laman website buku.kemdikbud.go.id.

Baca Selengkapnya