Perkembangan Moral dan Kecerdasan Spiritual Anak

Perkembangan Moral dan Kecerdasan Spiritual Anak
Ciptakan iklim belajar yang kondusif bagi perkembangan moral dan kecerdasan spiritual peserta didik.
1. Perkembangan Moral
Setiap individu sebagai bagian dari masyarakat diharapkan bersikap sesuai dengan cara yang disetujui masyarakat. Belajar berperilaku sesuai dengan yang disetujui masyarakat merupakan proses yang panjang dan lama yang terus berlanjut sampai usia remaja. Interaksi sosial memegang peranan penting dalam perkembangan moral, karena anak mempunyai kesempatan untuk belajar kode moral dan mendapat kesempatan untuk belajar bagaimana orang lain memberikan penilaian. Bila penilaiannya positif maka akan memotivasi untuk menyesuaikan dengan standar nilai yang berlaku.

a. Moralitas Merupakan Hasil Belajar

Hati nurani atau skala nilai merupakan hasil dari proses belajar untuk belajar berperilaku sesuai dengan yang disetujui masyarakat. Salah satu tugas perkembangan yang penting di masa kanak-kanak sebelum masuk sekolah mereka diharapkan sudah mampu membedakan yang baik dan salah dalam suatu situasi yang sederhana, hal itu merupakan dasar bagi perkembangan hati nurani. Sebelum masa kanak-kanak berahir, amat diharapkan anak dapat mengembangkan skala nilai atau hati nurani untuk membimbing mereka dalam mengambil keputusan moral.

Menurut Hurlock (2013: 75) terdapat empat pokok utama dalam mempelajari sikap moral sebagai berikut ini.
1) Mempelajari apa yang diharapkan kelompok sosial dari anggotanya sebagaimana dicantumkan dalam hukum, kebiasaan, dan peraturan.

2) Mengembangkan hati nurani atau suara hati merupakan salah satu tugas perkembangan yang penting pada akhir masa kanak-kanak. Suara hati juga dikenal sebagai “cahaya dari dalam” dan polisi internal yang mendorong anak untuk melakukan hal yang benar dan menghindari hukuman.

3) Belajar mengalami perasaan bersalah dan rasa malu bila perilakunya tidak sesuai dengan harapan kelompok. Ausubel (Hurlock, 2013:78) menjelaskan rasa bersalah merupakan salah satu mekanisme psikologis yang paling penting dalam proses sosialisasi. Hal itu juga merupakan unsur penting bagi kelangsungan hidup budaya karena hal itu merupakan penjaga yang paling efisien dari individu.

4) Mempunyai kesempatan berinteraksi sosial dengan anggota kelompok sosial. Interaksi sosial memegang peranan penting dalam perkembangan moral.

Pada masa ini anak sudah mempertimbangkan situasi khusus mengenai moral yang baik dan salah. Menurut Piaget (Hurlock, 2003:163) pada masa ini anak mulai menggantikan moral yang kaku menjadi relativisme, contohnya anak umur 5 tahun berbohong itu buruk, anak yang lebih besar berbohong itu dibolehkan dalam situasi tertentu. Anak akan berusaha menyesuaikan diri dengan peraturan kelompok agar diterima oleh kelompoknya. Oleh karena itu sekolah harus memberikan perhatian pada pendidikan moral mengenai konsep benar dan salah serta alasannya mengapa perbuatan itu diperbolehkan atau dilarang, agar peserta didik memahami konsep benar dan salah secara lebih luas dan lebih abstrak. Penerapan konsep benar dan salah harus diberikan secara konsisten oleh guru dan orang tua.

Kehidupan moral tidak dapat dipisahkan dari keyakinan beragama, karena nilai-nilai moral bersifat tegas, pasti, tetap, serta tidak berubah karena keadaan, tempat dan waktu. Nilai ini bersumber dari agama (Daradjat: 2010:156)

b. Tingkat dan Tahapan Perkembangan Moral

Kohlberg menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap (Santrock, 2010:118-119). Terdapat tiga tingkat perkembangan moral, yang masing-masing ditandai oleh dua tahap. Konsep kunci untuk memahami perkembangan moral, khususnya teori Kohlberg adalah internalisasi, yaitu perubahan perkembangan dari perilaku yang dikendalikan secara eksternal menjadi perilaku yang dikendalikan secara internal.

2. Kecerdasan Spiritual

Kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan. Menurut Zohar dan Marshal kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan tertinggi yang dimiliki manusia, karena paling berperan dalam kehidupan manusia. Kecerdasan spiritual merupakan aspek yang sangat penting dalam pembentukan kepribadian manusia. dan merupakan landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif (Agustian, 2001:57).

Setiap orang pernah mengalami penghayatan keagamaan bahwa di luar dirinya ada kekuatan yang Maha Agung yang melebihi apapun. Penghayatan keagamaan menurut Brightman (Makmun, 2009:108) tidak hanya mengakui atas keberadaan-Nya melainkan juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang eksternal (abadi) yang mengatur tata hidup manusia dan alam semesta.

a. Tahap Perkembangan Penghayatan Keagamaan Usia Sekolah dan Karakteristiknya

Sejalan dengan perkembangan kesadaran moraliras, perkembangan penghayatan keagamaan, yang erat hubungannya dengan perkembangan intelektual, emosional dan konatif. Para ahli seperti Daradjat, Starbuch, dan James (Makmun, 2009:108) sependapat secara garis besarnya perkembangan penghayatan keagamaan dibagi dalam tiga tahapan yang secara kualitatif menunjukkan karakteristik yang berbeda. Tahapan-tahapan itu ialah sebagai berikut, 1) masa kanak-kanak (sampai usia tujuh tahun); 2) masa anak sekolah(7-8 sampai 11-12 tahun); 3) masa remaja (12-18 tahun) dibagi ke dalam dua sub tahapan, yaitu remaja awal dan akhir.

Karakteristik penghayatan keagamaan pada masa anak sekolah (7-8 sampai 11-12 tahun), yang ditandai, antara lain sebagi berikut ini.

1) Sikap keagamaan bersifat reseptif (menerima saja apa yang dijelaskan orangtua atau guru kepadanya) tetapi disertai pengertian

2) Pandangan dan paham ke-Tuhan-an diterangkan secara rasional sesuai dengan kemampuan berpikir anak yaitu dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari dan lebih konkret yang bersumber pada indikator alam semesta sebagai perwujudan dari keberadaan dan keagungan-Nya;

3) Penghayatan secara rohaniah makin mendalam, melaksanakan kegiatan ritual (ibadah keagamaan) diterima sebagai keharusan moral.

b. Proses Perkembangan Kecerdasan Spiritual dan Penghayatan Keagamaan

Agama tidak sama dengan spiritualitas, namun menurut Mikley (Desmita, 2014:208) agama bersama dengan eksistensial merupakan dimensi dari spiritualitas. Dimensi eksistesial berfokus pada tujuan dan makna hidup, sedangkan dimensi agama berfokus pada hubungan seseorang dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Potensi kecerdasan spiritual berkembang karena adanya pengaruh interaksi dengan lingkungan sekitar sampai akhir hayatnya. Anak-anak dilahirkan dengan kecerdasan spiritual yang tinggi. Namun perlakuan yang tidak tepat dari orang tua, sekolah dan lingkungan seringkali merusak apa yang mereka miliki. Menurut Daradjat (2010:75) bahwa faktor yang mempengaruhi perkembangan penghayatan keagamaan adalah orangtua, guru dan dan lingkungan. Pendidikan dilingkungan keluarga memegang peranan yang sangat penting dalam perkembangan penghayatan keagamaan. Hubungan yang harmonis dengan orangtua, disayang, dlindungi, dan mendapat perlakuan baik, maka anak akan mudah menerima kebiasaan orangtua, dan selanjutnya akan cenderung kepada agama. Sebaliknya hubungan dengan orangtua yang kurang harmonis, penuh tekanan, kecemasan, ketakutan, menyebabkan sulitnya perkembangan agama pada anak.

Pendidikan anak di sekolah, khususnya pendidikan agama di SD merupakan dasar bagi sikap jiwa agama. Apabila guru memberi sikap positif terhadap agama maka akan berpengaruh dalam membentuk pribadi dan akhlak yang baik. Pendidikan keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat memegang peranan penting dalam memelihara dan mengembangkan potensi kecerdasan spiritual. Terpeliharanya kecerdasan spiritual akan mengoptimalkan IQ dan EQ.

Daradjat (2010:90) menyatakan penghayatan keagamaan berkaitan dengan kematangan intelektual dan dapat dikembangkan melalui pembiasaan juga memberikan pemahaman agama sesuai dengan tahap kemampuan berpikirnya.

3. Implementasi dalam Pembelajaran

a. Jadilah panutan dengan menampilkan sikap dan perilaku yang mencerminkan kepribadian dan moral yang baik, serta cerdas secara spiritual,

b. Ciptakan iklim belajar yang kondusif bagi perkembangan moral dan kecerdasan spiritual peserta didik. Selain pandai guru juga harus bersikap bijaksana, sabar, hangat dan ikhlas dalam melaksanakan tugas, dan bersikap positif terhadap pekerjaan. Sikap yang demokratis dan perlakuan yang baik dari guru akan membangun hubungan baik dengan peserta didik, sehingga iklim belajar yang kondusif bagi perkembangan peserta didik akan terwujud.

C. Pahami ada keragaman dalam perilaku moral dan kecerdasan spiritual karena tidak semua peserta didik memiliki lingkungan keluarga yang menjunjung moral dan spiritual yang tinggi serta keluarga yang harmonis. Oleh karena itu, guru harus bersikap menerima semua peserta didik, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Jangan bersikap kasar atau sinis kepada mereka yang belum menampilkan moral dan kecerdasan spiritual sesuai yang diharapkan, namun bersikap bijak dan tetap membimbing serta mendorongnya dengan sabar.

d. Rancang pembelajaran dengan memasukan aspek moral atau karakter dan spiritual dalam pembelajaran.

e. Kembangkan perilaku moral dan spiritual melalui pembiasaan yang disertai pemahaman dan disiplin yang disertai konsekuensi yang mendidik. Buatlah norma-norma perilaku moral/spiritual yang harus dilakukan yaitu jujur, empati, taat aturan, tanggung jawab, menghargai orang lain, mengasihi orang lain dsb.

f. Biasakan berdoa sebelum dan sesudah belajar dan dorong peserta didik untuk rajin beribadah serta libatkan mereka dalam kegiatan keagamaan dan sosial.

g. Buat suatu tugas kelompok/kelas yang dapat meningkatkan sikap altruisme (membantu orang lain dengan ikhlas). Beri mereka kebebasan untuk memilih kegiatan yang dapat membantu orang lain, mungkin membantu teman yang kesulitan belajar, membersihkan halaman sekolah, dsb (Santrock, 2007:124)

h. Bekerja sama dengan rekan guru, terutama guru agama serta orangtua untuk membantu meningkatkan perilaku moral dan kecerdasan spiritual.

Baca Selengkapnya

Kecerdasan Emosional dan Perkembangan Sosial

Kecerdasan Emosional dan Perkembangan Sosial
Guru harus mengetahui karakteristik emosi dan perilaku sosial pada masa usia sekolah dasar.
A. Perkembangan Emosi

1. Pengertian emosi : Emosi dapat didefinisikan sebagai suatu suasana yang kompleks dan getaran jiwa yang menyertai atau muncul sebelum/sesudah terjadinya perilaku (Makmun, 2009:114). Emosi tidak hanya melibatkan perasaan dan pikiran, aspek biologis dan psikologis, namun disertai serangkaian tindakan.

2. Aspek perilaku dari suatu emosi ada tiga variabel :
a. Situasi yang menimbulkan emosi
b. perubahan-perubahan fisiologis yang terjadi dalam diri individu yang mengalami emosi
c. respon atau reaksi individu yang menyertai emosi.

Masa kanak-kanak disebut sebagai “periode kritis” dalam perkembangan emosi (Hurlock, 2003:213-214). Keadaan emosi pada masa usia sekolah (akhir masa kanak-kanak) umumnya merupakan periode yang relatif tenang sampai datangnya masa puber. Namun ada saat anak sering mengalami emosi yang meninggi seperti cepat marah dan rewel, umumnya sulit dihadapi (periode ketidakseimbangan) disebabkan:

1) Faktor fisik (sakit, lelah)
2) Menghadapi lingkungan baru seperti saat anak masuk sekolah
3) Perubahan yang besar pada kehidupan anak, seperti perceraian atau kematian orangtua.

Emosi yang umum pada masa akhir kanak-kanak (usia sekolah) adalah marah, takut, cemburu, ingin tahu, iri hati, gembira, sedih, dan kasih sayang.

Menurut Hurlock (2003:211) emosi mempunyai peranan yang penting bagi kehidupan anak karena mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial anak, diantaranya yaitu:

1) Menambah rasa senang dan menyiapkan tubuh untuk bertindak
2) Ketegangan emosi mengganggu keterampilan motorik.
Contoh dapat menyebabkan gangguan bicara seperti bicara tidak jelas dan gagap
3) Emosi merupakan bentuk suatu komunikasi dan memperlihatkan kesannya pada ekspresi
wajah, serta mewarnai pandangan anak terhadap kehidupan
4) Emosi mengganggu aktivitas mental.
5) Emosi merupakan sumber penilaian diri dan sosial.
6) Emosi mempengaruhi interaksi sosial.
7) Emosi mempengaruhi suasana psikologis.
8) Reaksi emosional apabila diulang-ulang akan berkembang menjadi kebiasaan.

Menurut Goleman (1997:57) setiap orang tentu memiliki kemampuan yang berbeda dalam wilayah kecerdasan emosi. Kecerdasan emosional memiliki lima wilayah utama, yaitu:

1) Mengenali emosi diri
2) Mengelola emosi.
3) Memotivasi diri sendiri
4) Mengenali emosi orang lain
5) Membina hubungan.

Kualitas-kualitas emosional yang penting untuk mencapai kesuksesan menurut Peter Salovey dan John Mayer diantaranya :

a) empati
b) mengungkapkan dan memahami perasaan
c) mengendalikan amarah
d) kemandirian
e) kemampuan menyesuaikan diri
f) disukai
g) kemampuan memecahkan masalah antar pribadi
h) ketekunan
i) kesetiakawanan
j) keramahan
k) sikap hormat.

Menurut Hurlock (2003:231) mengendalikan emosi adalah mengarahkan energi emosi ke saluran ekspresi yang bermanfaat dan dapatditerima secara sosial. Dalam mengendalikan emosi, anak harus belajar bagaimana cara menangani rangsangan yang membangkitkan emosi dan bagaimana cara mengatasi reaksi yang biasa menyertai emosi.

B. Perkembangan Sosial

Setelah memasuki sekolah, anak melakukan hubungan sosial yang lebih luas dengan teman sebayanya dibandingkan dengan anak pada masa pra sekolah. Pada masa ini minat terhadap kegiatan keluarga berkurang, sebaliknya minat terhadap kegiatan teman sebayanya semakin kuat. Perubahan permainan individual menjadi permainan kelompok yang membutuhkan banyak orang, sehingga pergaulannya semakin luas. Berubahnya minat bermain, keinginan untuk bergaul dan diterima oleh teman-temannya semakin kuat. Pada masa ini disebut sebagai masa “gang”, yaitu usia dimana kesadaran sosial berkembang pesat. Gang memiliki peran dalam meningkatkan sosialisasi anak, anak belajar berperilaku agar dapat diterima secara sosial. Menjadi pribadi sosial adalah salah satu tugas perkembangan yang utama dalam periode ini. Anak menjadi anggota kelompok teman sebaya dan secara bertahap menggantikan pengaruh orangtua dalam berperilaku.

a. Bentuk Perilaku yang Paling Umum pada Masa Kanak-kanak Akhir

1) Rentan terhadap penerimaan sosial.
2) Kepekaan yang berlebihan.
3) Sikap sportif dan tanggung jawab
4) Diskriminasi sosial
5) Prasangka
6) Antagonisme jenis kelamin
7) Persaingan terjadi antara anggota dalam kelompok atau antara gang saingannya.
8) Mudah dipengaruhi dan tidak mudah dipengaruhi.
9) Wawasan social

b. Status Hubungan Sosial

Penerimaan sosial berhubungan dengan kualitas pribadi yaitu banyaknya sifat-sifat baik, menarik , dan keterampilan sosial. Ada 3 status sosial, yaitu:

1) Anak popular
Menurut Hartuf (Santrock, 2010:100) anak populer adalah teman yang terbaik, memiliki keterampilan sosial yang tinggi, ramah, suka bergaul, bersahabat, sangat peka secara sosial, suka menolong, dan sangat mudah bekerjasama dengan orang lain, mandiri, cenderung riang.

2) Anak yang diabaikan (neglected children)
Ciri-ciri perilaku anak yang diabaikan adalah, cenderung menarik diri, jarang bergaul, temannya sedikit, jarang dibutuhkan oleh temannya.

3) Anak yang ditolak (rejected chidren),
Anak yang ditolak memiliki ciri menunjukkan agresi tinggi, menarik diri, serta kemampuan sosial dan kognitif yang rendah. Anak yang ditolak ada yang bersikap agresif, yaitu menunjukkan perilaku agresif yang tinggi, kontrol diri rendah (impulsive), serta perilaku menganggu. Adapula yang tidak agresif, perilakunyamenunjukkan melarikan diri, cemas, dan tidak memiliki keterampilan sosial

C. Kecerdasan Emosi dan Keterampilan Sosial

Kecerdasan emosi dan keterampilan sosial akan membentuk karakter, berdasarkan beberapa hasil penelitian kecerdasan emosi dan keterampilan sosial lebih penting dari inteligensi (IQ) dalam mencapai keberhasilan hidup. Kecerdasan emosi (EQ) membuat anak memiliki semangat yang tinggi dalam belajar atau disukai oleh teman-temannya dalam kegiatan bermain, maka hal itu akan membawa keberhasilan ketika memasuki dunia kerja atau berkeluarga. Menurut Shapiro (1997:175) kecerdasan emosi dan keterampilan sosial dapat diajarkan kepada anak sesuai dengan usia dan tahap perkembangan anak.

Dalam mengajarkan kecerdasan emosi dan keterampilan sosial dapat dilakukan antara lain dengan
1) Membina hubungan persahabatan
2) Bekerja dalam kelompok
3) Berbicara dan mendengarkan secara efektif
4) Mengatasi masalah dengan teman yang nakal
5) Berempati terhadap orang lain
6) Mencapai prestasi tinggi
7) Memecahkan masalah
8) Memotivasi diri bila menghadapi masa-masa yang sulit
9) Percaya diri saat menghadapi situasi yang sulit
10) Menjalin keakraban, dan mengajarkan tata krama

D. Identifikasi kecerdasan emosi dan keterampilan sosial peserta didik

Untuk mengidentifikasi kecerdasan emosi dan keterampilan sosial peserta didik, guru harus mengetahui karakteristik emosi dan perilaku sosial pada masa usia sekolah dasar. Cara mengidentifikasi hal tersebut, diantaranya adalah pengamatan, wawancara, angket, tes (lisan tulis dan tindakan), studi okumentasi, angket atau inventori, seperti telah dijelaskan di materi perkembangan peserta didik.

Baca Selengkapnya

Sampai 2024, Setiap Tahun Ada Angkatan 100 Ribu Guru

Untuk Penuhi Kekurangan Setiap Tahun Angkat 100 Ribu Guru
Untuk memenuhi kekurangan guru, Kemendikbud mengusulkan pengangkatan sekitar 100 ribu guru kepada KemenPAN-RB.
Upaya untuk memenuhi kebutuhan guru di sekolah negeri, khususnya di sekolah-sekolah yang masih mengalami kekurangan guru terus dilakukan. Menurut Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kemendikbud, Ari Santoso, jumlah guru sekolah negeri saat ini sebanyak 2.114.765 orang. Terdiri atas guru aparatur sipil negara (ASN) 1.378.940 orang, dan guru non ASN berjumlah 735.825 orang.

"Untuk memenuhi kebutuhan guru saat ini, dibutuhkan sebanyak 988.133 guru ASN. Namun, dengan asumsi ada guru yang bisa mengajar lebih dari satu mata pelajaran dan bisa mengajar di tingkat kelas yang berbeda maka bisa diupayakan cukup dengan 707.324 guru PNS saja,” kata Ari yang SekolahDasar.Net kutip dari JPNN (12/06/18).

Untuk memenuhi kekurangan guru akibat adanya yang pensiun, mutasi, promosi, meninggal, penambahan ruang kelas baru, penambahan unit sekolah baru, dan sebagainya, Kemendikbud tahun ini mengusulkan penambahan sekitar 100 ribu guru ASN kepada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB).

“Usulan pemenuhan kekurangan guru setiap tahun mulai dari 2018 sampai 2024 untuk menggantikan guru yang pensiun dan karena kenaikan akses pendidikan berjumlah 707 ribu guru ASN dengan asumsi dipenuhi dalam 7 tahun, maka Kemendikbud untuk tahun ini mengusulkan pengangkatan sekitar 100 ribu guru kepada KemenPAN-RB," jelas Ari.

Baca: Kuota 100.000 Guru PNS Bukan Hanya untuk Honorer

Rekrutmen guru sesuai dengan pola yang ditentukan dan berkualitas. Sebab guru akan mendidik anak-anak menjadi generasi bangsa yang unggul dan berdaya saing. Kemendikbud membuat urutan atau peringkat berdasarkan kriteria yang ditentukan, seperti ketersediaan ASN, status daerah tertinggal, rasio guru dan murid, mata pelajaran prioritas, dan fiskal.

Baca Selengkapnya

Soal dan Kunci Jawaban Modul PKB Guru SD KK A dan KK B

Download soal latihan dan kunci jawaban Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) kelompok kompetensi (KK) A dan B.
Pengembangan profesionalitas guru melalui Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) merupakan upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam upaya peningkatan kompetensi guru. Sejalan dengan hal tersebut, pemetaan kompetensi guru telah dilakukan melalui Uji Kompetensi Guru (UKG) untuk kompetensi pedagogik dan profesional.

Peta profil hasil UKG menunjukkan kekuatan dan kelemahan kompetensi guru dalam penguasaan pengetahuan pedagogik dan profesional. Peta kompetensi guru tersebut dikelompokkan menjadi 10 (sepuluh) kelompok kompetensi. Tindak lanjut pelaksanaan UKG diwujudkan dalam bentuk Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) bagi Guru.

Adapun perangkat pembelajaran yang dikembangkan adalah modul Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) bagi Guru untuk semua mata pelajaran dan kelompok kompetensi. Dengan modul ini diharapkan program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) memberikan sumbangan yang sangat besar dalam peningkatan kualitas kompetensi guru.

Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) bagi Guru jenjang Sekolah Dasar telah terintegrasi Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dan Penilaian Berbasis Kelas, serta berisi materi pedagogik dan profesional yang akan dipelajari oleh peserta selama mengikuti Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB).

Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) bagi Guru jenjang Sekolah Dasar kelompok kompetensi (KK) A untuk materi pedagogiknya adalah Karakteristik dan Pengembangan Potensi Peserta Didik, dan untuk profesionalnya adalah Penguasaan dan Ketrampilan Berbahasa Indonesia.

Sedangkan Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) bagi Guru jenjang Sekolah Dasar kelompok kompetensi (KK) B untuk materi pedagogiknya adalah TEORI BELAJAR DAN PRINSIP PEMBELAJARAN, dan untuk materi profesionalnya adalah GENRE DAN APRESIASI SASTRA.

Contoh soal latihan Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) bagi Guru jenjang Sekolah Dasar kelompok kompetensi (KK) A dan B adalah sebagai berikut:

23. Penalaran moral didasarkan pada hukuman. Anak-anak taat karena menghindari hukuman, menaruh
hormat karena melihat sifat yang memberi aturan yang bersangkutan. Merupakan perkembangan moral pada tahap....
A. Orientasi ganjaran
B. Orientasi hukuman dan ketaatan
C. Orientasi otoritas
D. Orientasi kontrak social

24. Kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan disebut,,,,
A. kecerdasan majemuk
B. kecerdasan intelegensi
C. kecerdasan spiritual
D. kecerdasan natural

28. Pada umur empat bulan Difa sudah mengucapkan kata ma ma ma dan da, da,da. Tahap pemerolehan bahasa yang terjadi pada Difa adalah...
A. Cooing
B. Babling
C. Holofrastis
D. Telegrafik

36. Kami melaksanakan diskusi di dalam kelas. Kalimat yang memiliki pola yang sama dengan kalimat tersebut adalah:
A. Ibu guru mengajar di kelas
B. Para siswa membaca buku di perpustakaan
C. Adik sedang berenang di Ancol
D. Ayah membaca di teras rumah

48. Pendekatan pengolahan KBM yang berfokus pada pelibatan secara aktif dan kreatif dalam proses pemerolehan hasil belajar adalah pendekatan....
A. keterampilan proses
B. konstruktivisme
C. inqury
D. Whole Language

Selengkapnya 100 soal latihan dan kunci jawaban Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) bagi Guru jenjang Sekolah Dasar kelompok kompetensi (KK) A dan B dapat didownload melalui tautan berikut:


Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) jenjang Sekolah Dasar ini diharapkan dapat menjadi bahan bacaan wajib bagi para guru untuk dapat meningkatkan pemahaman tentang kompetensi pedagogik dan profesional terkait dengan tugas pokok dan fungsinya sehingga mampu meningkatkan prestasi pendidikan anak didik.

Baca Selengkapnya

Memahami Karakteristik Peserta Didik Melalui Pendekatan Teman Sebaya

Memahami karakteristik peserta didik melalui pendekatan teman sebaya
Pendidikan pada hakekatnya adalah memanusiakan manusia. Untuk mencapai harapan ini, kehadiran Guru menjadi tumpuan harapan para orang tua anak tersebut. Berbagai upaya memanusiakan manusia telah dilakukan oleh guru di sekolah. Jika seorang Peserta didik sukses dalam studinya maka semua keluarga bahkan lingkungan akan membanggakan nama anak tersebut dan seluruh keluarga berbesar hati. Ini merupakan karakteristik manusia pada umumnya. Akan tetapi bila Peserta Didik tersebut gagal dalam sebuah lembaga Pendidikan maka orang pertama yang dicoreng namanya adalah Guru yang membimbing dan mengajar Peserta Didik tersebut. Hal semacam ini yang masih terbawa sepanjang ini di berbagai daerah di belahan Indonesia tercinta ini.

Memperhatikan budaya kekeliruan yang sulit diperbaiki ini maka sebagai Guru harusnya membangun berbagai konsep strategis guna memperkecil berbagai prasangka buruk yang ungkapkan oleh berbagai kalangan masyarakat selama ini. Salah satu konsep yaitu pendekatan teman sebaya. Teknik pendekatan ini diawali dengan langkah-langkah berikut:

a. Guru meminta Peserta Didik dengan mengajukan satu pertanyaan sederhana sebagai berikut:-
- Siapa saja teman berbain Anda setiap hari ? Kelas Rendah [Belum lancar membaca dan menulis]
- Tulislah teman-teman dekat Anda minimal nama 3[tiga] teman ! Kelas atas [yang lancar membaca dan menulis]

b. Menanyakan kesukaan Peserta Didik dari teman sebaya Peserta Didik tersebut dari daftar nama yang diterima

c. Mencatat semua informasi dari semua teman yang disebutkan/dituliskan dalam daftar secara lengkap.

d. Membaca dan menganalisa serta mengkaji pendapat yang dikumpulkan

e. Guru membuat simpulan sementara karakter Peserta Didik bersangkutan

f. Mulai menyusun strategi baru guna mempengaruhi serta memasukan konsep baru yang dapat mengubah konsep dasar Peserta Didik sesuai harapan Guru.

g. Menemukan karakteristik baru Peserta Didik berdasarkan hasil karja guru.

Baca: Strategi untuk Mengenal Karakter Peserta Didik

Inilah beberapa langkah yang dapat membantu Guru dalam menghadapi Karakter Peserta Didik yang sulit diatur. Selamat mencoba semoga bermanfaat demi memperkecil prasangka buruk dari berbagai pihak.

Maju Terus Pantang Mundur, Guru mengmang Pahlawan Tanpa Jasa namun Karya Guru merupakan goresan Kecil yang tetap membekas di hati Peserta Didik sampai diujung penghabisan Riwayat Pendidikan ikut dibacakan di depan Khalayak.

*) Ditulis oleh Paulus Pobas,S.Pd
Guru Non PNS di SMAS Kristen 1 SoE-Kab.Timor Tengah Selatan-Nusa Tenggara Timur.

Baca Selengkapnya

Aplikasi Penilaian Raport K13 Kelas 1 Semester 2

Aplikasi Penilaian Raport K13 Kelas 1 Semester 2
Download aplikasi pengolah penilaian dan cetak raport kelas 1 SD semester 2 Kurikulum 2013.
Laporan hasil belajar atau raport bagi peserta didik pada Kurikulum 2013 (K13) edisi revisi 2017 sedikit mengalami perubahan dari pada format rapor Kurikulum 2013 tahun sebelumnya. Pengisian rapor Kurikulum 2013 untuk tahun pelajaran 2017/2018 sesuai Permendikbud nomor 23 tahun 2016 tentang Standar Penilaian.

Sejak awal implementasi Kurikulum 2013, kurikulum pengganti KTSP ini sudah mengalami revisi yang ke empat. Pada semester 2 tahun pelajaran 2017/2018 kurikulum 2013 revisi tahun 2017 diterapkan pada kelas 1 jenjang Sekolah Dasar (SD). Proses penilaian Kurikulum 2013 sangat berbeda dengan kurikulum sebelumnya.

Untuk memudahkan membuat raport kelas 1 SD semester 2 dapat menggunakan aplikasi pengolah nilai dan cetak raport Kurikulum 2013 revisi tahun 2017 untuk ini berbasis excel. Sehingga memudahkan guru dalam melakukan penilaian, dilengkapi dengan pemetaan KI dan KD terbaru dengan disertai cetak raport edisi revisi terbaru.

Aplikasi pengolah penilaian dan cetak raport kelas 1 SD semester 2 Kurikulum 2013 dapat didownload melalui tautan berikut ini:


Seperti yang SekolahDasar.Net kutip dari tulisan pembuatnya di kangmartho.com, ada beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan sebelum mengerjakan Aplikasi Raport K13 revisi 2017 khusus kelas 1 semester 2 ini, diantaranya sebagai berikut:

  • Nilai yang diinput adalah nilai akhir yaitu hasil pengolahan dari beberapa hasil nilai seperti nilai ulangan harian, penilaian tengah semester (PTS), penilaian akhir semester (PAS).
  • Untuk Kompetensi Dasar (KD) yang tidak sesuai dengan aplikasi silakan diubah sesuai dengan kebutuhan atau juknis yang ada.
  • KKM yang diinput adalah nilai KKM Satuan Pendidikan yaitu nilai KKM terendah dari semua nilai KKM yang ada dalam suatu lembaga sekolah.
  • Pada deskripsi raport sudah ada nama siswa dan nomor halaman yang berada di bawah raport untuk memudahkan dalam mengumpulkan raport, jadi tidak akan tertukar dengan siswa lain.
  • Aplikasi ini tidak hanya berfungsi sebagai alat input data yang dapat mengolah data tersebut secara otomatis. Namun juga dilengkapi dengan fitur cetak raport Kurikulum 2013.

Baca Selengkapnya