• Tunjangan Guru Triwulan Pertama Cair Awal April
    Tunjangan Guru Triwulan Pertama Cair Awal April
    Ketika sudah jelas guru calon penerima, maka TPG harus segera dicairkan.
    Tunjangan profesi guru (TPG) triwulan pertama untuk periode Januari–Maret diperkirakan cair antara 9–16 April. Hal ini dikatakan Direktur Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P2TK) Ditjen Pendidikan Dasar (Dikdas) Kemendikbud Sumarna Surapranata.

    Seperti yang SekolahDasar.Net lansir dari Kaltim Post (02/03/15), saat ini Direktorat P2TK Kemendikbud masih mempersiapkan penerbitan surat keputusan pencairan tunjangan (SKPT).

    Anggaran untuk membayar TPG semakin membengkak. Tahun lalu anggaran pembayaran TPG yang ditransfer ke daerah sekitar Rp 60,5 triliun, tahun ini alokasinya naik menjadi Rp 70,2 triliun. Hal ini disebabkan bertambahnya jumlah penerima dan kenaikan gaji pokok guru PNS secara berkala.

    Baca juga: Ini Kriteria Guru Penerima Tunjangan Profesi

    Anggaran TPG yang ditransfer ke daerah untuk membayar tunjangan profesi guru-guru PNS. Sedangkan anggaran yang dikelola Kemendikbud untuk membayar tunjangan profesi guru non-PNS alias guru swasta dan guru bantu.

    “Sedangkan anggaran di Kemendikbud hanya sekitar Rp 6,2 triliun,” kata Sumarna.

    Pencairan TPG tahun memberlakukan regulasi baru yaitu pencairan TPG dari Kemenkeu ke pemkab atau pemkot. Progres pencairan di setiap tahapan harus dilaporkan. Jika pemkab atau pemkot tidak melaporkan, transfer dana tahap berikutnya akan ditunda.

    Sumarna berharap, tahun ini pencairan TPG tepat waktu, jumlah, dan sasaran. Kemendikbud tidak ingin ada penimbunan uang TPG di daerah. Ketika sudah jelas guru calon penerima, maka TPG harus segera dicairkan.

  • Soal UTS Semester 2 Kelas 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 SD
    Soal UTS Semester 2 Kelas 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 SD
    Soal-soal UTS semua mapel untuk kelas 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 SD sesuai KTSP.
    Bulan ini memasuki tengah semester 2 tahun pelajaran 2014/2015. Sejak diputuskan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan sebagian sekolah di semester 2 ini kembali menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Menjadi agenda rutin, setiap tengah semester dilaksanakan Ujian Tengah Semester (UTS).

    Baca juga: Anies Tegas Tetap Hentikan K-13 Kembali ke KTSP

    Evaluasi dilakukan secara berkala, secara resmi biasanya Dinas Pendidikan mengadakan UTS secara serentak di wilayahnya. Guru telah mengajarkan materi yang harus dikuasai siswa, untuk mengukur hasilnya salah satunya dengan mengerjakan soal UTS. Selain itu, guru juga telah melakukan minimal dua kali Ulangan Harian (UH) sebagai bentuk evaluasi.

    SekolahDasar.Net sebelumnya telah berbagi kumpulan soal UTS SD, baik untuk semester 1 dan 2. Berikut tautan untuk mendownload soal UTS dari kelas 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 SD sesuai kurikulum KTSP:


    Soal-soal UTS semester 2 untuk SD tersebut disimpan dalam bentuk satu folder. Isinya soal-soal UTS untuk kelas 1-6 SD yang terdiri dari semua mata pelajaran SD, seperti: PKn, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, dan Matematika. Semoga kumpulan soal UTS dimanfaatkan oleh guru maupun orang tua siswa untuk bahan belajar menghadapi UTS.

  • Guru Sebagai Insan Pembelajar
    Guru Sebagai Insan Pembelajar
    Guru Sebagai Insan Pembelajar (foto: dok pribadi)
    Menurut Undang – Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

    Berkaitan dengan tugas professional di atas, maka guru mempunyai tanggung jawab untuk membekali dirinya dengan berbagai kompetensi. Kompetensi – kompetensi tersebut, yaitu: kompetensi professional, kompetensi paedagogik, kompetensi sosial, dan kompetensi kepribadian. Selanjutnya, seorang guru yang telah memenuhi berbagai kompetensi di atas akan mendapatkan sertifikat pendidik yang didapatnya melalui jalur sertifikasi yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

    Baca juga: 4 Kompetensi yang Wajib Dikuasai Guru

    Apabila dikaji secara lebih mendalam mengenai 4 kompetensi yang harus dipenuhi oleh guru, kita dapat menarik benang merahnya, yaitu guru harus memposisikan dirinya sebagai seorang pembelajar, selain tugas utamanya untuk mengajar. Mengapa guru harus menjadi seorang pembelajar ? Tentunya ini menjadi sebuah pertanyaan yang agak asing di telinga kita. Selama ini banyak asumsi mengenai guru yang sebenarnya bisa dikatakan sebagai sebuah kekeliruan, salah satunya adalah asumsi bahwa guru adalah orang yang lebih pintar, lebih tahu, dan lebih mampu dibandingkan dengan peserta didiknya. Sungguh ironi bila masih ada guru yang terjebak dengan asumsi di atas.

    Dengan adanya kemajuan di bidang IPTEK, maka akses yang dimiliki oleh siswa untuk mendapatkan berbagai pengetahuan baru menjadi semakin luas. Hal ini menimbulkan paradigma baru dalam cara mengajar guru dan peran guru sendiri. Bila semula peran guru adalah sebagai pusat pembelajaran ( teacher centered ) menjadi berpusat pada siswa ( student centered ). Pada pendekatan student centered, peran guru adalah menjadi seorang fasilitator bagi peserta didik untuk mendapatkan berbagai pengetahuan yang mereka butuhkan.

    Untuk menjadi seorang fasilitator pembelajaran, guru dapat menambah wawasannya dengan cara memanfaatkan berbagai sumber belajar yang akan dijadikan referensi pembelajaran di sekolah. Contohnya: buku, majalah, koran, televisi, radio, dan internet. Selain itu, guru juga dapat meningkatkan kualitas akademiknya dengan menempuh jalur pendidikan formal melalui program perkuliahan di perguruan tinggi atau melalui program khusus perkuliahan online, seperti yang dapat diakses secara gratis pada website http://www.moocs.ut.ac.id dan laman website lainnya. Khusus berkaitan dengan penggunaan IPTEK, guru dapat meningkatkan kemampuannya dalam penguasaan alat – alat Teknologi, Informasi, dan Komunikasi ( TIK ) seperti laptop dan in focus.

    Kesimpulannya, kesempatan untuk menjadi seorang pembelajar, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Kapan saja dan di mana saja bahkan siapa saja akan selalu dapat menjadi seorang pembelajar. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan pengetahuan. Akan tetapi, semuanya pasti berawal dari niat. Jika seorang guru sudah membuka dirinya untuk mau menjadi pembelajar sejati, maka ia akan senantiasa memberikan kontribusi positif bagi perkembangan dan kemajuan dunia pendidikan yang digelutinya. Mari kita sambut paradigma pendidikan yang baru dengan tangan terbuka, dengan terlebih dulu membongkar kebiasaan lama kita sebagai guru yang bukan hanya bisa mengajar tetapi juga menjadi pembelajar.

    *) Ditulis oleh Theresia Sri Rahayu, MM.Pd. Guru SD di SDN 1 Cibacang Kec. Padalarang Kab. Bandung Barat.

  • Cegah Masalah Sosial, Pembelajaran IPS Perlu Penyempurnaan
    Cegah Masalah Sosial, Pembelajaran IPS Perlu Penyempurnaan
    Kesungguhan guru menjadi hal yang vital untuk mencapai tujuan pembelajaran IPS demi kualitas manusia Indonesia di masa mendatang.
    Akhir-akhir ini berbagai permasalahan sosial banyak menghadang bangsa Indonesia. Permasalahan itu mulai dari kekerasan antar pelajar sampai pada konflik antar kampung dan bentrok antar aparat di beberapa daerah. Permasalahan seperti itu sebenarnya sudah diantisipasi agar tidak terjadi dengan membekali generasi bangsa dengan ilmu pengetahuan sosial. Sayangnya, pembelajaran ilmu pengetahuan sosial sebagai solusi dari masalah kompleks yang mungkin timbul sepertinya belum berjalan seperti yang diharapkan.

    Ilmu pengetahuan sosial sebagaimana dikatakan pada sebuah buku berjudul “Menelisik Pendidikan IPS Dalam Perspektif Kontekstual Empiris” (Lasmawan,2010), bahwa IPS adalah mata pelajaran yang merupakan perpaduan dari sejumlah mata pelajaran sosial yang mengajarkan pengetahuan, nilai, sikap, dan keterampilan kepada siswa untuk memahami lingkungan dan masalah-masalah sosial di sekitarnya, serta berbagai bekal untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini bermakna sebenarnya IPS ditujukan agar siswa memiliki nilai, sikap, dan keterampilan disamping pengetahuan. Pengetahuan, nilai, sikap, dan keterampilan sosial inilah yang secara utuh sebenarnya dapat menjadi solusi dalam mencegah terjadinya berbagai permasalahan sosial.

    Melihat tujuaannya, pembelajaran ilmu pengetahuan sosial menjadi sangat penting bagi generasi bangsa. Tetapi sayang, kenyataannya saat ini tidak sedikit siswa memandang bahwa ilmu pengetahuan sosial sangat membosankan dalam pembelajarannya, sehingga membuat peserta didik tidak mendapatkan substansi dari tujuan IPS itu. Pengetahuan, nilai, sikap, ataupun keterampilan yang harus dimiliki siswa tidak terbentuk seperti yang diharapkan.

    Baca juga: Nasib IPA dan IPS di Kurikulum Pendidikan Baru

    Jika ditelusuri penyebabnya, salah satu hal yang menyebabkan tidak dicapainya substansi pembelajaran IPS adalah cara membelajarkan IPS. Yang bertanggung-jawab membelajarkan IPS tentu saja adalah guru. Dengan demikian, sekali lagi guru menjadi harapan bangsa dengan menjadi ujung tombak penyempurnaan pembelajaran IPS.

    Sejauh pengamatan, selama ini ada beberapa hal yang dilupakan para guru dalam membelajarkan IPS. Sebagian besar guru terlalu memaksakan hafalan-hafalan untuk membangun pengetahuan yang diharapkan. Peserta didik dihadapkan pada tuntutan untuk mengingat tempat, tokoh, peristiwa, dan lain sebagainya tanpa memberikan ruang kepada siswa untuk memaknai apa yang ada di balik peristiwa tersebut. Paksaan untuk mengingat sesuatu yang tampaknya kurang menarik dan tak berguna itulah yang sebenarnya memicu anggapan bahwa IPS membosankan.

    Terkait dengan pandangan bahwa pembelajaran IPS itu membosankan, perlu strategi tertentu untuk menyempurnakan pembelajaran IPS agar mencapai tujuan yang diharapkan. Salah satu solusi yang dapat ditawarkan dalam membelajarkan IPS adalah dengan menghadirkan rekonstruksi suatu peristiwa, memaksimalkan keterlibatan peserta didik, dan melakukan refleksi dalam membelajarkan peserta didik. Untuk melaksanakan hal tersebut, guru diharapkan lebih kreatif lagi dalam tiap langkah tersebut. Kreatifitas guru sangat penting dalam mengatasi kemungkinan timbulnya kebosanan dalam diri peserta didik. Salah satu strategi yang ditawarkan dapat digambarkan sebagai berikut.

    Pertama penting untuk menghadirkan kenyataan dalam pembelajaran. Pembelajaran tidak akan membosankan apabila ada situasi nyata yang dihadapi oleh peserta didik. Jika tidak ada video, rekaman suara, ataupun berita yang bisa dipakai untuk menyuguhkan kenyataan tersebut, maka bisa dilakukan kreasi dengan merekonstruksi kejadian yang dipelajari dengan memainkan suatu drama singkat berdasarkan buku atau sumber yang bisa dipercaya. Setelah suatu kejadian direkonstruksi oleh peserta didik, maka tahap yang kedua adalah melakukan refleksi dari peristiwa yang disuguhkan tersebut.

    Dalam kegiatan refleksi tidaklah sesederhana menarik sebuah kesimpulan saja. Dalam refleksi, peserta didik harus didorong untuk berpikir kritis terhadap fenomena yang telah disajikan. Selain itu, dalam refleksi, pemikiran kritis juga harus dilandasi dengan penafsiran dari berbagai sudut pandang untuk menghindarkan peserta didik dari pola pikir yang sempit yang dapat menumbuhkan egoisme dalam dirinya.

    Tahap yang terakhir adalah perumusan solusi. Sebesar dan sekompleks apapun suatu masalah atau fenomena yang disajikan, sebaiknya peserta didik dibiasakan untuk memikirkan solusi dari permasalahan tersebut. Hal ini penting untuk menghindarkan peserta didik agar tidak menjadi orang yang hanya bisa mengungkap suatu masalah tanpa bisa memberikan solusi yang nyata. Maka penting untuk peserta didik dibiasakan untuk mencari-cari solusi di tengah perbedaan.  Diskusi-diskusi tentang solusi yang diajukan sekali lagi akan mengarah pada pembiasaan peserta didik untuk menghormati pendapat orang lain dan mengerti sudut pandang orang lain demi tujuan mencapai solusi bersama.

    Dalam strategi pengungkapan masalah, berpikir kritis, dan perumusan solusi yang ditawarkan tersebut, ada banyak hal yang bisa membuat peserta didik menjadi manusia seutuhnya suatu saat nanti. Akan tetapi sebenarnya strategi tersebut tidaklah mudah untuk dilakukan, apalagi bagi guru yang “seadanya dan “sekedarnya” dalam mengawal pembelajaran. Perlu kreativitas guru dalam melaksanakan strategi tersebut untuk dapat membentuk kognitif, afektif, dan psikomotor peserta didik secara maksimal. Sekali lagi, kesungguhan guru menjadi hal yang vital untuk mencapai tujuan pembelajaran IPS demi kualitas manusia Indonesia di masa mendatang. Bila pembelajaran IPS ini dapat dilakukan dengan baik, gurulah yang menjadi pahlawan dibalik keberhasilan kehidupan sosial bangsa ini di masa mendatang. Mari memulai dari diri kita sendiri, dengan bersungguh-sungguh sebagai modal utama.

    *) Ditulis oleh I Gede Indra Supriadi. Guru SD Negeri 9 Sesetan, Denpasar
    Anda juga bisa mengirimkan tulisan ke SekolahDasar.Net di sini

  • Mau Dibawa Kemana Peserta Didik Kita?
    Kita kurang memperhatikan kebahagiaan peserta didik kita. Pernahkah kita bertanya kepada mereka, apakah mereka bahagia?
    Pendidikan merupakan hal terpenting untuk masa depan, pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk sebuah perubahan dan pembangunan ke arah perkembangan yang maju. Tuntutan zamanlah yang membuat sebuah pendidikan harus lebih berkembang. Pendidikan yang membuat negara lebih berkembang, karena dapat mencerdaskan kehidupan bangsa. Tanpa pendidikan semua tak akan sesuai dengan keinginan manusia pada hakikatnya untuk lebih maju dan berkembang.

    Pada dasarnya pendidikan yang efektif adalah suatu pendidikan yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan. Namun selama ini, banyak pendapat beranggapan bahwa pendidikan dinilai hanya menjadi formalitas saja untuk membentuk sumber daya manusia Indonesia. Tidak peduli bagaimana hasil pembelajaran formal tersebut, yang terpenting adalah telah melaksanakan pendidikan di jenjang yang tinggi dan dapat dianggap hebat oleh masyarakat. Setiap orang mempunyai kelebihan dibidangnya masing-masing dan diharapkan dapat mengambil pendidikaan sesuai bakat dan minatnya bukan hanya untuk dianggap hebat oleh orang lain.

    Berbicara tentang sekolah yang terbaik tentu saja jawabannya akan beragam antara orangtua satu dengan orangtua yang lain. Hal itu tergantung dari ukuran yang dipakai untuk menentukan apa yang dimaksud dengan sekolah yang terbaik. Ada sejumlah orangtua yang percaya bahwa sekolah yang terbaik adalah sekolah yang murid-muridnya bisa menjadi juara olimpiade mata pelajaran di tingkat nasional maupun internasional, berprestasi dalam perlombaan karya ilmiah, lulus ujian nasional 100%, dan lainnya. Sehingga orang tua yang demikian akan memilihkan anaknya sekolah yang disebut masyarakat umum sebagai sekolah favorit, baik yang bertaraf nasional maupun bertaraf internasional.

    Baca juga: 7 Pertimbangan dalam Memilih Sekolah untuk Anak

    Di sisi yang lain ada sejumlah orangtua yang meyakini bahwa sekolah yang terbaik adalah sekolah yang bisa membantu anak-anak mereka semakin mengetahui siapa dirinya, dari mana dirinya berasal dan akan ke mana nantinya. Sekolah yang menjadikan anak-anak mereka semakin mengetahui dan meyakini kemampuan apa yang ada dalam diri anak. Sekolah yang menyediakan pengalaman-pengalaman belajar yang membuat anak-anak mereka semakin memiliki kesiapan dan kompetensi terbaik dalam mensikapi dan menjalani kehidupan di masa mendatang.

    Terlepas dari orientasi pendidikan yang kita yakini, ada hal yang sering terabaikan oleh sekolah dalam menyelenggarakan proses pendidikan kepada peserta didik maupun oleh orangtua ketika melakukan pemilihan sekolah dan pendampingan belajar kepada anaknya. Sangat terabaikan karena orientasi pendidikan di negeri ini lebih menekankan pencapaian prestasi akademik. Kita melupakan kebahagiaan anak-anak kita. Kita kurang memperhatikan kebahagiaan peserta didik kita. Pernahkah kita bertanya kepada mereka, apakah mereka bahagia?

    *) Ditulis oleh Loresta Putri Nusantara Kasih. Guru di SD Muhammadiyah 9 Malang

  • Mengaktifkan Siswa dengan Pembelajaran Debat
    Siswa belajar berpendapat melalui debat dengan tujuan dewasa nanti siswa dapat memecahkan masalah.
    Bertanya belumlah menjadi budaya siswa di negeri ini. Siswa pasif, karena guru dominan? Setiap ditawari "ada yang mau bertanya atau tidak jelas?" praktis diam semua.

    Siswa pasif disebabkan mereka tidak terbiasa berpikir kritis, mereka menerima apa adanya tentang semua yang ia dengar, baca, amati. Mengapa ini terjadi?. Kadang dalam setiap kelas ada saja siswa yang dominan dibanding yang lain, akhirnya siswa lainnya menjadi minder untuk mengajukan pertanyaan.

    Debat merupakan pembelajaran berbasis PBL (Problem Based Learning), melatih siswa untuk memecahkan suatu masalah atau membuat solusi dari isu atau masalah disekitarnya.

    Kegiatan beradu argumentasi antara dua pihak atau lebih, baik secara perorangan maupun kelompok, dalam mendiskusikan dan memutuskan masalah dan perbedaan sangat padu dan menarik terhadap materi memberikan tanggapan suatu berita serta mengaktifkan siswa yang minder, pendiam, dan kurang aktif dalam kemampuan berbicara dan mendengarkan siswa.

    Baca juga: Starts With A Question Agar Anak Aktif Bertanya

    Debat juga melatih siswa yang pasif mampu memberikan tanggapan (kritikan/pujian) tentang informasi disertai alasan dengan menggunakan bahasa yang santun, disampaikan secara singkat, jelas dan tidak berbelit-belit serta masuk akal (logis) dan nilai karakter yang harus tidak boleh dilupakan yaitu tidak memotong pembicaraan orang dan tidak menyakitkan perasaan orang.

    Siswa berkolaboratif dengan kelompoknya untuk saling menanggagapi dari tanggapan antar kelompok dan harus memperperhatikan etika dan nilai karakter dalam memberikan tanggapan. Point tujuannya yaitu, melatih siswa yang pasif dalam aspek berbicara, mendengar dan siswa belajar berpendapat melalui debat dengan tujuan dewasa nanti siswa dapat memecahkan masalah yang ada di lingkungan sekitarnya.

    *) Ditulis oleh Novinda Iwang Darpita, S.Pd. Guru SD Muhammadiyah 9 Malang

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Paling Banyak Dibagikan