Guru yang Profesional dan Keren Itu Seperti Ini

Guru yang Profesional dan Keren Itu Seperti Ini
Guru yang mengerti dunia anak, bahkan paham akan psikologi siswanya. Itulah sosok guru yang sukses, profesional dan keren.
Guru yang keren itu adalah guru yang memahami psikologi anak didiknya. Itu dikemukanan pakar pendidikan anak Seto Mulyadi ketika menjadi pembicara dalam Seminar "Peran Profesionalisme Guru dalam Menjawab Pendidikan Menuju Generasi Emas" di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

"Guru yang diimpikan siswanya itu adalah guru yang memperhatikan dan mengerti dunia anak-anak yang dididik, bahkan paham akan psikologi siswanya. Itulah sosok guru yang sukses, profesional dan keren," kata Kak Seto yang SekolahDasar.Net kutip dari Republika (25/05/16).

Kak Seto yang di masa lalu populer dengan yang disukai anak-anak ini mengatakan anak bukanlah orang dewasa ukuran mini, dunia mereka adalah dunia bermain. Anak, selain bertumbuh secara fisik ia juga berkembang secara psikologis, ia kreatif dan suka meniru.

Baca juga: Menjadi Guru yang Dicintai Siswa

Dunia anak adalah dunia bermain, oleh sebab itu menurut dia, cara mendidik anak haruslah dengan cara bermain. Bukan dengan cara kekerasan seperti membentak atau meninggikan suara, bahkan marah-marah kepada siswa.

Dalam kaitan ini, Kak Seto menjelaskan lima ciri utama mendidik anak dengan cara bermain, yaitu sebagai berikut:

1. Bermain didorong oleh motivasi dari diri sendiri, sehingga apa akan dilakukan anak memang betul-betul memuaskan dirinya, bukan karena iming-iming hadiah atau karena diperintah orang lain.

2. Bermain dipilih secara benar sesuai keinginan anak.

3. Bermain adalah kegiatan yang menyenangkan.

4. Bermain tidak selalu harus menggambarkan hal yang sebenarnya.

5. Bermain senantiasa melibatkan peran serta aktif anak, baik secara fisik, psikologis maupun keduanya sekaligus.

Untuk bisa mendidik anak dengan bermain, seorang guru harus juga menjadi seorang pendongeng, penyanyi, bahkan pesulap. Selain memahami psikologi anak yang suka bermain, juga ditekankan pentingnya melatih dan mengembangkan kemampuan anak.

"Sebagai seorang pendidik yang baik pun, kita juga perlu serius melatih dan mengembangkan berbagai kemampuan seperti sikap rendah hati, ramah, sopan santun, kedisiplinan, juga kemampuan berbicara secara jelas, tegas, lancar, menarik, menyanyi, bergerak lincah dan gesit, serta yang paling penting adalah kreatif," jelas Kak Seto.

Baca Selengkapnya

Peran Guru di Luar Sekolah

Peran guru di luar sekolah untuk dapat juga memantau anak, janganlah beranggapan tugas guru hanya di dalam sekolah saja.
Guru mengatakan “ itu bukan tugas kami lagi, kalau di luar sekolah sudah menjadi tugas orang tua”. Peran guru diharapkan bukanlah hanya sebatas di sekolah saja, tetapi juga harus mampu sampai di lingkungan luar, mengapa hal itu harus dilakukan?.

Memang berat kita sebagai guru melaksanakan tugas itu, begitu banyak tugas yang dilakukan di sekolah ditambah lagi peduli dengan anak di luar sekolah. Jika kita mampu berkaca pada masa kecil, kita dapat melihat begitu takutnya kita dengan guru kita jika bertemu di luar sekolah, hal ini disebabkan guru kita pada zaman dahulu langsung menegur dan bertanya apa yang kita lakukan. Sekarang zaman sudah berubah, anak tidak segan lagi bertemu dengan guru, dan guru massa bodoh dengan perbuatan anak di luar, sehingga janganlah heran jika anak bertingkah di sekolah.

Baca juga: Peran Guru dalam Penumbuhan Budi Pekerti

Mengapa hal ini dapat terjadi, apakah tugas kita guru hanya mengajar dan bukan mendidik. Apakah yang kita didik di sekolah sudah cukup mewakili sampai di luar sekolah. Jawabannya sebenarnya tidak, didikan yang kita ajarkan di sekolah kadangkala tidak sampai di rumah, hal ini disebabkan kebiasaan yang ada di rumah berbeda dengan apa yang di dapatkan sekolah. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya penyimpangan prilaku terhadap anak.

Hal inilah merupakan salah satu faktor guru harus peduli dengan anak di luar sekolah, karena anak merasa butuh kepedulian orang dewasa terutama guru. Jika kita lihat begitu banyak anak yang mempunyai orang tua, tapi dalam pelaksanaanya orang tua tidak peduli dengan anak, sehingga anak mencari pelarian. Di sinilah timbulnya awal permasalahan anak mencari sendiri tanpa ada bimbingan, anak berkumpul tanpa ada pengawasan dari orang tua, anak keluar dari rumah tanpa ada alasan yang jelas, dan yang paling memperparah keadaan, orang tua apabila anak belum bisa melakukan ini atau itu tidak dianggap tidak trend, sehingga anak belum usianya sudah mampu melakukan. Banyak hal lain lagi permasalahan anak yang lepas dari pantauan orang tua yang sibuk, sehingga anak dengan bebasnya berbuat.

Di sinilah diharapkan peran guru di luar sekolah untuk dapat juga memantau anak, janganlah beranggapan tugas guru hanya di dalam sekolah saja. Jika di luar sekolah itu sudah menjadi tanggung jawab orang tua.

Selamat memajukan anak bangsa, semoga mereka menjadi pengganti yang lebih baik daripada kita.

*) Ditulis dan dikirim ke SekolahDasar.Net oleh Yasrizal. Guru SDN 002 Nongsa Kota Batam

Baca Selengkapnya

Usia Ideal Anak Untuk Masuk SD Tujuh Tahun

Usia Ideal Anak Untuk Masuk SD Tujuh Tahun

Usia ideal anak untuk masuk Sekolah Dasar (SD) yaitu tujuh tahun. Pada masa itu anak dinilai sudah siap secara fisik dan psikologis. Hal ini dikatakan Kepala Dinas Pendidikan Nasional Sumatra Selatan, Widodo.

"Sebenarnya usia ideal masuk SD adalah tujuh tahun, beberapa negara di ASEAN dan Eropa juga menerapkan hal itu atas pertimbangan kesiapan psikologis anak," kata Widodo yang SekolahDasar.Net kutip dari Republika (23/05/16).

Baca juga: Bukan Ijazah TK, Usia Syarat Utama Masuk SD

Namun, dia mengatakan Indonesia memiliki kebijakan bahwa usia lima tahun delapan bulan sudah bisa. Ketentuan usia minimal lima tahun delapan bulan ini bukan berlaku mutlak, tapi harus disesuaikan dengan kuota sekolah bersangkutan.

Hal ini terkait dengan ketentuan pemerintah yang mengharuskan untuk mendahulukan anak usia enam tahun ke atas. Dia mencontohkan, jika kuota 10 tapi yang daftar baru 8 anak, tentunya boleh saja menerima anak usia lima tahun delapan bulan.

Para orangtua diharapkan dapat memahami keadaan ini mengingat terdapat keterbatasan jumlah sekolah di beberapa tempat. Namun, jika ketentuan ini tidak berlaku dengan baik, maka diharapkan masyarakat untuk melapor ke dinas setempat.

"Jika ada anak usia enam tahun ke atas tidak diterima, sedangkan ada anak usia yang dibawahnya justru diterima, maka laporkan saja," kata Widodo.

Baca Selengkapnya

Juknis Penyaluran TPG dan Tambahan Penghasilan Bagi Guru


Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Permendikbud) Nomor 17 Tahun 2016 Tentang Petunjuk Teknis Penyaluran Tunjangan Profesi dan Tambahan Penghasilan Bagi Guru Pegawai Negeri Sipil Daerah telah diterbitkan.

Permendikbud Nomor 17 Tahun 2016 ini diterbitkan bertujuan untuk memberikan pedoman bagi Pemerintah daerah dalam penyaluran Tunjangan Profesi dan Tambahan Penghasilan bagi guru pegawai negeri sipil daerah.

Baca juga: Ribuan Guru Terancam Kehilangan TPG, Ini Sebabnya

Sasaran penerima tunjangan profesi yaitu guru pegawai negeri sipil daerah yang telah memiliki sertifikat pendidik dan nomor registrasi guru, memenuhi beban kerja, dan melaksanakan tugas dan fungsinya secara profesional.

Sedangkan sasaran tambahan penghasilan yaitu guru yang belum bersertifikat pendidik, telah memenuhi beban kerja, serta melaksanakan tugas dan fungsinya secara profesional. Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan pada tanggal 3 Mei 2016.

Selengkapnya Permendikbud Nomor 17 Tahun 2016 tentang Petunjuk Teknis Penyaluran Tunjangan Profesi dan Tambahan Penghasilan Bagi Guru Pegawai Negeri Sipil Daerah dapat didownload di sini.

Baca Selengkapnya

Bukan Prestasi, Inilah Yang Membuat Anak Sukses

Bukan Prestasi, Inilah Yang Membuat Anak Sukses
Penentu sukses adalah komunikasi, kejujuran, dan kerja sama. Sedangkan indeks prestasi berada di nomor urut 17 dari 20 indikator utama.
Banyak yang salah persepsi dalam mengukur kesuksesan anak. Indikator utama yang diukur adalah indeks prestasi. Menurut Psikolog Fery Farhati Anies Baswedan, sedangkan kejujuran berada di nomor urut belakang.

"Kegagalan dalam pengasuhan anak terjadi karena orang tua belum tahu bagaimana cara mendidik dan mengasuh anak yang baik serta benar," kata Fery yang SekolahDasar.Net kutip dari JPNN (22/05/16).

Baca juga: Ingin Anak Cerdas, Orangtua Juga Harus Belajar

Untuk membentuk karakter anak dalam suatu keluarga dimulai dari pengenalan, kemudian dibiasakan. Itu dilatih agar konsisten sehingga menjadi kebiasaan, karakter, dan budaya anak.

"‎Ini dilakukan sejak anak berusia dini. Kalau sedari kecil dibiasakan jujur, sampai dewasa menjadi budaya dia," kata Fery.

Menurutnya, kebiasaan jujur yang ditanamkan orang tua sejak dini akan membuat anak tidak berani berbohong. Budaya inilah yang akan dikembalikan dalam pengembangan karakter anak.

Hasil survei National Association of Colleges and Employers USA, menyebutkan di mana penentu sukses adalah komunikasi, kejujuran, dan kerja sama. Sedangkan indeks prestasi berada di nomor urut 17 dari 20 indikator utama.

"Orang tua di Indonesia selalu mengukur prestasi anak dari nilai indeks prestasi‎. Padahal itu di urutan belakang. Sedangkan di tiga urutan teratas adalah komunikasi, kejujuran, dan kerja sama," kata Fery.

Baca Selengkapnya

Ribuan Guru Terancam Kehilangan TPG, Ini Sebabnya

Ribuan Guru Terancam Kehilangan TPG, Ini Sebabnya
Guru terancam kehilangan hak tunjangan profesi karena tidak kunjung memperbarui datanya di Dapodik.
Ribuan guru terancam kehilangan hak tunjangan profesi guru (TPG) periode Januari-Juni 2016. Sebab, mereka tidak kunjung memperbarui data di aplikasi layanan Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Pasalnya pembaruan dapodik terkait dengan pencairan tunjangan tersebut.

Kepala Bagian Program dan Penganggaran Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud Tagor Alamsyah Harahap mengatakan banyak guru yang surat keputusan pencairan tunjangan (SKPT)-nya tidak bisa terbit. Pemicunya, mereka belum memperbarui datanya di Dapodik.

"Warning kami adalah pengisian dapodik paling lambat Mei 2016," kata Tagor yang SekolahDasar.Net kutip dari JPNN (19/05/16).

Sebaran guru yang belum update data paling banyak berada di pendidikan menengah (dikmen). Sebab, baru tahun ini guru-guru di dikmen terintegrasi dengan Dapodik. Sebelumnya mereka memiliki sistem pendataan sendiri di luar dapodik.

Baca juga: Dapodik Terlambat Dikirim Guru Tak Dapat Tunjangan

Tagor berharap seluruh guru yang belum memperbarui datanya segera melakukan perbaikan. Agar proses update data di layanan aplikasi Dapodik berjalan lancar, guru harus bekerja sama dengan petugas operator dapodik di setiap sekolah.

"Guru jangan menunggu didekati operator. Tetapi, harus proaktif mendekati para operator," kata Tagor.

Jumlah persis guru yang terancam kehilangan TPG periode Januari-Juni tahun 2016 mencapai 109.424 orang. TPG yang dicairkan setiap tiga bulan sekali ini diberikan bagi guru yang telah memiliki sertifikat pendidik dan memenuhi syarat yang telah ditetapkan Kemendikbud.

Baca Selengkapnya

Reorientasi Pembelajaran di Sekolah Dasar

Tiga tantangan yang harus dihadapi oleh sekolah dalam upaya merealisasikan pendidikan karakter sesuai amanat presiden.
Pendidikan karakter hendaknya menjadi prioritas utama dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan di Sekolah Dasar (SD). Pembentukan karakter yang dilakukan sejak dini diyakini akan mampu merubah mental bangsa ini menjadi lebih baik. Hal itu diungkapkan oleh Presiden Joko Widodo dalam sebuah pertemuan dengan mahasiswa Indonesia di Belanda beberapa waktu lalu. Presiden pun mengusulkan agar 60 sampai dengan 70 persen materi pelajaran di Sekolah Dasar diarahkan pada pembangunan karakter peserta didik.

Baca juga: Presiden Minta SD Ditekankan Membangun Karakter

Apa yang disampaikan oleh presiden tersebut sebenarnya bukan hal yang baru. Sejak Ujian Nasional (UN) untuk tingkat SD dihapuskan, orientasi pembelajaran pun (seharusnya) mengalami pergeseran. Dalam hal ini membiasakan siswa untuk senantiasa melakukan perbuatan baik serta menanamkan kecintaan mereka terhadap dunia belajar seharusnya lebih dikedepankan daripada memaksa siswa untuk menguasai seluruh materi yang tercantum dalam kurikulum.

Namun, pergeseran orientasi pembelajaran tersebut nampaknya masih jauh panggang dari api. Setidaknya ada tiga tantangan yang harus dihadapi oleh sekolah dalam upaya merealisasikan pendidikan karakter sesuai amanat presiden tersebut. Pertama, keberpihakan kurikulum. Pemberlakuan Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) untuk tiap mata pelajaran secara tidak langsung telah menyempitkan makna maupun tujuan pendidikan yang sebenarnya, khususnya pada jenjang pendidikan dasar. Anak dianggap berhasil mencapai ketuntasan belajar apabila mereka mampu mengerjakan soal-soal di atas kertas. Sedangkan hal-hal lain yang berkaitan dengan kepribadian seperti ketaatan mereka dalam beribadah maupun pengamalan norma-norma sosial justru tidak mendapatkan porsi yang semestinya.

Kedua, kesiapan sekolah lanjutan. Kenyataan menunjukkan, nilai akademik masih dijadikan pertimbangan utama oleh sekolah-sekolah lanjutan (SMP) untuk menerima calon siswa baru dari Sekolah Dasar. Adapun karakter maupun perilaku siswa selama di Sekolah Dasar kurang begitu mendapatkan perhatian. Akibatnya, tujuan pembelajaran di Sekolah Dasar pun lagi-lagi sebatas untuk mendapatkan nilai akademik setinggi-tingginya demi mendapatkan kursi di sekolah lanjutan (unggulan).

Ketiga, kondisi lingkungan sekitar. Semakin banyaknya pelajar yang menjadikan rokok sebagai “teman setia” merupakan salah satu persoalan yang dihadapi oleh dunia pendidikan saat ini. Banyaknya warung-warung di sekitar sekolah maupun rumah yang menjual rokok merupakan penyebab utama maraknya peredaran rokok di kalangan pelajar. Di samping itu tayangan televisi yang menjurus pada kekerasan maupun berbau pornografi pun membuat tugas guru dalam membangun karakter anak semakin berat.

Untuk dapat mengimplementasikan pendidikan karakter di Sekolah Dasar, diperlukan sinergi yang baik antara pemerintah, sekolah dan orangtua. Sebagai pemegang regulasi pemerintah diharapkan mampu memainkan perannya dalam membatasi peredaran minuman keras dan rokok, mengatur tayangan media elektronik, serta merancang sebuah kurikulum pendidikan dasar yang benar-benar berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik. Adapun orangtua hendaknya menyadari betapa pentingnya peran mereka dalam melanjutkan pendidikan karakter yang dilakukan oleh guru di sekolah. Menciptakan lingkungan kondusif yang mendukung tumbuhnya karakter anak merupakan kewajiban yang harus dilakukan. Dengan demikian, pendidikan karakter di Sekolah Dasar pun benar-benar dapat terlaksana dan tidak hanya sebatas wacana.

*) Ditulis dan dikirim ke SekolahDasar.Net oleh Ramdan Hamdani. Guru di Sekolah Dasar Islam Terpadu Alamy Subang, Jawa Barat

Baca Selengkapnya

Kemendikbud Rekrut 7.000 Guru Untuk 93 Kabupaten

Kemendikbud akan merekrut 7.000 Guru Garis Depan (GGD) yang akan dikirim ke 93 kabupaten.
 Tahun 2016 ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan merekrut 7.000 Guru Garis Depan (GGD) yang akan dikirim ke 93 kabupaten yang tersebar di 28 provinsi. Program ini sudah digulirkan Kemendikbud sejak tahun lalu dan akan terus berlangsung setiap tahun.

"GGD merupakan kebijakan afirmasi Kemendikbud melalui penempatan guru PNS di daerah terdepan, terluar", kata Mendikbud, Anies Baswedan yang SekolahDasar.Net kutip dari Republika (16/05/2016).

Penyelesaian masalah pendidikan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) merupakan salah satu program Nawacita Presiden Jokowi. Program itu akan membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangkan negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Baca juga: Presiden Jokowi Janji Angkat Kesejahteraan Guru

"Nawacita akan dicapai melalui peningkatan kualitas pendidikan anak-anak Indonesia. Termasuk di daerah terdepan serta memberikan layanan pendidikan, mengatasi kekurangan guru dan pemerataan guru di seluruh wilayah Indonesia,” kata Anies.

Penempatan 7.000 GGD ke 93 kabupaten ini berdasarkan data dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Selain itu, penempatan dilakukan berdasarkan usulan daerah.

Anies mengatakan, prioritas program GGD sebenarnya bisa untuk para guru honorer. Menurutnya, kebanyakan guru berkeinginan sekali untuk diangkat menjadi PNS. Namun, lanjutnya, mereka enggan ditempatkan di daerah terdepan.

Kriteria mengikuti program ini sangat sederhana, yaitu harus memenuhi persyaratan menjadi guru. Hal yang terpenting adalah pengalaman mengajar di daerah terdepan sebelumnya. Syarat ini ditentukan karena akan sulit menempatkan guru yang belum pernah sama sekali mengajar di daerah terdepan.

Baca Selengkapnya

Informasi Terpopuler