Cek Info GTK Tunjangan Guru Triwulan 3 Tahun 2016

Cek Info GTK Tunjangan Guru Triwulan 3 Tahun 2016
Pembayaran Tunjangan Profesi Guru (TPG) triwulan ketiga tahun 2016 akan dibayarkan sekitar bulan Oktober.
Untuk pembayaran Tunjangan Profesi Guru (TPG) triwulan ketiga tahun 2016 (Juli sampai dengan September) akan dibayarkan sekitar bulan Oktober oleh Pemda. “Tunjangan profesi dan insentif bagi guru non PNS aman. Pembayarannya akan dilakukan oleh Ditjen GTK ke rekening masing-masing guru sesuai dengan ketentuan,” kata Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Sumarna Surapranata yang SekolahDasar.Net kutip dari kemdikbud.go.id (01/09/16).

Baca juga: Jadwal Penerbitan SK Penerima TPG Tahun 2016

Data guru dan tenaga kependidikan (GTK) penerima TPG triwulan 3 tahun 2016 hasil pengiriman aplikasi data pokok pendidikan (Dapodik) dapat dilihat di laman resmi Kemendikbud. Pengecekan ini penting untuk melihat validitas data guru, data ini digunakan sebagai acuan pemberian aneka tunjangan bagi guru. Melalui laman ini pula dapat dilihat status pembayaran TPG tahun 2016.

Cek Info GTK Tunjangan Guru Triwulan 3 Tahun 2016

Cara Cek Lembar Info Data GTK dan Pembayaran TPG Triwulan 3

1. Kunjungi laman Info GTK melalui salah satu link berikut ini:

http://223.27.144.195:8081
http://223.27.144.195:8082
http://223.27.144.195:8083
http://223.27.144.195:8084
http://223.27.144.195:8085

2. Masukan NRG sebagai UserID bagi guru yang sudah sertifikasi dan NUPTK jika belum sertifikasi, atau NIK bagi yang belum memiliki NUPTK.

3. Masukan tanggal lahir sebagai password dengan format penulisan YYYYMMDD. Contoh tanggal lahir 10 Januari 1968 ditulis 19680110

4. Pilih periode semester, lalu ketik kode kombinasi angka dan huruf (captcha), terakhir klik “Login”.

Semua data yang ada di lembar info GTK tersebut mengikuti perubahan data yang dilakukan pada aplikasi dapodik sekolah. Apabila ada perubahan atau perbedaan dengan data yang sebenarnya, maka lakukan perubahan atau penyesuaian data di aplikasi dapodik sekolah masing-masing. Sebelum dibayarkan TPG triwulan 3 tahun 2016, akan diterbitan Surat Keputusan (SK) TPG semester 1 tahun ajaran 2016/2017.

Baca Selengkapnya

Cara Cek Status Pencairan Dana PIP Tahun 2016

Cara Cek Status Pencairan Dana PIP Tahun 2016
Untuk mengecek status pencairan KIP tahun 2016 bisa dilakukan secara online melalui Link Inquery.
"Bagaimana cara mengecek status pencairan Program Indonesia Pintar (PIP) tahun 2016? Apakah sudah dibayarkan apa belum?". Pertanyaan ini sering muncul pada orangtua siswa pemegang Kartu Indonesia Pintar (KIP). Begitupun bagi kepala sekolah, guru, maupun operator sekolah.

Baca juga: Cara Mendapatkan Program Indonesia Pintar (PIP)

Untuk mengecek status pencairan KIP tahun 2016 bisa dilakukan secara online melalui Link Inquery. Link ini sebagai pelacak dana PIP tahun 2016. Layanan ini disediakan Kememdikbud bekerjasama dengan bank. Karena itu. Link ini untuk melihat sejauh mana progres pengiriman dana PIP untuk siswa.

Cara Mengecek Status Pencairan Dana PIP Tahun 2016

1. Buka Situs Rekapitulasi PIP [ klik di sini ]

2. Masukan nomor virtual (20 Digit)

3. Klik Inquery

4. Selesai

Nomor virtual merupakan nomor unik penerima dana PIP. Satu penerima mendapatkan satu nomor virtual untuk di cek di sistem inquery di atas. Jika siswa tersebut mendapatkan PIP, maka otomatis akan diberikan data atau nomor virtual tersebut oleh Dinas Pendidikan masing-masing kabupaten/kota.

Baca Selengkapnya

500 Sekolah yang Akan Menerapkan Full Day School

500 Sekolah yang Akan Menerapkan Full Day School
Saat ini sudah ada 500 sekolah yang akan menjadi percontohan penerapan program "Full Day School".
Saat ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah memilih sedikitnya 500 sekolah untuk percontohan program Full Day School. Hal ini dikatakan Mendikbud Muhadjir Effendy, usai menjadi pembicara seminar yang digelar di Padang (24/09).

"Saat ini sudah ada 500 sekolah yang akan menjadi percontohan penerapan program "Full Day School". Saat ini masih dalam tahap persiapannya," kata Muhadjir yang SekolahDasar.Net kutip dari Antaranews (29/09/16).

Baca: Kriteria Sekolah yang Akan Menerapkan Full Day School

Percontohan program Full Day School ini berasal dari berbagai jenjang sekolah. Mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Lanjutan Tingkat pertama (SLTP), dan Sekolah Lanjutan Tingkat (SLTA).

Selain 500 sekolah itu, juga terdapat sekolah lain yang berinisiatif mengajukan diri untuk ikut menerapkan Full Day School dengan dukungan pemerintahan kabupaten/kota. Dia berharap penerapan program tersebut dapat berjalan dengan baik.

Menteri yang menggantikan Anies Baswedan ini menjelaskan Full Day School bukan berarti peserta didik belajar seharian di sekolah. Namun sistem yang memastikan bahwa peserta didik bisa mengikuti kegiatan-kegiatan penanaman pendidikan karakter, salah satunya kegiatan ekstrakurikuler.

"Jadi melalui Full Day School, setelah belajar setengah hari peserta didik tidak langsung pulang ke rumah, namun dapat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang menyenangkan, dan membentuk karakter, kepribadian, serta mengembangkan potensi," jelasnya.

Kementerian telah memberikan acuan bahwa dalam kegiatan pembelajaran di tiap-tiap sekolah, sebagian besar porsinya harus diisi dengan pendidikan karakter. Dimana untuk tingkatan Sekolah Dasar (SD) pendidikan karakter ditentukan sebesar 70 persen.

Dalam perwujudan itu, Muhadjir memaparkan ada empat poin yang menjadi inti dalam pendidikan karakter itu yaitu karakter tentang keagamaan, karakter tentang personal peserta didik, karakter sosial, serta karakter nasionalisme.

Baca Selengkapnya

Quo Vadis Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter menjadi tanggung jawab semua guru, termasuk orang tua.
Manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, demikian amanat undang-undang tentang tujuan pendidikan nasional.

Jika kita telaah lebih jauh sesungguhnya secara konsep dan tujuan pendidikan sudah jelas mengarah kepada terciptanya peserta didik yang berkarakter, yang beriman, berakhlak mulia, berilmu, kreatif dan seterusnya. Artinya undang-undang sudah melegalisasi dan mengamanahkan pendidikan karakter.

Baca juga: Karakter Moral atau Budi Pekerti

Persoalanya dalam realita didalam implementasinya, tujuan pendidikan yang sudah diamanatkan undang-undang tersebut tidak sejalan dengan proses pendidikan yang terjadi dalam ruang-ruang kelas pembelajaran di sekolah. Yang terjadi dalam ruang-ruang kelas pembelajaran adalah proses transfer ilmu pengetahuan dari guru kepada siswanya yang kemudian diujikan dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester sampai ujian semester. Pada akhirnya anak diukur hanya dengan indikator kognitif berupa angka-angka. Prestasi anak diukur dari perolehan nilai-nilai kognitif yang didapatkan ketika ujian.

Lantas dimana pendidikan karakter yang diamanatkan undang-undang? Yang akan melahirkan manusia yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa? Manusia yang berakhlak mulia, bertanggung jawab, kreatif, mandiri dan lain sebagainya?

Inilah yang menjadi dilema dalam pendidikan karakter yang terjadi selama ini. Bahkan pendidikan karakter hanya menjadi tanggung jawab guru agama semata, padahal seharusnya tidak demikian. Pendidikan karakter menjadi tanggung jawab semua guru, semua stake holder disekolah tersebut, termasuk yang paling utama sebagai aktornya adalah orang tua.

Maka tidak heran hari ini kita melihat, anak-anak yang secara akademis pintar, juara kelas tetapi tidak jujur, suka mengambil barang punya temannya, pacaran, melakukan pergaulan bebas, memakai narkoba, berjudi dan lain sebagainya. Pintar tapi tidak berkarakter.

Kalau pendidikan hanya melahirkan anak-anak yang pintar secara kognitifnya, tanpa memperdulikan aspek spiritual dan karakternya, tentu ini menyalahi amanat undang-undang.

Oleh sebab itu, perlu ada pembenahan-pembenahan dalam struktur kurikulum pendidikan yang ada, dalam silabus bahkan sampai ke rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat semua aspek dalam rangka ketercapaian tujuan pendidikan nasional yang diamanatkan undang-undang diatas.

Bagaimana mewujudkannya? Dalam proses pembelajaran misalnya, rencana pelaksanaan pembelajaran harus dirancang sedemikian rupa agar terjadi proses pembelajaran yang memadukan semua aspek sehingga tercapai tujuan yang diinginkan. Sebuah konsep pendidikan yang terpadu. Secara riil harus ada kaitan-kaitan antara pembelajaran dengan perilaku, kaitan pembelajaran dengan nilai-nilai agama yang ditanamkan kepada anak. Kemudian dikaitkan dengan hubungannya dengan akhlak dan karakter yang diinginkan dimiliki anak, bahkan sampai hubungan dunia kedepannya serta akhiratnya. Misalnya konsep kenapa alkohol itu dilarang? Tentu ada penjelasan ilmiahnya sehingga menjadi sebuah pemahaman bagi anak yang kemudian menyimpulkan oleh karena itulah agama melarang minum alkohol.

*) Ditulis oleh Iqbal Anas. Kepala SDIT Ma'arif Padang Panjang

Baca Selengkapnya

Kurikulum Masih Dibahas, Guru Diminta Profesional

Kurikulum Masih Dibahas, Guru Diminta Profesional
Sebagus apapun kurikulum jika keprofesional guru tidak ada, maka tak ada gunanya.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia Muhadjir Effendy mengatakan bahwa kurikulum pendidikan masih tengah dibahas oleh pihak kementerian hingga saat ini.

"Kurikulum masih dibahas, untuk mencari dan melengkapi poin-poin yang dibutuhkan pada saat ini," kata Muhadjir Effendy yang SekolahDasar.Net kutip dari Antaranews (28/09/16).

Menurut dia, meskipun tengah dibahas, kurikulum yang dipakai nantinya tetap Kurikulum 2013. Beberapa poin evaluasi dan penambahan pada kurikulum 2013 tersebut perlu dilakukan, untuk kemajuan pendidikan.

Para guru diingatkan agar tidak terpaku pada kurikulum tersebut. Dimana saat ini munculnya keragu-raguan antara Kurikulum 2013 dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Menurutnya, yang lebih penting adalah kreatifitas para guru, ilmu, dan keprofesionalan dalam menjalankan profesi guru.

"Kurikulum memang menjadi acuan, namun yang lebih penting dari semua itu adalah keprofesionalan guru dalam mendidik para muridnya. Sebagus apapun kurikulum jika keprofesional tidak ada, maka tak ada gunanya," jelasnya.

Baca juga: Guru yang Profesional dan Keren Itu Seperti Ini

Oleh karena itu, mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tiga periode yaitu tahun 2000–2016 ini, meminta para guru harus terus memacu diri dan memahami pentingnya profesi yang sedang dijalani.

"Dalam pandangan saya guru adalah profesi induk dari berbagai macam profesi yang ada. Karena tidak ada profesi lain yang lepas dari peran seorang guru," kata Muhadjir Effendy.

Baca Selengkapnya

Kemendikbud Hapus Kewajiban Guru Mengajar 24 Jam

Kemendikbud Hapus Kewajiban Guru Mengajar 24 Jam
Jika seperti itu, bagaimana seorang guru akan profesional dan konsentrasi pada sekolahnya.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sedang mematangkan rencana untuk menghapus kewajiban guru mengajar 24 jam. Menurut Mendikbud Muhadjir Effendy, aturan ini membuat guru tidak konsentrasi dengan tugasnya. Hal ini dikatakannya usai menjadi pembicara seminar yang digelar di Padang (24/09).

"Dengan kewajiban 24 jam, guru akhirnya berusaha memenuhi target tersebut dan mengajar di beberapa sekolah. Jika seperti itu, bagaimana seorang guru akan profesional dan konsentrasi pada sekolahnya," kata Muhadjir yang SekolahDasar.Net kutip dari Antaranews (26/09/16).

Selama ini kewajiban mengajar minimal 24 jam per minggu dijadikan syarat untuk mendapatkan tunjangan profesi guru. Jika tidak memiliki 24 jam mengajar tatap muka dalam kelas, guru tidak memperoleh tunjangan. Syarat inijuga berlaku bagi guru honoreryang salah satu syarat utama penerima insentif adalah beban mengajar minimal 24 jam.

Baca juga: Ketentuan 24 Jam Mengajar Dinilai Rugikan Guru

Mendikbud meminta para guru untuk terus memacu diri dan memahami pentingnya profesi yang sedang dijalani. Dalam pandangannya guru adalah profesi induk dari berbagai macam profesi yang ada. Karena tidak ada profesi lain yang lepas dari peran seorang guru.

Baca Selengkapnya