RPP Kelas 2 SD/MI Kurikulum 2013 Revisi Terbaru

RPP Kelas 2 SD/MI Kurikulum 2013 Revisi Terbaru

Memasuki awal semester satu tahun pelajaran 2017/2018 guru harus mempersiapkan perangkat pembelajaran. Sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas, guru terlebih dulu membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sebagai pedoman untuk mendukung pelaksanaan kegiatan proses belajar menegajar.

Mulai tahun ini, Kurikulum 2013 diterapkan pada kelas 1, 2, 4, dan 5 SD/MI. Kurikulum 2013 SD/MI menggunakan pendekatan tematik terpadu. Guru kelas 2 harus menyusun RPP sesuai dengan isi Kurikulum 2013 edisi revisi terbaru. Kegiatan belajar mengajar disusun agar siswa lebih aktif dan mampu memecahkan masalah.

Guru harus mampu mengolah RPP agar siswa memiliki 4C. Yakni, critical thinking, communication skill, creativity and innovation, serta collaboration. Pentingnya penguasaan 4C sebagai sarana meraih kesuksesan, khususnya di abad 21, abad di mana dunia berkembang dengan sangat cepat dan dinamis.

Berikut file berkas mengenai perangkat RPP Kurikulum 2013 edisi revisi terbaru, untuk sekolah SD/MI kelas 2 tematik lengkap per subtema dan per pembelajaran semestar 1 dan 2. Sehingga guru yang sedang membutuhkan bahan referensi atau contoh dapat mendownload RPP Kelas 2 SD/MI Kurikulum 2013 melalui tautan ini:




Dalam menyusun dan merumuskan indikator dan tujuan yang akan di capai melalui kegiatan pembelajaran pada RPP kelas 2 SD/MI Kurikulum 2013, setiap guru akan melakukan secara mendetail dan terstruktur. Tujuannya agar pada saat materi atau bahan yang akan disampaikan dapat terlaksana dan dapat dipahami siswa setiap pembelajarannya.

Baca Selengkapnya

Guru Boleh Tidak Tahu Tapi Jangan Malu Akui Kesalahan

Guru Boleh Tidak Tahu Tapi Jangan Malu Akui Kesalahan
Guru boleh tidak tahu dan jangan malu untuk mengakui kesalahannya.
Guru diimbau tidak malu mengakui kesalahan, sebab hal itu menjadi kebutuhan penting dalam pendidikan penguatan karakter. Menurut pemerhati pendidikan dari Yayasan Cahaya Baru, Henny Supolo, guru yang mengakui kesalahannya, tahu lingkungannya dan ingin memperbaikinya, menunjukkan bahwa dia memiliki kemerdekaan berpikir.

"Guru boleh tidak tahu dan jangan malu untuk mengakui kesalahannya," kata Henny yang SekolahDasar.Net kutip dari Antara (15/08/17).

Selain itu, guru yang dibutuhkan dalam penguatan karakter adalah guru yang siap menjadi murid. Jika itu terjadi, maka masyarakat tak perlu lagi khawatir dengan pendidikan karakter anak.

"Guru yang siap menjadi murid maka dia menyadari bahwa dirinya bukan satu-satunya sumber ilmu", ujar Henny.

Selain perubahan paradigma terhadap guru, pendidikan penguatan karakter dan literasi sangat diperlukan karena mengembalikan pada pendidikan berkebudayaan.

"Pendidikan tidak lagi menyiapkan anak ke dalam slot pekerjaan dan tidak lagi mencari tetapi juga menjadi pribadi yang kuat serta ada kompetensi yang diiringi dengan kualitas karakter," kata Anggota Tim Penguatan Pendidikan Karakter Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Prof Djoko Saryono.

Pendidikan penguatan karakter dan gerakan literasi diiringi juga bersama antisipasi perubahan yang destruktif. Jadi bukan sekadar menyembuhkan penyakit tetapi pendidikan karakter memulangkan kembali ke substansi pemberdayaan sehingga menjadi pribadi utuh yang berakhlak mulia.

"Anak sekarang tidak hanya disebut generasi milenial tetapi juga di sisi lain sebagai "strawberry gen". Indah, enak tapi gampang rusak. Oleh karena itu perlu pendidikan penguatan karakter yang tepat untuk generasi ini," kata Djoko.

Baca Selengkapnya

Biarkan Anak Berkembang Sesuai Bakat dan Minatnya

Biarkan Anak Berkembang Sesuai Bakat dan Minatnya
Setiap anak yang lahir telah dikaruniai bakat dan minat.
Para guru dan orang tua diminta membiarkan anak-anaknya berkembang sesuai dengan bakat dan minatnya. Menurut Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, dengan memahami dan mengerti bakat minat anak, ke depan anak-anak ini mampu bersanding sejajar dengan anak-anak di dunia.

"Jika mereka tidak suka matematika tetapi suka olahraga dan musik biarkan saja, jangan dipaksakan. Sebab, sikap ini akan mempengaruhi tumbuh kembangnya ke depan dengan harapan bisa menorehkan prestasi," kata Risma yang SekolahDasar.Net kutip dari Republika (14/08/17).

Dalam acara peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang digelar di Halaman Taman Surya. Risma mengajak seluruh anak yang hadir untuk naik ke panggung bernyanyi lagu Surabaya oh Surabaya dan lagu nasional Indonesia Tanah Pusaka yang diiringi alat musik keyboard.

Usai menyanyi, Risma berbincang dengan salah satu pemain musik bernama Ibar yang merupakan siswa difabel. Ketika berbincang, Risma menawarkan kepadanya untuk mau tampil pada salah satu acara internasional di Surabaya. Risma memberi pesan kepada para orang tua dan guru bahwa setiap anak yang lahir telah dikaruniai bakat dan minat tersendiri oleh Tuhan.

"Jadi jangan sekali-kali mengatakan anak itu bodoh atau tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya butuh pengertian dan dukungan dari kita supaya ke depan mereka mengerti arah dan tujuan kehidupannya," kata Risma.

Baca Selengkapnya

Tunjangan Sudah, Guru Harus Disiplin dan Berprestasi

Sekarang kesejahteraan sudah membaik. Maka guru harus fokus.
Pemerintah telah menaikkan tunjangan guru, bahkan nominalnya lebih besar dari PNS lain. Oleh karena itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta para guru harus meningkatkan disiplin dan kinerjanya. Salah satunya dengan tidak membolos.

"Guru menerima tunjangan yang lebih baik dengan PNS lainnya. Pemerintah telah memberikan tunjangan yang baik kepada guru. Maka guru harus berikan prestasi yang lebih baik karena sudah diperlakukan dengan baik," kata Wapres.

Menurut pria yang akrab disapa JK itu, hal ini sangat penting. Sebab, guru merupakan unsur yang paling fundamental dalam bidang pendidikan. Tanpa guru yang baik, tidak akan ada murid yang bisa berprestasi.

Pemerintah telah menganggarkan sekitar 20 persen dari total APBN atau sekitar Rp 400 triliun untuk sektor pendidikan. Alokasi tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan sektor pertahanan dan keamanan.

"Maka sewajarnya pendidik, dan guru, memiliki peningkatan pengabdiannya. Sekarang kesejahteraan sudah membaik. Maka guru harus fokus. Guru harus datang lebih dulu daripada muridnya," kata JK yang SekolahDasar.Net kutip dari Liputan6 (09/08/17).

Baca Selengkapnya

Harus Peka Kecedasaran Anak, Jangan Labeli Anak

Harus Peka Kecedasaran Anak, Jangan Labeli Anak
Orang tua harus peka di mana letak kecerdasan anak.
Setiap orang tua pasti berharap anaknya berprestasi seperti mendapat nilai yang tinggi atau menjadi ranking satu di kelasnya. Anak yang selalu mendapat ranking satu selalu dianggap pintar, sedangkan yang tidak mendapat ranking dianggap sebaliknya.

Indra Kusumah SPsi MSi CHt, seorang psikolog mengatakan, orang tua sebaiknya jangan memberikan label pintar dan bodoh serta memaksa untuk menjadi juara di kelas. Orang tua harus peka terhadap kecerdasan anak, kecerdasan itu tidak melulu mendapat nilai bagus.

Banyak orang tua yang mempermasalahkan rapot anaknya ketika melihat nilai Matematika 5 sedangkan seni 9. "Nah, malah fokus ke nilai yang rendah dan lupa untuk mengembangkan potensi lainnya," kata Indra yang SekolahDasar.Net kutip dari Tribunnews (08/08/17).

Orang tua harus peka di mana letak kecerdasan anak, karena jika orang tua salah menyikapi akan memberikan efek kepada anak. Pemberian label pintar dan tidak pintar yang diberikan oleh orang tua akan berpengaruh kepada konsep diri anak ketika dewasa.

Baca Selengkapnya

Tumbuhkan Budi Pekerti Guru Harus Dampingi Anak

Tumbuhkan Budi Pekerti Guru Harus Dampingi Anak
Guru harus menjadi teladan.
Guru memiliki peran penting dalam gerakan penguatan pendidikan karakter (PPK). Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan salah satu faktor prasyarat pendidikan karakter adalah guru. Untuk menumbuhkan budi pekerti dan karakter yang baik, seorang guru haruslah hadir mendampingi anak didiknya.

“Salah satu problemnya adalah beban kerja 24 jam mengajar tatap muka di kelas. Dan itu sudah kami perbaiki dengan peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2017,” kata Mendikbud Muhadjir yang SekolahDasar.Net kutip dari JPNN (07/08/17).

Ke depan, guru tidak perlu mencari tambahan jam mengajar untuk memenuhi kekurang jam mengajar di kelas. Guru dapat ikut merencanakan, membimbing siswanya, dan melakukan evaluasi serta tugas-tugas tambahan yang bisa dikompensasi menjadi beban kerja guru.

Mendikbud juga kembali mengingatkan, delapan jam di sekolah adalah untuk guru, bukan siswa. Ia berharap besar pada para guru agar mengamalkan ajaran Ki Hajar Dewantara. Guru harus menjadi teladan, memberikan ide, prakarsa, memotivasi serta mampu memberikan arahan kepada anak.

“Kami ini berada di hulu, yang mana produk kami akan sampai ke hilir. Kalau di hulunya tidak bersih, jangan harap yang di hilir juga baik,” pungkasnya.

Baca Selengkapnya

Aplikasi KKM Kelas SD/MI Kurikulum 2013 Terbaru

Aplikasi KKM Kurikulum 2013 Untuk SD/MI
Aplikasi KKM Kurikulum 2013 Untuk SD/MI.
Kurikulum 2013 (K-13) pada tahun pelajaran 2017/2018 mulai kembali diterapkan pada kelas 1, 2, 4, dan 5 Sd/MI. Salah satu kelengkapan dalam proses pembelajaran yang harus dibuat guru, khususnya guru kelas adalah Ketuntasan Minimal (KKM).

KKM adalah kriteria paling rendah untuk menyatakan siswa mencapai ketuntasan. Dengan Kurikulum 2013, guru dapat lebih leluasa dalam menentukan nilai KKM. KKM menunjukkan persentase tingkat pencapaian kompetensi yang dinyatakan dengan angka.

Setelah KKM setiap muatan/mata pelajaran ditentukan, KKM satuan pendidikan dapat ditetapkan dengan memilih KKM yang terendah dari seluruh KKM muatan/mata pelajaran. Untuk menentukan rentang predikat diperoleh dengan membagi tiga.

Hal-hal yang dipertimbangkan dalam menentukan KKM Kurikulum 2013 untuk jenjang SD/MI adalah: Kompleksitas, Daya Dukung, Intake (Kemampuan Siswa). KKM untuk kelas 4 SD sesuai dengan Kurikulum 2013 terbaru dapat didownload melalui tautan berikut ini.


Aplikasi KKM Kurikulum 2013 untuk SD/MI ini sangat bermanfaat bagi rekan guru dalam menentukan KKM K-13 secara mudah di sekolah, Aplikasi KKM ini berformat excel sehingga sangat mudah dalam penggunaan, telah terpetakan KD dalam mata pelajaran.

Guru dapat mengubah atau menyusun kembali KKM sesuai dengan tema. Selanjutnya, sekolah harus melakukan sosialisasi KKM agar informasi dapat diakses dengan mudah oleh siswa dan orang tuanya, sebab mereka berhak untuk mengetahui.

Baca Selengkapnya

Suka dan Ikuti SekolahDasar.Net