Yang Harus Dilakukan dan Dihindari Untuk Membuat Anak Cerdas
Cari Berita

Atas


Yang Harus Dilakukan dan Dihindari Untuk Membuat Anak Cerdas

Senin, 23 Maret 2020

Yang Harus Dilakukan dan Dihindari Untuk Membuat Anak Cerdas
Anak cerdas akan lahir ketika ia dibiarkan untuk mengembangkan imajinasi.

Setiap orangtua pasti ingin memiliki anak yang cerdas. Anda dapat mencoba tips pola asuh anak ini untuk mengembangkan kemampuan intelegensi anak secara optimal. Tingkat kecerdasan anak dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni faktor biologis dan eksternal.

Faktor biologis sendiri dipengaruhi oleh banyak hal, misalnya genetik ibu dan ayah, nutrisi yang dikonsumsi ibu selama masa kehamilan, maupun penyakit yang diderita ibu hamil atau anak itu sendiri. Sementara itu, faktor eksternal juga berpengaruh pada IQ anak. Faktor ini dapat berupa gaya parenting anak dan lingkungan tempat anak bersosialisasi.

Tips Untuk Membuat Anak Yang Cerdas


Membuat anak yang cerdas tidak cukup dengan membelikannya mainan-mainan edukatif atau memasukkannya ke sekolah yang bagus dan mahal. Sebaliknya, anak cerdas lahir dari pola asuh anak yang tepat dan efektif dari proses yang panjang dan kompleks. Berikut tips untuk menciptakan anak yang cerdas seperti disarankan oleh para psikolog.

1. Jangan Mendikte Anak

Anak cerdas akan lahir ketika ia dibiarkan untuk mengembangkan imajinasi dan bermain sesuka hati. Anda mungkin tergoda untuk mengatur jadwal anak sedemikian rupa agar ia mendapatkan skill yang berguna untuk mengasah otak, tapi psikolog mengatakan hal itu justru keliru. Bebaskan anak untuk melakukan yang ia suka, termasuk berinteraksi dengan gawai atau komputer. Jangan lupa untuk tetap mengawasi dan memberikan batasan penggunaan gawai tersebut.

2. Memaksimalkan Teknologi

Perkembangan teknologi bisa membantu kita menciptakan anak cerdas bila dimaksimalkan sesuai potensinya. Kita, misalnya, bisa menggunakan teknologi virtual reality untuk mengajarkan banyak hal pada anak, misalnya cara bermain olahraga tertentu atau memperkenalkan anak pada hewan prasejarah yang sudah punah.

3. Banyak Bertanya, Sedikit Menjelaskan

Memperbanyak bertanya pada anak akan melatih skill problem solving sekaligus mempertajam imajinasi anak. Misalnya, ketika tengah berkendara, Anda bisa mengajukan pertanyaan sederhana pada anak, seperti “apa yang akan terjadi kalau kita melanggar lampu lalu lintas?”

Metode parenting seperti ini menunjukkan keberhasilan bila anak kemudian sering mengajukan pertanyaan yang dimulai dengan “mengapa”. Ya, pertanyaan seperti ini akan membuat Anda lelah, tapi ingatlah bahwa itu merupakan pertanda Anda sudah dalam jalur yang benar untuk menciptakan anak cerdas.

4. Dukung Pertemanan Sehat

Benar, anak memang seharusnya bermain dengan siapa saja. Namun, Anda berhak membatasi anak bergaul dengan teman-teman yang toxic agar ia tidak terpengaruh dengan pergaulan seperti itu. Salah satu ciri-ciri pertemanan toxic adalah ketika 'teman' anak Anda tidak hanya pernah mengapresiasi, tetapi juga sering meremehkan.

5. Pilih Sekolah dan Guru yang Kompeten

Pola asuh anak bisa buyar ketika sekolah dan tenaga pengajar di dalamnya tidak menunjukkan visi yang sama dengan Anda. Ingat, anak akan berada di sekolah sekitar 6 jam per hari sehingga institusi ini sangat berperan untuk membentuk pola pikir anak, terutama dalam hal akademis.

Jika memungkinkan pilih sekolah yang dikenal akan kepintaran siswanya, agar anak terpacu untuk berada di level yang sama. Yang tak kalah penting, pilih sekolah yang mendukung setiap bakat anak yang berbeda-beda serta memiliki program yang dapat mengembangkan potensi anak.

6. Jangan Paksa Anak

Setiap anak memiliki karakternya masing-masing, tugas orangtua hanyalah mengarahkan. Anak yang pendiam jangan dipaksa menjadi anak yang aktif secara fisik, begitu pula anak yang lebih suka aktivitas di luar ruangan jangan dipaksa belajar di dalam kelas dalam waktu yang panjang. Sebaliknya, orangtua bisa mengarahkan karakter anak tersebut menjadi keuntungan baginya, misalnya anak pendiam dapat diberi banyak buku bacaan yang meningkatkan intelegensinya.

Selama anak tidak berperilaku menyimpang dan masih dalam batas kewajaran, hormati keinginan anak untuk menjadi dirinya sendiri. Orangtua juga harus ingat bahwa anak cerdas tetaplah anak-anak yang suka bermain. Jadi, selalu sediakan waktu baginya untuk menyalurkan kegiatan dalam bentuk lain, misalnya berolahraga atau bahkan sekedar main video games.

Kesalahan Yang Dilakukan Dalam Menciptakan Anak Cerdas


Ketika menerapkan pola asuh anak demi menciptakan anak cerdas, tidak jarang orangtua melakukan kesalahan yang disadari maupun tidak. Dilansir SekolahDasar.Net dari Kompas, inilah beberapa kesalahan tersebut, antara lain:

1. Memiliki Ekspektasi Yang Tidak Realistis

Melakukan pola asuh anak yang tidak realistis dapat membuat orangtua maupun anak stres hingga depresi. Misalnya, Anda berharap bahwa anak menguasai setiap mata pelajaran di sekolah, mulai dari matematika hingga olahraga.

2. Tidak Memiliki Aturan Atau Menerapkan Batasan

Menerapkan aturan ketat pada anak memang tidak baik, namun memberi kebebasan 100 persen juga bukan pola asuh anak yang akan merangsang kecerdasan mereka. Sebagai jalan tengah, Anda tetap dapat memberi kebebasan pada anak, namun dengan beberapa pilihan atau batasan yang tak boleh ia langgar.

Misalnya, anak boleh bermain video games setelah menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Anak mungkin akan kesal atau marah, di sinilah orangtua harus memberi pengertian pada anak bahwa yang ini dilakukan untuk kebaikannya di masa mendatang.

3. Tidak Konsisten

Ketika Anda sudah menetapkan aturan dan batasan, lakukan dengan konsisten. Melakukan hal yang tidak konsisten akan membuat anak bingung karena Anda memberi contoh yang berubah-ubah dalam situasi yang sama.

Pola asuh anak untuk menciptakan anak cerdas memang susah-susah gampang. Sebagai orangtua, Anda juga harus terus belajar dan menambah wawasan, agar dapat menerapkan pola asuh terbaik bagi anak.