Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

6 Langkah Menjadi Sekolah yang Berwawasan Lingkungan

6 Langkah Menjadi Sekolah yang Berwawasan Lingkungan

Kondisi lingkungan yang semakin rusak hanya bisa diatasi jika semua elemen masyarakat termasuk warga sekolah. Semua gotong-royong untuk menyelesaikan sumber masalah dan mencegah terjadinya kerusakan lingkungan. 

Sekolah merupakan pusat peradaban. Sekolah dapat membentuk karakter peduli lingkungan. Sekolah bukan hanya tempat belajar, namun juga tempat untuk mencetak peserta didik yang peduli dengan permasalahan lingkungan. 

Sekolah dapat membiasakan gerakan sadar lingkungan misalnya membuang sampah pada tempatnya, menghemat penggunaan air dan listrik, menanam dan memelihara tanaman, mengaplikasikan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle). 

Melalui pendidikan, warga sekolah sejatinya dapat menjadi agen perubahan dan bisa memberikan contoh dalam mengelola lingkungan. Melalui pembinaan tersebut diharapkan berakar dan bertumbuh menjadi kebiasaan di keluarga dan masyarakat.

Langkah Menjadi Sekolah yang Berwawasan Lingkungan

1. Menetapkan visi, misi, dan tujuan sekolah yang berwawasan lingkungan

Visi, misi, dan tujuan tersebut harus secara tertulis menyangkut upaya pelestarian lingkungan dan mencegah terjadinya pencemaran atau kerusakan lingkungan. Ketiganya tersebut harus disosialisasikan kepada seluruh warga sekolah. Sosialisasi bisa melalui seminar, penyuluhan ke warga sekolah, maupun dengan memakai bantuan media seperti banner, leaflet, dan spanduk. 


Dengan adanya sosialisasi visi, misi, dan tujuan sekolah yang berwawasan lingkungan, seluruh warga sekolah diharapkan dapat memahami dan melaksanakan. Dengan diterapkan visi, misi, dan tujuan tersebut sekolah harus memiliki anggaran khusus untuk pengelolaan lingkungan baik untuk sarana prasarana, peningkatan kapasitas, dan kegiatan-kegiatan berbasis lingkungan.

2. Mengintegrasikan aspek lingkungan hidup ke dalam kegiatan pembelajaran

Struktur kurikulum sekolah harus dirancang memuat pelestarian fungsi lingkungan, mencegah pencemaran serta kerusakan lingkungan. Guru wajib memasukkan unsur lingkungan ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Selain aspek keilmuan lingkungan hidup, integrasi ini juga meningkatkan peran guru dalam meningkatkan kepedulian peserta didik pada lingkungan.

3. Menyelenggarakan kegiatan berbasis lingkungan melibatkan banyak pihak

Keikutsertaan multipihak sangat dibutuhkan untuk memperkuat gerakan peduli lingkungan menjadi wadah untuk bertukar informasi maupun pengalaman. Kegiatan berbasis lingkungan dapat dilaksanakan di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Pihak tersebut meliputi guru, siswa, komite sekolah, masyarakat sekitar, dan pihak-pihak terkait lainnya seperti; Badan Lingkungan Hidup, Dinas Pendidikan, media, dan lain-lain.

4. Mengembangkan sarana pembelajaran yang ramah lingkungan

Contoh sarana di kelas yang ramah lingkungan seperti ruang yang memiliki ventilasi yang baik. Kondisi di luar kelas pun juga harus nyaman dan sehat. Sekolah menyediakan ruang terbuka hijau, toilet yang bersih, kantin sehat, dan sistem sanitasi yang baik. Sekolah juga bisa membuat sumur resapan, lobang resapan biopori, dan vertical garden.

5. Mengembangkan kreativitas untuk mencegah dan mengatasi masalah lingkungan

Dalam mengembangkan kreativitas dan inovasi ini misalnya dalam bentuk pengelolaan limbah dan pemanfaatan sumber energi alternatif. Kreativitas dan inovasi tersebut bisa dipublikasikan dan disebarluaskan melalui media. Tujuannya untuk memberi edukasi masyarakat untuk menerapkan kreativitas dan inovasi tersebut.

6. Warga sekolah aktif berpartisipasi dalam kegiatan berbasis lingkungan

Kegiatan ini contohnya penanaman pohon, pengolahan limbah, dan kegiatan aksi bersih. Misalnya dalam perayaan hari bumi dapat dijadikan sebagai momentum dalam meningkatkan kesadaran lingkungan. Selain itu, guru maupun siswa diharapkan dapat menjadi nara sumber dalam kegiatan seminar atau kampanye yang bertemakan lingkungan.