Hal-hal yang Perlu Didiskusikan dengan Anak Perempuan Mengenai Pubertas
Cari Berita

Atas


Hal-hal yang Perlu Didiskusikan dengan Anak Perempuan Mengenai Pubertas

Rabu, 13 Mei 2020

Hal-hal yang Perlu Didiskusikan dengan Anak Perempuan Mengenai Pubertas
Cepat atau lambat, orangtua tentu harus menyediakan waktu untuk hal-hal yang perlu didiskusikan dengan anak perempuan mengenai pubertas.

Semakin bertambahnya usia, anak tentu akan menjadi remaja dan akhirnya dewasa. Di usia remaja inilah, anak akan memasuki masa pubertas yang membuat kondisi fisik, psikologis dan sosial mereka berubah. Orangtua tentu harus peka dan mulai menentukan hal-hal yang perlu didiskusikan dengan anak perempuan mengenai pubertas.

Lho, kenapa kok harus anak perempuan? Lantaran dibandingkan anak laki-laki, bocah perempuan lebih cepat memasuki masa puber yakni di jenjang usia 8-13 tahun. Sementara anak laki-laki? Baru di usia 9-14 tahun. Hanya saja menurut studi yang dilakukan para peneliti Universitas Copenhagen, anak perempuan masa kini mengalami pubertas lebih cepat daripada anak perempuan 40 tahun lalu.

Lihat juga: Cara Pendekatan Ini Bisa Bunda Coba Untuk Ngobrol Topik Sensitif dengan Anak

Hanya saja dalam membahas pubertas, orangtua justru lebih sering merasa canggung. Terutama bagi beberapa Ayah, membahas pubertas pada anak gadis mereka dirasa menakutkan. Tak heran kalau menurut Cara Natterson, dokter anak sekaligus penulis The Care & Keeping of Us, urusan pubertas si gadis kesayangan diserahkan tanggung jawabannya kepada Ibu.

Padahal menurut Ratih Zulhaqqi selaku psikolog anak dan remaja, sudah jadi kewajiban bagi kedua orangtua untuk memberikan edukasi seksual yang tepat kepada anak perempuan mereka yang mulai puber. Nah supaya tidak canggung, berikut ini hal-hal yang perlu didiskusikan dengan anak perempuan mengenai pubertas yang bisa dipertimbangkan:

1. Obrolan Pubertas Sejak Dini


Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, masa pubertas anak-anak perempuan masa kini bisa datang lebih cepat daripada Anda dulu. Lantaran bisa saja muncul sebelum anak berusia 10 tahun, ada baiknya Anda mulai mengajaknya berbincang soal pubertas sejak umur delapan tahun.

Dengan berbincang di awal, anak akan lebih siap dan melakukan persiapan jika mulai terjadi perubahan fisik pada tubuhnya. Contohnya seperti bagian payudara dan pinggul yang mulai tumbuh. Sehingga anak tidak akan merasa canggung dan mulai lebih bijak dalam berperilaku.

2. Jelaskan Soal Menstruasi


Momen pubertas yang bikin anak perempuan shock adalah mengenai menstruasi pertamanya. Bahkan ada beberapa anak perempuan yang begitu trauma ketika keluar darah segar dari alat kelamin. Trauma ini sendiri dipicu karena rasa takut berlebih. Untuk itulah momen menstruasi termasuk hal-hal yang perlu didiskusikan dengan anak perempuan mengenai pubertas.

Mayoritas anak perempuan memperoleh menstruasi pertama di usia 12-13 tahun. Namun karena ada yang sudah haid pertama di umur 9-10 tahun, diskusi menstruasi bisa dimulai sejak berumur delaan tahun. Supaya si kecil tak bingung, Anda bisa mengaitkannya dengan makhluk hidup lain seperti tanaman atau mamalia mengenai organ reproduksi dan organ kelamin.

3. Bantu Lakukan Persiapan


Jika anak sudah cukup paham soal menstruasi termasuk edukasi seks untuk jenjang usianya, maka Anda bisa mulai melakukan persiapan. Persiapan ini adalah mengenalkan buah hati kepada pembalut atau tampon yang wajib dipakai perempuan saat datang bulan. Anda bisa menunjukkan cara menggunakan barang tersebut, termasuk menjaga kebersihan di area kewanitaannya.

Untuk itulah supaya persiapan makin maksimal, ada baiknya Anda mulai membekali si kecil dengan pembalut atau tampon di tas sekolahnya. Tindakan ini merupakan aksi jaga-jaga karena bisa saja si gadis remaja memperoleh menstruasi pertama saat sekolah.

4. Jadikan Momen Pubertas Menyenangkan


Lantaran saat haid terjadi perubahan hormon sehingga mood ikut kacau, Anda harus tetap bisa membuat buah hati tenang. Berikan informasi terbaik supaya dia tenang dan tidak drama berlebihan. Ajak dia menyantap makanan yang manis ketika datang bulan hingga menghabiskan waktu berdua, seperti berbelanja bra atau membeli pakaian yang imut.

Jangan sampai Anda menakut-nakuti buah hati mengenai rasa nyeri yang timbul ketika menstruasi. Dikhawatirkan kondisi ini akan membuat anak semakin tertekan lantaran kram perut yang dirasakan. Ingatkan bahwa semua perubahan fisik dan rasa yang dialami saat menstruasi adalah kondisi alamiah.

Dengan memahami betul hal-hal yang perlu didiskusikan dengan anak perempuan mengenai pubertas secara tepat, buah hati tentu bisa mempersiapkan diri secara maksimal. Ingat, jangan menganggap pembicaraan soal pubertas adalah hal tabu, karena memang anak perempuan harus diajari mengenai pengenalan terhadap diri dan hak tubuhnya.