Tanpa Disadari Guru pun Bisa Menjadi Pelaku Bullying Pada Anak
Cari Berita

Atas


Tanpa Disadari Guru pun Bisa Menjadi Pelaku Bullying Pada Anak

Kamis, 25 Juni 2020

Tanpa Disadari Guru pun Bisa Menjadi Pelaku Bullying Pada Anak
Meskipun tugasnya memang mendidik anak di sekolah, tanpa disadari guru pun bisa menjadi pelaku bullying pada anak. Bagaimana bisa?

Guru adalah pengganti orangtua saat di sekolah. Bukan hanya sekadar memberi pelajaran, guru juga harus menjadi tempat di mana anak merasa nyaman dan dilimpahi kasih sayang pula. Terutama untuk guru-guru Sekolah Dasar (SD) yang bertanggung jawab terhadap anak-anak kecil. Namun tahukah Anda, tanpa disadari ternyata guru bisa jadi pelaku bullying pada murid.

Bullying alias perundungan ini memang menjadi sebuah masalah yang bisa memberikan dampak buruk ke seorang anak. Apalagi anak-anak SD yang berusia 7-12 tahun di mana fisik dan psikologinya masih berkembang, ketika mereka jadi korban perundungan pastinya akan memberikan efek besar ke kepribadiannya kelak. Bukan tak mungkin kalau aksi perundungan itu memicu trauma berat.

Lihat juga: Kekerasan Oleh Guru Dapat Memicu Siswa Menjadi Agresif

Kalau biasanya banyak perilaku bullying ini dilakukan sesama siswa, rupanya disadari atau tidak, guru bisa ikut terlibat pula. Menurut Najeela Shihab selaku praktisi pendidikan, keputusan guru untuk membiarkan dan menutup mata dari aksi bullying yang dialami siswanya dan membiarkan mereka menyelesaikan konfliknya sendiri, adalah bagian dari perilaku perundungan itu.

Bukan itu saja, masih banyak guru-guru SD yang tidak sadar merundung sang murid, dengan tujuan menegakkan kedisiplinan. Hal ini kemudian dijabarkan lagi oleh Retno Listyarti selaku Komisioner KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) bidang Pendidikan. Seperti dilansir JPNN, dari 153 kasus bullying terhadap anak sepanjang 2019, 39% di antaranya terjadi di jenjang SD sederajat.

Faktor Pemicu Guru Jadi Pelaku Bullying Muridnya


Mungkin Anda bertanya-tanya, kenapa bisa seorang guru menjadi pelaku perundungan siswanya? Psikolog Irma Ayank Gustiana M.Psi, Psi, memaparkan bahwa ada banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut. Supaya lebih jelas, berikut ti di antaranya yang paling sering terjadi:

Faktor Biologis


Guru adalah manusia biasa. Meskipun mereka secara profesional memperoleh penghasilan dari mendidik anak orang lain, mereka juga bisa merasa lelah dan lapar. Seperti yang diketahui, mendidik guru SD yang adalah anak-anak dengan tabiat aktif, kerap kali membuat seorang guru merasa kesal, sebal hingga emosi.

Selayaknya manusia biasa yang lelah dan lapar pula, seorang guru bisa saja lepas kontrol dan tanpa sengaja meluapkan emosinya. Apalagi kalau muridnya sangat berisik dan sulit diberi tahu.

Faktor Psikologis


Aksi kekerasan yang dilakukan guru terhadap muridnya juga bisa terjadi karena masalah psikologis. Biasanya hal ini dialami guru-guru dengan masalah emosi. Guru yang mempunyai kepribadian temperamen sudah pasti tak bisa berdamai dengan anger management issues yang tengah dia alami.
Bahkan hal-hal kecil seperti memanggil muridnya dengan julukan bego, banci, gendut dan siput juga termasuk aksi name calling yang jadi bagian perilaku perundungan verbal.

Faktor Sosial


Hal-hal sosial seperti apa yang membuat seorang guru malah mem-bully muridnya? Yang paling sering adalah keadaan finansial. Seperti yang diketahui, ada banyak guru-guru yang digaji tidak sesuai dengan UMR (Upah Minimum Regional), alias guru honorer. Guru-guru ini bisanya memiliki jam mengajar sangat tinggi tapi tak sebanding dengan penghasilannya.

Tanpa disadari, kondisi ini jelas membuat guru tertekan karena mereka merasa pekerjaannya tidak dihargai. Apalagi dengan minimnya dukungan dari sesama rekan guru atau sekolah, peluang untuk jadi pelaku perundungan makin besar pula.

Faktor-faktor di atas itulah yang akhirnya membuat Irma menyarankan agar pihak sekolah turut aktif mencegah guru jadi pelaku bullying muridnya. Salah satunya dengan melakukan tes psikotes kepada para calon guru, sehingga bisa terdeteksi kepribadian dan masalah psikologis yang bisa mempengaruhi proses belajar-mengajar nanti.